Uncomfortable travel

Setelah sekian lama, akhirnya berkesempatan lagi ber-motorcycle ke Denpasar. Yap, setelah sekian lama ga pernah lagi bermotor ria.. setelah sakit yang mpe skarang juga masih nempel di badan.. akhirnya berkesempatan juga mengulangi pengalaman. Seandainya tak ada teman yang datang dari Jakarta, mungkin hal ini tak akan kulakukan, mengingat sekarang musim hujan. Dan musim hujan di Bedugul dan daerah sekitarnya, adalah tak hanya air semata, namun juga disertai kabut. Maklum, ketinggian 1250 above sea level. Jadi, bepergian saat musim hujan di Bedugul adalah derita tambahan, melengkapi penderitaan karena harus melewati jalan yang yahui itu..

Bagi yang belum tahu, jalan dari Denpasar ke Bedugul yang berjarak kira-kira 50 km, dengan waktu tempuh maksimal 2 jam, itu asoy, huehe2.. Asoy, karena kombinasi dari kelokan dan tanjakan. Namun kalau dibandingkan dengan jalan dari Bedugul ke Singaraja, jalan ini belum seberapa. Singkatnya, jalan menuju Singaraja itu bisa dibilang dari U ke U. Dari satu kelokan sekaligus tanjakan/turunan ke kelokan (tanjakan/turunan) berikutnya, demikian seterusnya, berulang-ulang. Untungnya, kondisi jalannya lumayan bagus.. jadi perjalanannya tak parah-parah amat.. maklum, daerah wisata.. coba kalau tidak.. pasti tak hanya olahraga pantat (pindah posisi duduk, ngikutin kelokan) yang dilakukan, tapi juga olahraga lambung..

Meskipun panjang dan melelahkan, namun banyak pemandangan yang bisa dilewati sepanjang perjalanan. Bisa melihat jajaran Gunung Batur, Gunung Agung dan Gunung Lempuyang. Dan jika kondisi cerah, kita juga bisa melihat Denpasar dan tepian barat daya pulau Bali dari kejauhan. Nice view..sure..

Mungkin dah bawaan orok, bandel dikit.. pulang malam kadang kulakukan juga, meskipun hal ini banyak dihindari orang. Berharapnya si bisa jalan kencengan dikit gitu, mengingat kendaraan yang lain jarang lewat. Alih-alih ngebut, yang ada malah jalan antara 20-40 km. Huehe2.. kok bisa.. secara, ada beberapa lokasi yang memang gelap gulita, bukan perkampungan dan tidak ada penerangan lampu jalan. Sudah begitu, kanan kiri adalah rerumpunan bambu.. belum lagi terjadi kecelakaan yang menewaskan satu pengendara motor sebelumnya (pas perjalanan berangkat, di ruas jalan ini pula..) jadi dapat dibayangkan juga betapa ngerinya. Buat mereka yang dah sering ngelewatin daerah ini mungkin masih bisa ngebut untuk ngindarin kengerian, wajar.. karena dah apal jalan. Lah aku.. ga hafal sama sekali.. jadi, was-was ngebayangin penampakan yang tiba-tiba muncul mau-mau tidak mau harus disingkirkan.. motor dipelankan and mata dipelototkan. Ni jalan berarah ke mana ni, kelokan kanan atau kiri.. n sadly, tebalnya kabut ternyata benar-benar menghalangi pandanganku yang sudah diupgrade dengan kacamata minus 3,5. Dan bahan lensa yang terbuat dari plastik memang benar-benar tak cocok untuk bepergian dalam kondisi berkabut seperti malam itu.. Lensaku terus berkabut, meskipun sudah kubersihkan beberapa kali. Beda dengan lensa kaca yang framenya patah beberapa waktu lalu. Akan bertahan bersih hingga beberapa waktu setelah dibersihkan. Tidak cepat lembab.. Penglihatan yang buram ini juga menyebabkan aku beberapa kali salah ambil belokan, masuk ke jalan yang seharusnya no motorcycle entry dst.. pokoknya membuat ketololan berkali-kali pada malam itu..

Finally, tiba juga di kosan, 1/4 jam lebih lama dari waktu yang sebenarnya kutargetkan.. Gpplah, yang penting nyampe dengan selamat.. jadi, kapok jalan malam.. ? Ga juga si.. lumayan juga buat latihan konsentrasi.huehe2..

Candikuning, 26-11-08

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s