Ayat-Ayat Cinta

Novelnya ini kubaca dulu saat kuliah, lagi-lagi karena provokasi seorang teman. Over all, aku tak terlalu menyukainya. Menurutku, ada yang missing dari penokohan Fahri. Semua perempuan begitu tergila-gila terhadapnya. Namun karakter dan kualitas apa yang dimilikinya sehingga begitu dikagumi banyak perempuan, tak tergambarkan jelas.

Kata temanku, mungkin dia justru dikagumi banyak orang karena ketidakistimewaannya, kestandarannya. Di saat dunia menuntut berkembangnya masyarakat yang hedon, maka yang biasa jadi langka dan justru dicari. Bisa jadi memang demikian, entahlah, yang jelas, aku tak terlalu menyukai penokohan Fahri di novel ini.

Namun demikian, novel ini memiliki keunggulan. Pemilihan Mesir sebagai latar menjadi kelebihan sendiri, demikian pula dengan latar kehidupan mahasiswa Indonesia yang belajar di sana. Novel ini seolah menjawab keingintahuan masyarakat tentang keseharian penduduk Mesir dan mengingatkan kembali keterkaitan antara muslim Indonesia dan muslim Mesir. Walhasil, kita tak hanya mengenal Mesir dengan Firaun dan piramidanya saja. Namun kita juga mengenal bahwa selain mayoritas muslim, ada juga komunitas Kristen Koptik di sana, bagaimana sistem hukum dan penegakan hukum di sana, dst.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s