Belajar dari Tontonan

Terinspirasi “Debt Diet Oprah Show” yang kutonton beberapa waktu lalu. Di edisi tersebut, acara tersebut ngebahas tentang kebangkrutan yang diderita sebuah rumahtangga yang berujung pada perceraian. Setelah dibahas dan dianalisis, tampaklah bahwa kebangkrutan yang dialami keluarga tersebut muncul karena ketiadaan komunikasi di antara pasangan. Pasangan tersebut jarang mengobrol.. suami merasa bahwa dia telah cukup bertanggung jawab terhadap rumahtangganya hanya dengan memberinya nafkah dan kebebasan kepada istri untuk membelanjakan uangnya tersebut. Atau dengan kata lain, cukup memberikan nafkah materi saja. Sementara istri merasa bahwa suaminya tidak perhatian padanya, tidak peka padanya, tidak bisa berempati padanya.. akibatnya dia pun melampiaskannya dengan membelanjakan kartu kreditnya hingga melebihi batas untuk berbagai barang yang sebenarnya sangat tidak perlu. Semula hal ini dilakukannya hanya sekedar untuk “meminta perhatian suaminya”. Namun kebablasan, hingga tagihan kartu kreditnya mencapai berjuta-juta dolar (wow.. bayangkan jika dirupiahkan..). Suami yang mengetahui tentang tindakan istrinya ini marah dan menyalahkan istrinya. Istrinya menjadi sangat tertekan karena merasa sebenarnya ini adalah kesalahan berdua. Tiada komunikasi yang terjalin untuk mencari solusi. Yang ada hanyalah saling menyalahkan. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk bercerai…

Dalam talkshow tersebut, akhirnya psikolog membantu mengarahkan pasangan tersebut tentang apa yang salah pada diri mereka… menyadarkan bagaimana pasangan yang semula berkomitmen bersama ini kemudian membentuk dunianya masing-masing.. tanpa berusaha saling mengerti. Suami memang dibesarkan dalam keluarga yang tidak terbiasa untuk mengekspresikan dirinya, sementara istrinya dari keluarga yang warmly friendship. Semula, keduanya menganggap perbedaan ini akan saling melengkapi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tanpa jembatan komunikasi, keduanya makin meng-kutub. Istri ingin semua tindakannya diperhatikan suami, sementara suaminya “cenderung” diam saja.

Sebenarnya, perhatian atau empati terhadap pasangan tak perlu diwujudkan secara berlebihan, tapi cukup pada hal-hal kecil, misalkan dengan menanyai pasangan apa yang terjadi pada hari, bagaimana perasaanmu. Yang perlu diinget kemudian adalah, kita tak perlu memberikan justifikasi terhadap apa yang diungkapkan pasangan saat itu juga (ini kadang akan menimbulkan masalah baru..). Kita cukup berempati dengan mengatakan, “Sabar ya..” atau “Aku mengerti perasaanmu.. ya aku bisa membayangkan pasti akan kesal sekali ya…” Jika kemudian pasangan meminta saran atau kita merasa perlu memberikan saran, maka lakukanlah itu pada saat yang tepat, tanpa perlu membuatnya merasa salah atau terhakimi.

Soal komunikasi antar pasangan ini, aku jadi teringat pada hal-hal kecil yang terjadi dalam keluargaku. Bapak dan ibuku biasa mengobrol saat makan siang atau saat sore. Ibu biasanya akan bercerita tentang apa yang terjadi di rumah dan yang dialaminya seharian, demikian juga bapak. Mereka akan berbagi cerita dan itu terlihat asyik sekali. Dari yang kuamati, saat ibu bercerita, yang dilakukan bapak hanyalah mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan (dalam artian berempati) tanpa menyalahkan pendapat ibu. Padahal bagiku yang juga terlibat dalam obrolan tersebut beberapa kali, pendapat ibuku itu agak keliru. Namun bapak bisa menanggapinya dengan bijak, yaitu hanya mendengarkannya dulu. Aku yakin bahwa pada saat yang tepat, pasti bapak akan mengkoreksi ibu juga. Tapi pasti itu dilakukannya di saat lain, saat tak ada kami, anak-anaknya, berada di dekatnya, sehingga ibu tidak terhakimi. Kebiasaan sangat sepele yang ternyata patut banget ditiru ya..

Kasus lain, di rumahtangga sodaraku… dia biasa ber-sms dengan suaminya hanya untuk menceritakan kejadian-kejadian kecil yang dialaminya ataupun dialami anak mereka yang berusia 2 tahun.. Misalnya “Yah, tadi x manjat2 terali di jendela lho..” trus “kayaknya dia seneng banget kalo maen sepeda, bukannya dinaikin, tapi dijungkir balikin,” sms laennya menceritakan tentang adanya tukang loak yang mengambil barang-barang yang masih dibutuhkan tanpa permisi dan masih banyak hal kecil lainnya. Kadang aku berpikir.. ngapain si, ngabisin pulsa aja.. tapi setelah dipikir kembali.. apa yang dilakukan bulik dan suaminya tersebut penting banget… cerita tentang hal-hal kecil yang x lakukan atau alami merupakan jembatan informasi bagi ayahnya, sehingga dia tak terlewatkan perkembangan si kecil maupun perkembangan rumahtangganya meskipun ayahnya masih di kantor.. jadi masing-masing bisa tahu.. apa yang selanjutnya dilakukan untuk perkembangan si kecil… jadi terlihat banget bahwa anak adalah tanggung jawab berdua, bukan hanya tanggung jawab ibu… Jika dipikir, konsep kesetaraan gender dalam rumahtangga bulikku tampaknya memang telah terbangun. Tidak ada pengkotak-kotakkan, mana yang tugas dan fungsi laki-laki dan mana perempuan.. tapi semuanya menjadi tanggung jawab bersama. Seandainya ada pembagian pekerjaan, semuanya tetap dikomunikasikan. Lebih lanjut, ternyata sms ini juga mereka lakukan hanya saat ayahnya berada dalam kondisi yang santai, misalnya saat istirahat siang, sehingga sms tersebut tidak akan mengganggu konsentrasi kerjanya.. atau biasanya ayahnya dulu yang mengirimkan sms pertama, sebagai tanda bahwa sekarang waktunya terbuka lho untuk tahu perkembangan rumahnya. Kemudian, ketika pulang, meskipun sudah larut malam, dia mereka akan mengobrol lagi. Besoknya saat makan pagi, ayahnya akan berkomunikasi dengan anak sambil berdiskusi mengenai apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk anak mereka. Wow.. pembelajaran yang sangat menarik kan..

Kasus lain, di mana sodaraku yang satu itu jauh lebih sibuk, selalu pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi banget. Selain dengan sms, maka komunikasi dengan keluarga, terutama anak-anaknya yang telah menjelang remaja dilakukannya saat malam minggu dan minggu. Mereka rutin melakukan diskusi. Anak-anaknya akan bercerita apa yang mereka alami, demikian pula ayah dan ibunya. Mereka kemudian berdiskusi mencari solusi atas masalah dan melakukan perencanaan bersama. Sangat demokratis kupikir. Dalam forum itu, anak-anak bisa memberikan masukan pada ayah/ibunya, demikian pula sebaliknya. Mereka juga menyempatkan melakukan kegiatan yang dilakukan bersama keluarga, secara rutin, setiap bulan sekali atau dua bulan sekali. Kadang mereka ke toko buku bersama, ke museum atau ke tempat lain. Atau jika tidak bepergian ke tempat lain, maka mereka mengadakan kegiatan gotong royong di rumah, dan kegiatan rekreasi rumah lainnya. Pokoknya terlihat ideal banget de… bikin ngiri !!

Berbalik terhadap komunikasi dan empati antar pasangan tersebut… sebenarnya aku juga punya ketakutan tersendiri, karena sebenarnya aku orang yang kaku, tidak bisa berekspresi dengan leluasa untuk mengungkapkan perasaan “yang terkait cinta atau perhatian”…. Jadi,  sepertinya aku harus belajar..

Untuk gambaran “kekakuanku”, dulu aku suka risih dengan persahabatan yang terlalu ekspresif dan mesra… jadi suka menarik diri dengan hubungan seperti itu.. suka bingung kalau dalam percakapan tiba-tiba seorang bilang, “Wah, aku sayang deh ma kalian.. makasih ya dah begitu perhatian ma aku..” atau ungkapan tak langsung lain yang menunjukkan rasa sayang kita terhadap teman/sahabat.. bener.. aku akan merasa jengah dan tidak nyaman jika diperlakukan seperti itu… aku lebih memilih mengungkapkan rasa sayangku ke temen atau sahabat dengan memberikan waktu untuk mendengarkan curhatan mereka, menemani aktivitas mereka dll..”pokoknya being there for them” tanpa harus mengatakan secara eksplisit kalo aku sayang mereka.. mengirimkan bingkisan/bunga dengan banyak kata puitis.. waduh.. ngerasanya gimana gitchu.. tapi setelah dipikir, ada kalanya juga memang ungkapan sayang perlu diwujudkan dengan sesuatu yang fisik seperti itu… So, mulai sekarang harus berani ngomong…”aku sayang ma kalian” pada sahabat dan temen-temenku yang sudah menghujaniku dengan ribuan perhatian dan cinta. Harus mulai belajar.. supaya ntar ga kagok kalo ngomong ma suami…huehe2..

Jadi, setelah dipikir-pikir.. komunikasi memang jadi kunci untuk semua hubungan… kejenuhan dalam rumahtangga itu pasti akan terjadi… namun bisa dieliminir jika kita terus berkomunikasi dengan pasangan..

Jangan pernah bosen karena banyak hal akan terjadi dan membuat kita harus terus menerus memperbaharui diri kita dan hubungan kita untuk menghadapinya.. banyak hal baru yang akan muncul dari pasangan kita yang harus membuat kita merasa baru mengenalnya beberapa waktu yang lalu…

Pentingnya komunikasi dalam hubungan PASUTRI juga terungkap dalam talkshow di metro sebelumnya… yang membahas tentang PUBER KEDUA… wuw… puber… :-p

Ternyata, ilmu psikologi maupun kesehatan tidak mengenal istilah puber kedua.. kata tersebut memang diciptakan oleh media massa untuk menyebut masa, dimana pasangan kita mulai menginjak umur 40-an, mulai “genit” kembali… mulai suka dandan dan sebagainya… dan di sanalah biasanya perselingkuhan mulai terjadi…

Sekali lagi, dalam psikologi tidak ada tahapan umur untuk itu… yang terjadi adalah kemunduran fisik, hormon maupun mental yang dialami baik oleh laki-laki maupun perempuan, yang dikenal dengan istilah menopause or andropause.. fisik, hormon maupun mental akan mengalami perubahan secara signifikan.. hal ini biasanya akan menimbulkan masalah bagi manusia.. mereka akan berusaha mengingkarinya, berusaha berpikir dan meyakinkan orang di sekitarnya bahwa fisiknya masih sama seperti dulu, demikian pula dengan kemampuannya… jika ini tak bisa diempati oleh pasangan dengan memberikan “pengakuan” yang dibutuhkannya tersebut, maka inilah yang akan membuka peluang untuk mencari pengakuan tersebut dari orang lain..

Riilnya, jika pasangan kita mulai menunjukkan tanda-tanda suka dandan, suka memuji perempuan muda yang cantik, dst.. kita tak perlu menanggapinya secara reaktif, dengan memberikan komentar, “ih, kamu mulai suka dandan, pasti punya selingkuhan ya..” atau komentar-komentar reaktif lainnya.. justru kita harus lebih proaktif.. dan merasa senang dengan usaha yang dilakukan pasangan kita untuk tetap menarik (sebenarnya untuk menarik kita maksudnya), so kita cukup menanggapinya dengan misalnya memberi komentar, “ih, seneng de, ngeliat kamu jadi segeran gitu.. kalo gitu aku juga mau ah.. mencoba penampilan baru.. biar kamu juga seneng sama aku..” atau dengan komentar , “makasih ya.. kamu dah bikin aku makin betah/sayang ama kamu de.. or “makasih ya.. kamu makin bikin aku bangga jika berada di antara temen-temen” …

Jadi kita tidak perlu kebakaran jenggot jika pasangan kita sudah menunjukkan gejala puber kedua tersebut. Justru kita harus proaktif… supaya pasangan kita merasa terakui dan tidak perlu mencari perhatian di halaman rumput tetangga yang selalu terlihat lebih hijau…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s