It’s My Life

My childhood

Yup, I was raised by my parents in small village called Trangkil.. where is it? It’s located about 11 km from the town… known with it’s sugar industries..

Yup.. pada musim giling.. desaku akan tampak sibuk dengan rutinitas penebangan tebu, antrian truk tebu menuju plasmen (tempat penimbangan tebu), dan lokomotif yang lorinya penuh tebangan tebu yang berpuluh2 ruas panjangnya..[1]dan tentu saja langes (jelaga dari cerobong pabrik yang terus “ngooookk” setiap jam) yang bertebaran ke atap hingga lantai rumah.

Di desaku ada sebuah pasar yang kebetulan hanya ada satu sekecamatan… so dapat dibayangkan bahwa pasar tersebut cukup rame.. tak hanya saat pasaran[2] saja, tapi juga pada hari2 biasa saja.. dan rumahku yang kebetulan di pinggir jalan raya.. kurang lebih 500 m sebelum pasar pun terkena imbasnya.. lalu lintas depan rumah jadi sangat ramai, dengan suara dokar dan kudanya, obrolan ibu-ibu belanja, rombongan pedagang bambu yang menuntun sepeda dan beberapa batang bambu diseretnya dan banyak rutinitas lainnya..

Padahal tanpa kesibukan pasar.. jalanan di depan rumahku sudah cukup padat, karena merupakan jalan raya yang menghubungkan antara pusat kota dengan kota satelit selanjutnya, yaitu Tayu.. so dapat dibayangkan betapa ramainya kan… bahkan sampe malam pun akan slalu ada kendaraan yang lewat.. so bagi kalian yang biasa berumah di tengah2 hutan.. :-p mungkin akan sedikit tidak bisa nyenyak tidur jika menginap di rumahku.. huehe2…

Deskripsi mengenai rumahku.. yupppp.. kecil, nyempil diantara dua rumah lainnya yang mengawal rapat.. jarak antar rumah tak sampai dua meter lho.. padahal rumah yang lain mah ga serapat itu.. Aku juga baru nyadar ko bisa serapat itu ya.. Di depannya ada warung kecil yang dulu jadi tempat ibuku berjualan barang kebutuhan sehari-hari dan makanan semacam, arem-arem, rujak, kolak, kacang ijo, tempe mendoan.. yap.. boleh dikatakan kalo aku dibesarkan oleh makanan-makanan itu, selain dengan gaji bapakku sebagai seorang guru tentunya. Kini warung itu telah dikontrakkan..

Dulu rutinitas yang harus kulakukan sebelum sekolah adalah belanja dan mengantarkan makanan tersebut ke warung di pasar.. So, banyak orang yang mengingatku dengan gadis kecil berseragam putih merah dengan sepeda “entreyen” yang penuh belanjaan di setangnya.. huehe2.. alhamdulillah aku tidak pernah telat pergi ke sekolah, tapi sering telat untuk datang awal saat piket kebersihan.. sering kena jewer dan berantem ma teman gara-gara itu.. rutinitas ini kulakukan hingga SMU..

Balik lagi ke rumah.. rumahku kecil..namun halamannya penuh dengan tanaman hias yang dipotkan.. sebagian besar tanaman hias daun.. karena tampaknya kami kurang cocok memelihara tanaman bunga.. seringnya mati atau tak mau berbunga hingga besar.. selain itu kami juga menanam beberapa tanaman buah seperti delima, jambu air, jambu biji, rambutan. Namun yang bertahan hingga kini hanyalah mangga dan belimbing yang telah tumbuh semenjak rumah kami terbangun. Buah-buah inilah yang kemudian jadi motivasi temen-temen sekolah untuk dateng maen.. “merampok” buah-buahan itu dan merujaknya..

Mengenai tanaman dan halaman ini, kami punya ritual, yaitu mencuci pot dan mengecatnya kembali setiap menjelang 17 Agustus-an. Slain itu, kami juga terbiasa mengecat pagar bambu dengan gamping (batu kapur)[3]. Pagar ini juga biasanya mulai dibikin menjelang 17an.. Kebiasaan ini juga banyak dilakukan tetangga yang lain. Pokoknya menjelang 17-an semuanya tampak putih rapi. Mungkin ini representasi dari patriotisme komunitas kali ya.. yang kini telah meluntur entah ke mana..

Sementara halaman belakang sering digunakan untuk memelihara ayam, itik ataupun bebek. Oya, kami dulu sempat memelihara ayam kalkun hingga beberapa generasi, hingga akhirnya terhenti karena hanya tinggal dua induk, yang terus menerus bertelur meskipun tanpa pejantan.. bagi kalian yang belum pernah melihat telur kalkun.. let me describe it.. ukurannya lebih besar daripada telur ayam kampung, ayam buras, itik ataupun bebek, namun sedikit lebih kecil daripada telur angsa.. Selain itu kulitnya pun bertotol-totol kuning halus.. dengan warna dasar putih kekuningan.. selain telurnya, maka ukuran anak-anak kalkun juga lebih besar daripada ukuran anak ayam umumnya..

Gambaran lain tentang kalkun berdasarkan pengalaman kami, jangan pernah memanjakan kalkun jantan.. karena saat besar dia akan sangat galak terhadap manusia dan makhluk lain yang berada di dekatnya.. Dulu banyak teman yang tidak berani bermain di belakang rumah karena takut “dikabruk” atau dikejar hingga dapat dan kemudian dipatuk oleh pejantan ini.. tak terkecuali juga kami, pemiliknya. Kalau mau aman, maka kami harus berjalan dengan membawa kurungan.. jadi kalo kalkunnya mengejar cukup kurung aja. Huehe2..

Masa kecilku, tidak terlalu dekat dengan orang tua. Ketika tugas rutinku di rumah sudah selesai, maka aku akan lebih suka menghabiskan waktuku bermain dengan teman-teman.. aku sering mengorganisir mereka untuk bersepeda hingga jauh ke desa lain atau ke kecamatan lain, atau bermain dengan berkeliling dari satu rumah ke rumah temen yang lain dengan jadwal permainan yang tersusun rapi. Yup.. aku adalah  coordinator of games at that time..huehe2. Jika tidak, maka aku akan membuat kelompok belajar bersama dan menghabiskan waktu bersama hingga malam. Pokoknya jarang waktu yang kuhabiskan di rumah.

Jika hari libur ataupun malam Minggu, kami sering dijemput Mbah untuk kemudian menginap di rumahnya. Setiap habis Isya, Mbah akan menjemput dengan sepedanya, kemudian kami diajak mampir membeli kacang rebus atau semangka dan panganan lainnya. Menginap di rumah Mbah adalah hal yang paling kutunggu, karena di sana aku bebas bermain dan dimanjakan.. huehe2.. selain itu, di sana ada televisi yang acaranya bagus-bagus. Saat itu, baru beberapa rumah yang memiliki televisi, itupun masih hitam putih, dan nontonnya bareng-bareng. So, jika tidak diizinkan untuk menginap, maka aku dan kakakku akan “ndlusup” menyelinap diam-diam, sementara Bapak dan Ibuku menunggui warung. Kami cukup menyiapkan catatan di buffet.. dengan tulisan “Pak/Bu, kami nginep di rumah Mbah..” biasanya yang bertugas menulis catatan ini adalah aku. Kemudian kami berdua akan lari kencang lewat jalan belakang rumah yang gelap itu, dan baru akan berhenti lari ketika sudah beberapa ratus meter dari rumah… Kebiasaan ini terus berlanjut hingga aku menginjak kelas 4. Kalau dipikir-pikir ngapain coba harus berlari-lari seperti itu, padahal pasti ga bakal disusul Bapak/Ibu.. toh ke rumah Mbah sendiri.. bukan ke tempat yang berbahaya.. dasar anak2 bodoh!! Tapi ngerasanya nikmat juga tu kalo musti nylundup kayak gitu.. serasanya petualangan buanget!!!

Ritual menginap ini terus berlanjut hingga aku SMU namun tak cuma malam minggu atau hari libur saja, terkadang saat hari sekolah juga.. asal besoknya bangun pagi dan segera pulang untuk mengerjakan tugas rutin. Jika tidak menginap, maka aku akan menyempatkan diri main ke rumah Mbah sepulang dari TPQ atau latihan silat.

Whupp… cape de… ga tahu kenapa, dari kelas satu dah suka dilibatin buat ngikut lomba ini, lomba itu..  kalau da apa-apa suka dikorbanin.. trus suka ditunjuk jadi ketua kelas… Mngenai jabatan ketua.. dulu pernah tu otoriter banget jadi ketua.. mungkin karena baru pengalaman sekali jadi ketua kali ya.. jadi kalo temennya ga nurut.. ga mau diem, aku ga bakal kasih ampun.. Huihhh.. pokoknya sadis banget de.. untunglah hal itu tidak bertahan lama. Saat lomba senam, lomba pramuka, bahkan saat perpisahan kelas pun selalu “ketiban sampur” jadi ketua..

Dari semua pengalaman ketua itu, pengalaman jadi ketua panitia perpisahan memang yang paling berkesan.. karena bagiku merupakan tanggung jawab terbesar yang melibatkan tak hanya satu kelas saja. Hebatnya, kami sekelas saat itu kelihatannya kompak untuk melakukan semuanya, sehingga kepanitiaan tersebut terlihat benar-benar mandiri, lebih kreatif dan lebih memuaskan dari tahun sebelumnya. Benar-benar pengalaman yang berbeda!! Dan perasaan ini baru didapatkan lagi ketika kuliah ketika berkesempatan melakukan banyak kegiatan bersama lovely KPMers.

Padahal kalo dipikir-pikir, aku melakukan banyak ketololan lho saat jadi ketua ataupun saat dipercaya mengikuti lomba. Contohnya pas senam.. posisi di depan sendiri, tapi yang paling pertama juga yang melakukan kesalahan. Parah!!! Trus pas ngikut lomba senam yang pertama (kelas 4), juga pernah sial.. rempelnya jatuh di tengah gerakan.. untungnya dah pake double shoot.. jadi tetep pede ngikutin gerakan selanjutnya.. alhasil roknya yang jatuh pun keinjek2 hingga kotor buanget!! Pas slese dan mau keluar lapangan baru de tu rok dipungut lagi.. pas di rumah.. giliran ibu yang bingung nanya, “Ni rok kenapa, kotor banget..” dan aku hanya nyengir, ngacir.. keluar.. keesokan harinya barulah dia tahu dari cerita guru. Ye akhirnya ketahuan juga kalo anaknya yang satu ni suka ngaco..

Kekacauan berikutnya, lupa lirik Indonesia Raya ketika lomba. Untungnya,  kesalahan itu  ditolerir..  tapi lagi-lagi konyol.. pas lomba berikutnya, lupa lagi satu gerakan pas tes senam kesegaran jasmani. Cape de..

Yupp.. kesalahan dan kekonyolan juga akan terus berlanjut hingga masa kehidupan selanjutnya. Baik di SMP maupun SMU. Alhamdulillah pas kuliah, smuanya berjalan baik-baik saja.. tapi “kemulusan” perjalanan kuliah ini justru membuatku jadi deg2 pas mau wisuda.. Jangan-jangan kekonyolannya terjadi saat wisuda.. namun Maha Besar Allah karena semuanya berjalan lancar hingga pada akhirnya Wupppf.. leganya..

Teen Life so Enjoyable!!

Bagiku, masa SMP adalah masa terbaik, karena ternyata aku berada pada lingkungan yang benar-benar kondusif untuk belajar. Fasilitas dan sarana benar-benar memadai, guru-gurunya adalah fasilitator terbaik yang mampu jadi sahabat kami, para remaja yang sedang bergejolak. Jadi meskipun otak diperas benar-benar untuk semua kegiatan kurikuler yang berlangsung dari pukul 06.30-16.30, namun kami benar-benar merasa nyaman di sekolah. Tidak merasa terbebani sama sekali. Semuanya jadi enjoyable.. Was a great periode!! Masa SMP juga menyenangkan. Karena di masa inilah aku mulai merasakan cinta dan persahabatan. Yup, first love yang terus nempel mpe sekarang.. Berefek sama seperti A Ling terhadap Andrea. Di mana pun berada, sosoknya seolah-olah trus ngikutin..

Dulu, ketika SMP aku pernah mengangankan dua hal: menjadi diplomat yang bekerja pada kedutaan di luar negeri atau menjadi pengusaha pertanian, yang mempunyai lahan luas dan menciptakan pekerjaan untuk orang lain (whoa..ketinggian !!). Saat itu, yang terpikir adalah UGM  dan IPB. Ketika kelas 3, kakakku kuliah di Yogya dan  sering sekali pulang ke rumah, bayangkan, setiap minggu dia pulang ke rumah.. Hal ini mendorongku untuk mengambil keputusan, sebaiknya kalau kuliah di luar Yogya atau Jateng, sekalian jauh dari orang tua, sehingga benar-benar mandiri, tidak kolokan, tidak terpikir untuk sering pulang, sehingga lebih fokus pada kuliah. Maka makin bulatlah keputusan untuk kuliah di Bogor. Selain itu, kuliah di tempat yang berbeda budaya (suku) tampaknya lebih menantang daripada kuliah di tempat yang dekat rumah. Akhirnya ketika lulus SMP, sudah terbentuklah pikiran untuk kuliah di IPB. Dan akhirnya, cita-cita itu benar terwujud. Setelah lulus SMU, aku keterima di IPB. Karena dah cita-cita kali ya.. masa kuliah juga terasa menyenangkan. Memiliki banyak teman dan keragaman di dalamnya, membuatku selalu bersyukur.. bahwa setiap manusia tu memang diciptakan berbeda satu sama lain untuk memberikan fungsinya masing-masing.


[1] Di masa kecil, aku sering “nyolong” tebu dari lori.. untuk kemudian dipotong kecil-kecil dan dibekukan dengan es batu.. wow.. rasanya sangat segar.. Jika ketahuan mbahku, sering dimarahi karena bekuan tebu ini kadang membuat kami jadi batuk.. Untungnya, kenakalanku cukup sampai di situ.. aku ga sampe memanjat dan menggantung di lori yang ditarik loko tersebut, seperti yang dilakukan anak2 lainnya.. kadang aku agak menyesal tentang hal.. rasanya pasti menyenangkan menggantung di lori tersebut hingga bermeter2 dari halaman rumah pakdeku yang berada di seberang lantaran (jalur rel) lori.. kapan ya bisa merasakannya.. skarang pabrik gula di desaku kan sudah tidak mengoperasikan loko tersebut lagi.. bahkan lantarannya juga telah dibongkar.. dengan alasan efisiensi ( I dunno why..)

[2] Pasaran di Pasar Trangkil adalah hari Selasa dan hari Minggu.. jumlah pedagang dan pengunjung yang berbelanja akan jauh lebih banyak daripada hari-hari biasa.

[3] Biasanya, kalau tak ada yang diupah, maka akulah yang mengerjakan pekerjaan mengecat pagar ini sepulang sekolah. Tentu saja tak ada bayaran.. bahkan mengangkat pasir atau tanah untuk menguruk halaman yang bertruk-truk itu kadang-kadang juga kami kerjakan sendiri tanpa kuli.. Yah, masa kecilku memang penuh kerja keras.. so, jangan pernah harapkan tanganku akan halus dan lembut seperti tangan cewek lain ya.. huehe2.. pembelaan!!

7 thoughts on “It’s My Life

  1. Bismillah…

    Trangkil, 22 tahun sudah di seberang lautan. nggak tau kapan bisa kembali. i miss you mom..

    Tarik tebu dari lori yang sedang berjalan? kesukaan saya juga, bahkan dulu sempat jatuh, untung nggak terlindas roda sepur-nya.

    Pasar trangkil, ya ampun… paling suka kalo diajak ke pasar, bisa liat kuda 😆 .

    Salam kenal dari saya. saya Mei Susilo asal dusun karangjati-trangkil.

  2. @ms mei susilo
    Di seberang lautan, sudah 22 tahun.. Wah, di mana tepatnya mas.. Saya juga di seberang lautan, tapi baru 3 tahun ini.

    Lori sudah berhenti operasi mas, jadi tak ada lagi kebahagiaan bagi anak-anak Trangkil seperti yang dulu kita rasakan

    Dokar jaran di pasar Trangkil juga sudah berkurang signifikan. Terakhir penuturan ibu saya, sekarang tinggal 2 dokar yang masih beroperasi, itu pun dengan roda ban mobil, tidak lagi pelk kayu.

    Salam kenal juga.. Terima kasih kunjungan dan komennya..

  3. benar, saya sekarang berumur 25 tahun, 22 tahun saya habiskan di Timika-Papua (irian jaya) ikut ortu.

    Sayang banget yah, dulu waktu saya masih kecil saya suka banget lihat kereta sewaktu melintas di depan kompleks, kebetulan kompleks rumah saya di dekat jembatan perbatasan trangkil-kajar, di desa karangjati.

    sampai sekarang saya masih bisa mengingat suara klakson keretanya. saya sudah coba cari di google tentang trangkil, ketemunya malah gambar kereta hehehehe 😆

    oia, kalau tidak salah informasi rel keretanya juga sudah dibongkar oleh pihak pabrik ya?

    dokar jaran sekarang hanya bisa menjadi “sebuah kisah klasik untuk masa depan”

  4. @ mas Mei Susilo..

    Timika.. wah juauuh ya..

    Mungkin maksudnya dusun Karangjati Mas, bukan desa. Berarti daerah tamte ya.. Kalo rumah saya dekat pasar.

    Benar, relnya telah dibongkar oleh pabrik.Baik rel yang menghubungkan Runting-Trangkil, maupun rel Karang Legi-Trangkil. Tahun 2003-an, kalo saya ga salah ingat.. Bantalan kayunya menjadi rebutan banyak orang karena harga jualnya yang mahal, maklum, kayu jati jadul mas.. sudah terbukti keawetannya.. Kalo lokonya sih masih disimpan di pabrik..

    Sebenarnya sayang.. karena banyak turis asing yang menyempatkan datang ke Trangkil hanya untuk melihat lori dan loko ini.. Adek sepupu saya saja tiap mudik selalu menanyakan lori ini (tuit.. tuit.. gejes..gejes.. katanya )dan terpaksa dibawa ke dalam pabrik untuk melihat lokonya.. Sampeyan kapan.. keburu lokonya juga dijual lho.. 🙂

  5. Benar Mbak, dusun karangjati, dekat daerah tamte. mbah kakung saya namanya Mbah Joyo Samsi, sedangkan mbah putri namanya mbah Lasminah.

    Bayangkan, sampai dengan sekarang saya masih terngiang suara kereta yang tuit..tiut dan gejes-gejes itu 😆 , subhanallah… malah tambah kangen trangkil ki 😦

    Insya Alloh dalam waktu dekat ini saya akan pulang ke trangkil, mumpung Ibu saya ada di trangkil.

    Semoga lokonya tidak dijual, setidaknya dibuatkan museum didaerah dekat pabrik.

  6. Wah, selamat mudik mas, kalo gitu.. ntar kalo butuh oleh-oleh, datang aja ke pusat oleh-oleh Bawang Putih Mbak Aning di RW 7/8 (agak lupa..). Banyak yang bisa dibeli..huehe2.

    Saya baru aja ngebuka situs yang nampilin gambar loko PG. Trangkil.. Sayang ya.. punya kita tapi yang mublikasi malah orang luar.. hmm.. lagi-lagi kita telat..

  7. Iya, kaya`nya pernah deh dikirimi jajanan dari mbak Aning, yang paling disukai jajanan yang namanya SARANG MADU.

    Tentu saja hal ini sangat disayangkan, ternyata (ironisnya) orang diluar indonesia lebih mengenal Indonesia. Semoga paradigma ini bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s