history of d’day

Akhirnya menemukan juga buku populer (dijual di toko buku yang cukup populer) mengenai kajian sejarah kerajaan di Indonesia, yang ditulis oleh orang Indonesia, dengan kajian literatur yang cukup komprehensif !! Mostly, datanya didapatkan dari lembaran berita dan informasi yang ada di perpustakaan lembaga akademis di Belanda, yang selama ini jadi pusat sumber informasi mengenai Indonesia masa lalu.

Mengingat buku sejarah that written by Indonesian author selama ini mostly normatif dan kental mitos dan folkstale-nya, namun minim kajian literatur, maka bagiku yang baru dan ingin belajar lebih intens soal sejarah, ini adalah penemuan yang besar !! Mungkin kalau bener-bener nyelisik ke perpus-perpus berbagai lembaga, hal ini akan banyak kutemukan.. tapi berhubung tempat mangkalku selama ni masih di toko buku populer, ya.. ini merupakan penemuan yang cukup signifikan..

Berbeda dengan teman yang menyukai belajar sejarah by reading a novel or folkstale, maka aku lebih memilih mempelajarinya lewat berbagai studi objektif yang telah dibukukan/dipublikasikan. Menurutku, tulisan yang dibangun berdasar studi mendalam dengan mencantumkan berbagai literatur, akan menjamin pembacanya merunut kembali secara langsung, jika ingin mengkajinya dengan lebih mendalam. Jadi, reliabilitasnya terjaga (Bukan berarti, aku menganggap bahwa novel dibuat berdasar fiksi belaka tanpa studi pustaka lho..). Aku berharap cara demikian akan membantuku membangun persepsi yang lebih objektif, tidak terjebak dalam sentrisme dan kebanggaan berlebihan atas masa lalu.

Mengapa sejarah kita banyak dikaji oleh orang “luar”, sementara orang domestik kurang meliriknya..?

Dalam peringatan 100 Harkitnas di Metro, diingatkan, bahwa manuskrip yang kita punya sangat berlimpah. Namun yang diolah baru sepersekian saja. Dan itupun juga masih sepotong-potong. Keminiman dana dan SDM pengkajinya jadi masalah klasik. Oleh karenanya pula, banyak manuskrip yang melenyap seiring perkembangan zaman.

Di beberapa daerah, minimnya pengkajian terhadap manuskrip lokal juga dipicu oleh adanya pensakralan terhadap naskah-naskah tersebut (kasus di Bali). Banyak lontar terkait sejarah, pengobatan dan segala pernak-pernik Bali masa lalu yang tidak dikaji oleh orang lokal, karena dimitoskan akan mengarahkan pengkaji-nya pada kegilaan (Soethama, 2006). Maka tak heran, jika kita akan lebih mudah menemukan kajian mengenai Bali yang ditulis orang asing daripada orang sendiri, karena mereka tidak terpengaruh dan mempercayai mitos-mitos tersebut. Aku pernah ngobrol dengan antropolog dari Perancis, Nadine, yang mempelajari dan mengkaji lontar usadha Bali sedemikian rincinya, melebihi kemampuan para balian lokal yang telah mempraktekkan kemampuan pengobatannya selama bertahun-tahun. Whupppff..!! nyesek rasanya, saat dia menyatakan, “Sayang banget kalo pengetahuan seperti ini justru saya, Nadine yang mengungkapkannya, harusnya orang lokal, supaya diseminasi pengetahuan tersebut lebih mudah dilakukan.”

Kesenjangan akibat minimnya pengetahuan dan informasi mengenai daerah sendiri ini juga pernah dirasakan oleh temanku. Dia pernah diminta menemani sepasang ilmuwan dari Belanda untuk napak tilas ke pesanggrahan yang dulu sering digunakan tetirah oleh para penguasa Belanda yang bertahta di Singaraja. Rekanku yang asli Singaraja tak pernah mengetahui hal ini sebelumnya. Justru, sepasang tamu tadilah yang mengetahui letak pastinya pesanggrahan tersebut. Informasi ini didapatkannya dari sebuah perpustakaan di negeri Belanda.

Whoa.. nyesek lagi..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s