LOVE U MOM..

“Ibu kemarin jatuh tersungkur di situ.. “ demikian ujar ibuku sambil menunjukkan bagian halaman belakang rumah dan tangan yang satunya mengelus jidatnya yang masih ada bekas memarnya. “ Ko bisa jatuh.. tersandung atau gimana..” Ujarku sambil mengelus jidatnya. “Lha itu, habis nganterin makanan ke pasar, tapi masih ada beberapa lagi yang harus dianterin juga, jadi buru-buru gitu.. E.. tiba-tiba langsung krungkep.. Tetangga aja sampai negur, lho tadi jatuh ya.. aku ngeliat dari kejauhan lho Mbak..” tambahnya. “ Ya udah, berarti sekarang bikinnya nggak usah banyak-banyak, ga usah ngoyo-ngoyo. Semampunya aja.. kan sekarang udah nggak ada yang bantuin..” saranku kemudian. Ibuku pun hanya mengiakan sambil menambahkan, “Aku juga sudah sering bilang ke Yu Marni supaya jangan nerima pesenan tambahan lagi. Aku udah nggak sanggup. Tapi ya gimana, banyak orang yang nanyain. Dikasih alternatif lain pada nggak mau. Pengennya mesen ama ibu aja..” Mendengar pembelaan ibuku aku tak bisa berkata apa-apa lagi, makanan buatan ibu memang terkenal enak.

Ibuku memang pekerja keras. Sejak dari aku kecil sampai sekarang, membuat makanan untuk dititipkan di pasar adalah kegiatannya sehari-hari. Semuanya dimulai dari menjelang tengah malam. Dari pukul 23.00 hingga jam 10.00. Kemudian antara jam 10-12 dia akan melakukan kegiatan rumahtangga yang lain. Selepas makan siang dia akan istirahat hingga jam 15.00. Nanti jam 15.00 hingga menjelang magrib dia akan melakukan menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam memasak. Sehabis magrib dia akan membuat bahan isi hingga jam 20.00. Kemudian dia akan tidur hingga jam 23.oo. Begitulah jadwal sehari-hari ibuku. Meskipun telah sibuk dengan kegiatan rutin itu, ibuku tak mau ketinggalan dengan kegiatan darma wanita di kantor bapakku, yang harus ditempuh dengan satu jam sekali jalan. Ibuku benar-benar pendamping setia Bapakku.

Ketika kami masih sekolah di Pati, maka kamilah yang membantunya. Bapakku juga. Meskipun beliau laki-laki, tak ada kata anti untuk melakukan kegiatan perdapuran. Kami bangga dengan Bapak yang peduli seperti beliau. Ketika kakakku kuliah, kami mulai memiliki pembantu untuk menggantinya satu tenaga kakakku. Ini terus berlanjut, hingga aku juga kuliah. Bahkan ketika kini, dua anaknya telah bekerja, dan tak ada pembantu lagi di rumah kami, ibu pun masih tetap sibuk dengan ritme kerja yang sama, meskipun usianya telah mencapai 51 tahun. Banyak tetangga yang nggrundel ama Mbahku, “Lho Mbah, ibuke Yuni kae kok masih jualan wae tho.. padahal kan wis kecukupan, anaknya juga sudah mentas smua, ga punya tanggungan lagi. Ya kalo dulu si buat ngewangi bapake buat nyekolahin anak-anaknya. Lha sekarang.. “ . Mbahku kebingungan menjawabnya, akhirnya menjawab sekenanya, “Yah, namanya juga manusia, pasti ga ada puasnya.”

Di kepulanganku terakhir, saat tahun baru kemarin akhirnya aku mendapatkan jawaban mengapa ibuku masih mempertahankan kesibukannya. Beliau memang tak menyatakan langsung alasannya, namun saat membicarakan tabungannya tersiratlah rencana beliau untuk naik haji. “Soale kalau mengandalkan gajine bapakmu, yo suwe.. ga berangkat-berangkat..” demikian argumennya. “Kalaupun ada, ya cukup buat Bapakmu thok..” Aku bangga dan trenyuh dengan ujaran ibuku. Aku bangga karena niatan itu dari benak ibuku, tanpa ada pengaruh. Meskipun kadang dalam doaku aku juga sering mengharapkan agar Allah mengundang Bapak Ibuku ke tanah suci. Trenyuh karena aku seolah-olah tak bisa membantu apa-apa atas niatan ini. Sering sekali hasrat untuk menyisihkan gajiku yang tak seberapa itu untuk menabunghajikan Bapak Ibuku. Namun lagi-lagi, aku sering lalai dan lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan sekunderku. Hingga sekarang, tak sepeser uang pun yang telah kusisihkan.

Di hari ketiga di rumah, sehabis Dhuhur setelah pulang dari kondangan bersama Bapakku, tiba-tiba ibuku mengeluh sakit. Sebelumnya beliau memang agak mengeluh, punggungnya sakit, tapi seperti biasa.. keluhan itu tak dihiraukan, dan beliau masih beraktivitas seperti biasa. Tapi siang itu, sepertinya kelelahannya sudah terakumulasi. Seluruh badannya sakit. Untuk bangun tak bisa, bahkan sakit kulitnya disentuh pun terasa sakit. Saking sakitnya, tiba-tiba beliau sering mengerang kesakitan, sambil menangis. Sungguh,baru sekali itu aku melihatnya menangis saat sakit. Aku tak tahu harus berbuat apa, sambil membalurkan minyak angin ke seluruh tubuhnya yang dikatakan sakit olehnya, kadang air mataku menetes. Cepat-cepat kuhapus karena aku nggak ingin ketahuan olehnya. Ketika sudah tak terbendung lagi, aku pun lari keluar kamar. Posisiku digantikan kakaknya yang kebetulan pulang juga saat itu. Untuk situasi yang seperti itu, biasanya kakakku lebih tahan. Ketika sudah tenang, aku pun masuk kamar lagi. Memijit badan ibuku lagi. Sesekali ibu menyatakan kekesalannya pada Bapak (ini kayaknya efek karena sakit aja..),”Kalau Bapakmu sakit, aku yang ke mana-mana ngurusin.. tapi giliran aku sakit dianya nggak peduli.” Demikian keluh ibuku. Aku hanya terdiam, sambil mengingat-ingat, saat aku masuk rumah sakit Agustus lalu, ibuku yang masih melakukan rutinitas sehari-hari harus pula membagi tenaganya untuk mengurusiku, menungguiku dan merawatku selama berhari-hari. Aku jadi menyesal dan berjanji nggak pengen sakit lagi dan merepotkan Ibuku sepereti itu lagi.. Kini saat ibuku sakit, aku harus melakukan yang terbaik. Kami sekeluarga benar-benar fokus pada penyembuhan ibuku. Mbahku pun datang menengok dan lagi-lagi menekankan pada kami untuk mengingatkan ibu agar bekerja semampunya aja sekarang, jangan memforsir dirinya. Kami pun mengiakan permintaan Mbah.

Hal itulah yang kini kami, aku dan kakakku, ingatkan kepada ibuku berkali-kali. Namun tetap saja, keberadaan kami yang jauh dari rumah tak bisa memberikan pengaruh yang kuat pada ibuku. Setiap kali kutelpon dan kutanyai, apa yang dilakukannya, jawabannya pasti tak jauh beda, “Lagi bikin pesanan dari mbak…………” dst.

Hal itu terus membuatku merasa bersalah. Andai saja aku tak berada di seberang lautan seperti ini, andai saja aku bisa berada dekat dengan mereka, membantu ibuku setiap saat, membantu beliau melakukan rutinitasnya, membantu beliau merawat Bapakku yang kini juga jauh lebih rentan kondisi kesehatannya..  Andai.. ah, hingga kini yang bisa kulakukan memang hanya bisa berdoa pada Allah untuk memberikan yang terbaik bagi kami, berharap Allah akan memberiku kesempatan untuk selalu membahagiakan mereka, dan lebih berbakti kepada mereka, lebih baik, lebih baik.. dari hari ke hari…

Ya Allah, berilah kesempatan untuk kembali ke Jawa, berdekatan lagi dengan mereka 🙂

Mom, I Love U..

Dad, I Love U..

menjelang mudik, 14 Maret 2009

3 thoughts on “LOVE U MOM..

  1. Dee….when u thinK abouT it,,,isn’t it amazing whaT a woman can do to survive…???my mom just as super as yours…I guess every mom is….”superwoman”…!!!!

    eH buw…dengerin lagu alicia keys yang superwoman deh…..hope it can helP u to be strongeR….and never give Up….!!!

    chiaaayyyooo….!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s