Tetraloginya Mbah Pram

Aku adalah pecinta tulisan alm mbah Pram, maksudnya adalah Pramoedya Ananta Toer. Karya yang paling kusuka adalah tetralogi pulau Buru, yang sebagian memang disusunnya dalam masa pembuangan di kepulauan Buru. Sebenarnya karya Mbah Pram lumayan banyak, beberapa diantaranya yang sudah kukhatamkan adalah Gadis Pantai, Perburuan, Sekali Peristiwa di Banten Selatan (dan 2 novel lagi yang kulupa judulnya, kalau tidak salah, ada yang berjudul Saksi Bisu Pulau Buru. Keduanya kini kutitipkan sementara di Tangerang). Yang jadi target pemburuanku berikutnya adalah Arus Balik, Larasati, dan Perempuan dalam Cengkeraman Militer.

Sementara ini, yang akan kubahas adalah novel tetralogi Mbah Pram: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Ruang Kaca. Keempat novel ini dipersembahkan oleh Mbah Pram untuk seorang tokoh pergerakan yang mempelopori perjuangan melalui media cetak nasional yang bernama Medan Priyayi. Nama tokoh itu adalah RM.TAS (Tirto Adi Suryo). Sebagian perjalanan hidup TAS dituangkan dalam keempat novel ini, difiksikan dan dijelmakan dalam tokoh yang bernama Minke.

Tetralogi Pram adalah karya anak bangsa yang mampu merekam perjalanan bangsa ini, dari masa kolonial hingga masa mulai tumbuhnya nasionalisme di dada warga negaranya. Kondisi fisik, budaya dan sosial bangsa tergambarkan dengan jelas di novel-novel tersebut.. Tak heran, jika banyak yang mengusulkan Pram sebagai nominator Nobel di bidang sastra. Sayangnya, hingga akhir hidupnya, hal ini belum terlaksana. Sayang..

Bumi manusia sebagai novel pertama menceritakan masa kecil dan masa remaja Minke hingga kemudian menikahi noni Belanda bernama Annelies. Anak Semua Bangsa menceritakan perjalanan hidup Minke selanjutnya setelah kepergian istrinya yang diekstradisi ke Belanda. Jejak Langkah menceritakan eksistensi Minke di dunia pergerakan para pemuda, salah satunya lewat koran Medan Priyayi. Rumah Kaca menceritakan strategi yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial dalam membungkam aktivitas para aktivis pergerakan. Di sinilah kehidupan Minke berakhir dengan penuh kenelangsaan.

Iklan

3 thoughts on “Tetraloginya Mbah Pram

  1. Sepertinya aku jatuh cinta sama si minke ini.
    Selalu kepikiran dan terbawa-bawa mimpi.
    Dan, sedang mempersiapkan diri untuk sebuah akhir yang tragis.
    Tapi, memang kisah sejarah membawa catatan kesengsaraan, bukan?
    Terutama sejarah yang dimiliki rakyat yang tertindas juga yang berjuang.
    Kisah indah dan romantis hanya dimiliki sejarah para raja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s