Jepara dalam penjelajahan

Jepara..

dalam Spirit Penjelajahan 08.30-18.10

Kemaren tanggal 17 jalan ke Jepara.. by 2 motor, dengan dua temen penjelajah. Tujuan utama kunjungan adalah pantai Bandengan, yang terletak di Desa Bandengan Kecamatan Mlonggo, yang berjarak hanya beberapa km dari pusat kota Jepara. Seingatku, jarak dari Tayu sampe pantai Bandengan mencapai 71 km (dari spedometernya Yani). Tayu-Trangkil 13 km, Trangkil-Pati 11 km. Jadi total jendral jarak dari Pati-Bandengan adalah +95 km.

Dua Jalan Alternatif ke Jepara

Untuk berangkat ke Jepara, ada dua alternatif jalan yang bisa kami tempuh dari Pati, lewat jalan raya Cluwak ato lewat jalan Dukuhseti. Akhirnya kami mengambil alternatif pertama untuk perjalanan berangkat dan alternatif kedua untuk perjalanan pulang. Alternatif pertama kami pilih berdasarkan asumsi, bahwa jalan tersebut membelah hutan, so kami tidak akan kepanasan saat jalan.

Selama perjalanan, kehabisan bahan bakar mungkin akan terhindari karena terdapat >7 pompa bensin dari Tayu-Bandengan ini. Hal yang harus dicermati adalah minimnya petunjuk arah dan jalan. So, kita harus sering nanya ke orang-orang setempat kalo feeling kita nyatain, “Harusnya dah nyampe ni.. tapi ko blom ada petunjuk2nya juga ya..”

Jalan berliku-liku kami lewati ketika mulai memasuki ke desa Payak, kecamatan Cluwak, hingga Sirahan dan Desa Mojo, desa terakhir yang masuk wilayah administratif kabupaten Pati. Di desa Sirahan nuansa desa Islami nampak kental. Masjid, madrasah, lembaga keuangan Islam tersebar di mana-mana. Perbukitan dan wilayah ini masih tampak rindang. Satu yang patut dicermati, warna tanah di daerah ini, khususnya setelah kecamatan Tayu adalah tanah yang berwarna merah. Penduduknya banyak bertanam buah-buahan dan cengkeh.

Get into Jepara

Hal yang tampak signifikan ketika memasuki wilayah Jepara adalah jalannya yang tampak lebih lebar dan suasana lalu lintasnya yang lebih didominasi bis daripada sepeda motor (hal yang membedakannya dengan Pati). Kecamatan pertama yang kita lewati adalah kecamatan Keling (ada pasar Kelet, yang dalam bahasa Jawa berarti nempel.. namun berarti..”sensor”.. di Bali), berikutnya kecamatan Kembang, Bangsri, Mlonggo (yang terkenal dengan durian Petruknya dan pertikaian antar partai yang menewaskan ratusan orang itu) dan kecamatan Jepara.

Setelah melewati pasar Keling hingga ke kecamatan Kembang seharusnya kami melintasi hutan jati. Namun kembali kami harus menelan kekecewaan. Hutan tersebut telah hilang. Lahan yang gersang dan gundul terlihat nyata. Pohon jati dan mahoni muda yang mencapai tinggi 2-4m hanya terlihat rapat di pinggir jalan, sementara bagian ke dalamnya masih banyak yang gundul. Di mana-mana terlihat tulisan “Mboten pareng nanem tela” ato mboten angsal nanemi tela” yang berarti tidak boleh menanam singkong.. larangan yang rasional mengingat singkong memang tanaman yang boros unsur hara tanah. Di antara tanaman muda jati tersebut, kita bisa melihat jagung maupun pisang.. (jadi teringat perbukitan di kawasan Rajamandala dan Saguling Bandung Selatan yang berkonversi serupa, namun pada tingkat yang lebih parah). Reformasi 1998 memang harga yang harus dibayar mahal oleh bangsa ini. Penjarahan hutan terjadi secara tak terkendali di hutan Jepara. Hanya meninggalkan kegersangan dan kekeringan 5 sungai besar yang kami lintasi selama perjalanan. Sungai tersebut hanya meninggalkan aliran kecil yang sangat tidak mungkin dimanfaatkan. Jika bisa sedikit dimanfaatkan, itu karena kekreatifan penduduk yang membendung sungai tersebut dengan batang pisang di bagian hilirnya.

Hutan yang tampak masih minim dari penjarahan adalah hutan karet yang dikelola PTPN IX Balong. Hutan ini terletak beberapa km setelah hutan jati tersebut. Satu pertanyaan yang terpikir adalah mengapa hutan jati Perhutani habis terjarah, sementara hutan karet PTPN IX relatif utuh, apakah karena perbedaan pengelolanya, jati-perhutani, karet-PTPN.. atau karena peruntukannya yang berbeda..

Di areal hutan karet ini kita bisa melihat satu contoh pohon yang tersisa dari zaman dahulu. Pohon ini sangat besar, mungkin melebihi pohon kenari yang ada di Kebun Raya Bogor. Tampak sudah mati karena tersambar petir, namun tak ada yang tergerak untuk menebangnya. Entah karena keberadaannya yang berada di hutan PTPN ato karena ada kepercayaan magis di baliknya..

Mampirlah ke warisan Portugis

Kalo mo ke pante Benteng Portugis, di tengah-tengah perjalanan menuju Bandengan, tepatnya sebelum Jembatan sambung Oyot kita berbelok kanan (utara), ke arah desa Tulakan (kalo ga salah..). Setelah 12 km kemudian, sampailah kita di pantai yang menjadi tempat pendaratan Portugis tersebut. Kini, hanya tinggal pondasi batu yang terlihat dari bekas bentengnya. Tempat ini memang strategis untuk mendarat dan mendirikan benteng, mengingat di depannya terdapat Pulo Mandalika yang cukup signifikan sebagai pelindung dari ombak yang besar maupun serangan musuh. Kini, di pulo tersebut tampak satu mercusuar dengan arsitekturnya yang Eropish itu..

Sebelah selatan pantai ini adalah pegunungan Celering yang akan menjadi lokasi pembangunan PLTN yang dihebohkan itu.. (tepatnya di desa Ujung Watu, Kecamatan Keling.. kalo ga salah). Ada salah satu bukit dari pegunungan ini yang menjadi pusat pertambangan (entah tambang apa.. kapur ato…). Bukit ini kini sudah hampir habis, sama seperti perbukitan di Batujajar, Cigudeg, Bogor yang juga rontok satu persatu karena goncangan dinamit.

Karena menjadi tempat pendaratan Portugis, maka misionarisasi pun berlangsung di ujung utara pulau Jawa ini. Tak heran jika banyak penduduknya yang memeluk agama Kristen. Selain Kristen dan Islam, agama Budha juga berkembang sebagai peninggalan kerajaan Kalingga (Ratu Shima dan Kanjeng Ratu Kalinyamat). Di pegunungan Celering ini terdapat beberapa gua yang diyakini menjadi tempat pertapaan Kalinyamat yang sekarang masih dikunjungi warga. Kebenarannya.. Wallahu’alam.

Beberapa kilometer kemudian, sampailah kita di wilayah Kabupaten Pati, yaitu di desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti. Perbatasan antara Jepara dan Pati di titik ini berupa jembatan dan hutan karet yang dikelola PTPN IX Balong, Beji dan Kali Telo.

“Klein Scheveningen” nya Jepara

Pantai Bandengan adalah pantai yang dulu sering dikunjungi Kartini untuk mencari inspirasi. Dia mengandaikan pantai ini sepertinya Klein Scheveningen, tempat kelangenan para Belanda di negerinya sono. Hal ini terungkap dalam Kartini:..Habis Gelap Terbitlah Terang (dost duiternist tot licht.. smoga ga salah nulisnya..huehe2) yang diterbitkan oleh Balai Pustaka (kalo ga salah.. sampulnya warna kuning ato coklat gituh..).

Beberapa tahun lalu, tepatnya saat perpisahan kelas 3 SMU, keadaan pantai ni masih asyik.. kita masih bisa ngeliat dan bermain di pasir putih yang halus banget di sepanjang bibir pantai. Masih bisa ngeliat beberapa orang bule berjemur di sisi barat pantai yang berhadapan dengan Pulau Panjang (jadi keinget penelitian tentang biota laut punya seorang temen DKP x-undip). Tapi kini, pasir putih hanya terlihat di sepanjang pantai yang berhadapan dengan pemukiman penduduk dan sedikit di Bandengan. Abrasi yang kuat menyebabkan pemda (?) mereklamasi pantai dengan karang dan kerang. Sayangnya reklamasi ini terkesan ga rapi dan belum selesai. Entah materialnya yang ga cukup ato dananya yang ga cukup..

Obrolan kami saat di pantai tersebut adalah mengapa stakeholder lebih memilih reklamasi dengan karang daripada dengan bakau misalnya. Padahal jika dengan bakau mungkin biaya yang dibutuhkan lebih murah. Tapi kemudian, kami juga mempertimbangkan alasan bahwa kehadiran bakau di pantai tentu akan mengurangi kenikmatan wisatawan memandang pantai (lain kasus dengan pantai di pesisir nelayan) atau mungkin reklamasi dengan karang dilakukan untuk menciptakan bibir pantai yang lebih luas dengan pasir putih (karang diharapkan akan hancur menjadi pasir putih). Tapi kalau hanya mengharapkan kekuatan alam untuk menghancurkan karang tersebut, maka akan butuh waktu yang bertahun-tahun bukan.. sementara yang dicari wisatawan di pantai ini adalah pantai yang berpasir putih, bukan pasir yang berkarang yang hanya bikin sakit kaki bila diinjak dan pemandangan yang kurang nikmat karena penataan yang kurang rapi. Mengapa proses penghancuran tersebut tidak dipercepat dengan alat perata jalan misalnya..

Kebersihan Pantai Bandengan juga sangat kurang (khas tempat wisata di Indonesia bukan.. sampah pengunjung berserakan di mana-mana). Biasanya kita bisa berteduh di antara pandan-pandan laut yang setinggi 2-4 meter itu, namun kini sela-sela pandan tumbuh rumput liar dan penuh onggokan sampah. So, dapat dibayangkan, bahwa tiada tempat berteduh pun di pantai tersebut.. Kecuali emperan warung yang tersebar di berbagai area pantai (coba kalo warung2 dilokasir di sudut tertentu.. tentu akan lebih rapi dan memudahkan pengunjung untuk memanfaatkannya bukan..).

Kalau dibandingkan dengan pengelolaan pantai di Bali, yang memang disadari betul oleh Pemda sebagai sumber PAD-nya … maka akan jauh bedanya. Pantai di sini sangat bersih. Kebersihan pantai Kuta misalnya melibatkan pedagang asongan yang berdagang di sekitarnya. Setiap hari, pada jam tertentu (yang pernah kulihat adalah sekitar pukul 14-15 wita) para pedagang, petugas SAR dan smua yang berdinas dan mencari nafkah di pantai tersebut akan bergotong royong membersihkan pantai). Sementara di Nusa Dua, kebersihan pantai diserahkan pada swasta maupun Dinas Pertamanan Kota (Pasukan Kuning). Tak ada warung permanen/semi permanen yang dibuat warga di sekitar pantai, kecuali dagangan yang digelar di meja yang bisa dibereskan dan tidak memakan banyak tempat. Petunjuk mengenai pantai tersebut, di mana toilet dan fasilitas penunjang lainnya terdapat di berbagai tempat, masih terpelihara dari grafiti liar. Di pantai Bali, kita tak kekurangan tempat berlindung. Seandainya tak ada tanaman perindang, seperti di Dreamland, maka perindang buatan pun tersedia (meskipun dengan membayar biaya sewa).

Mengingat potensi wisata yang dimiliki Jepara, tampaknya pengelolaan pariwisata Bali, terutama pantai, tak memerlukan banyak investasi dana jika diadop. Jepara punya produk sejarah, alam dan manufaktur yang cukup unggul. Ukiran, tenunan troso, ikan, hasil hutan, pantai, tambang, air terjun, duren petruk, dst.. adalah potensi yang akan mendatangkan banyak rupiah jika dikelola secara profesional, tidak setengah-setengah. Sekarang tergantung pada stakeholdernya, mo ga.. mengoptimalkannya. Kalo g, ya.. sayang aja..

Oy, di lepas pantai Bandengan ini kita juga bisa melihat muculnya bagan. Meskipun jumlahnya belum mencapai ratusan seperti di Palabuhanratu, tapi berpotensi pula untuk mengurangi populasi ikan. Bagan adalah alat eksploitir ikan-ikan kecil. Jika jumlahnya makin banyak, maka ikan2 akan berhenti siklus hidupnya. Di teluk Palabuhanratu, bagan ini sangat mengurangi pendapatan nelayan tradisional yang hanya mampu berlayar 1-3 mil laut (tidak mampu keluar dari teluk), sebab keberadaan mereka yang menumpuk, terutama di bibir teluk menghalangi masuknya ikan ke dalam teluk. Semoga hal ini tidak terjadi di Jepara mengingat mereka menghadapi perairan yang terbuka.

Persinggahan Kedua: Masjid Raya nan Anggun

Setelah mengalami ketidakpuasan di Pantai Bandengan yang keadaannya makin ga asik.. maka kami bertiga beralih ke kota. Tujuan kami adalah mencari sentra ukiran dan mencari makan. Setelah masuk ke kota, tepatnya di alun2, yaitu di lingkungan kantor pemda, kami menuju ke masjid raya karena waktu telah menunjukkan waktu shalat Dhuhur. Aku lupa masjid tersebut terletak di jalan apa, yang jelas tak jauh dari alun2. Subhanallah, ketika masuk kami langsung ditakjubkan dengan kekhasan arsitektur masjid ini. Gapuranya anggun dengan warna hijau muda dan ukiran batu di sebelah kanan dan kirinya. Arsitektur dalam masjid lebih anggun lagi. Plafon atas dihiasi dengan ukiran asmaul husna. Sementara dinding besar di depannya dihiasi pula dengan ukiran kaligrafi. Masjid ini dibangun bertingkat 2 (lantai 2 untuk jamaah putri) dengan desain semi terbuka, ¾ bagiannya terbuka, tanpa dinding, hanya ada beberapa tiang (saka: Jawa) dan ¼ berikutnya adalah ruangan bertutup dinding ukir dan kaca. Desain semi terbuka ini memungkinkan jemaah merasakan kesejukan anginnya di tengah cuaca yang demikian panasnya saat itu.

Uniknya, saat masuk ke pelataran masjid, kami mendapatkan karcis parkir dari petugas yang berdiri di gerbang dengan keramahan dan senyum yang senantiasa mengambang dari bibirnya. Di karcis tersebut tertuliskan “Shodaqoh seikhlasnya… kami tidak menanggung resiko kehilangan kendaraan Anda dan barang-barang yang ditinggalkan”. Huehe2.. terasa menggelikan.. sumbangan yang seikhlasnya ternyata meniadakan kewajiban untuk ikut menanggung resiko kehilangan. Tapi kupikir ini lebih rasional daripada sistem yang berlaku di transportasi darat, misalnya di bis antar kota. Meskipun kita telah membeli tiket dengan cukup mahal, ternyata mereka tidak bertanggung jawab terhadap barang2 penumpang yang tidak sengaja tertinggal di bis.. huehe2.. lebih aneh lagi bukan..?

Menapak Jejak Kartini dan Jepara Tempo Doeloe

Setelah menikmati kesejukan dan keademan masjid raya Jepara yang tampak jauh lebih nyaman daripada masjid raya Pati yang “agak jorok” itu.. kami meneruskan perjalanan ke museum Kartini. Hanya berjarak 200m dari masjid raya tersebut. Gedung museum ini terlihat tak terawat.. terlihat tak istimewa, tidak semegah dan serapi gedung-gedung lainnya. Tak menyangka, kalo gedung tersebut adalah museum Kartini. Tak ada loket, tempat parkirnya sempit, mungkin hanya cukup untuk beberapa puluh sepeda motor saja. Mungkin kesederhanaan pengelolaan tempat ini menunjukkan betapa kurangnya minat generasi bangsa ini terhadap museum. Meskipun tak ada loket, namun tetap ada tiket masuk yang diberlakukan, yaitu sebesar Rp 1500,00. Subhanallah… murahnya.. hanya selisih 500 rupiah dengan harga yang harus kita bayarkan untuk menitipkan zat buangan dari tubuh kita di toilet umum… sungguh sedemikian murahnya harga yang kita berikan untuk sejarah bangsa ini. Sementara untuk menikmati kekayaan alam yang telah rusak di Pantai Bandengan kami harus mengeluarkan Rp 14.000 (2 motor, 3 penumpang). Padahal untuk ke Pantai Bali yang lebih indah aja.. gratis…

Sosok Lurus

Kami yang yang tak mengharapkan kembalian ketika mengulurkan uang Rp 5000,00 untuk tiga tiket mendapatkan uang kembalian yang semestinya memang hak kami, lima ratus rupiah. Uang kembalian yang diperoleh petugasnya setelah beberapa menit mondar-mandir menukarkannya terlebih dahulu. 500 ratus rupiah di kota ini ternyata tetap dihargai sebagaimana mestinya. Hal yang sama juga berlaku saat membeli aqua ½ liter di dekat pom bensin. Biasanya, bagi pendatang seperti kami, aqua tersebut dihargai Rp 2000,- namun di warung tersebut aqua yang kami beli tetap dihargai Rp 1500,-. Kembalian pun diberikan dengan senyuman.. Aku yang sudah siap membayar Rp 2000,- bahkan lebih.. karena terbiasa dengan anggapan bahwa “pendatang, siaplah membayar mahal” pun hanya terbengong.. kebiasaan untuk menganggap enteng kembalian 500 rupiah dengan menukarkannya dengan 3 permen atau bahkan dengan sama sekali tak memberikannya (macem ketika kita membayar uang 1000 untuk parkir motor yang seharusnya 500 rupiah tanpa pengembalian dan keterangan apapun dari tukang parkirnya yang berarti umum… “sudah.. ikhlasin aja”).

Menapak Jejak Kartini dan Jepara Tempo Doeloe

———————part 2——————————

Ada tiga ruang (gedung) dalam museum Kartini. Ruang pertama khusus memamerkan barang-barang yang terkait langsung dengan Kartini, sementara ruang kedua memamerkan barang2 kerajinan Jepara yang bertemakan Kartini. Terakhir, ruang ketiga adalah ruang pamer barang-barang dari masa lampau Jepara yang tidak terkait dengan Kartini.

Di balik dinding museum yang catnya tampak lusuh tersebut, kami banyak disuguhi banyak peninggalan Kartini, keluarga dan kondisi Jepara kala itu masanya. Banyak foto mengenai Kartini, keluarga dan koleganya. Sebagian besar merupakan foto repro yang juga sudah mengelupas di beberapa bagian. Ada foto tentang Klein Scheveningen ala Jepara, foto Kartini bersama Kardinah dan Roekmini (yang jauh lebih cantik dari dua orang sebelumnya), foto Kartini ketika berkunjung ke Bogor, foto Kartini bersama murid ajarnya, foto ortu dan sodaranya, termasuk foto Raden Sosrokartono, kakak laki2 Kartini yang bersekolah di Eropa dan menjadi motivator bagi pribadi Kartini. Bagi kami, Sosrokartono termasuk kategori ganteng.. lebih ganteng daripada Soekarno muda, apalagi suaminya Kartini.. huehe2.. dan temenku sangat yakin bahwa mungkin Sosro inilah yang mendirikan perusahaan teh botol Sosro, karena dia menghabiskan sisa hidupnya di Bandung, sama seperti kota kelahiran produk tek tersebut. Wallahu alam..

Kembali ke foto dan lukisan, ada pula repro foto lukisan yang dibuat Kartini (rangkaian bunga) dan saudara-saudaranya yang lain (kucing misalnya). Selain itu, adapula foto Gunung Merapi, Gunung Kelud dan Gunung Lawu di masa itu. Yang agak kuherankan adalah adanya kawah di foto yang tertuliskan Gunung Lawu.. padahal sekarang kayaknya ga ada kawahnya de.. jadi entah salah identifikasi foto atau memang karena telah terjadi perubahan.. wallahu alam).

Lukisan besar foto diri Kartini yang ukurannya 2X3m, serupa dengan foto Kartini yang sering kita lihat di buku-buku, akhirnya terpilih menjadi background foto narsisku..huehe2. Selain itu, adapula mozaik foto serupa yang dibuat dari kerang laut. Subhanallah de.. ada yang sesabar itu mengerjakannya.

Selain foto, ada pula peninggalan barang-barang yang sering dipergunakan kartini. Misalkan beja belajar, mesin jahit (yang masih berfungsi ketika gw coba), peralatan membatik (canting), peralatan meditasi, alat2 pengobatan, de el el. Semua peralatan dan furnitur terutama terbuat dari kayu jati (iyalah.. secara bangsawan ini..) tak berukir. Di antara sekian sudut tersebut, ada satu sudut yang sempat membuat gw merinding.. entah kenapa.. (gw lupa di ruang yang mana itu.. kayaknya sebelum lukisan diri Sosrokartono.. yang jelas.. ada semacam meja dan rak bukunya yang terbuat dari jati pula). Bulu kuduk yang berdiri bikin aku semangat untuk cepet beranjak..

Di ruang kedua, kita bisa melihat kura-kura, menjangan yang telah diairkeraskan. Juga radio jadul yang gede (kata temen, radio itu bertenagakan 12 batere), ukiran bergambarkan Kartini, barang kerajinan tangan lainnya, kain tenun troso, dll. Lemari dan lantai tripleks display di ruangan ini sangat rapuh, bahaya jika disentuh or diinjak. Kemungkinan rusaknya sangat gede. Untuk menopang tubuhku yang hanya 40kg ini saja lantai tripleks tersebut langsung “kriek..kriek.. “ mentelung (bahasa Jawa untuk melengkung). Untung ga sampe jebol..heuehe2..

Di ruang ketiga, kami melihat bangkai gajah laut yang ditemukan mati terdampar di pantai Kartini pada tahun 1989. Panjang dari kerangka ini adalah 16m, dengan lebar sekitar 2m. Di bingkainya, kerangka ikan/gajah laut ini diberi nama Ki Joko Tua. Menurut cerita petugas, gajah laut ini diperkirakan mati kelelahan/ketuaan karena perjalanan migrasi yang ditempuhnya. Selain itu, di ruangan ini adapula peninggalan berupa gamelan, keramik baik dari Cina maupun Eropa (bisa dibedakan dari lukisan di keramik tersebut), koleksi uang kepeng (macem pis di Bali) dan berbagai barang2 lainnya, yang terbuat dari kuningan maupun perunggu (ada peralatan nginang, seperti yang dipunya canggahku lho..). Selain itu, ada pula fosil kayu yang sepertinya jauh lebih tua dari fosil yang kupunya, karena tampak lebih keras, tidak tampak seperti belahan/bongkahan kayu, namun lebih menyerupai batu yang disepuh emas karena keseringan digosok oleh petugasnya.

Meraih Sudut Estetik

Setelah museum, kami meneruskan perjalanan ke sentra ukiran, yaitu di desa Mulyoharjo, berjarak kurang lebih 1km dari pusat kota, di jalur yang menuju Kecamatan Bangsri. Sentra ukiran ini ditandai dengan patung kuda. Di sini berbagai jenis kerajinan ukiran tersedia, bahkan gerabah maupun fosil kayu pun tersedia. Ukiran dari yang ukuran besar hingga kecil, dari yang kompleks hingga yang simpel dan sepele macem tempat perhiasan. Harganya pun variatif, dari Rp 10.000,- (tempat perhiasan) hingga puluhan juta. Ukiran petromaks ditawarkan Rp 60.000,-. Kaligrafi ayat kursi dan surat lainnya dalam Al Qur’an dihargai mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 600.000. Kaligrafi ukiran bersepuh emas berpigura dan berkaca dihargai Rp 450.000,-. Buat perbandingan, di Pati, kaligrafi dari logam bersepuh emas ditawarkan Rp 350.000,-. Menurut pengunjung yang datang bersamaan dengan kami, harga produk di Mulyoharjo ini lebih mahal daripada harga produk serupa yang dijual di Cepu, Blora (Wah, bisa jadi sasaran kunjungan berikutnya ni.. palagi daerah tengah tersebut memang belum pernah kukunjungi).

Unique Things We Saw

Banyak hal unik yang kami temukan selama perjalanan, misalnya berbagai reklame di jalanan. Banyak kata-katanya yang khas Jawa, misalnya rumah bunga X yang menyediakan sebangsa anthurium”…. ato “X mebelair menjual mebelair dengan kualitas lumprah”. Lumprah yang dimaksudkan di sini mungkin untuk menunjukkan kualitas yang beredar di pasaran umum kali ya.. yang middle.. ga bagus banget ga jelek banget.. yang biasanya dikonsumsi banyak oranglah.. trus kata sebangsa anthurium mungkin menunjukkan berbagai anthurium ato tanaman yang menyerupai anthurium..

Adenium dan euphorbia memang benar2 populer. Bayangkan perjalananku dari rumah hingga ke ujung Pati selalu menjumpai dua jenis tanaman hias ini, hampir di setiap pekarangan rumah. Pekarangan tersebut tak hanya dihiasi satu pot euphorbia, namun banyak.. dengan berbagai warna bunga, mulai dari hijau, kuning hingga merah dengan berbagai tingkat.. Wonderfull.. Dapat dikatakan, warga Pati yang memang cinta tanaman hias.. sangat kosmopolit terhadap informasi yang terkait tanaman hias. Apalagi jika dikaitkan dengan kepercayaan bahwa tanaman tertentu, euphorbia misalnya, bisa mendatangkan rezeki bagi pemiliknya.. wuuuh.. pasti akan laris manis.. potensi yang patut diperhitungkan bagi mereka yang berflorikultur..

Menemukan pusat industri genteng dan batu bata selain desa tempat tinggalku, Trangkil, di ujung Pati. Tepatnya di desa Kembang, kecamatan Dukuhseti. Selain itu, nemuin pula ladang yang diubah menjadi kebun semangka ketika musim kemarau. Cerdiknya, petaninya menjual langsung hasil panenannya tersebut kepada konsumen. Mereka mendirikan warung-warung di pinggir jalan. Dengan demikian, dia mendapatkan harga jual akhir lebih tinggi dari produknya tersebut, ketimbang harga yang diterimanya kalo harus menjual produknya tersebut ke tengkulak. Konsep penjualan langsung dari petani ke konsumen ini mirip dengan konsep Deptan baru-baru ini yang diadop dari kebiasaan petani Amerika dan Thailand untuk menjual produknya langsung ke konsumen. Kalo dipikir, konsep ini ideal juga. Namun jika mengacu pada kasus Kadupandak, Cianjur.. konsep ini akan mental karena ketiadaan infrastruktur penunjang semacam jalan, alat komunikasi dan transportasi. Kerusakan jalan yang bener2 parah membuat petani Kadupandak terisolir dari informasi pasar, teknologi pertanian dan sarana pertanian, seperti pupuk dan pestisida. Kerusakan jalan juga membuat mahalnya biaya pengangkutan jika mereka ingin menjual hasil panenannya langsung ke pasar. Hal inilah yang secara tidak langsung membuatnya tergantung pada tengkulak. Jika jalan, alat transportasi dan komunikasi telah tersedia secara memadai, ditambah dengan kesatuan petaninya dan lunturnya keengganan untuk berhubungan langsung dengan konsumen.. maka kepraktisan yang seolah-olah petani dapatkan dari tengkulak akan terpatahkan dengan sendirinya. Muaranya, konsep ideal tersebut akan memberikan hasil signifikan bagi kesejahteraan petani Indonesia.. We’ll see..

6 thoughts on “Jepara dalam penjelajahan

  1. Thx kunjunganx pak..yap, jepara memang lebih indah n lebih bnyak potensi dibndingkan kota saya pak..tempat yg layak utk dsinggahi lbh lama seperti saran Anda..smg sy bs bs brkunjung k sana lg..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s