Tour de Nusa Dua-Kedonganan

SEAFOOD LOVER ZONES

For U who really love seafood… Kedonganan n Jimbaran are some choices that u’ve to visit. We’re not only enjoy to eat but also feel the dynamics of fisheries’s community.

How to get there..?

First, from Denpasar, through the Ngurah Rai Bypass.. passing by d’airport.. n then turn right move to the other side of d road.. n then turn left into Uluwatu street… n looking for the small street that direct to Segara Madu.

What can we see?

Mulai masuk ke gang kecil tersebut, maka pemukiman dan perkampungan khas nelayan pun akan segera kita jumpai. Tipe pemukimannya hampir sama dengan pemukiman nelayan lainnya. Rumahnya kecil, tidak tinggi, rata-rata masih semi permanen. Sepertinya merupakan perumahan temporer (dalam artian kos-kosan) bagi para nelayan pendatang. Di pemukiman tersebut, kita dapat menjumpai mushalla kecil, warung-warung kecil yang bertuliskan warung Jawa. Jadi tampaknya nelayan di wilayah ini sebagian besar adalah dari Jawa.

Menurut penuturan seorang pedagang cendol yang berasal dari Srono, Banyuwangi, yang berjualan di area ini, nelayan niaganya (nelayan buruh) sebagian besar memang dari Jawa (Banyuwangi, Jember, Madura), namun pemilik armadanya adalah orang Bali. Kapal/perahu dari Jawa tidak diizinkan untuk melaut di perairan Bali karena akan terjadi ketimpangan produktivitas dengan nelayan lokal. Hal ini dikarenakan teknologi dan cara penangkapan nelayan Jawa yang jauh lebih modern.

Mengobservasi jenis perahu yang disandarkan di pantai, terlihat mirip dengan perahu sleret. Panjang 5-7 m dengan lebar 2m, dengan layar dan cadik di kanan-kiri. Jika membandingkannya dengan armada yang berkembang di Pekalongan, Rembang, Tuban, Muncar, Sukabumi, dsk maka opini bahwa ada ketimpangan teknologi antara nelayan Kedonganan dan Jawa mungkin benar adanya. Selain untuk kegiatan penangkapan, perahu-perahu ini juga menjadi sarana pariwisata bahari, terutama bagi turis yang ingin melakukan snorkeling atau sekedar memancing.

Pantai di Kedonganan ini tampak terabrasi jauh ke dalam. Hal ini terlihat dari banyaknya perahu yang ditambatkan di tengah perairan yang jauh dari bibir pantai, bukan di pantainya sendiri. Oleh karenanya, kegiatan bongkar muat ikan dan pengisian bahan bakar dilakukan dengan kapal kecil semacam tongkang.

Di sini, ikan yang baru diangkat dari kapal biasanya langsung dibeli oleh para pedagang ikan atau langsung dijual di pasar ikan. Pembelinya selain para pengecer, pengunjung/turis, juga para chef restoran dan hotel. Tampaknya, ikan yang dijual kurang fresh. Hal ini dapat dilihat dari keadaan ikan yang keluar dari kapal dalam keadaan beku (dalam es yang membatu). Hal ini menandakan bahwa masa melaut perahu/kapal tersebut lebih dari sehari.

Komoditas Tangkap

Harga ikan yang dijual di sini mengikuti mekanisme pasar. Makin banyak penawaran maka harga akan semakin rendah. Demikian pula sebaliknya. Jenis tangkapan yang dapat dilihat adalah ikan kakap merah, udang dan lobster, layur, tuna, tongkol, cumi, kepiting, rajungan, cakalang. Selain itu, adapula pedagang yang menawarkan jerohan dan telur ikan. Harga cumi utuh kecil berkisar antara 14-20 ribu/kg sedangkan harga kepalanya berkisar antara 8-12 ribu rupiah/kg. Sementara harga ikan tongkol berkisar antara 6-9 ribu/kg-nya.

Di sekitar pasar ini tersedia pula warung-warung yang menyediakan jasa pembakaran ikan dengan ongkos jasa sebesar 7 ribu/kg. Pembakaran dilakukan dengan arang bathok kelapa dan memakan waktu yang agak lama. Sambil menunggu, mungkin kita bisa berjalan-jalan di sepanjang pantai sambil melihat camar yang beterbangan, melihat kesibukan nelayan dan pedagang di pasar ikan, atau berjalan-jalan di sepanjang pantai yang telah dipenuhi kafe dan restoran yang menawarkan berbagai menu ikan dan olahannya (Ada yang namanya Kaviar lho.. means they sell olahan fish-egg ya..). Prinsip pelayanan di kafe-kafe ini sama seperti Bandar Jakarta, di mana konsumen bisa memilih sendiri ikan apa yang ingin disantap, langsung dari kotak simpannya.

Di pantai Jimbaran tersebut, tak jauh dari pasar, kita bisa melihat tempat yang menjadi tempat peledakan bom kedua di Bali. Memang tak semegah Ground Zero  (atau yang nama populernya adalah Ground of Peace and Love) yang dibangun di Kuta sebagai  pengenang peristiwa Bom Bali pertama, namun cukup menandai bahwa telah terjadi peristiwa yang cukup tragis di tempat tersebut.

Kawasan ini dahulu hanya merupakan daerah nelayan. Namun sejak dikembangkan sebagai kawasan terpadu wisata semacam Nusa Dua, pada tahun 1993-an, mulailah berdiri banyak penginapan, restoran, kafe, villa dan hotel. Selain itu, pada sore hari, di sepanjang pantai banyak pula kafe2 “liar” yang menyediakan kursi dan menu untuk menikmati sunset.

That’s Kedonganan n Jimbaran.

ALL ‘BOUT BEACHES IN SOUTH…

Dari Kedonganan n Jimbaran, banyak pula tempat yang bisa kita kunjungi, terutama yang terkait objek pantai. Bagi yang menyukai pantai yang cool untuk surf, namun menyukai ke-private-an.. maka Dreamland atau Padang-padang mungkin bisa jadi salah satu pilihan. Tak jauh dari Jimbaran kok.. dari persimpangan, kita tinggal mengambil yang ke arah Uluwatu.

Jika ingin survei seperti apa kampus Udayana, maka kita tinggal mengambil arah kampus Bukit Udayana (untuk diketahui, kampus Udayana ada dua: Kampus Bukit dan kampus Sudirman, di kota). Selain itu, kita bisa juga mengunjungi Nusa Dua atau Uluwatu. Keduanya menawarkan pemandangan ujung selatan pulau Bali dan Indonesia, tentunya. Nusa Dua, tentunya akrab di telinga, karena sering tersebut dalam berita. Banyak pertemuan kenegaraan, baik bilateral maupun multilateral yang dilakukan di kawasan ini.

Lokasi Nusa Dua terletak di ujung selatan Pulau Bali, tertata rapi dan high secure. Sebelum masuk, kita harus melewati security check point, baik untuk mobil maupun motor. Daerah ini disebut Nusa Dua karena di ujungnya seolah-olah terdapat dua nusa (pulau), yang terpisah di sisi kanan dan kiri. Tampaknya pulau ini lebih tepat jika disebut dua tanjung/semenanjung, karena posisinya yang masih menyambung dengan daratan Bali.

Di dua nusa tersebut terdapat pura. Salah satu pulau tersebut sering digunakan sebagai tempat konser musik. Di ujung pulau semu tersebut, terdapat pulau karang buatan yang menjadi pertemuan laut dan daratan. Ombak menghempas karang tersebut dengan sangat kuatnya. Airnya bisa kita rasakan meskipun kita telah berdiri beberapa meter jauhnya dari ujung karang. Sensasi ini kita rasakan pula ketika kita mengunjungi Uluwatu.

Kawasan Nusa Dua ini terkesan private. Banyak pantai yang “dimiliki” oleh hotel, yang masih free untuk umum hanyalah yang terletak di ujung kawasan tersebut. Di kawasan terpadu tersebut, ada lapangan golf mini, ada tempat peluncuran balon terbang, ada semacam gedung pertunjukan kesenian, ada Melia Hotel, Westin (yang jadi tempat pertemuan UNFCC 08) dan beberapa hotel lainnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s