Nyepi fur d’first time

Secara umum mungkin kalian da ngerti kan.. Nyepi di Bali kayak gimana.. smua saluran tv dah sering nyiarin, termasuk ke hal2 yang kecil.. termasuk dengan ritual ciuman bareng yang dilakukan warga banjar Sesetan, Denpasar, pasca Nyepi.

Yup, warga Hindu melakukan empat hal dalam nyepi: amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelangon. Sbelumnya mereka melakukan upacara melasti, tawur kesanga dan pembakaran ogoh-ogoh. Sedangkan sesudahnya mereka akan melakukan upacara ngambak geni (memulai kembali aktivitas keseharian), yang ditandai dengan bersilaturahmi ke sanak saudara.. prakteknya mereka melakukan melali (bahasa lokal untuk piknik, jalan2) ke tempat2 wisata. Suasananya hampir sama seperti lebaran, banyak muncul pasar tiban, yang terutama menjual baju dan berbagai aksesoris lainnya.

Kebetulan aku berada di komunitas muslim.. jadi suasana nyepi yang aku rasain pasti kurang rasanya.. tidak seperti bila benar-benar tinggal bersama komunitas Hindu. Menurut sumber, ada yang mengatakan bahwa di komunitas Hindu, jika da yang melanggar ketentuan Nyepi (baik pemeluk Hindu maupun agama lain) akan mendapatkan denda.. jika di Denpasar..bisa mencapai 400 ribu besarnya.. aku blom tahu tingkat kebenaran dari tuturan ni.. jika di komunitas Hindu, smua warga sama sekali ga boleh keluar rumah.. kecuali keadaan darurat sakit misalnya, terlihat menyalakan lampu atau alat elektronik lainnya (tv, radio, dst). Tapi di komunitas yang aku tinggali, kami warga muslim masih boleh mondar-mandir di jalan.. asal tidak menggunakan motor (tapi tidak melakukan kegiatan ekonomi untuk menghormati mereka). Sepinya jalan ini membuat anak-anak muslim bebas bermain di jalan, bersepeda maupun bersepakbola (khusus di jalan kampung, tidak di jalan raya kabupaten). Hal ini pun hanya boleh dilakukan di lingkungan muslim, tidak di dekat pemukiman warga hindu yang nyempil di pemukiman muslim.. orang2 dewasa muslim juga leluasa untuk mondar-mandir dan berumpi ria di jalanan, tapi smuanya dilakukan dengan penuh ketenangan..

Aku ma temen sekontrakan aku yang semula khawatir tidak bisa melakukan apa-apa hari itu, lega dengan keadaan ini.. berarti aku pun masih bisa mencuci hari itu, bisa menjemur dengan leluasa di halaman.. tanpa ditegur pecalang (polisi adat komunitas Hindu..). Sbelumnya kami khawatir bahwa aturan di sini akan sama seperti Denpasar.. jika demikian.. dapat dibayangkan betapa tersiksanya kami karena harus menahan diri untuk tidak ke kamar mandi selama matahari masih ada, karena kebetulan dapur dan kamar mandi berada di luar rumah. Untunglah, smuanya tidak seketat yang kami bayangkan.. jadi, pagi-sore itu berlalu, tanpa kesan bahwa ada Nyepi, kecuali memang suasana yang terasa sedikit tenang, tidak seperti hari biasa yang penuh keriuhan motor yang bermacam-macam bunyinya..(kebetulan rumah kami di pinggir jalan).

Ketika malam datang, barulah suasana Nyepi terasa… kami smuanya tanpa terkecuali tidak menyalakan lampu.. (terutama yang di luar rumah) lampu dalam rumah tetap boleh dinyalakan, setelah kami menutup smua ventilasi dan jendela dengan segala bahan yang menahan cahaya lampu itu terlihat dari luar. Khusus di rumah kami, upaya ini kami lakukan beberapa hari sebelumnya, dengan menutup semua jendela dan ventilasi dengan kardus, setelah penutupan dengan perlak gagal karena masih memantulkan cahaya lampu saat uji coba malam sebelumnya..

Jika keluar rumah, smuanya akan tampak gelap.. yang terdengar hanya lolong anjing.. yang kami sepakat.. membuat bulu kuduk merinding.. dan memaksa kami secepatnya masuk ke dalam rumah lagi..

Mungkin kelonggaran inilah yang mendorong wilayah kami banyak kebanjiran pendatang non Hindu dari Denpasar dan wilayah lain sehari seblom nyepi. Mereka biasanya menginap dua malam di penginapan melati yang banyak tersebar di wilayah kami. Kebanyakan didominasi oleh temen2 dari keturunan Tionghoa.

Karena pluralitas wilayah ini, maka pengamanan Nyepi di komunitas muslim dilakukan oleh satpam muslim. Dengan demikian, sebagian pecalang tetap bisa melakukan ritual Nyepi atau lebih mengkonsentrasikan diri melakukan pengamanan di wilayah komunitas Hindu. Hal ini merupakan wujud partisipasi warga muslim, karena saat takbiran lebaran pun, para pecalang Hindu telah membantu satpam muslim untuk melakukan pengamanan. Simbiosis yang indah..

Slanjutnya mengenai ritual pawai dan pembakaran ogoh-ogoh.. acara ini dimulai sehari sebelum nyepi, yaitu hari Minggu, tepatnya jam 18.30 (bertepatan dengan Maghrib di Bali.. pemilihan waktu ini sengaja dilakukan konon karena Maghrib dianggap sebagai waktu tempat setan-setan banyak “keluar”. Mengenai kebenaran ini wallahualam.. bagi kami sendiri, yang begitu antusias ingin melihat pawai ini, karena ni adalah kali pertama merasakannya, waktu ini terasa sangat luamanya.. Sambil menunggu waktu, kami pun melali untuk melihat variasi ogoh-ogoh yang dibuat oleh warga di tiap pakraman pura. Ogoh-ogoh yang dibuat warga di lingkungan Candikuning maupun Pancasari hampir seragam. Yaitu menampilkan Bethara Kala (lambang kejahatan) dengan berbagai pose (ada yang sedang naik sepeda motor juga lho.. ada yang cepak, ada yang berambut gondrong, ada yang berbentuk manusia, ada yang berbentuk naga, dst).

Menurut penuturan warga setempat, kalo ingin melihat ogoh-ogoh yang variatif, Denpasarlah surganya.. hal ini terbukti saat kami menonton tayangan di Bali tv. Yup, di sana, ogoh2nya memang lebih variatif, baik bentuk maupun ukurannya. Jadi penasaran juga.. pengen melihatnya secara langsung.. Oya, secara ekonomis, pembuatan ogoh-ogoh ini cukup mahal, kabarnya ada yang mencapai 20 juta lho… ini biasanya ditanggung bersama oleh warga di tiap lingkungan pura.

Setelah memuaskan diri meninjau keragaman ogoh2, akhirnya kami bergabung dengan penonton yang mulai berjubel di patung jagung, perempatan jalan masuk kebun raya. Pengamanan acara ini pun dilakukan bersama oleh pecalang maupun satpam muslim. Akhirnya arakan-arakan ogoh2 pun muncul dari lingkungan Bukit Catu. Setiap ogoh-ogoh akan diikuti oleh gong sekha (sekeha) dan warga dari masing-masing lingkungan pura. Ternyata, arak-arakan ini tak hanya diikuti oleh remaja dan orang dewasa, namun juga anak-anak. Tentu saja ukuran ogoh-ogoh yang mereka angkut mengikuti ukuran tubuh pengaraknya.. agak lebih kecil dan masih agak ‘berantakan’ penampakannya. Namun semangat para pengaraknya tak kurang dengan mereka yang telah dewasa..

Membawa ogoh-ogoh ini tak semudah yang dibayangkan, seperti mengarak kendaraan hias pawai 17an atau takbiran, namun dilakukan penuh dengan sentuhan seni khas bali. Dengan menyelaraskan diri pada tabuhan gong, ogoh-ogoh akan digerakkan dan diangkat bergantian, dari arah depan ke arah belakang, dari arah samping kanan ke samping kiri, demikian terus bergantian. Dengan meneriakkan yel-yel tertentu (ada rombongan yang meneriakkan teroris.. “keparat” bagi aku ini menandakan betapa dalamnya luka masyarakat bali akibat adanya dua bom). Jika dibandingkan, maka gerakannya hampir menyerupai pawai singa buat sunatan anak di Sunda (kalo ga salah namanya Sisingaan..). Tentu saja hal ini memerlukan kekompakan diantara para pengangkat yang lebih dari 20-an orang itu. Apalagi, dengan beban ogoh-ogoh yang lumayan itu..

Setelah mengelilingi patung jagung sebanyak tiga kali mereka akan diistirahatkan sejenak di pelataran sila artha, untuk kemudian meneruskan kembali perjalanan pulang ke pura guna melanjutkan prosesi selanjutnya, yaitu pembakaran ogoh-ogoh. Selesai melakukan putaran tersebut, para rombongan akan bersorak-sorai meneriakkan kegembiraan mereka, menandakan bahwa mereka telah menang melawan kejahatan… hal yang sama juga dilakukan ketika ogoh-ogoh mulai dibakar.

Atribut para pembawa ogoh-ogoh beragam, dari mulai mencoreng moreng mukanya, mengecat rambut dan membentuknya dengan jel, dst… tak hanya dilakukan oleh remaja, namun juga anak-anak. Hal yang agak kurang menyenangkan dari para pembawa ogoh-ogoh ini adalah… mereka biasanya minum arak terlebih dahulu sebelum melakukan pawai ini.. jadi banyak yang mengarak ogoh-ogoh ini dalam keadaan “teler”. Hal ini dilakukan supaya mereka tak merasakan kelelahan saat membawa ogoh2 yang lumayan berat tersebut, mengingat jarak yang harus mereka tempuh juga cukup jauh. Kebenaran alasan ini.. wallahualam..

Sepertinya cukup sekian aja crita Nyepinya.. banyak hal yang bisa diambil hikmahnya dari ritual ini.. baik positif maupun negatif.. yang jelas, aku spakat dengan pendapat seorang temen yang mengatakan, Nyepi memberikan hak kepada alam untuk beristirahat setelah 364 hari terus kita eksploitasi..Wassalam..

__21 Maret 2007__

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s