Xploring Taman Pintar

Hari ini, bersama Inu, adik sepupuku yang menjelang jadi siswa putih merah itu, kami belajar menjadi lebih pintar di Taman Pintar. Semula, kami ingin berkunjung dulu ke JEC, berburu buku, karena ada kabar pameran buku di sana. Sayangnya, pameran buku ternyata telah

inu-di-trans-jogja

Inu di Trans Jogja yang wangi

berakhir, yang ada justru wisudaan mahasiswa UAD. Kecewa, tentu saja tidak. Justru karena kecele inilah kami bisa mencoba trans jogja untuk pertama kalinya. Ketika kutanya, apa istimewanya bis ini dibanding bis kota biasa yang berlabel puskopkar, primkopad, dst, maka adikku spontan menjawab, bisnya wangi.. Memang, di dekat lubang ac, ada pewangi yang digantung. He.he. Kadang, anak kecil memang pengamat yang cerdas ya.. Bisa menemukan sisi lain dari sesuatu yang kadang justru dilewatkan orang dewasa.

Dengan bis trans jogja jalur 1b yang dikelola cv. Tugu transport inilah kami menuju Taman Pintar yang terletak di jalan Senopati, salah satu jalan di sudut Malioboro itu.

Turun dari bis yang nyaman itu, kami disambut barisan anak-anak berbaju batik biru yang memanjang ular ingin menyeberang ke gedung pintar. Kami pun bergabung di dalamnya.

Taman pintar ini telah beroperasi beberapa tahun lalu, saat walikota yang diusung partai yang salah satu tokohnya akrab mengenalkan slogan “hidup adalah perjuangan”, mulai memimpin kodya jogja. Herannya, Taman Pintar ini baru diresmikan presiden beberapa bulan lalu. Lho kok..?!

Di TP ada beberapa wahana, salah satunya adalah gedung oval dan kotak. Karena kami rasa paling lengkap, maka kami memilih masuk ke gedung oval dan kotak. Sebelum masuk, aku harus membeli tiket Rp 15.000,- (10 ribu untukku dan 5 ribu untuk adikku). Tanpa masuk pun gedung ada beberapa wahana permainan yang tersedia di pelataran dan bisa dinikmati gratis. Di beberapa sudut pun tersedia fasilitas air minum langsung glek dari hasil penyulingan di lingkungan TP. Jadi, akan ada banyak hiburan dan pendidikan yang didapatkan, tanpa perlu masuk ke gedung. Namun, jika ingin menikmati beberapa alat peraga dan simulasi teknologi, maka tak ada jalan lain selain masuk ke dalam gedung.

taman-pintar-jogja

Sebelum masuk ke gedung oval, kita akan diperiksa, karena penggunaan kamera tidak diperkenankan di gedung ini. Sayangnya, seperti biasa, peraturan dibuat untuk dilanggar bagi warga Indonesia. Begitu masuk ke dalam, banyak kilatan blitz dari pengunjung, baik dari kamdig atau hp, sepertiku. He.he.he.

Pertama, kita akan disambut barisan ikan tawar yang tersaji di akurium sepanjang dinding. Selanjutnya adalah replika tirex dan manusia purba, serta berbagai hal berbau kepurbaan lainnya. Selanjutnya kita akan dikenalkan dengan berbagai ekosistem yang ada di Indonesia,

21032009013

yang ditampilkan dalam maket maupun tampilan visual layar datar yang dapat dikendalikan pengunjung melalui mouse dan remote joystik. Berikutnya, kita akan dikenalkan ke berbagai alat simulasi teknik, yang masing-masing alat didampingi seorang pemandu peraga, tempat kita mengajukan berbagai pertanyaan mengenai alat tersebut.

Di lantai 2 tersaji berbagai alat simulasi yang jumlahnya ratusan, untuk berbagai cabang ilmu, baik biologi, fisika, kimia, elektro,

astronomi, geografi, matematika, dll. Semuanya bisa dicoba, jangan takut bertanya, karena pemandu akan dengan ramah menjawabnya. Di lantai ini ada pula ruangan simulator gempa berkekuatan 4 SR. Sebelum dimulai, pemandu akan menguraikan pada pengunjung tentang apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi: bila tak sempat keluar ruangan, bersembunyilah di bawah meja atau perabot berkolong lainnya, hindari jendela, cermin atau perabot berkaca lainnya. Jika sempat keluar rumah, jangan lupa mematikan sekring listrik. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan pokoknya.

Inu nonton 3 dimensi

Inu nonton 3 dimensi

Di lantai 3, ada bioskop yang menawarkan film 3 dimensi. Untuk menontonnya, kita harus membayar tiket Rp 15 ribu/individu. Selain bioskop, ada pula perpustakaan. Sayangnya, seperti biasa, perpustakaan ini pun sepi pengunjung dan koleksinya pun masìh sangat sedikit. Meskipun begitu, aku sempat membaca beberapa lembar terakhir dari Harry Potter-The Deadly Fallows. Ternyata, HP tidak mati, bahkan Dumbledore pun kembali hidup. Yang mati adalah You know who 🙂 HP akhirnya menikah dengan Ginny, beranak 2: James dan Albus. Anak-anak mereka bersekolah di Hoghwarts dan bersahabat dengan anak Rön&Hermione, Neville dan kawan-kawan sekolah HP dulu. Happy ending.

Karena kelaparan dan kebelet pipis, maka kami pun ke lantai dasar yang menyediakan toilet dan foodcourt. Di sanalah adikku mencoba pizza untuk pertama kalinya. Sengaja kupilihkan pizza, biar tak sepertiku yang baru mengenal makanan tersebut di semester 1 kuliah dan langsung berkesimpulan it wasn’t a fav food 4me :-).
Senangnya pula, ternyata lantai ini berhubungan dengan shopping.. Tempat favoritku untuk berburu buku jika di Jogja. Waktu menunggu hujan pun kami habiskan di sana. Senang, karena kebiasaan membaca pun dimiliki adikku. Dia lebih tertarik dengan alam semesta dan angkasa raya, karena cita-citanya yang ingin jadi astronot. Tak sadar, waktu pun menunjukkan jam 4 wib. Maka kami pun pulang dengan bis kota jalur 4 yang menuju ke terminal dan melewati rumah bulik yang berada di sepanjang ring road timur yang tidak dilewati bis Trans Jogja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s