lelah..

Posted: Januari 11, 2012 in My Poems

lelah..
digerus waktu..
habiskan masa ke sana ke sini
silih berganti

ingin berhenti
sekedar menghela nafas sejenak
untuk kemudian berjalan lagi

ah, andai kau ada di sisi
mungkin tinggal menyandarkan kepala ini
terpejam untuk sesaat
sambil menggenggam tanganmu lekat.. erat..

Gambar copas dari http://ecinatz.files.wordpress.com/2011/07/lean-on-your-shoulder.jpg

Meraba Indonesia

Posted: Januari 9, 2012 in bout Pati
Tag:

Cover Meraba Indonesia

Ditulis oleh Ahmad Yunus. Berisi catatan perjalanan dua jurnalis, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, saat mengelilingi dan menyusuri pulau-pulau terluar Indonesai dengan sepeda motor bututnya.
bonusnya,

Bonus DVD, audiovisual rangkuman perjalanan mereka

 

Andai setiap orang yang pernah ke mana bisa menuangkan dan mendokumentasikan catatannya seperti mereka, ndak sekedar memamerkan foto narsis belaka.. (*nowel kepala sendiri) atau bahkan menuangkannya ke dalam media audiovisual semacam ini, mungkin ndak akan susah lagi mencari dokumenter tentang Indonesia di masa ini.. *ngelirik handy yang nganggur di meja. Wi.. Wi.. makin lama ko makin ndak produktif.. :(

Tebar Benih..

Posted: Januari 7, 2012 in My Life, my thought

Ketika kembali ke kampus beberapa bulan lalu, aku dikagetkan dengan hilangnya ratusan batang pohon tua di arboretum. “Dipangkas karena lahannya akan ditanami gedung baru mbak, ” jelas seorang teman. “Ndak cuma di sini, tapi banyak lagi pohon di kampus yang ditebang. Kemarin aja kami demo mbak..”

Dan beberapa waktu jelang akhir tahun, pembangunan besar-besaran pun dimulai. Kenapa justru di akhir tahun ya, bangunnya.. Strategi penghabisan anggaran akhir tahun..? Entahlah.. Karena tujuan dari pembangunan gedung-gedung baru itu juga ga jelas.. Penglihatan kasat mataku menunjukkan masih banyak ruang-ruang di kampus ini yang tak terpakai dan cenderung terbengkalai karena tak digunakan, jadi untuk apa bangun yang baru dan mengorbankan pohon-pohon yang telah berumur tahunan lamanya. Ahh, entahlah, daripada ngresula, aku mending makan buah saja.

Musim buah yang berbarengan dengan musim penghujan tahun ini benar-benar cocok untuk proyek kecil kami. Jika mereka rajin menanam gedung, biarlah aku dan seorang teman mengimbanginya dengan menebar benih rambutan, mangga, manggis dan sirsak yang kami sisihkan dari buah-buahan yang kami makan akhir-akhir ini. Semoga guyuran air hujan membantu benih  ini untuk tumbuh di sisi-sisi gedung megah itu. Jika ndak berhasil tumbuh, setidaknya kami sudah berusaha, menjadikan niat untuk go green, tak sekedar hanya niat belaka.

* Sungguh, berbuat nyata ndak butuh waktu, tenaga dan biaya berlebih ternyata :D

Once upon a time in West Halmahera, di daerah transmigran Jawa yang mulai berkembang sejak tahun 80-an.

Muka peranakan Jawa di Haltim. Foto dokumen pribadi Dewi

Pulang menuju ke rumah

Mengangkut kopra dengan gerobak sapi

Kebun jeruk yang mulai dikembangkan akhir-akhir ini

 

Si bapak membuat tahu, si ibu membuat tempe. Foto dokumentasi Dewi

Warga Bajo..

Posted: Januari 1, 2012 in Journey
Tag:,

Sesaat di Bajo, inilah yang kutemui..

Cerianya anak Bajo yang bermain di kolong rumah.

Mengasuh adik

Simbah

Membedaki anak dengan bedak dingin. Foto dokumen pribadi Dewi

Postur perenang. Foto dokumen pribadi Dewi

Sudut Pemukiman Bajo. Dokumen pribadi Dewi

 

Ceria di atas sampan. Foto dokumen pribadi Dewi

Gunanya Masang Muka..

Posted: Desember 28, 2011 in my thought

Dua orang terkagum-kagum begitu keluar dari bandara. Banyak baliho gede promosi wisata daerah yang terpasang di sepanjang jalan. Isinya, foto gede seseorang dan foto kecil objek wisata

X : Duuh, bosen, pencitraan di mana-mana..

Y : Yang mana.. ?

X : Tuuh.. (nunjuk pake dagu)

Y : Jangan salah.. Muka tu orang emang perlu banget dipampang di baliho itu, tau..!

X : Masak sih.. Emang kenapa.. ?

Y : Karena dialah yang akan nganterin semua wisatawan ke objek itu.. (nyinyir1)

X : Wah, kalo gitu masih ada yang kurang dunkz..

Y : Apa..

X : Ya no hapenya lah.. Harus dicantumin juga tuh, biar kita gampang ngubunginnya (kalo butuh pengantaran).. Ya tho, ya tho.. Kalau mau laku, jangan setengah-setengah (nyinyir2).

* kurang tidur memang bikin nyinyir berganda. Nepok bantal

Thousands Faces..

Posted: Desember 28, 2011 in Journey
Tag:

Meski ndak ribuan muka yang dipasang, tapi ndak apa-apa tho, kalo sekali-kali judulnya dramatis.. :D

Memainkan bentor. Foto koleksi pribadi Dewi

Maen bola. Dokumentasi pribadi Dewi

Ngemut driji. Apa terjemahan pas untuk bahasa Indonesianya, mengulum jari..? Foto dokumen pribadi Dewi

Di mana-mana, remaja emang manis dan narsis :D

Cantik di Kala Senja

Hitam manis.. hitam manis.. Foto dokumentasi pribadi Dewi

Ngariung sambil membuat keranjang. Foto dokumen pribadi Dewi

keep on moving..

Posted: Desember 8, 2011 in My Life, My Poems
Tag:

Gambar copas dari http://sayyidforfuture.files.wordpress.com/2011/02/mimpi1.jpg

tak akan pernah berhenti..
dan tak akan putus asa untuk hanya sampai di sini..
karena lautan masih terbentang luas
dan langitpun masih tiada batas..

ya, akan selalu yakin dan percaya
bahwa tak ada yang akan sia-sia
untuk semua usaha dan penyerahan jiwa..

Siang Hari Farli

Posted: Desember 1, 2011 in Journey
Tag:

Siang sepulang sekolah bukanlah waktu untuk istirahat bagi Farli. Seperti siang ini, dia bergegas ke dermaga, membawa plastik berisi segulung senar, mata kail dan sesisir pisang.

Farli dan buntalan plastiknya di suatu siang

” Kamu memancing buat dijualkah..” tanyaku.
” Tara kakak.. buat dimakan sendiri. Di rumah tara ikang..” jawabnya.

Ahh, keren. Di saat tetangganya hanya mengeluh tentang tingginya harga ikan di pasar, Farli turun tangan memenuhi kebutuhan lauk keluarganya dengan memancing sendiri. Ngapain beli, toh, belakang rumahnya lautan luas.
“Kamu punya sudara berapa..” tanyaku kembali.
“Ada empat Kakak. Saya paling kecil.. Bapak tukang bentor dan emak tidak kerja..” jawabnya sambil melemparkan mata kail ke lautan.

Farli di dermaga

Tak hanya satu mata kail yang dipasangnya. Sesaat dia melihat ikan targetnya melintas di sisi lain dermaga, dia pun segera mengejar ke mana ikan itu berenang. Segera dilemparkan mata kail yang berhias sekelumit pisang di ujungnya. Dan beberapa menit kemudian, dia tampak sibuk menarik senarnya.

Aku pun segera mengejarnya, “Dapat apa Farli..”
“Ikan baubara Kak..” tukasnya.
“Wah, cepat sekali kau mendapatkannya. Biasanya berapa ikan yang paling banyak kau dapat dalam satu siang..” lanjutku.
“Lima ekor dalam setengah jam..” ujarnya bangga.
“Wah, canggih..” tukas temanku, Rahma.

Ikan baubara itu kemudian dikeluarkan insangnya supaya segera mati, sedangkan gale-galenya (saluran yang menghubungkan insang itu dengan organ yang ada di perut) dipotong-potong kecil dan dijadikan umpan selanjutnya.

Insang dikeluarkan dan dibuang, gale-gale dipotong untuk umpan. Foto dok pribadi.

Farli membersihkan baubara yang didapatkannya. Foto dokumen pribadi Dewi

Tak lama kemudian, dia kembali berlari-lari dari satu sisi darmaga ke sisi yang lain. Mengejar ikan yang dirasanya cocok untuk dipancing. Hanya bermodalkan mata telanjang. Hmm, bagus juga penglihatan ni anak.. batinku setelah mencoba berkali-kali melihat ke dalam air dan tak melihat sesuatu pun bergerak di dalamnya.

Darmaga. Foto dok pribadi

Dan tak sampai sepuluh menit, senarnya yang dipasang di dekat lampu dermaga telah kembali ditarik ikan. Segera dia menariknya. Kali ini, ikan yang didapatnya jauh lebih besar dari Baubara. “Ini namanya lilois Kak, siripnya berbisa..”

Farli dan ikan liloisnya. Foto dok pribadi

“Tapi bisakah dimakan..” tanya Rahma.
“Bisa.. tapi harus Emak saya yang membersihkannya karena dia lebih pintar.. Saya tara bisa..” jawabnya sambil memasukkan lilois ke plastik dalam keadaan masih hidup.

Matahari tepat berada di atas kepala ketika kami beranjak dari dermaga, meninggalkan Farli yang masih asyik memancing. Di dalam bentor aku pun merenung. Anak pesisir seperti Farli ini asupan gizinya tentu sangatlah sehat, ndak seperti anak di pegunungan maupun perkotaan yang jarang makan ikan laut. Dengan asupan protein hewani yang setinggi itu, tentulah kecerdasan mereka juga tinggi. Konon, orang Jepang cerdas-cerdas karena konsumsi ikan lautnya yang sangat tinggi tho. Teman-teman yang selama ini merajai peringkat atas kelasku juga kebanyakan anak pesisir. Jadi sepertinya, bolehlah kuasumsikan bahwa kecerdasan anak-anak di sini juga tinggi.

Namun sayang beribu kali sayang, sepertinya fasilitas pendidikan formal di sini masih terbatas. Sekolah masih seadanya, gurunya juga masuk ala kadarnya. Dan mungkin dengan penghasilan ayah yang rata-rata tak seberapa, anak-anak di sini juga ndak bisa meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Yah, memang pendidikan formal bukanlah segalanya. Tapi untuk mendapatkan pekerjaan sekarang, selalu ijazah yang jadi pertanyaan pertama bukan ?

Yaah, semoga saja orang tua dan lingkungan Farli bisa mengembangkan pendidikan non-formal yang jadi alternatif  bagi Farli dan teman-temannya untuk mengembangkan potensi dan kecerdasan mereka. Dan semoga saja sistem pekerjaan di masa depan bukan hanya ditentukan oleh secarik ijazah. Dan semoga, bukan  pegawai saja yang dianggap sebagai matapencaharian yang bermasa depan (apalagi KORUPTOR).

Tapi meskipun demikian, aku masih berharap akan ada banyak lulusan pendidikan tinggi di pulau ini. Karena ini bisa mengurangi ketergantungan mereka akan tenaga kesehatan maupun guru dari luar pulau. Jika selama ini jam belajar di sekolah terbengkalai karena banyak gurunya yang memperpanjang waktu liburnya untuk mudik ke luar pulau, maka ketika gurunya sudah dipenuhi oleh tenaga lokal, hal ini bisa diminimalisir.

Gadget of The Month..

Posted: November 5, 2011 in just to know, My Life

Pada dasarnya, aku minimalis. Ndak suka memiliki banyak barang. Makanya kalo membeli barang sangat selektif dan banyak pertimbangan.

Ndak tahu kenapa, bulan ini tiba-tiba borong gadget. Dua, dalam rentang waktu yang ndak lama. Hmm, habis ini kayaknya puasa lama. Hehehe. Dan inilah keduanya.

Hape touchscreen. Seperti yang kubilang kemarin, hape lamaku sudah ndak bisa dipertahankan lagi. Jadi mau ndak mau harus beli baru. Mengingat hape lama juga sering ganti chasing karena keypadnya berkali-kali jebol, tereksploitasi berlebihan, maka hape touchscreen menjadi salah satu pilihan. Semoga dengan ini, keypadnya ndak sering-sering ganti. Hehehe.

gadget baru

Dan ini adalah almarhumah yang telah menemani perjalanan ke beberapa kota selama ini. Gonna miss u.. :D

Dan gadget yang terakhir ini adalah terbaru, hasil perburuan di Indocomtech malam lalu. TV turner. Ndak mahal harganya, simpel bentuknya, karena itu kupilih. Selain bisa memfasilitasi gadget yang selama ini kumiliki supaya lebih maksimal fungsinya, dia juga bisa mengintegrasikan beberapa gadget yang selama ini mati suri. Horee, satu gadget bisa menjembatani semua kebutuhan. (Setelah ini, aku ndak perlu beli gadget baru lagi. Uhuuuy..)

USB TV turner

Dengan ini aku bisa nonton kompas TV di lepi.. Horee, ndak perlu beli layar TV..

Dengan ini, DVD player yang lama mati suri pun bisa terintgrasi dengan lepi. Horee, bisa leluasa muter DVD tanpa perlu ngopi file ke lepi..! *trauma jebol HDD

Setelah dari seberang Sarinah-Blogshop Kompasiana, pada malam Minggu itu, aku bergerak menuju TIM. Janjian dengan kakak kelas, Mbak Rina, untuk nonton tonil musikal Kadal Nguntal Negoro.

Waktu masih lama, hampir 3 jam menuju waktu pertunjukan. Maka aku pun menghabiskan waktu di mushalla, sekedar melihat orang berlalu lalang di pelataran teater Jakarta, melihat-lihat buku yang dijual di kios buku bekas (ampyuun, harganya bikin pushienk.. tapi koleksi sejarah, antropologi, etnologinya lumayan banyaknya..).

Teater Jakarta yang tampak rame malam itu. Banyak keluarga yang mengantarkan putrinya yang berkostum balet masuk ke dalamnya. Ada pertunjukan balet mungkin..? Foto koleksi pribadi Dewi

Ketika ngelesot di emperan teater Jakarta, sempat pula aku melihat Djaduk (yang akan kutonton sebentar lagi) sedang berbincang dengan seorang perempuan. Meski di depan mata, seperti biasa, aku ndak ada keberanian tuk nimbrung atau sekedar berfoto bersama dengan figur yang lumayan terkenal itu. Padahal banyak pengunjung lain yang meminta foto bersamanya, tapi aku lebih senang duduk di depan mereka dan menguping pembicaraannya. Hahaha, gw bangeet.. :D

Setelah Mbak Rina datang, kami makan malam di warung tenda makanan tradisional yang memang sengaja digelar bersamaan dengan even tersebut. Lumayan enak-enak lho masakannya.

Habis makan, kami pun bergerak ke Graha Bakti Budaya. Gedung pagelaran di mana acara itu akan dilakukan. Weeh, perasaan tadi biasa-biasa saja, sepi, tapi sekarang pengunjung tampak membludak. Bahkan saat masuk ke gedung pun hampir semua bangku telah terisi. Wow, ternyata warga Jakarta memang haus hiburan ya.. Padahal tadinya berpikir, wah kayaknya bakal sepi ni (mengingat tema acaranya rada berbau-bau “budaya”). Para calo tiket juga tampak mondar-mandir dengan leluasa menawarkan tiketnya. Seperti biasa, harganya dimark-up, namun banyak pula yang bersedia membelinya. Hai,, ada yang unik. Aku melihat ada bule yang berpenampilan Indonesia banget, pakai surjan, dilapis batik yang dikenakan ala Melayu, lalu menggunakan ikat kepala bermotif ulos. Wow, jadi malu. Rasanya dia lebih bangga terhadap Indonesia daripada kami (Sayang, ndak sempet moto tu bule).

Pertunjukan dimulai agak sedikit terlambat, sehingga Butet dalam prolognya pun sempat minta maaf. “Korupsi itu bukan budaya, kalau budaya, berarti koruptornya bisa disebut budayawan dong..”

Prolog Butet Kartaredjasa

Dan tak lama kemudian, adegan dibuka dengan lagu keroncong yang dibawakan secara dinamis oleh Orkes Sinten Remen. Aihh, asyik.. Musik keroncong yang umumnya bikin ngantuk karena iramanya yang mendayu-dayu, ternyata bisa juga ya dibikin rancak dan mengundang bergoyang begini. Liriknya meski sarat makna, namun dibawakan secara jenaka. Ahh, kreatif..!

Adegan pertama yang diawali dengan lagu keroncong dari Sinten Remen. Foto dokumen pribadi Dewi

bersambung (ngantuk euy). Sementara gambar-gambar dulu deh.

"Saya menyerahkan diri karena saya telah korupsi.." kata Susilo "Den Baguse Ngarso" Nugroho. "Ahh, guyon.." kata aparat keamanan.

Susilo Nugroho bermonolog dalam selnya yang mewah. Foto dokumen pribadi

Para pengacara menyusun strategi, "Kita suruh mereka korupsi sebanyak-banyak, supaya bisa membayar jasa kita setinggi-tingginya.." kata pengacara Indro.

Adegan Pengadilan di mana terdakwa dibebaskan dari tuduhan korupsi, namun malah dihukum untuk tuduhan perselingkuhan

Akhir acara, sutradara, penata kostum dan seluruh pendukung pertunjukan pun tampil ke atas panggung dan mendapatkan applause meriah dari penonton

Satu yang terpikir olehku di akhir acara. Sudahlah ndak usah demo untuk mengkritik kinerja pemerintahan dan negeri. Toh ujung-ujungnya macet, rusuh. Mending bikin pertunjukan kaya gini. Selain menghibur namun juga untuk menyadarkan, baik rakyat jelata maupun penguasa. (dewi)

ke mana pergi..

Posted: November 5, 2011 in My Life, My Poems
Tag:

bingung, ke mana rasa ini kan kubawa pergi..

Gambar copas dari http://www.google.co.id/imgres?q=sendiri+di+stasiun&hl=id&biw=1024&bih=436&gbv=2&tbm=isch&tbnid=qlageJZQCfOUjM:&imgrefurl=http://kadorama-recaps.blogspot.com/2011/04/finding-mr-destiny-part-2.html&docid=lh7HB5P376ksRM&imgurl=http://2.bp.blogspot.com/-AEpPqTRG6dY/TaFi67xTozI/AAAAAAAAdiE/lPI7ODFT4oI/s1600/destiny8_9.JPG&w=592&h=291&ei=uyq0TtHdJK3FmQW33_zJAw&zoom=1

(berharap ini hanya masalah waktu, kini atau nanti..)

melangkah..

Posted: November 3, 2011 in My Life

stepping forward..

Gambar copas dari http://ririez.blog.uns.ac.id/files/2011/02/jejak-langkah.jpg

Ceria bersama Meja Kompas 3

Posted: November 1, 2011 in Journey, My Life

“Jangan menyerah, jangan menyerah..” hapeku meraung-raung pada jam 06.00. Tepat sejam sejak aku menutup mata ini. Hueeh, siapa pula yang sms pagi-pagi gini, gerutuku. Kubuka, “Mas Erick ga jadi datang. Jadi Dewi siap-siap ngegantiin ya, kita ketemu di stasiun jam 7.30. Hueeh, 1,5 jam lagi. Mandi setengah sadar, packing setengah sadar. Di dalam angkot masih setengah sadar, ditambah perut yang meraung-raung kencang.

Di dalam kereta masih setengah sadar, bertiga, ngobrol seadanya, sambil diri terus mbatin, “Blogshop pertama, kompasiana pula. Hmm, kayaknya bakal serius gila..”. Ahh, membayangkannya bikin perut makin terasa bega.

Sampai di lokasi acara. Mendaftarkan diri pada mas-mas yang standby di meja. Duuh, ndak ada namaku. “Mas-mas, saya pemain pengganti, eh peserta pengganti ni.. Mas Erick yang ada di daftar ini ndak bisa datang, saya yang ngganti. Sudah bilang ke Mas Isjet.” Biar makin afdol, maka saya pun mengenalkan diri pada Mas Isjet yang datang kemudian. “Mas Isjet, saya Dewi, yang ngegantiin Mas Erick.” Dia pun mengangguk, “Oyaya, yang di-sms-in tadi ya. Oke-oke, silakan masuk..” katanya.

Kami pun masuk dan menghampiri sebuah meja. Sudah ada beberapa ibu di sana. Sudah berkenalan pula. Sayang, colokan listriknya ndak memungkinkan kami bergabung di sana. “Kita nyari yang kosong saja..” kata Mbak Yani. Hoopla.. akhirnya kami pun duduk di meja kompas 3, barisan paling belakang dekat mas-mas operator ruangan.

Lalu datanglah seorang bapak, Pak Pensies namanya. “Itu nama belakang saya mbak,” ujarnya. Mbatin, “Weeh, tampangnya serius kali.. Kompasianer banget ini mah..” Tapi pas mule ngobrol, weeeh, bapaknya rame juga. Meja kami pun makin meriah dengan datangnya mbak Dessy dan mbak *** (duuh, mbak, aku selalu lupa dengan nama sampeyan. Maaf, maaf, maaf..) dan terakhir, Mas Nur asli dari Kudus.

Seiring waktu, kesan kompasianer dan blogshop kompasiana yang serius pun terhapus pelan-pelan dari benak. Sepanjang waktu kami rame dan bercanda (rasanya materi dari Pak Pepih, Mas Ahmad Fuadi dan Mas Isjet pun ndak sanggup menyeriuskan cengengesan kami, atau lebih pasnya cengengesanku. hehehe).

Komposisi Penghuni Meja 3

Weeh, pokoknya senenglah bisa datang ke blogshop ini. Seneng bisa berbagi tawa dengan teman-teman di meja 3. Seneng juga dengan ilmu-ilmu yang dibagi para pembicara (sengaja ndak ditulis di sini karena sudah buanyak yang menuliskannya). Pokoknya ndak kapoklah buat datang ke acara Kompasiana selanjutnya. Hehehe.

Biar ndak jamuran di lepi, biarlah gambar-gambar dari kameraku dan kamera mbak Yani ini kubagi di sini. Hahaha.

 

"Alhamdulillah, mahasiswa di tanggal tua seperti ini, masih bisa makan beginian.. Sungguh, sesuatu.. :D "

Kiat menulis naratif. *Duuh, buatku yang biasa nulis reportase dan hal-hal yang ndak jelas, materi ini adalah sesuatu banget..

"Mengapa anda harus menulis..? Jadikan itu motivasi untuk terus menulis.." kata Mas Ahmad Fuadi

"BASIC adalah prinsip dasar online" kata Mas Isjet

"Cintaku, kamu.." lantun Dhisa di coffee break ke-dua. Coba yang nyanyi cowok, GR dah.. :D

Meski ndak dapat "hadiah pintu", namun kami tetap ceria hingga akhir acara. Berandai-andai, coba meja kami pindahkan pas di depan MC-nya ya.. hahaha

 

nb: Mbak Yani, utang impas ya.. hahaha. Mas Erick, makasih karena ndak jadi datang n ngasih kesempatan buatku jadi pemain pengganti. :D

Biarkan..

Posted: November 1, 2011 in My Life, My Poems

Biarkan jeda..
biarkan semua serpihan dan kepingan kembali tertata..
Biarkan sesak di dada perlahan sirna
dan tinggal syukur yang tersisa di sana..

Gambar copas dari http://2.bp.blogspot.com/-ye_xLA5LIoE/TdVMT4k_fRI/AAAAAAAAANE/NTj28-mNb10/s400/BrokenGlass2.jpg