Lekatnya Patriarki

Setiap ngobrol dengan teman-teman lokal, esp yang cewek, dan tema obrolan kami adalah keluarga, maka curhatan mereka pasti diawali..”Enak ya..teman-teman perempuan dari Jawa dan muslim..”
“Lho, memang kenapa Bu..”.
“Kalian tetap mendapatkan warisan dari keluarga, tidak seperti kami. Warisan keluarga hanya diberikan pada laki-laki. Kami tidak mendapatkan apa-apa. Misalnya saya ni.. anak saya keempat-empatnya perempuan. Jika saya tidak berhasil nyentana (mengambil anak laki-laki dari keluarga lain), maka ketika suami meninggal, warisan akan jatuh ke tangan ipar laki-laki saya. Saya dan anak-anak tidak akan mendapatkan apa-apa, paling hanya dapat biaya makan, pakaian dan biaya sekolah anak saya, itu pun jika ipar saya mau memberikan. Di luar itu, saya harus berusaha sendiri. Bahkan mungkin saya akan dikembalikan ke keluarga besar saya. Kalau di muslim bagaimana..” dia lanjut bertanya. Aku pun terbangun dari lamunanku, yang telah larut dalam ilustrasi yang dituturkan ibu tadi tentang betapa sulitnya menjadi perempuan di sini. Whupf.. Lalu aku pun menerangkan bagaimana sistem bagi waris muslim. Bahwa, warisan akan dibagi rata untuk seluruh keluarga, baik untuk istri, anak ataupun keluarga si suami, meskipun proporsinya beda. Ibu tadi pun menghela nafas,”Tu kan..enak..karena itu saya sering berharap.. Semoga nanti anak saya nanti menikah dengan orang Jawa saja, biar hidupnya tidak semenderita saya. Coba bayangkan, kira-kira apa yang bisa saya lakukan, jika suami saya meninggal. Saya bahkan tidak lulus SD.”
“Lho, kok bisa, bu..” tukasku.”Saudara saya ada 20, dan yang disekolahkan tinggi hanyalah laki-laki, sementara yang perempuan, jika lulus SD aja sudah bersyukur banget. Lihat aja tuh si Y (saudara laki-lakinya yang bekerja seunit denganku). Dia bisa kuliah kan.. ”

Di lain waktu, ibu yang lain menuturkan hal yang kurang lebih sama, untungnya, ayahnya berpikiran agak moderat, sehingga meskipun dia tak mendapat warisan harta, setidaknya dia disekolahkan hingga SMA. “Bapak memang tidak akan memberikan modal harta bagimu, tapi bapak telah memberikanmu pendidikan sebagai alat untuk mencari penghidupan yang lebih baik” demikian tegas bapaknya. Kini pun dia hidup lebih layak dibandingkan ibu yang pertama tadi. Pekerjaan yang ditekuninya menghasilkan pendapatan yang lumayan.

Hierarki status perempuan dan laki-laki di pulau ini terkonstruksi lebih nyata setelah percakapanku dengan seorang teman, bapak W, beberapa waktu yang lalu. Di suatu siang, dia bercurhat setelah melihat foto keluargaku yang tertempel di panel ruanganku, “Saya akan mengajukan cuti dini”. “Lho, kenapa Pak..” tanyaku. Banyak beban yang saya tanggung. Anak saya perempuan smua, 2 orang. Dan 2 tahun lalu yang bungsu meninggal, tanpa sakit dan tanda-tanda sebelumnya. Padahal dia adalah anak terdekat saya. Hingga kini saya belum bisa melepasnya, semangat hidup saya sudah pergi bersamanya. Belum lagi sekarang saya harus memikirkan bagaimana kelangsungan hidup keluarga saya di adat.”
“Lho..” demikian tanggapku. “Ya iya, anak saya perempuan. Berarti ketika saya meninggal keluarga saya akan runtuh. Tak ada yang bisa meneruskan status dan kewajiban keluarga di adat. Berarti tak akan ada lagi palinggihan (tempat persembahyangan yang berada di halaman rumah). Keluarga saya tidak ada artinya di mata adat.” demikian sergahnya. ” Lho, kan bisa nyentana, pak..” tangkisku. “Tidak akan semudah itu prosesnya. Banyak keluarga yang tak mau jika anak lakinya kami bawa pulang ke rumah.. Pokoknya ribet deh.. Banyak tetek bengeknya.”. Aku pun hanya terdiam. Tidak bisa menawarkan solusi apa pun, karena fakta ini juga baru kutemui dengan mata kepalaku sendiri, tidak sekedar wacana di media. Yang terbayang di benakku adalah aduh.. ribet banget si.. Padahal adat itu kan buatan manusia, kenapa justru dibuat tidak untuk meringankan ya.., tapi malah merumitkannya.

Inilah konstruksi sosial yang terbangun di sini. Memang terkadang terjadi pelenturan terhadap adat, namun sifatnya perseorangan sekali. Satu di antara sekian.. Yang jelas, fakta sosial ini membuatku lebih bersyukur.. tentang banyak hal.

Iklan