Penangkaran Buaya Blanakan, Subang

Penangkaran ini berada di hutan mangrove seluas 6 ha yang dikelola oleh Perhutani. Lokasi tepatnya berada di Kecamatan Blanakan, Subang. Bisa dicapai dari Ciasem, Subang maupun Cilamaya, Karawang.

Untuk bisa masuk ke dalam penangkaran, kita melewati 2 gerbang tiket, tiket untuk masuk ke kawasan mangrove dan tiket untuk masuk ke dalam penangkaran buaya. Total tiketnya adalah seharga Rp 18.000,-/orang.

Penangkaran terdiri atas beberapa bagian: kolam utama atraksi, kolam pembesaran bayi buaya, kolam pembesaran untuk buaya usia 3-6 tahun, kolam untuk buaya usia di atas 6 tahun dan kolam perkawinan.

Kolam utama. Foto dokumen Dewi

Kolam utama disertai dengan panggung untuk melihat atraksi Jack dan Baron. foto dokumen Dewi

Kolam pembesaran umur 3-6 tahun. Foto dokumen Dewi

Kolam pembesaran untuk buaya umur lebih dari 6 tahun

Kolam perkawinan. Foto dokumen Dewi

Setelah membayar tiket, kita akan disuguhi atraksi pemangsaan bebek oleh Jack dan Baron di kolam utama. Selain Jack dan Baron, buaya jantan yang berumur 29 tahun, panjang 6.5 meter, berat 1 ton, di kolam ini hidup pula 5 ekor buaya betina, yang salah satunya bernama Ningsih. Mereka adalah indukan yang menghasilkan ribuan anakan sejak penangkaran ini berdiri 29 tahun lalu.

Hi, I'm Jack. Foto dokumen Dewi

Dan saya Baron. Foto dokumen Dewi

Atraksi dimulai dengan pawang yang mengetuk-ngetuk permukaan air kolam, bersiul dan meneriakkan nama Jack dan Baron. “Ayo ke sini, belok.. belok..” teriak si pawang. Dan perlahan si Jack pun muncul. “Ayo naik-naik..” kata si pawang sambil mengayun-ayunkan bebek ke kepala Jack. Agar kita bisa melihat bagaimana aksi Jack dalam melumat si bebek, kita harus membayar Rp 25.000,-/ekor bebek. Kebetulan, untuk hari itu, kami ndak perlu membayar karena pak dosen sudah ikhlas menyumbang 4 ekor bebek.. Hehehe. Maka dilemparkanlah seekor bebek ke tengah kolam. “Ayo Jack, makan..!” seru si pawang. Sayang si jack kurang sigap. Baronlah yang justru mendapatkan bebek tersebut. Upaya pelemparan bebek kedua untuk si Jack juga gagal karena muncul si betina Ningsih yang dengan sigap segera menyambar bebek yang berenang perlahan di kolam. Karena Jack tampak lelet dalam menanggapi umpan kami siang itu, maka bebek pun ndak dilempar lagi ke kolam, tapi langsung diletakkan ke mulut Jack yang membuka. Ahh, dasar Jack pemalas. “Padahal biasanya dialah yang paling agresif” ujar si pawang. “Ayo, siapa yang mau berfoto dengan Baron..? Dia yang paling ramah diantaranya semuanya.. aman..” tawarnya. Tapi ndak ada satu pun kami yang berani. Soalnya ndak ada yang menjamin kalau dia ndak akan memakan kami tho.. xixixi.

Air diketuk-ketuk oleh si pawang. Foto dokumen Dewi

Bebek yang disambar Ningsih. Foto dokumen Wenda YK

Setelah menyaksikan atraksi di panggung utama, kami bergerak menuju kandang pembesaran. Di sini si pawang pun menjelaskan bagaimana siklus hidup buaya di penangkaran. Buaya betina yang telah kawin akan menghasilkan telur yang berwarna putih dan berukuran sedikit lebih besar daripada telur angsa.

Telur buaya. Foto dokumentasi Dewi

Dalam satu kali masa bertelur, satu induk akan memproduksi 30-50 telur. Telur akan menetas alami 100 hari pengeraman. Jika dipanasi dengan cahaya listrik, telur akan menetas dalam waktu 40 hari.

Bayi buaya kemudian dipindahkan ke dalam kolam dan diberi makan udang yang telah dikupas ekor dan kepalanya.

Udang untuk pakan bayi buaya. Foto dokumen Richard GTN

Buaya umur 3 bulan

Sementara yang umur 6 bulan diberi makan ikan teri, dan yang lebih dari 6 bulan diberi makan ikan.

Petugas memberi pakan ikan pada buaya umur 3 tahun di kandang. Foto dokumentasi Dewi

Sementara buaya yang umur belasan tahun diberi makan bebek. “Sekali makan bebek, bisa tahan sampai 3 hari,” kata si pawang.

Pemberian pakan bebek

Buaya mulai diperjualbelikan mulai umur setahun dengan harga Rp 3.000.000,-, sudah termasuk dengan perizinannya.

buaya umur 1 tahun

Dalam masa pembesaran, buaya harus dikandangkan sesuai umur. Jika tidak, akan terjadi perkelahian yang akan berakibat kematian buaya muda.

Pada usia 5 tahun, buaya sudah bisa dipasang-pasangkan karena sudah memasuki masa kawin. Ada tempat khusus untuk pemasangan ini, yaitu kolam perkawinan. Setelah masa kawin pada bulan ke-2 dan 8-9, biasanya betina naik ke darat untuk bertelur.

pintu masuk ke tempat bertelur. Foto dokumen Dewi

Penangkaran ini telah sukses mengembangbiakkan ribuan buaya rawa sejak 29 tahun lalu. Setidaknya, ketika buaya rawa mulai punah karena  rawa dan sungai yang makin tercemar, maka penangkaran ini bisa menjadi benteng terakhir. Ia akan menyediakan stok untuk kebutuhan reintroduksi buaya ke alam. Namun demikian, upaya reintroduksi tersebut ini harus diawali dengan upaya peliaran, mengingat buaya-buaya ini telah termanjakan dengan nyamannya kehidupan di penangkaran. Setidaknya mereka harus dibiasakan dengan kehidupan liar di alam, bagaimana cara memburu pakan, dst. Mereka harus diliarkan, supaya tidak lagi tergantung pada kehadiran manusia sebagai pemberi pakan.

4 thoughts on “Penangkaran Buaya Blanakan, Subang

  1. Reportasenya asik sekali,. hingga sy ingin berkunjung kesana,. apakah dewi memiliki contact person pengelola penangkaran buaya di sana,..share info nya ya,.. thanx a lot

    Dedhez Anggara
    08170468205

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s