Slumdog Millionaire vs Q&A


Comparation between Q&A dan Slumdog Millionaire —perbandingan ini tidak untuk menyimpulkan, mana yang lebih bagus.. just comparing..— Q&A adalah judul sebuah novel yang ditulis oleh Vikas Swarup yang menginspirasi terciptanya film Slumdog Millionaire. Film ini kemudian menjadi nominator untuk beberapa kategori Academy Award, kalau tidak salah 10 nominasi (best picture, best directing, adapted screenplay, sinematografi, film editing, best scoring, best 2 lagu: Jai Ho, O Saya), penyuntingan suara, mixing suara, soundtrack Film ini dibintangi oleh Dev Patel, Anil Kapoor dan disutradarai Danny Boyle.

Setelah menyimak keduanya, baik novel maupun film (bajakan)nya, oke, keduanya memiliki persamaan, alurnya flashback. Namun dari segi penceritaan, ada beberapa hal dalam novel yang mengalami penyesuaian. Misalnya tokoh Salim di novel adalah teman karib Thomas (protagonis novel). Di film, nama ini berubah menjadi nama kakak Jamal (protagonis film). Latar belakang Thomas yang kompleks, yatim piatu yang pernah dididik dalam lingkungan gereja dan diberi nama Hindu-Kristen-Muslim: Ram Mohammad Thomas pun disederhanakan menjadi tokoh Jamal yang hidup dan dibesarkan dalam lingkungan muslim India. Mengapa demikian ? Pastilah ada pertimbangan dari si pembuat filmnya. Bisa jadi karena ingin mengangkat kondisi sosial India saat ini, di mana sering sekali terjadi kekerasan sosial antara kaum muslim dan Hindu. Atau bisa jadi ingin menghindari kontroversi karena novel ini juga mengangkat fenomena praktek fedofilia dalam lingkungan gereja. Ah entahlah..

Dalam film, Jamal begitu mengidolakan Amita Bachan sehingga saat ditanyai dalam kuis, dia mudah menjawabnya. Dalam novel, sosok idola yang menjadi topik pertanyaan adalah seorang aktor, Armaan Ali yang ternyata gay. Sosok ini pun sebenarnya bukan diidolakan oleh Thomas, namun oleh Salim sahabatnya. Dia menjadi tahu, karena setiap hari Salim selalu mendoktrinnya dengan segala hal mengenai sang idola.

Lalu Lathika.. tokoh ini muncul dalam film sebagai soulmate-nya Jamal dari kecil. Sementara dalam novel tidaklah demikian. Soulmate Thomas adalah seorang PSK yang menjadi “langganannya” saat berpetualang ke Agra. Dia menjadi PSK karena keterpaksaan, korban trafficking dari kakaknya sendiri, yang juga menjadi germonya.

Dalam film, latar belakang Jamal untuk mengikuti who wants to be a millionaire adalah untuk bertemu dengan Lathika. Sementara dalam novel, latar belakang Thomas mengikuti kuis Who Will Win a Billion adalah untuk mendapatkan uang demi menebus soulmate dari germonya. Selain itu, Thomas juga mempunyai agenda terselubung, yaitu membalaskan dendam pribadi kepada si host kuis yang telah melakukan penyiksaan seksual kepada kekasihnya dan mantan majikannya dulu.

Perbedaan berikutnya adalah nominal uang yang diperoleh. Dalam film, Jamal memperoleh uang sebesar 20 juta rupee. Sementara yang diperoleh Thomas dalam novel adalah benar-benar 1 miliar rupee.. Ini yang membuatku nggerundel saat menonton filmnya, “Katanya who wants to be a millionaire.. harusnya kan dapatnya semilyar.. sama seperti format kuis tersebut di Indonesia.. bukan 20 juta..” . Memang si jika direnungkan, million dalam bahasa inggris berarti berarti juta.. jika dengan konteks tersebut, yang ditampilkan di film tidak salah kan.. Yang jelas, berapa pun nominalnya, apa yang diperoleh Jamal mampu mengangkatnya ke dalam status orang kaya.

Dalam film, ditampilkan bahwa yang menjebloskan Jamal ke dalam film adalah si host kuisnya, semata-mata hanya karena dirinya sangsi dengan kemampuan Jamal. Sementara, kru kuis justru mendukung kesuksesannya. Sementara di dalam novel diceritakan bahwa penjeblosan Thomas ke penjara adalah konspirasi dari produser kuis (beserta seluruh kru-nya), selain karena sangsi dengan kemampuan intelektual Thomas juga karena mereka tidak mampu membayarkan nominal hadiah sebanyak itu. Jika dalam film, Jamal dijebloskan ke penjara sebelum episode terakhir, maka dalam novel, Thomas dimasukkan ke penjara setelah acara kuis itu berakhir dan ia telah dinyatakan sebagai pemenangnya.

Film Slumdog meramu kerasnya kehidupan Jamal dan Salim (dan kaum bawah India lainnya) dengan sentuhan “komedi” di sana-sini. Jadi, kesan yang kita dapatkan pun tak hanya keprihatinan, namun juga kekaguman atas kekreatifan dan ketangguhan anak-anak tersebut dalam menyiasati dan menikmati kesederhanaan hidupnya. Aku selalu tersenyum menonton babak awal film ini, sementara saat membaca novelnya, kesan prihatin, ngeri, syukur dengan keadaanku sekarang selalu kualami dari awal hingga akhir. Novel tersebut memang wow, mengupas detil berbagai bidang yang mungkin sebelumnya belum kita ketahui, sosial, hiburan dan pariwisata di India. Dramatis, meskipun sebenarnya tak jauh dengan fakta yang kita hadapi sehari-hari. Lihatlah, anak-anak jalanan yang menghiasi jalanan di kota-kota besar kita. Tak jauh beda dengan yang disajikan dalam film dan novel tersebut. Jika disajikan tanpa unsur komedi, mungkin novel ini akan segenre dengan film Daun di Atas Bantal besutan Garin Nugroho (pendapat pribadiku).

Konflik yang disajikan dalam Slumdog, menurutku terkesan “nanggung”. Terutama konflik antara si host kuis dan Jamal. Si host tampak kurang culas, kurang merendahkan, dst.. sehingga ketika dia harus menjebloskan Jamal ke penjara, alasannya menjadi tanda tanya, kurang.. Hubungan Lathika & bosnya.. kok tidak jelas ya. Secara eksplisit, Lathika memang ada di rumah Bos, namun apakah dia merupakan istri, simpanan dari bos, tidak jelas. Yang ditampilkan hanyalah bahwa Lathika harus menyajikan makanan bagi bosnya. Sementara bosnya justru bersenang-senang dengan wanita lain di rumah tersebut. Jika hanya sebagai pembantu (karena kesan yang kudapat ya seperti itu..) mengapa saat Lathika kabur, bosnya berusaha terlalu keras untuk mencarinya kembali, dengan menyuruh anak buahnya untuk mengejarnya, bahkan hingga melukainya. Ataukah Lathika memang simpanan yang tak lagi diinginkan. Tidak digunakan namun ketika akan direbut orang lain, ego si bos berontak karena merasa Lathika adalah hartanya… Ah entahlah..

* Yang jelas, bagi yang belum membaca novel maupun menonton filmnya.. silakan lho.. Film ini tidak seperti film India yang lain (mungkin karena pengaruhnya sutradaranya). Yang membuatnya tetap mempertahankan ciri ke-india-annya adalah tarian yang dilakukan aktor/aktrisnya, meskipun itu ditampilkan di luar cerita. Yang membuatnya berbeda dari film India yang lain adalah… adalah ciumannya bener-bener terjadi.. tidak hanya “almost”..

One thought on “Slumdog Millionaire vs Q&A

  1. eH buwww……tapi SLUMDOG MILLIONAIRE kayaknya jadi jawara oscar deh tahun ini…paling banyak dapet award kayaknya….so…it should’ve been good enough to watch….
    Nonton yuuuukkkzzzz…..
    heheheheh……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s