Kendi ini mengingatkan kembali masa-masa masih bersama canggah dan buyut. Dulu, aku sering menyengajakan diri mampir ke rumah mereka hanya untuk mampir minum dari kendi. Saat itu, hanya di tempat merekalah kendi masih digunakan.
Bagiku, kesejukan air kendi itu berbeda dengan kesejukan yang ditawarkan air dingin dari lemari es. Entah kenapa.. mungkin karena rasa getar tanah yang menyertainya..
Kendi ini juga mengingatkan kebiasaan orang Jawa tempo dulu. Biasanya mereka meletakkan kendi dan gelas di buk depan rumah. Siapa pun yang lewat dan kehausan, boleh untuk meminumnya. Tentu saja budaya yang empatif ini sudah ndak bisa ditemui lagi sekarang. Sayang..










