Exploring The Southern Cianjur

Kadupandak.. subsistent district

Kadupandak merupakan daerah yang jadi tempat KKP pas semester  6 dulu.. dulu si nganggep penempatan di daerah ni merupakan musibah buanget.. iyalah.. scara kecamatan ni terpencil sendiri dari 3 kecamatan lain yang jadi lokasi KKP temen2 yang lain. Campaka, Campaka Mulya, Sukanagara, Cibinong, Tanggeung, Sindang Barang, berada satu jalur di sepanjang jalan negara.. Sementara kami, berbelok ke arah barat dan harus melewati jalan yang sangat parah rusaknya.[1] Herannya rusaknya jalan ni dah dari kapan tahun, tapi perbaikan hanya dilakukan kurang dari 5km/tahunnya. Dah gitu, tempat ni masih belum terdedah sinyal hp, mengingat letaknya yang terjepit bukit2. Huaha2.. krasa aneh.. masa di Jawa masih ada yang sperti ini..

Tapi mengenai kerusakan infrastruktur di Jawa, menurut Kompas, ada yang parah juga tu, yaitu di Pacitan yang berbatasan dengan Wonogiri (dah masuk propinsi Jateng).. hanya berjarak beberapa km dari kampung halamannya presiden kita saat ini. Huah?? Ko bisa.. Jalan di sana juga sama parahnya…

Ya, mo ga mo.. keterbatasan infrastruktur memang tak melulu masalah di luar Jawa.. srasa jadi masalah universal aja..huehe2.. Inget ga ma kasus anak2 Garut yang harus berbasah-basah ria menyeberangi sungai tiap berangkat dan pulang sekolah.. karena ketiadaan jembatan. Untungnya, begitu fenomena ini diangkat pemberitaan di sebuah TV swasta, tak berapa lama kemudian, pihak TNI berinisiatif membangunkan jembatan.. sungguh beruntung mereka.. lalu bagaimana dengan nasib warga Kadupandak..? Haruskah menunggu sampai wartawan mengangkat masalah ini.. Kalo gitu, harus menunggu berapa lama lagi ya.. mengingat warga di sini tak mampu membayar ongkos transport wartawan untuk meliput.. (berdasarkan informasi, kadang ada wartawan yang berkunjung ke Kadupandak, namun biasanya minta “amplop” supaya berita daerah yang dibuatnya tersebut dimuat di medianya (jadi tindakan metro dan beberapa stasiun tv swasta ternyata bener.. slalu menayangkan di running text-nya bahwa wartawan/reporter mereka tidak menerima hadiah dalam melakukan peliputan/pemberitaan..” karena ternyata tindakan ini memang biasa terjadi di lapangan). Satu lagi kenyataan yang bikin nyesek..

Keempat kecamatan lokasi KKP ni terletak di kawasan Cianjur selatan.. kawasan yang terkenal sebagai kawasan tertinggal, jika dibandingkan kawasan yang laen. Menurut penuturan penduduk setempat, sebenarnya Cianjur memang miskin potensi. Ga seperti Kabupaten Sukabumi. PAD-nya kecil. Ga ada industri menengah dan besar yang berkembang, potensi alam untuk wisata juga sangat kecil. Andalan mereka selama ni mungkin hanya Cipanas dan beras Cianjur yang dikenal dengan beras pandanwanginya itu. Namun berdasarkan penuturan dari para petani, sbenernya beras pandanwangi juga ga enak2 banget. Bulirnya terlalu bulat dan nasinya ga terlalu awet. Tapi, bagi orang luar Cianjur, tetep aja.. beras itu yang paling TOP. Tak heran kalo kemudian banyak beras biasa yang direkayasa menjadi pandanwangi.. dengan menambahkan berbagai zat kimia.

Tak seperti daerah Cianjur utara dan barat yang dominan dengan pertanian sawah yang teririgasi teknis, maka daerah Cianjur selatan ini dominan dengan pertanian kebun, ladang dan sawah tadah hujan. Perbukitan di sepanjang Campaka, Sukanagara dan sebagian Sindang Barang sebagian didominasi oleh perkebunan teh yang dimiliki rakyat maupun oleh PTPN. Sebagian di antaranya juga mengembangkan budidaya ikan tawar. Terkhusus di Kadupandak, perbukitan di sini cukup kering, tak banyak yang menanaminya dengan teh. Sebagian ada yang menanaminya dengan jeruk, namun tampaknya masih tahap coba-coba. Sebagian lebih memilih menanaminya dengan tanaman buah-buahan: mangga, rambutan dan pisang.

Lokasinya yang terapit bukit dan keterbatasan jalan benar2 telah mengasingkan warga Kadupandak dari dunia luar. Angkutan umum, berupa bis dan L 300, yang menuju kota hanya beroperasi dari pagi hingga siang hari jam 14.00. Itupun hanya beberapa trip saja (maksimal 3 trip). Hanya orang-orang yang kepepetlah yang memaksakan diri ke kota dengan motor/ojek. Keengganan ini timbul karena rusaknya jalan yang berakibat pada mahalnya biaya ojek. Walhasil, distribusi hasil pertanian daerah ini pun “sulit” untuk dibawa keluar dan tengkulak pun menjadi raja di sini.

Aktivitas ekonomi di sini juga cenderung subsisten, yaitu untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Kebun ditanami dengan sayuran-sayuran penunjang konsumsi sehari-hari, macamnya pun terbatas. Awal kami tinggal di tempat tersebut, penuh dengan ketakjuban. Bener-bener takjub. Penduduk setempat bisa makan dengan lahap hanya dengan nasi, sambal, lalapan dan ikan asin atau telur goreng. Namun saat mencobanya, kami jauh lebih takjub lagi.. bener.. rasanya memang dahsyat… nikmat.. melebihi makanan mewah dari mana pun. Mungkin karena penyajiannya dengan rasa kekeluargaan kali ya.. dibuat dengan penuh kasih sayang dari para ibu di sini.

Ritme hidup di sini berjalan pelan.. lonjakan2 hidup tiada terasa di sini. Semuanya datar2 saja.


[1] Jadi inget, saat berkunjung ke sana lagi, dalam sekali perjalanan muntah 6 kali. Nyampe di rumahnya Bapak (Pak Lurah saat itu, yang kami anggap Bapak-nya anak2 yang bandel..huehe2) badan dah lemes buanget.. kepala pushiiiiink buanget.. pokoknya trasa banget menderitanya de..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s