All ’bout Palabuhanratu – Cipatuguran yang Terpendam

imag00371

Palabuhanratu, meskipun telah lama mendengar pamornya sebagai daerah wisata di Jabar, namun daerah tersebut tak pernah kukunjungi. Mungkin bagi teman-teman perikanan dan kelautan IPB, mereka sudah tidak asing lagi, mengingat masa OSPEK-nya dan berbagai prakteknya dilakukan di sana.

Hingga suatu hari, kesempatan itu datang juga. Skripsi bertemakan strategi rumahtangga nelayan menginisiasikan kedatanganku ke sana. Sebetulnya memang gambling mengambil lokasi penelitian di sana. Mengingat aku tak memiliki satu kenalan pun di sana. Namun berbekal informasi dari buku dan skripsi sebelumnya yang membahas tentang nelayan, perikanan dan kelautan di daerah tersebut, akhirnya aku berangkat bersama temanku. Temen yang satu ini kuajak karena dia pernah berkunjung ke tempat ini sebelumnya, meskipun hanya untuk wisata.

Berdua kami berangkat dari terminal Baranangsiang dengan menggunakan bis mini yang menuju ke Palabuhanratu. Bis ini dua kali ngetem di terminal bayangan, satu di antaranya adalah terminal di Cibadak.

Sesampainya di terminal Palabuhanratu, kami kebingungan. Mendapatkan tawaran jasa dari tukang ojek yang sedemikian banyaknya. Tampaknya, kendaraan yang familiar digunakan di sini adalah ojek. Angkutan umum ada, namun jumlahnya tak terlalu banyak. Fenomena yang umum terjadi di daerah Jawa Barat, kecuali Bogor.

Seperti biasa, hal pertama yang kami lakukan saat penelitian maupun kunjungan lapang adalah mengurus perizinan kepada pemda setempat, dalam hal ini adalah kantor kelurahan. So, setelah shalat di terminal kamipun bertanya pada penjaga musholla, di manakah letak kantor kelurahan dan bagaimana cara kami ke sana. Akhirnya sampailah kami di kelurahan, bercas-cis-cus sebentar, mengutarakan tujuan kedatangan kami dan mencari informasi mengenai daerah mana yang paling tepat untuk lokasi penelitianku. Alhamdulillah, my mission accomplished. Bahkan aparat pun menunjukkan informan yang bisa kami temui dan rumah yang bisa kami tinggali sementara.

Sebelum mencapai kampung nelayan yang akan menjadi subjek penelitianku, kami melewati stasiun penelitian perikanan dan kelautan IPB. Yap, tempat inilah yang menjadi basecamp mahasiswa fpik saat melakukan kegiatan di Palabuhanratu, baik akademik/ekstrakurikuler. Sebenarnya aku bisa saja menginap di sini, mungkin bisa lebih menghemat biaya akomodasi. Namun mengingat subjek penelitiannya adalah komunitas nelayan dan supaya lebih menyelami kehidupan sehari-harinya, maka tak ada pilihan lain selain menginap dan hidup bersama mereka.

Tibalah kami di lokasi penelitian, kampung Cipatuguran. Berbekal surat izin dan rekomendasi dari aparat kelurahan, kami pun menuju rumah Pak RW. Rumah inilah yang menjadi tempat persinggahanku tiap kali berkunjung ke Palabuhanratu. Rumah ini terdapat di perkampungan nelayan, yang berjarak 100-200 m dari bibir pantai, dengan penduduk sekitar 1200 jiwa, yang mayoritas adalah pendatang dari Cirebon dan Indramayu. Dalam setiap wawancara, mereka senantiasa menyebut dirinya sebagai orang Jawa (meskipun Cirebon dan Indramayu termasuk wilayah Sunda, Jawa Barat).

Saat tiba, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Setelah berbincang-bincang sejenak, kami pun dipersilakan beristirahat dan membersihkan diri. Saat mandi, aku berusaha merasakan airnya, ehmmm, cukup tawar.. tidak seasin yang kubayangkan sebelumnya. Ketika kutanyakan pada pemilik rumah, barulah terjawab, bahwa air yang digunakan di wilayah ini adalah air pam dari perbukitan.. oh, pantas.. Karena kepayahan, setelah makan kami pun memutuskan segera tidur. Berharap segera tidur, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Suasana kampung yang begitu sepi dan jarak yang tak begitu jauh dari pantai membuat debur ombak terdengar begitu keras di telinga kami. Teringat akan tsunami Aceh, pikiranku pun melahirkan kekhawatiran tersendiri, jangan-jangan air pasang sampai ke perumahan ini. Hiii, naudzubillah.. Bayang-bayang kekhawatiran menyibukkan pikiran, hingga baru tidur menjelang pukul 02.00. Keesokan harinya, aku dan temanku saling bercurhat. Ternyata kami sama-sama susah tidur karena dibayangi kekhawatiran yang sama.. dasar !!

Sambil menunggu giliran mandi, temanku memutuskan untuk berjalan-jalan sepanjang pantai. Setelah kembali, aku menanyakan hasil jalan-jalannya. Dia tersenyum misterius. Aneh, pikirku.. Dan ternyata, apa yang dilihatnya sepanjang pagi itu akan menjawab pertanyaan kami pada tuan rumah semalam sebelumnya. Mengapa kampung ini tak mendapatkan kunjungan wisata seperti daerah sepanjang pantai lain.

Jika dibandingkan daerah Citepus yang menjadi pusat kunjungan wisatawan selama ini, pantai di Cipatuguran lebih lebar, masih menyisakan space hingga sekitar 100m ketika air laut pasang. Sedangkan pasang di daerah Citepus tidak menyisakan space pun, hanya berjarak beberapa meter dari jalan, menggenangi warung-warung yang berdiri di sepanjang pantai. Selain itu, Cipatuguran juga memiliki objek lain yang bisa dikunjungi, yaitu Goa Liang. Komunitas nelayan dan segala interaksi yang terdapat di dalamnya pun bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Bagi yang ingin berlayar atau memancing di laut pun bisa menyewa perahunya langsung dari para nelayan.

Namun ada satu kebiasaan penduduk yang tidak mendukung berkembangnya pariwisata bahari di wilayah ini, yaitu kebiasaan “menebar ranjau” di sepanjang pantai. Ternyata, kepemilikan kakus sangat rendah di wilayah ini. Penduduk biasa membuang hajatnya di pasir di sepanjang pantai. Waiyya…… setiap pagi, akan banyak orang yang berjajar di sepanjang pantai menunaikan hajatnya..

Potensi wisata sebetulnya telah disadari oleh penduduk di wilayah ini. Mengingat pendapatan dari pencarian ikan di laut yang tak pasti, maka perlu alternatif baru untuk penghidupan, salah satunya adalah wisata. Hal ini sangat mereka sadari. Namun kebiasaan untuk “berbaris setiap pagi” sangatlah susah dihilangkan. Meskipun kakus umum telah dibangun, namun berbaris sambil berjemur di pagi hari memang jadi kenikmatan sendiri yang susah dihilangkan. Hingga akhirnya, bangunan kakus umum tersebut rusak dengan sendirinya, bukan karena sering dipakai, namun karena jarang difungsikan.

Aku yakin, jika mau merubah sedikit kebiasaan tersebut, mungkin banyak juga wisatawan yang mau beralih ke Cipatuguran. Denyut perekonomian pun akan lebih terasa.

Banyak pengalaman yang bisa kudapatkan selama di Palabuhanratu. Seumur hidup, meskipun Pati adalah pesisiran juga, namun baru kali itu aku menyaksikan ikan tongkol sebesar itu… dengan berat lebih dari 1 kwintal, satu gerobak hanya kuat mengangkut 1-5 ekor ikan. Baru sekali itu, aku merasakan kesahajaan nelayan, tetap menikmati hidup meskipun hanya makan nasi+garam+irisan cabe rawit+ikan goreng. Baru sekali itu aku membuktikan bahwa naik perahu di laut tak memabukkan. Baru sekali itu aku meresapi tingginya ketergantungan mereka terhadap laut hingga mau merepotkan diri melakukan berbagai ritual sebelum melaut. Bertambahlah empatiku ketika tahu bahwa tak hanya anak jalanan yang mengalami kerasnya hidup, namun anak nelayan pun mengalaminya. Banyak di antaranya harus bertarung melawan kerasnya alam dalam usianya yang masih belia. Banyak yang tak mampu/mau meneruskan pendidikan karena harus dan lebih memilih berperang melawan ombak demi keberlangsungan keluarganya.

è Nelayan Cipatuguran, bagaimanakah nasibmu nanti..

Meskipun berjarak hanya beberapa kilo dari pelabuhan utama, namun perbedaan teknologi alat tangkap bisa segera kita lihat. Kapal-kapal besar dan menengah yang berawakkan 5-40 orang banyak bersandar di pelabuhan. Sedangkan alat tangkap yang umum dimiliki oleh nelayan di kampung ini adalah perahu pancing yang berawakkan 1-3 0rang, bermesin kecil, sekitar 16 PK. Daya tempuhnya pun tak lebar, paling jauh hanya di mulut teluk. Tak heran jika pendapatannya pun minim. Belum lagi mereka harus berkompetisi dengan beratus hingga beribu bagan yang tersebar di teluk.

Idealnya, bagan tak diizinkan beroperasi di wilayah perairan yang relatif tertutup seperti ini. Mengapa demikian..? Karena bagan mengeksploitasi ikan sebelum mereka mencapai masa reproduksi. Memutuskan daur hidup ikan teluk yang populasinya yang memang telah terbatas. Jika pengoperasian bagan ini terus dibiarkan, tanpa disertai penegakan hukum yang tegas, whupf.. tak tahulah, seperti apakah nasib nelayan tradisional di kemudian hari.. apalagi jika harga BBM terus dinaikkan.

Cisolok dan Cipanas..

Tak hanya topik perikanan dan kelautan yang bisa kita teliti di Palabuhanratu. Wilayah pantai yang berbatasan dengan perbukitan, yang penuh dengan tetumbuhan mengundang ketertarikan seorang teman untuk melakukan penelitian dengan topik kehutanan. Perhutanan sosial yang menjadi proyek dephut setelah kasus meningkatnya pembalakan liar di era reformasi menjadi fokus penelitiannya.

Karena berakhir pada waktu yang hampir bersamaan, akhirnya kami pun memutuskan untuk berelaksasi sebelum meninggalkan benar-benar wilayah ini. Sayang juga kalau melewatkan banyaknya objek wisata yang bisa dikunjungi. Mengingat sempitnya waktu dan jarangnya angkot, akhirnya kami menyewa motor. Jalan yang berkelok-kelok harus dihadapi. Akhirnya sampailah kami di tempat-tempat yang ditampilkan di marka petunjuk. Citepus, Karang Ayu dan Cisolok adalah sekian banyak pantai yang bisa dikunjungi. Bagi yang ingin surfing, datanglah ke wilayah Cisolok. Di sana banyak villa, hotel maupun resort yang menawarkan fasilitas tersebut. Banyak wisatawan asing yang bisa kita temui di sini.

geyser-cisolok

Bagi yang menginginkan nuansa lain, cukup melanjutkan perjalanan hingga ke Cipanas. Yap sesuai namanya, maka daerah ini menawarkan objek wisata air panas alam. Ada beberapa geyser yang memancarkan gas dan air panas dari sela-sela bebatuan, bahkan ada yang tingginya mencapai 5 m. Pemandangan langka yang cukup mengasyikkan. Setelah berendam dan bermain air panas, berharap gatal-gatal di kulit akibat main air laut menghilang, kami pun segera kembali ke pusat kota Palabuhanratu. Tak sampai 1 jam. Sebelum pulang, aku menyempatkan mampir di pasar Palabuhanratu untuk membeli oleh-oleh bakso ikan untuk teman kos, tante dan bapak-ibu di Pati. Whooow, rasanya mantap..!! Hingga kini, Bapakku sering menanyakan, kapan bisa Palabuhanratu lagi untuk beli bakso ikan.. huehe2.. andaikata Palabuhanratu bisa kutempuh 2 jam dari rumah.. atau andaikan ada pihak yang mengolah hasil perikanan di Pati jadi bakso ikan, tentu akan lain ceritanya..

* Bakso ikan dan bakso daging bisa dibedakan dari warnanya. Bakso ikan yang biasa dibuat dari daging ikan patin, warnanya lebih putih dan baunya lebih khas, amis.., ukurannya akan jauh mengembang jika dimasukkan ke kuah sementara bakso daging warnanya lebih kelabu dan tidak terlalu berbau. Baik digoreng maupun di kuah.. semuanya mak nyusss… Whaduuuh.. laper!!!

6 thoughts on “All ’bout Palabuhanratu – Cipatuguran yang Terpendam

  1. zzz……

    pelabuhan ratu enaknya malem2 loh,ikut aja kapal bagan(operasi mlm hari),,jangan lupa bw pancingan,,\\

    kl mau yang mendebarkan iku aja kapal payang (berangka subuh pulang sore),,dijamin mantap!!!

    -perikanan tangkap FPIK IPB

  2. Heheh, saat itu single fighter mas, jd riskan kalo ngkt para nelayan bwt melaut, takut ngerepotin n ngganggu knsentrasi mreka..

    untuk yg nelayan payang, emm, satu yg sy amati, bnyk anak2 usia skolah yg ngkut nangkep y..mreka trpaksa ptus skolah krn tak ada rupiah..

    Utk penangkapan d bagan, mgqn eksotis wktu malam, tp tak adakah cara tangkap lain yg aman bgi lingkungan..yg memungkinkan ikan brkembang jd besar dan bereproduksi..

    SomD, jika kembali ksna+ada teman, sy pasti akan ngikutin saran Anda..thx infox..dan makasih sudah brkunjung + berkomentar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s