Blood Diamond

Film ini dibintangi oleh Mas Leo (Leonardo di Caprio maksudnya). Provokasi seorang teman, film yang dibintangi mas Leo biasanya jaminan mutu. Oke, akhirnya kuambil juga dari etalase. Lumayanlah, VCD original namun harganya bajakan, cuma 15 ribuan. Akhirnya malam kemarin kutonton juga. Dan bener.. keren..! Setting tempat dan tema yang diambil jelas unik. Fiksi yang ditampilkan seakan hanya pengantar untuk menceritakan realitas yang sesungguhnya terjadi di Afrika, benua gersang yang tanahnya mengandung berlian. Selama ini yang kita tahu dari berlian hanyalah keindahan kilauan dan kemahalan harganya. Kita tak pernah tahu bagaimana proses ektraksi batuan tersebut dari alam hingga kemudian dikirim ke Eropa dan Amerika untuk dipoles menjadi perhiasan yang maha mahal.

Film ini menceritakan bahwa dibalik keindahan dan kemahalan harganya, berlian telah menumpahkan darah beribu-ribu warga Afrika. Pergolakan politik yang terjadi di Afrika yang mengarah pada terjadinya perang saudara, memaksa masyarakatnya untuk selalu hidup dalam teror. Setiap saat mereka harus siap dibantai oleh saudaranya sendiri yang tergabung dalam faksi pelawan pemerintah. Jika selamat dari pembantaian, mereka akan direkrut menjadi pekerja paksa pencari batu berlian. Berlian ini akan dijual oleh faksi tersebut dan menjadi sumber modal baginya untuk membeli senjata jenis baru dan membiayai pemberontakannya. Film ini juga menceritakan bagaimana kaderisasi kaum pemberontak tersebut dilakukan. Mereka mendoktrin anak-anak, yang sepatutnya masih bersekolah dasar. Anak dicekoki dengan bermacam idelogi yang mereka miliki dan mereka paksa untuk memegang senjata dan menumpahkan darah saudaranya sendiri.

Sayangnya, film ini masih memihak barat, belum terlalu tegas dalam mengungkapkan bahwa kaum barat memanfaatkan dan mendapatkan keuntungan langsung dari pertikaian dan maraknya praktek penyelundupan berlian ataupun senjata api yang digunakan dalam pertikaian. Hal ini terlihat dari penstatusan Leonardo, penyelundup berlian berkulit putih yang mantan anggota pasukan perdamaian, sebagai warga lokal Afrika yang berkulit putih, bukan warga ekspatriat dari Eropa.

Yang kurang pas dari film ini adalah kehadiran dan karakter dari wartawan dari US. Kupikir, karakter ini tak hanya pelengkap saja, seperti kehadiran cewek2 di filmnya James Bond. Kehadirannya dalam kisah yang dibangun cukup signifikan, meskipun romantismenya dengan Mas Leo terkesan di’ada-adain’. Sayang, menurutku Jennifer Connely kurang apik memerankannya. Mukanya tak terlihat tegas, cerdas dan kukuh, selayaknya wartawan perang yang telah berkali-kali mengunjungi daerah perang semacam Irak dan Afganistan. Justru lebih mengesankan seperti perempuan penggoda, mukanya mesum bener.. Baru ketemu mas Leo saja, dia sudah menampilkam muka pengen… Huks..! Selebihnya, film ini ok banget buat ditonton.

Setelah melihat film ini aku jadi teringat pada film Rwanda, film adaptasi dari kisah nyata genocide yang terjadi di Rwanda yang mengantarkan pemeran presidennya mendapatkan Oscar untuk aktor pendukung terbaik. Film ini juga bersetting sama, di benua Afrika, Rwanda, dengan tema tentang pertikaian politik antar suku Hutu dan Tutsi yang mengakibatkan terjadinya genocide terhadap salah satu suku tersebut.

Asking, kok sampai sekarang aku belum pernah melihat film US yang mengadopsi kisah dari genoside Serbia terhadap Bosnia ya… (apalagi genoside Israel terhadap penduduk Gaza). Padahal tidak kalah sadisnya dengan yang terjadi di Rwanda kan.. apalagi beberapa pemimpinnya memang terbukti sebagai penjahat perang dan diadili di mahkamah internasional Den Haag.

Satu hikmah yang bisa dipetik dari film ini adalah: perbedaan yang mengarah pada pertikaian berdarah antar golongan menjadi hal yang bisa terjadi di mana pun. Tak hanya di Indonesia, seperti yang selama ini terjadi di Poso, Sambas, Ambon dan berbagai tempat lainnya. Tak perduli apakah mereka negara yang telah dianggap demokratis atau belum, potensi itu selalu ada. Jadi, belajar dari pengalaman-pengalaman yang sudah ada, sudah seharusnyalah kita lebih bijak menangani perbedaan yang terbentang luas dalam kehidupan kita. Karena perbedaan itu seharusnya adalah rahmat, bukan bencana. Ya kan.. ?

Iklan

2 thoughts on “Blood Diamond

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s