Jelang Istirahat Siang

Tadi, saat istirahat siang.. aku memilih untuk membaca di taman kaktus, karena suhu di sana jauh lebih hangat daripada suhu di ruang kantor, apalagi di luar.. Beberapa menit berlalu dengan tenang, sehingga aku mampu membaca hingga beberapa lembar.. Ternyata butuh energi dan konsentrasi lebih juga membaca buku Jejak-Jejak jaringan Kaum Muslim ini. Kupikir antologi kolom Resonansi Azyumardi Azra di koran Republika akan easy to read, macam kumpulan kolom Umar Kayam, Harry Roesli, Gde Aryantha atau Sindhunata.

Sebenarnya kontennya asyik si.. tapi ya.. itu.. butuh konsentrasi. Atau mungkin karena ini adalah tulisan Azyumardi yang pertama kubaca kali ya.. karena masih penjajagan, jadi butuh waktu yang lebih lama untuk mencernanya. Sama seperti ketika pertama membaca novel Gajah Mada Langit Kresna Hariadi yang bahasanya berbunga-bunga itu.. aku juga butuh waktu yang lebih lama untuk mengakrabkan diri dengannya.

Kembali ke topik semula, baru beberapa lembar kubaca, tiba-tiba datanglah rombongan anak-anak SD ke dalam taman. Suara riuh pun terdengar, mau tak mau, posisi wuenakku terganggu, dan buku pun secepatnya kututup. Beberapa saat kemudian terlontarlah pertanyaan mengenai berbagai tanaman yang ada dalam taman tersebut. Berbagai sapaan juga terlontar, mulai dari mbak, bu, tante.. (resiko umur tua tapi badan belum dewasa).

Saat di foyer.. ketemu dengan seorang anak yang beratnya sudah tergolong overweight, tampak lemes dan pucat mukanya. Gurunya pun menghampirinya dan mengulurkan minuman. Aku pun mendekatinya dan mengajaknya ngobrol dan memperkenalkan beberapa tanaman.

Tapi, promosiku gagal, dia tak beranjak ke dalam.. lanjut bertanya..” Tante, tanaman sebanyak ini siapa yang ngurus..” Pertanyaan polos namun membuatku berpikir juga, mengingat tanaman di taman tersebut memang minim perawatan, hanya disiram dan dibereskan jika sudah tampak “gimana”. Akhirnya kujawab bahwa ada petugas yang merawat, menyiram dan menyianginya, tapi tak sebanyak petugas yang di lapangan.

Tak berapa lama kemudian, ”Tante, aku balik ke luar aja ya.. Mual banget ni.. perjalanan masih jauh lagi..”

“OK, enjoy your visit de.. Tu masih ada taman anggrek di seberang sana..” tukasku

Melihat anak itu beranjak, aku berpikir.. Apa asupan yang diberikan oleh ortu anak tersebut kepadanya. Kok bisa sebesar itu.. Mungkin gaya hidupnya juga memang tidak seimbang, antara input dan kegiatan fisik yang dilakukannya njomplang..khas anak-anak era 90-an atau 2000-an. Lebih suka maen PS atau gameonline lainnya, daripada main petak umpet di halaman.

Whupff.. kehidupan anak-anak era 90-an atau bahkan 2000-an ini memang menyedihkan.. Mereka jarang bisa menikmati senangnya bermain layangan, berpetualang dengan sepeda, dst macam anak-anak daerah terpencil yang tampil di salah satu acara anak di stasiun tv swasta. Anak generasi 90-2000an lebih suka main di rumah, sendiri, dengan alasan untuk menjaga kulitnya tetap terjaga putih. Dengan alasan telah sibuk ikut les ini, les itu, karena beban pelajaran yang sangat banyak, dst.. Tapi bisa jadi, memang mereka lebih menyukai tipe permainan rumahan seperti itu supaya lebih deket dengan orang tuanya yang makin jarang menemaninya karena telah sibuk bekerja siang malam.

Alhamdulillah… Bersyukurku, karena dilahirkan sebagai generasi 80-an, jadul.. namun masih sempat bersepeda keliling hingga ke kecamatan lain, sempat copot sendi karena salah bikin lubang kelereng, sempat terbakar rambut karena main masak-masakan di kebun.. dan sering dimarahin karena bermain saat hujan.

-dee-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s