Kuingin mereka mendengar, ada nama mereka tersebut

me n my mom-dad

me n my mom-dad

Tirakat, berprihatin, adalah hal yang selalu ditanamkan oleh kedua orang tuaku. Terkesan njawani banget memang. Seperti yang tersurat dalam salah satu tembang macapat (lupa tembang apa) bahwa kesejahteraan hidup akan dicapai, salah satunya dengan melakukan cegah dhahar lan guling. Namun tentu saja konsep yang diajarkan ortuku ini sudah tak sekental konsep tirakat jawa jadul, di mana orang tirakatan dengan berendam di sungai pada malam hari dan melakukan berbagai ritual lainnya.

Ketika konsep ini kuujarkan dengan beberapa teman, mereka langsung merespon, “Oh, pantesan kamu kurus kering.. Bis kurang makan dan tidur si.. Ajaran aneh tu, malah bikin orang ga sehat..”. Aku hanya tersenyum mendengarnya, namun hati tetap menilai, tak ada salah dengan hal tersebut. Hidup kita memang harus dijalani dengan keprihatinan, kesahajaan, karena ada hal lain yang harus dicapai, kebahagiaan akhirat. Aku menilai hakikat dari tirakat ini adalah untuk mengingat 5 perkara sebelum 5 perkara: ingat sehat sebelum sakit, ingat luang sebelum sempit, ingat hidup sebelum mati, ingat muda sebelum tua dst.

Cegah dhahar diterapkan orang tuaku dengan selalu berpuasa senin kamis. Hal ini rutin dilakoni, dari aku kecil hingga saat ini. Selain berpuasa di 2 hari yang disunahkan tersebut, maka mereka juga berpuasa di wetonku, weton mbakku, weton bapak dan ibuku. Jika kami, anak-anaknya, sedang menjalani tahapan penting dalam kehidupan kami, maka mereka pun berpuasa. Contohnya saat kami ujian akhir, sidang dst.

Cegah guling dilakukan dengan rutin shalat lail. Ibuku yang selalu memulai kesibukan sejak tengah malam tentu tak ada keluhan dengan ritual ini. Bapakku pun rutin bangun pada jam 2 malam untuk menunaikan shalat sunah ini. Ya, mereka shalat pada waktu yang utama, waktu yang paling dianjurkan untuk memanjatkan doa.. Doa yang tentu saja ditujukan untuk kebahagiaan kami anak-anaknya.

Lalu bagaimana dengan kami, anak-anaknya..? Sudahkah kami tirakatan.. Waduh, memalukan, ga usah diceritakan di sini. Apalagi aku.. Hingga kini, aku masih berkutat pada tahapan memahami, belum melaksanakan. He.he.he.

Momen mudik ini adalah kesempatan buatku untuk mengumpulkan kembali semangat untuk melakukan tirakatan itu. Dengan melihat ortu yang masih istikomah dengan puasa dan shalat malamnya itu, aku berharap tekadku lebih membulat. Sudah waktunya kini ibu bapakku mendengar, bahwa dalam doaku ada nama mereka yang kusebut.. Tak lagi hanya sebaliknya..

Hayo semangat..!
Bagaimana dengan Anda..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s