Yuhuuuu.. komenku ditanggapi..

Ternyata menulis memang kegiatan yang menyenangkan.. apalagi ketika dimuat di media.. meskipun mungkin apa yang kita tulis itu ga seberapa artinya.. tapi yang jelas pemuatan itu bikin hepi banget !!

Kayaknya euphoria menulis ini memang telat kualami, tapi daripada tidak sama sekali ya..

Jadi begini ceritanya.. Bulan kemarin iseng-iseng mengirim komen ke majalah National Geographic, menanggapi artikel tentang Paus Biru yang terancam kepunahannya. Nothing to lose, sekedar komen-komen aja, semacam komen di facebook.. Eh, tahu-tahu, pas pulang diklat dan membuka National Geographic edisi bulan April .. terengteng… Tampak tercetak komen berjudul Paus Biru, dengan nama penulisnya Dewi Lestari-Tabanan… Yeah… senengnya.. !! Padahal hanya separagraf saja… tapi tetep bahagia !!

Jika dicermati, bisa jadi, tulisanku termuat karena faktor lokasi, bukan semata isinya. Jika saja aku tak menuliskan berdomisili di Bali, lokasi yang notabene  dekat dengan jalur migrasi objek yang dibicarakan di artikel tersebut, tulisanku mungkin tak akan termuat. Huehe2.. tapi, what ever pertimbangannya, yang jelas, bahagia.. Merasa benar-benar dihargai.

Btw, berikut salinan dari komen yang tercetak di ngm itu.. (narsis tho.. ndak apa-apa.. huehe2..)

Membaca Paus Biru membuat saya teringat pada kerangka ikan berukuran panjang lebih dari 16 meter yang disimpan di Museum Kartini di Jepara. Menurut petugas, ikan ini adalah rombongan dari ikan-ikan serupa yang bermigrasi ke selatan dan melewati laut Jawa. Karena kelelahan, akhirnya ikan ini terdampar dan kemudian mati di pantai Kartini. Bagi saya, ikan itu berukuran cukup besar, namun ternyata ada pula yang melebihinya, paus biru yang panjangnya mencapai 24 meter. Wow..

Membaca Paus Biru juga membuat saya teringat pada aktivitas yang dilakukan nelayan Lamalera Kabupaten Lembata, NTT. Mereka memburu  koteklema (istilah lokal untuk paus lodam, Physeter catodom), sperm whale, dan paus belang putih saat paus-paus tersebut sedang migrasi dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia dan sebaliknya. Perburuan ini diperkirakan telah dilakukan sejak tahun 1600-an. Pada tahun 2007, mereka telah menaklukkan 44 paus dan tahun 2008 34 paus (www.nusacendanabisz.com).

Mengingat masa reproduksi baru dimulai ketika mereka berusia 20 tahun, maka dapat dipastikan bahwa perburuan ini juga akan mengurangi jumlah mereka secara signifikan. Oleh karena itu, bagaimana cara mendampingkan kegiatan perburuan untuk pemenuhan ekonomi penduduk lokal dengan upaya untuk melestarikan populasi paus tersebut adalah tantangan yang harus kita jawab bersama.

Kasus sama beberapa waktu sebelumnya.. Komenku atas salah satu artikel Mas Wisnu Nugroho, wartawan Kompas yang ngeblog di Kompasiana ditanggapi ma bliaunya.. Uhhh, senengnya minta ampun… he.he. ndeso ya.. tapi biarlah.. he.he (padahal komenku sebenarnya ga penting-penting banget lho.. lagi-lagi..).

Teringat beberapa artikel di Kompasiana  mengenai etika berblogger or berkorespondensi bahwa menanggapi komen dan tanggapan atas apa yang kita tuliskan itu adalah kewajiban. Mengapa demikian.. Karena bagi penulis, tanggapan memang salah satu indikator untuk mengetahui kualitas tulisannya, atau bahkan kualitas pribadinya. Selain karena alasan etika, menjalin silaturahmi yang equal, secara psikologis akan meningkatkan kepedean penulisnya. Yap, benar !! Terasa banget.. just like comment di FB. jika ditanggapi, maka kita akan makin semangat berkomen di kesempatan yang lain, jika tidak.. males de.. sebodo amat..

Ada satu blogger di kompasiana yang kujadikan referensi dalam blogging ethicsika berblog-nya. Mr. PR namanya. Setiap komen beliau tanggapi personally, bahkan terkadang beliau mengecek FB komentatornya untuk mengetahui lebih dekat komentatornya. Siapakah nama aslinya, darimanakah asalnya, dst. Dengan demikian, komentator pun terhargai dan tak pernah bosan untuk menanggapi tulisan-tulisan berikutnya.

So, Dewi..  jangan malas untuk menanggapi komen ya..

Iklan

2 thoughts on “Yuhuuuu.. komenku ditanggapi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s