Tayub, di mana kini..?

Mudik tahun ini menyenangkan.. !! Selain berkumpul kembali dengan teman-teman dekat, maka mudik kali ini aku berkesempatan untuk lebih mengenal teman yang sebelumnya tak terlalu dikenal. Jadi asyik.. silaturahmiku makin meluas. Dan asyiknya, bersama mereka pula aku berkesempatan untuk mengunjungi wilayah yang dulunya belum pernah kudatangi. Pucakwangi.. tak ada yang cukup istimewa di sana. Namun rasa penasaranku sudah cukup terpenuhi, meskipun tak sempat berkunjung dan menikmati gunung Emas, telaga pemandian yang katanya lumayan bagus.

Mencapai Pucakwangi juga memberi tambahan informasi, yaitu adanya jalan alternatif menuju Todanan Blora. Todanan Blora adalah daerah yang selama ini terkenal dengan sebagai produsen ledhek tayub. Konon, kelompok tayub hanya marak saat musim kemarau, karena anggotanya adalah para petani yang beralih profesi menjadi niyaga/nayaga, ketika sawah tadah hujannya tak lagi bisa diolah.

Tayub, adalah kesenian hiburan bagi rakyat pesisir utara, yang konon dianggap rendahan (sama seperti citra musik dangdut beberapa waktu lalu). Sekelompok kecil seniman jalanan dengan gamelan minimalis yang mengandalkan kehadiran waranggana yang berfungsi ganda sebagai penari untuk menarik audiencenya. Para ledhek, atau disebut sebagai ronggeng di beberapa wilayah selatan Jawa, biasanya akan mengajak nari audience-nya, yang mayoritas mas2 dan bapak-bapak. Di akhir tari/lagu, tak jarang para ledhek akan mendapatkan saweran dari lawan narinya. Saweran tersebut diberikan di tangan, namun ada pula yang nakal menyelipkannya ke dada ledhek, sambil mencuri-curi cium juga.

Meskipun dinilai rendahan, konon banyak priyayi yang menjadikan para ledhek ini sebagai gandokannya (istri gelap, WIL). Hal inilah yang ditampilkan Ahmad Thohari dalam novelnya, Ronggeng Dukuh Paruk.

Para ledhek didandani ala gadis Jawa tempo dulu, pakai kain dan kemben (dodot) dengan make up yang tebal, supaya mereka tak perlu memperbaharuinya karena keringat yang terus mengucur deras. Para ledhek ini tak harus luwes menari, yang penting berpenampilan ayu dan manis. Mereka cukup menggoyangkan tangan dan pinggulnya sesuai iringan musik, tak harus mengikuti pakem tarian jawa semestinya (bisa jadi inilah yang jadi salah satu sebab mengapa kesenian ini dinilai rendah).

Kini, tayub sudah sangat jarang ditampilkan di masyarakat. Bahkan nyaris punah. Beberapa tahun lalu, ketika masih SD, aku masih sering melihat tayub yang ditanggap saat pernikahan atau seremonial-seremonial lain. Tak hanya di acara-acara resmi tersebut, tetangga juga banyak yang rela ber-urunan untuk menanggap kelompok tayub yang tak sengaja singgah ke lingkungan saat tur keliling dari satu desa ke desa lain. Halaman rumah budheku adalah tempat yang sering dijadikan tempat tanggapan. Meskipun berjarak tak jauh dari rumah, namun aku jarang menyaksikan kesenian ini. Aku merasa tidak nyaman melihat para ledhek mendapatkan perlakuan tak senonoh dari para audience-nya. Belum lagi, ketika malam, acara akan beralih menjadi pesta minuman keras. Whupf, menyesakkan.. Para perempuan itu harus berjalan jauh dengan dandanan yang merepotkan dan siap dilecehkan setiap saat, hanya untuk menyambung hidupnya.

Sebenarnya tak hanya di pantura Jateng dan Jatim, kesenian rakyat semacam tayub ini juga ada di daerah lainnya. Di Bali, kesenian semacam ini dikenal sebagai joged bumbung. Dinamakan demikian karena alat musik yang dipukul bukan gambelan (gamelan: Jawa) logam pada umumnya, namun berupa bumbung, potongan bambu (tiing: Bali).

Meskipun dulu sama-sama dianggap kesenian rendahan, namun dangdut kini telah mampu menaikkan kelasnya. Sedangkan tayub.. entah di mana dia sekarang.. tergerus zaman yang kini makin marak dengan orkes Rockdut dan campursari.. sepertinya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s