GM

GM (yang pasti bukan Grand Manager ni..)

Zaman dahulu, entah abad ke berapa, Gunung Muria berada pada pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. Daerah yang sekarang masuk wilayah Batangan, Pucakwangi Winong dan sekitarnya, serta sebagian tepi Semarang dulunya adalah selat, yang seiring waktu berjalan kemudian mengalami pengangkatan menjadi daratan (sayangnya pengangkatan yang dialami daratan di Semarang tak sekuat daerah di Pati, karena itulah mereka sering mengalami rob.. banjir pasang laut). Hal inilah yang menjelaskan mengapa air tanah di beberapa daerah Pati tersebut mengandung kadar garam yang cukup tinggi.

Gunung Muria, pada dasarnya merupakan pegunungan yang tersusun dari beberapa puncak, seingatku ada yang namanya Argo Jembangan. Sebagian besar wilayahnya masuk ke dalam Kabupaten Kudus dan Jepara. Hanya sebagian kecil yang termasuk dalam Kabupaten Pati, yaitu sebagian lereng timurnya (Kecamatan Gembong dan Tlogowungu) dan sebagian lereng utaranya (kecamatan Cluwak).

Perjalanan naik GM itu biasanya dimulai dari daerah Gembong atau daerah Jolong, satu daerah di kecamatan Gembong yang wilayahnya memotong kecamatan Tlogowung. Daerah ini merupakan penghasil kopi di kabupaten Pati. Bubuk kopi tersebut dihasilkan dari ribuan kopi yang ditanam di lereng Muria oleh Belanda ratusan tahun lalu. Jenis kopi yang diusahakan adalah robusta.

Menurut penuturan warga yang kutemui, produktivitas pabrik kopi yang dikelola PTPN ini semakin menurun. Satu, masih mengandalkan biji kopi dari pohon warisan Belanda (regenerasi dengan tanaman kopi yang lebih muda masih rendah). Kedua, faktor lingkungan yang kurang mendukung bagi perkembangan dan produktifitas pohon kopi, yaitu musim kemarau makin panjang, kanopi di lereng yang makin terbuka dan sumber air yang makin sedikit.

Lereng Muria merupakan wilayah yang mengalami efek langsung dari masa awal reformasi di tahun 97. Sebagian hutannya mengalami perambahan dan penebangan liar. Hal ini terlihat dalam kunjunganku beberapa bulan lalu. Dari Waduk Gembong tampak terlihat beberapa bagian lereng terbuka dan tidak serimbun waktu dulu. Hal serupa juga akan terlihat saat perjalanan ke Tayu.

Salah seorang penduduk yang bermukim di sekitar lereng menceritakan bahwa tak hanya perambahan kopi dan kayu yang sering terjadi di lereng Muria ini, namun juga perambahan pakis. Booming tanaman anthurium ternyata mendorong banyak orang untuk mengeksploitasi pakis di hutan, karena pakis merupakan salah satu media tanam yang ideal. Usaha ini cukup menggiurkan. Tidak memerlukan modal besar, karena telah tersedia melimpah di alam. Menurut tuturan, ada seorang pengepul pakis yang berhasil membeli motor thunder dari usaha ini.

Banyak konsekuensi yang dirasakan oleh warga Pati (terutama) dari terjadinya perambahan hutan di lereng Muria ini. Yaitu semakin seringnya frekuensi banjir yang dialami warga di hilir Sungai Tayu dan Sungai Juana. Satu yang harus disadari, hal tersebut terjadi bukan hanya karena curah hujannya yang memang sedang tinggi, namun juga karena tak ada lagi akar pepohonan yang mampu mengikat lajunya air dari lereng gunung.

Perambahan hutan memang menguntungkan, tapi hanya untuk segolongan pihak. Sebaliknya, dampaknya sangat menyulitkan masyarakat luas. Masih ingatkah kita pada banjir Juana dan Kudus awal tahun ini yang menyebabkan kemacetan luar biasa yang melumpuhkan roda perekonomian Jawa, serta merusakkan berbagai prasarana fisik pribadi maupun publik. Jadi, masihkah kita akan terus egois.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s