Karakter Pengunjung Kebun Raya

Minimal, sekali dalam sebulan, aku mendapat giliran menjadi pemandu di kebun. Dulu aku ditugaskan di Taman Begonia, namun kini Taman Anggrek. Bukan tugas yang menyenangkan sebetulnya, karena jarang pengunjung yang memanfaatkan jasa kami. Mostly, mereka hanya menjadikan taman sebagai background foto ataupun objek foto, tanpa rasa ingin tahu lebih dalam mengenainya. Jika dirata-rata, dalam sehari, kurang dari 10 pengunjung yang penasaran dan meminta info lebih lanjut mengenai koleksi kami. Akhirnya, tugas dari pukul 08.00-18.00 lebih banyak kuisi dengan duduk di gazebo, mendengarkan radio, membaca buku, mondar-mandir dan mengamati para tamu yang datang.

Pengalaman mengajarkanku bagaimana membedakan pengunjung yang membutuhkan pemanduan dan yang tidak. Aku biasa tersenyum pada setiap yang datang. Jika mereka terlihat interest atau beranjak mendekatiku maka tugas pemanduanku akan berlanjut. Jika tidak, dapat dipastikan bahwa mereka lebih tertarik untuk berfoto-foto. Aku pun tidak akan mengikuti mereka, karena kemungkinan besar mereka jadi tidak nyaman karena kehadiranku. Maklum, banyak pengunjung yang datang berpasangan..

Karakteristik pengunjung yang hanya fokus pada foto pun bisa terlihat sejak pertama mereka datang ke taman. Mereka akan melewatkan papan petunjuk dan keterangan koleksi begitu saja. Mereka lebih tertarik pada air mancur dan air terjun yang ada di taman. Bagi yang tertarik lebih lanjut biasanya tidak akan melewatkan papan yang disajikan di pintu masuk taman tersebut. Mostly, ini dilakukan oleh sebagian besar pengunjung asing dan sebagian kecil pengunjung domestik.

Ada beberapa spot yang disukai pengunjung asing yang masuk ke taman anggrek. Umumnya, mereka akan terpukau dengan penataan taman. Selanjutnya, mereka akan tertarik dengan kehadiran beberapa batang cyathea yang menaungi taman kami. Cyathea, lebih dikenal dengan nama paku tiang, memiliki tinggi batang hingga 5-10 m. Batang paku ini sering digunakan sebagai tiang bangunan atau sekedar media tanam anggrek, seperti jenis paku lain: pakis haji. Umumnya, mereka tertarik pada perawakannya yang tidak seperti jenis paku lain dan keberadaannya yang kami fungsikan sebagai habitat bagi beberapa anggrek epifit. Hal ini unik, jarang mereka temui, meskipun ini adalah hal wajar yang akan kita temui di hutan.

Pengunjung datang ke taman anggrek dengan satu ekspektasi, melihat berbagai anggrek yang terkenal unik dan cantiknya itu. Begitu masuk, mereka pasti mengajukan satu pertanyaan atau keluhan yang seragam. Mengapa jarang ada anggrek berbunga di taman ini ? Dan kami sebagai pemandu pun tak bosan-bosannya menjawab, bahwa tujuan utama taman ini adalah untuk mengkonservasi anggrek alam kawasan timur indonesia yang berada pada daerah dataran tinggi.
Mengapa kami lebih menekankan pada anggrek alam, bukan pada anggrek hibrid yang dijamin keindahannya ? Saat ini banyak anggrek alam yang terancam kepunahan karena tingginya laju deforestasi di Indonesia. Padahal mereka adalah sumber plasma nutfah,induk dari berbagai anggrek hibrid di pasaran yang indah dan unik itu.

Sayangnya, berbeda dari anggrek hibrid yang dapat dipastikan kecantikannya, maka bunga anggrek alam biasanya kecil dan kurang menarik. Meskipun demikian, adapula yang menarik seperti D macrophyllum, Phaius tankervilliae, atau Bulbophyllum lobii. Untuk menemukannya, kita harus cermat mengamati. Dan ini jarang dilakukan sebagian besar pengunjung.

Selain karena karakteristik tersebut, maka waktu perbungaan anggrek ini pun variatif. Jarang terjadi serentak. Mengapa demikian ? Karena kami membiarkan mereka hidup alami dan tidak melakukan upaya rekayasa dengan penyemprotan zat perangsang bunga seperti yang lazim dilakukan di nurseri anggrek. Jadi, pengunjung memang harus cermat mengamati mana anggrek yang sedang berbunga. Aku pun biasanya mengawali tugasku dengan menginspeksi setiap sisi taman untuk memeriksa anggrek yang sedang berbunga. Sehingga saat ada yang menanyakan, aku bisa menjawab dan menunjukkan tempatnya, dan beberapa keterangan mengenainya.

Apa yang mengesalkan saat bertugas ?
Banyaknya pengunjung, terutama domestik, yang mengambil diam-diam beberapa tanaman koleksi. Keindahan anggrek membuat mereka ingin memilikinya, tak hanya sekedar melihat atau mengoleksi fotonya, seperti yang umum dilakukan pengunjung asing. Mereka tidak menyadari bahwa tanaman tersebut khusus dataran tinggi, jadi kemungkinan besar akan sulit beradaptasi jika ditanam bukan pada habitat aslinya atau habitat yang direkayasa mendekati habitat aslinya. Yang penting, bisa memilikinya,gratis pula. Perbuatan tidak bertanggung jawab, berakhir pada kesia-siaan dan mengurangi populasi tanaman yang memang sudah terancam punah. Terkadang jadi sebal sendiri, mengapa kesadaran konservasi masyarakat Indonesia masih terus seperti ini, padahal kerusakan sudah nyata terjadi di depan mata.

Berdasarkan pengalaman, maka pengunjung gila foto pun bisa kukategorikan menjadi dua.. Pengunjung yang sekedar mengambil gambar diri berlatar belakang taman. Ini dilakukan oleh sebagian besar pengunjung domestik. Pengunjung yang gila foto detil taman dan seluruh isinya. Ini sebagian besar dilakukan oleh pengunjung asing. Mereka berbekal kamera SLR/DSLR dengan berbagai jenis lensa. Mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengambil gambar bunga anggrek dan elemen taman lainnya. Tak heran banyak buku mengenai tanaman indonesia/hal-hal lainnya justru diterbitkan oleh pihak asing. Sehingga saat kita membutuhkan info mengenai tanaman yang notabene adalah milik kita, terpaksalah harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Hmm.. ironis.. dan entah sampai kapan akan berlanjut..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s