Belajar dari Kasusnya Benjamin Button

Pasti sudah banyak yang menonton film yang diaktori Brad Pitt dan mendapatkan beberapa award dari Academy Award 2009 ini. Banyak yang mengatakan film ini unik karena dikembangkan dari imaginasi liar tentang siklus hidup ini, dari bayi yang lahir keriput hingga ke orang tua yang meninggal dalam bentuk fisik bayi.

Apakah film ini berkembang dari imaginasi yang liar ? Yang jelas, saat menonton film ini, ingatanku merujuk pada filosofi yang berkembang di masyarakat kita. Ingatkah kita pada perumpamaan atau apa ya.. namanya.. Bahwa ketika tua kita akan balik lagi menjadi anak kecil. Apakah ini hanya kalimat saja.. Tentu saja tidak. Teman-teman yang ortunya telah mendekati uzur atau di rumah hidup bersama mbah-mbah tentu akan mengamini kalimat tersebut.

Beberapa tahun lalu, aku hidup bersama buyutku. Di usia yang menjelang 70 itu beliau sering buang air besar dan buang air kecil sembarangan. Apakah itu disengaja, tentu saja tidak. Fungsi pembuangannya memang sudah tak bisa dikontrolnya lagi. Kami sekeluarga tentu saja repot dengan kebiasaan ini. Apalagi kakak sepupuku yang mendapat tugas untuk membersihkan air besar dan air kecil tersebut. Pasti dia mengomel sepanjang waktu dan melotot padaku yang hanya kebagian tugas untuk menemani makan dan mengobrol buyutku. he.he

Jika dipikir, apa yang dilakukan orang tua (entah bap-ibu, mbah, buyut, canggah dst) kita ini dulu juga kita lakukan saat kita kecil. Kita bayi ngompol dan ngoprok sembarangan. Bahkan mungkin ada beberapa pula yang meneruskan kebiasaan ngompolnya ini hingga umur menjelang TK. Hayo ngaku.. Tapi saat itu, tak pernah pun orang tua kita mengomeli kita kan.. Mereka tetap membersihkan pipis dan pub kita dengan sabar, bahkan dengan senyuman dan celotehan, “Oalah.. Adek nangis karena pipis ya.. cup-cup.. ini sudah ibu/bapak bersihin.. cup-cup-cup, jangan nangis lagi ya.. Sebentar lagi pasti nyaman, adek bisa tidur lagi..” pasti inilah yang diucapkan teman-teman yang sudah berputera-puteri.

Orang tua tentu saja suatu saat nanti akan mengalami kerabunan mata dan ke-osteoporis-an yang membuatnya sulit berjalan sehingga kita pun harus membimbingnya. Tak jarang kita lebih suka membelikannya tongkat atau kursi untuk menghindarkan diri dari kerepotan membimbingnya. Kita juga sering mengeluh, jika mereka sering memanggil nama kita. Pokoknya kita anggap mereka menyusahkan kita saja. Kita lupa bahwa saat lahir kita pun rabun untuk beberapa saat (para ibu dan bapak pasti tahu banget soal ini). Tapi orang tua dengan sabar “ngliling” kita, membantu kita melatih penglihatan dan mengenalkan kita berbagai benda dan sosok. Mereka pun dengan sabar membimbing kita belajar berjalan. Dan itu dilakukan saat mereka pulang kerja, di saat tubuhnya juga sebenarnya telah lelah.

Orang tua yang telah uzur kadang juga jadi bandel, susah diberitahu, banyak keluhan. Dan tak sedikit kita yang habis kesabaran karenanya. Terkadang kita jadi membentak atau mengasarinya. Kita lupa, bahwa saat kecil pun kita juga bandel, keras kepala, pengeluh utama dan sering membuat mereka habis kesabaran.

Mengapa sih, Allah menciptakan siklus itu, mengembalikan orang tua menjadi seolah-olah kecil kembali..? Kalau menurutku, Allah sebenarnya ingin memberi kita kesempatan membalas budi mereka. Allah tentu saja ingin memberi kesempatan pada kita untuk merawat orang tua sebagaimana mereka merawat kita. Selama ini kita merasa bahwa pemberian materi saja sudah cukup untuk membalas budi tersebut. Kita cukup puas jika sudah membelikan mereka baju, atau apa pun itu. Kita berpikir menelpon saja sudah cukup, tanpa perlu menyempatkan pulang secara fisik. Padahal sebenarnya kehadiran fisik itulah yang mereka butuhkan (meskipun ini tak diungkapkannya). Mereka lebih membutuhkan pijitan tangan kita daripada pijitan dari tukang pijit yang ongkosnya kita bayar. Mereka juga ingin bercurhat langsung dengan kita sambil kita pegangi tangannya daripada hanya mendengarkan suara kita lewat telpon saja.

Ah tahulah, itu hanya pikiranku saja. Tapi yang jelas, kini aku kangen bapak ibuku. Meski aku baru pulang seminggu yang lalu dan telpon ibuku baru kututup beberapa menit yang lalu..

Bedugul, dibuat saat menunggu teman yang ingin mengambil dvd Curious Case of Benjamin Button-nya yang kupinjam beberapa waktu lalu.

*yang tentang siklusnya sudah saya edit..he.he. makasih inputnya..

Iklan

6 thoughts on “Belajar dari Kasusnya Benjamin Button

  1. Duh tulisan yang menggugah sekali. terima kasih telah mengingatkan.
    gwe jadi kangen nih sama ortu. mereka setiap hari selalu mendoakan anak2nya tapi kok kita dengan mudahnya melupakan mereka dalam detik2 waktu kita yang katanya sok sibuk ini yah……..

    Wi, Ingatkah kita pada perumpamaan atau apa ya.. namanya.. . Punteun sedikit menambahkan, itu adalah firman Allah SWT dalam Surat Yasin (ayat 68).

    (وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ (68

    Barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan Dia kepada kejadian(nya)[1271]. Maka Apakah mereka tidak memikirkan?

    [1271]maksudnya: kembali menjadi lemah dan kurang akal.

    Mudah2an kita menjadi orang yang selalu ingat, sadar, dan senantiasa mentadabburi Al-Qur’an.

    Regards,

    DHYY

  2. Bagus deh tulisannya. Jadi mau berbagi juga. Minggu yang lalu teman saya baru saja kehilangan ayahnya. Kemudian dia tak lupa berpesan kepada kami teman-temannya bahwa selagi orang tua kita masih lengkap (ayah dan ibu), maka tidak ada salahnya jika kita membahagiakan mereka, senantiasa menanyakan kepada mereka apa keinginan mereka terhadap kita, apa harapan mereka yang belum terpenuhi, dan berusaha untuk senantiasa meminta maaf kepada orangtua kita, karena kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah SWT.

  3. Thanx for share bu…
    Wah kau sangat tertarik sekali dengan kalimat pertanyaan pada akhir2 “bahan”mu.. MENGAPA ALLAH SWT MEMUTAR SIKLUS ITU? Pertanyaan sederhana yang sangat dalam artinya bagi orang-orang yang mau berfikir….Tapi koreksi sedikit ya bu..Yang namanya siklus pasti berputar bu, jadi pemborosan kosa kata kalu menggunakan memutar siklus, he……..(sok paham Bahasa Indonesia bgt g sih…)

    “……Bagi orang-orang yang mau berfikir” (Dikutip dari bahasa Al-Quran)
    Wah klo masih da bahan-bahan yang menarik bagi2 ya bu….

  4. @ mas dede whoaa… makasih banget komennya.. (jadi malu, ketahuan sering mengaji tanpa mengkaji ni saya..hehehe). Iyah mas.. sebenarnya tulisan ni dibuat lebih untuk mengingatkan saya.. semoga temen2 juga..
    seneng ni.. jadi bisa belajar bareng2..

    @ mbak ika, bener mbak, selagi masih berkesempatan kita memang harus berusaha lebih optimal.. ingat 5 perkara sebelum 5 perkara (Raihan) ya mbak.. thx buat sharenya

    @ mas inock..wah, seneng bgt dgn komen2é sampeyan mas..editor handal tenan pokoké..he.he. Komen2 kaya gini ni yg slalu saya tunggu2 mas..ngajakin sy tambah mikir n tambah cermat lg..he.he
    Nuwun sanget mas.. Insy allah ntar kalo ad bahan lg, smpeyan takkirmi lg..tp kpn ya..momen utk nulis yg mikir itu kdg sush dtgx mas..he.he.

    Thx brt pokoké..komen bwt tlsn laen yg ad d blog jg sy tunggu ya mas dan mbakyu..

  5. jangan lupa doa anak yang saleh
    itu juga merupakan berkah bagi orang tua
    jerih payahnya menghasilkan anak yang soleh adalah
    karunia terbesar untuk orang tua kita
    maka jadilah anak yang soleh
    supaya bisa bermanfaat untuk orang tua
    meski orang tua kita masih ada
    ataupun sudah tiada
    Subhanallah
    Allahu akbar

    Khairul Anam

  6. yup… siapa lagi ya yangbakal nolong orang tua kita selain kita sendiri nantinya dan pasti kita juga mau di tolong sama anak kita ya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s