Once upon a time.. going to Semarang

U know what.. Semarang is the one that I’ve never explore before… just like the other cities in southern Java.. such as Wonosobo, Banjarnegara, Purwokerto, Purworejo, etc.. Tragically right.. as a Javanese people on this old.. I’ve never seen or visited them… I wish I could visit them someday.. I will.. it’s true!!

Sebenarnya kunjungan ke Semarang ini, terutama yang kedua, bukan sesuatu yang disengajakan. Namun dalam rangka menengok bapak yang saat itu sedang sakit dan harus dirujuk ke RS. Karyadi. RS pemda terbesar di Jawa Tengah. Jadi, aku memang menyengajakan untuk menyempatkan dan izin dari kerjaku selain untuk benar-benar menengok, juga untuk mengeksplor kota ini lebih lanjut. Bagian tentang proses perawatan Bapakku di RS mungkin akan terbahas di lain ruang.

Tiada menyangka, ternyata perjalananku kali ini melewati rute tengah yaitu, dari Surabaya, Magetan, Madiun, Ngawi, Solo, Sragen, Boyolali, Ungaran dan barulah ke Semarang. Rute tengah ini sebenarnya memang rute yang biasa diambil oleh bus yang baru kunaiki saat itu, yaitu Safari Dharma Raya. Untuk keterangan, biasanya aku naik bus Karya Jaya yang mengambil jalur utara Jawa. Ternyata beda rute, beda bis, berkonsekuensi pada beda harga tiket.. yaitu selisih Rp 10.000,- lebih mahal untuk bis Safari.

Sebenarnya aku menyadari rute tengah yang diambil bis ini saat menjelang Subuh, saat masuk daerah Ngawi.. namun alergi dingin AC memaksaku untuk terus tenggelam di balik selimut bis yang ternyata jauh lebih tipis dibandingkan selimut bis Karya Jaya.. Jadi dibandingkan menikmati perjalanan, maka aku pun meneruskan mimpi tak jelasku hingga jam 8-an.. saat perjalanan telah mencapai perbatasan Boyolali-Semarang. Bukan sesuatu yang salah sebenarnya, karena aku pernah melewati rute ini, jadi bawah sadarku mungkin sudah tidak penasaran lagi. huehe2..

Rute Ngawi-Solo pernah kulewati saat perjalanan menghadiri resepsi salah satu teman kantor di Solo. Seperti biasa, aku memilih posisi duduk di depan (bagi yang kenal aku, pasti tahu banget kebiasaan baik ini.. huehe2). Bagiku, posisi duduk di depan adalah posisi yang paling strategis untuk mengamati segala sesuatu selama perjalanan. Posisi yang paling strategis untuk mendapatkan banyak pengetahuan dari sopir, orang yang memiliki banyak pengalaman perjalanan dan segala suka dukanya. So, perjalanan pertama melewati jalur tengah itupun terasa menyenangkan dan agak memuaskan. Rincian tentang perjalanan ini akan ada di kolom yang lain juga (sabar ya..).

Sedangkan rute Solo-Boyolali-Semarang pernah dialami karena unsur kecelakaan beberapa tahun lalu. Petualangan ini tak sengaja kualami bersama dua orang teman. Kami saat itu dalam perjalanan pulang dari bimbel di Yogya pasca Ebtanas SMU. Mudik saat itu harus dilakukan untuk mengambil STTB yang akan dipakai untuk pendaftaran SPMB. Karena jalur Solo-Purwodadi mogok, maka kami memutuskan untuk mengambil jalur alternatif, yaitu Solo-Semarang, lewat Boyolali. Tak ada jalan lain, karena kami harus pulang dan tak ada kendaraan umum yang mengantarkan kami kembali ke Yogya. So, meskipun belum pernah melewati jalur tersebut, kami nekad. Unfortunately, di tengah perjalanan, di terminal “feeder” bis kami dihentikan rombongan awak armada yang sedang mogok dan tidak boleh meneruskan perjalanan. Bis diancam akan dirusak jika meneruskan perjalanan (hueks.. dasar manusia Indonesia..). Singkat cerita, kami pun harus naik truk yang disediakan militer untuk mengangkut penumpang yang terbengkalai tersebut hingga terminal Banyumanik. Dari Banyumanik, kami naik angkutan hingga terminal bis Terboyo Semarang. Dari terminal Terboyo, kami naik bis yang menuju Pati. Malangnya, ternyata kami diturunkan di tengah perjalanan, yaitu di Kudus. Saat itu hari sudah sangat malam, sehingga tak ada angkutan/kendaraan umum yang beroperasi lagi. So, naik kendaraan plat hitam adalah pilihan terakhir. Karena itu, biaya yang diperlukan pun jauh lebih mahal dari tarif yang umum diberlakukan oleh angkutan plat kuning..hueks.. Lebih malangnya lagi, uang kami di kantong saat itu tinggal beberapa ribu saja. Persisnya, tinggal Rp 2100,- yang tertinggal di kantongku saat itu. Sementara biaya yang harus dibayarkan adalah sekitar Rp 5000,-. Namun kami memutuskan tetap naik mobil itu, dengan bermodalkan nekad. Saat disuruh membayar, kami bercerita keadaan yang sebenarnya. Last, sopirnya marah, tapi kemudian penumpang yang lain “iba” pada kami, dan membayarkan ongkosnya. Huih.. leganya. Perjalanan belum berakhir. Setelah diturunkan di Pati, kami harus meneruskan perjalanan lagi. Kebetulan rumah kami terletak beberapa kilometer dari pusat kota. Aku 11 km ke arah utara, temanku 15 km ke selatan, dan teman yang satu lagi, 17 km ke timur. Whuff.. akhirnya persekutuan harus berakhir di terminal Puri tersebut, dengan perjalanan tunggal ke rumah masing-masing. Waktu sudah menunjukkan jam 21.00 saat itu. Tak ada kendaraan untuk pulang. Usaha terakhir, menelpon tetanggaku dan menitipkan pesan untuk bapak dan ibuku bahwa aku sudah selamat sampai di Pati, namun akan menginap dulu di rumah sahabatku dulu, karena hari yang sudah terlalu malam. Keluar dari wartel, ada motor teman yang lewat, akhirnya aku diantarkannya ke rumah sahabatku. Whuppf.. what a long and tiring day

Kembali lagi ke topik, saat di Ungaran, aku telah woke up dan mulai mengamati. Kota ini merupakan ibukota dari kabupaten Semarang. Secara topografi bervariasi, dominan pegunungan/perbukitan, terutama di bagian barat. Jika dilihat, di atas perbukitan pun telah tampak perumahan dan kegiatan pertanian. Setelah dicrosscheck, ternyata di sanalah terletak Bandungan, tempat wisata yang terkenal dengan komoditas hortikulturnya itu. Percaya ga percaya, aku belum pernah mengunjungi tempat itu. Mungkin suatu hari nanti.

Dari vegetasinya (U know, setelah bekerja beberapa bulan di kebun raya, maka mau tak mau, pusat perhatianku tak hanya pada manusia dan interaksi, tapi juga pada tumbuhan.. jadi makin lengkap kan objek pengamatannya..huehe2.. jadi makin banyak yang akan terlintas di pikiran jika jalan ke suatu tempat.. jadi jangan harapkan bisa melamun untuk hal-hal yang “iseng” huehe2) maka, keanekaragaman tanaman hias di Semarang ini juga tak kalah dengan tanaman hias yang menghiasi pekarangan di Bali. Bedanya terletak pada landscape dan jenis tanaman hias yang ditanam. Pekarangan perumahan di Semarang dominan dengan tanaman hias daun yang ditanam di pot atau tanaman buah-buahan. Penataannya cenderung seadanya, dalam artian unsur estetikanya kurang diperhatikan. Pemilihan tanaman hias daun adalah untuk membentuk kesan sejuk di tengah iklim yang begitu panas. Hal ini juga berlaku di pekarangan di Pati. Sementara, pekarangan di Bali dominan dengan tanaman hias bunga, dengan memilih menanamnya langsung pada tanah, karenanya terlihat lebih semarak dan cantik. Kecenderungan pemilihan tanaman hias bunga ini adalah karena alasan fungsional, yaitu masyarakat Bali memang memerlukan bunga-bunga ini untuk keperluan sesajen (istilah lokal: banten) dan sembayang.

Perbedaan arsitektur untuk bangunan dan landscape taman kota memang berbeda secara signifikan. Arsitektur bangunan di Semarang lebih modern Eropa, meninggalkan sama sekali identitas Jawa Tengahnya. Hal ini berlaku untuk bangunan pemerintahan dan sarana umum lainnya, hingga perumahan masyarakat. Sementara Bali masih mempertahankan ciri-ciri tradisionalnya. Di Bali, bangunan umumnya mempertahankan penggunaan bata gosok (bata yang berwarna teracota) untuk beberapa elemennya, misalnya dinding atau bingkai jendela. Bahkan untuk mereka yang mengadopsi arsitektur eropa, mereka juga tetap mempertahankan identitas ke-bali-annya pada atap atau pada bingkai pintu dan jendelanya.

Akhirnya sampai juga di pool bis Safari, di kota Semarang, tepatnya di jalan Cipto. Karena sama sekali ga tahu bagaimana cara mencapai RS dan jalan tersebut juga ga dilewati angkut, aku memutuskan untuk naik taksi. Saat itu, yang tersedia di sana hanyalah taksi yang bercap “Atlas Baru”. Untuk keterangan: Atlas adalah logo kota Semarang. Just like Bogor BERIMAN, Pati Bumi Mina Tani, dst.. Duduk di depan di samping sopir, berharap lebih leluasa mengamati nama jalan yang dilewati dan mengawasi argonya. Tapi setelah diamati, yang terdapat di dashboard hanya alat komunikasi dan laci (selain spedometer dan kelengkapan mobil lainnya). Mataku juga terus melihat gerak tangan si sopir, takut si sopir memanipulasi meteran pada argo dengan menempelkan kabelnya (metode ini pernah terungkap dalam sebuah acara di salah satu stasiun teve yang mengungkap modus penipuan yang dilakukan produsen terhadap konsumennya).

Setelah celingak-celinguk ke seluruh sudut dashboard (dengan berusaha sebiasa mungkin, tidak kelihatan mencolok) akhirnya berkesimpulan, taksi tersebut tidak ada argonya. Padahal di salah satu lacinya tertempel stiker “Laporkan ke nomor berikut jika ongkos yang anda bayarkan tidak sesuai argo”. But mana argonya ya..? Setelah enam menit, tadinya sempat curiga, wah jangan-jangan dibawa muter-muter dulu ni.. karena ketahuan orang dari luar Semarang (sebenarnya tahu si su’udzon ga baik.. tapi mengingat banyaknya tindakan kecurangan yang dilakukan sopir taksi maka.. terpaksa juga “curiga” seperti itu). Tapi kemudian memutuskan untuk berdoa dan berdzikir saja.. semoga dihindarkan dari perbuatan yang buruk. Untunglah di menit yang ke sembilan, sampailah di pelataran parkir RS. Karena tak ada argo, maka mau ga mau, jadi bertanya juga ke Bapaknya. Sambil bertanya, dompet sudah dibuka. Dan bapak tersebut melirik isi dompet tersebut, hingga kemudian bilang dua puluh ribu saja de.. (mungkin yang terlihat dari dompetku memang uang dua puluh ribuan tersebut, yang terletak di barisan paling depan dari beberapa lembar lainnya.. padahal di barisan tersebut ada juga uang ribuan dan sepuluh ribuannya juga lho.. ). Huiks.. hanya menelan ludah dan mengelus dada juga jadinya. Yah, begini ni mental orang Indonesia dalam berjuang mencari nafkah. Karena penumpangnya adalah bukan orang yang mungkin untuk ditemuinya lagi, maka dengan mudahnya para sopir taksi itu melakukan manipulasi seperti itu. Itulah yang membuatku menghindari pemakaian taksi. Membuat amalanku semakin berkurang, karena ke-su’udzonan dan ketidakikhlasan dimanipulasi seperti itu. Huiks.. Mau disumpahin macam-macam kasihan juga.. toh dia seperti itu demi memberikan nafkah juga bagi keluarganya.. tapi kan kasihan anak istrinya.. jadinya ga halal kan.. cape de..

So, balik lagi ke topik. Mengunjungi Semarang kali ini memberi kesempatan lagi untuk merasakan rutinitas yang dulu dirasakan saat masih kuliah ataupun saat di rumah. Kesibukan di jalan telah dimulai sejak pagi buta. Jalanan Semarang penuh dengan pengendara sepeda motor, bus kota dan mobil pribadi. Tak beda jauh dengan Yogya dan Jakarta. Warung-warung di pinggir jalan telah buka dengan berbagai sajian khas sarapan, demikian pula dengan toko-toko. Betapa kangennya dengan situasi yang seperti ini. Di mana aktivitas ekonomi telah dimulai sejak pagi buta. Sementara di sini, jalanan sepi-sepi saja. Pasar seni baru dibuka sekitar jam 9an atau jam 10.00, demikian pula dengan warung makanan. Tiada yang buka untuk melayani kebutuhan sarapan kami. Huiks..

Mengenai objek wisata, kupikir banyak pilihan yang bisa dikunjungi. Tapi bahasan lebih lanjutnya di next writing yah..

Iklan

3 thoughts on “Once upon a time.. going to Semarang

  1. Halo mas/mba^^!

    kyknya perlu ganti theme nih, isi postingnya bagus tp jadi gak enak dbaca. (apa cma aqnya aja ya:-?)
    gak ngerti knapa, aq kok capek baca postingn ini. Font n layoutnya mungkin,.

    Maap klo kurang berkenan dengan komentar saya,.

    Your Friend,.

    Arai,.

  2. huehe2.. makasih kritiknya mas, mungkin karena spasinya yang terlalu sempit dan font-nya yang kegedean kali ya.. yap, nanti saya coba perbaiki de.. kalo tulisan yang lain gimana.. bermasalahkah..

    salam kenal juga, saya mbak..bukan mas..huehe2.

  3. Info yang menarik Bro, Semakin lengkap infonya maka akan semakin baik pula situs ini. Salam kenal dari 212. Ditunggu kunjungan balasannya ke situsku : http:// naga212geni.blogspot.com Terimakasih. Melanjutkan Blogwalking dulu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s