Amazed by Bromo..

Ni juga tulisan belum final yah..

19072009(005)

Bromo, belajar jadi backpacker spontan

Bromo adalah obsesi sesaat yang muncul setelah melihat gambar beberapa teman menampilkan gambarnya yang berlatar belakang gunung tersebut. Wajar, jika kemudian secara spontan aku memutuskan untuk mengunjunginya dalam perjalananku untuk mudik ke Pati. Yap, berpuluh-puluh kali melewati kawasan Probolinggo tanpa mampir ke Bromo memang jadi kerugian tersendiri. Beberapa lama kuhabiskan waktu untuk searching beberapa info mengenai Bromo. Info angkutan, akomodasi kuperoleh dari beberapa situs dan milis penggemar fotografi. Thanks, buat mereka yang telah membagikan info tersebut. Thanks juga buat hp n**** 6*** classic warna pink pilihan seseorang teman yang memfasilitasiku untuk mengakses info-info tersebut.

Mengajak beberapa teman berakhir dengan kesiaan, hingga H-1 aku masih belum memutuskan, apakah akan ke sana meskipun tanpa teman ataukah langsung saja mudik ke Pati. Hingga suatu pagi, kakak seorang teman bertanya, “Jadi ke Bromo, kalau jadi aku ikut..” spontan aku pun menjawab. OK.. mantap jawaban kuberikan, meski saat itu, hari Kamis, persiapanku masih minim.

Persiapan Jumat pagi aku memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantor, packing, sleeping bag, kaos kaki, dan jaket tebal. Sebelum berangkat, aku menyempatkan diri membeli beberapa bungkus stroberi untuk oleh-oleh Cacik, teman di Banyuwangi yang akan menjadi tempat persinggahanku sebelum ke Probolinggo. Sebelumnya, berbelanja beberapa keperluan lain, celana kargo terutama, mengingat celana kargo lamaku sudah tak layak digunakan karena warnanya yang sudah tak karuan. Sip, jam 14.00 aku pun telah melakukan persiapan akhirku. Satu tas punggung 15 kg dan satu tas jinjing berlabel kebun raya yang berisi oleh-oleh pun telah terkemas rapi.

Menjelang menyeberang..

Dari pusat kota, aku beranjak ke terminal Ubung, dan menaiki bis mini, atau bis ekonomi ukuran kecil. Ada yang menyebutnya sebagai bis ¾. Bis ini berwarna hijau. Jujur, ini adalah perjalanan pertamaku ke Jawa dengan naik bis ekonomi. Untuk mencapai Pelabuhan Gilimanuk, membutuhkan waktu hingga 2 ½ jam dan biaya sebesar Rp 25.000,00. Hal yang kurang menyenangkan dari perjalanan dengan bis ekonomi adalah kemungkinan dioperkan ke bis lain jika jumlah penumpang dirasa sedikit dan tidak menutup biaya operasi. Hal ini pun kualami. Aku dioperkan ke bis yang menuju pelabuhan, sementara bisku semula melanjutkan perjalanan menuju Negara, ibukota kabupaten Jembrana.

Alhamdulillah, sampailah di pelabuhan. Lagi-lagi, sempat bingung karena ini adalah perjalananku sendiri menyeberang selat tanpa alat angkutan. Bagi yang berkendara bis antar kota, mobil atau motor, akan lebih mudah, karena tiket ferry harus dibayarkan saat mulai masuk ke pelabuhan. Nah, bagi yang tidak berkendara, harus beli tiket di mana ya.. tolah-toleh mencari teman senasib… Senyum pun ditebarkan ke beberapa pejalan kaki. Nah, itu dia.. penumpang dari bis yang sama kutumpangi tadi. Sepertinya dia pun mengalami kebingungan yang sama denganku. Dari obrolanku dengannya, terungkaplah bahwa dia berasal dari Jepara, tetangga kabupaten denganku, yang asli Pati. Akhirnya bersama dengannya kami pun bertanya kepada petugas, di manakah tempat tiket untuk penumpang tak berkendara seperti kami. Wah, ternyata jauh dari tempat tiket untuk pengendara mobil dan motor ya.. Loket ini berada di gedung di sebelah utara pelataran pelabuhan yang cukup luas tersebut. Kami pun masuk ke gedung tersebut, sepi, bahkan loket tampak kosong. Beberapa petugas tampak mengerumuni teve yang saat itu menyiarkan berita pengeboman (lagi) di JW. Marriot dan Ritz Carlton. So, kami pun menyapa mereka. Salah seorang di antaranya segera beranjak ke loket, dan mengulurkan dua lembar tiket kepada kami. Masing-masing Rp 5700,-. Yap, tiket untuk dewasa memang seharga Rp 5700,-. Alhamdulillah, bapak yang dari Jepara tersebut berkenan mentraktir satu tiket untukku. Thanks Pak.. (lupa nanyain, siapa namanya..)

Sesampainya di Probolinggo..

Singkat cerita, sampailah di Probolinggo, setelah menempuh perjalanan hampir lima jam dengan bis ekonomi A*** dari Banyuwangi. Ongkos yang harus kubayarkan untuk perjalanan ini adalah sebesar Rp 27.000,-. Turun dari bis di terminal Probolinggo yang berada di pinggiran ibukota kabupaten, aku pun segera mencari teman seperjuanganku. Setelah makan, kami pun bertanya kepada petugas di manakah angkut yang sebaiknya kami ambil untuk ke Bromo. Oleh petugas, kami ditunjukkan agar kami menuju ke luar terminal (sebenernya di pojokan terminal tertera tulisan pusat informasi ke Bromo, namun yang tampak di sekitar sana hanya makelar. Daripada dipaksa atau direkomendasikan untuk menyarter mobil, akhirnya kami pun bertanya pada petugas terminal yang berseragam). Di luar, beberapa meter dari terminal tampak pelataran parkir pasar, di sanalah angkut itu dapat kami temui. Angkut tersebut berbentuk isuzu L 300, sama seperti kendaraan L 300 dari Bogor ke Cianjur/Sukabumi. Orang setempat, menyebut angkutan ini dengan nama Bison, sesuai nama yang tertera di bagian samping angkut. Saat kami beranjak ke pelataran, makelar angkut pun segera menarik kami. “Bromo ya, ayo.. ayo, sini aja, bergabung dengan turis yang lain (wisman maksudnya). Hmm bingung kami.. karena sebenarnya angkot tersebut telah penuh, oleh penumpang maupun barang. Namun tak ada pilihan lain, karena hanya angkut itulah yang akan segera berangkat, maka kami pun menjejalkan diri ke dalamnya.

Angkot yang berjubel..

Angkot yang berjubel..

Taratamm, aku terhempas ke jok paling belakang, bersama 4 penumpang lainnya, 3 anak sekolah yang beranjak ke kelas 10 SMU dan seorang nenek yang habis berbelanja dari pasar. Jumlah penumpang yang ada di dalam angkot tersebut adalah sebanyak 26 orang, termasuk 4 orang bule di dalamnya. Sedangkan di pintunya ada empat laki-laki yang bergelantung, dan dua orang yang duduk di kap atas angkot. Total jenderal, angkot tersebut mengangkut 32 orang, termasuk sopir dan kernetnya. Wow, jumlah terbanyak yang pernah kutemui untuk angkut sejenis ini. Jika dulu di Cianjur aku sudah cukup heran dengan jok sopir yang diisi dengan empat orang, di Probolinggo ini, jok depan diiisi oleh lima orang (termasuk satu bule di dalamnya). Soal penumpang yang terpaksa harus duduk di kap atas, bukan hal yang baru lagi karena perjalananku ke Cigarehong juga sering menemui hal ini.Bagiku, angkot yang sepadat ini juga cukup menakjubkan, apalagi untuk empat bule tersebut. Pasti menakjubkan. Tak heran jika kemudian mereka menyempatkan diri mengambil gambar suasana dalam angkot tersebut, meskipun kondisinya penuh sesak.

Selain turis Bromo, maka penumpang angkot tersebut didominasi oleh anak sekitar Bromo yang bersekolah di kota Probolinggo. Dari obrolan kami, terungkap bahwa biaya yang harus dikeluarkan untuk masing-masing anak tersebut untuk biaya transport sekolahnya adalah sebesar Rp 20.000,- sekali perjalanan pulang pergi. Wow, mahal ya.. belum uang sakunya tuh.. (dengan demikian untuk sementara dapat disimpulkan bahwa anak-anak yang berkesempatan meneruskan pendidikan hingga SMA tersebut adalah anak-anak yang berasal dari keluarga berkecukupan). Nah, untuk turis Bromo seperti kami, ongkos yang harus kami bayarkan untuk perjalanan berangkat tersebut adalah sebanyak Rp 25.000. Menurut anak-anak tersebut, sebenarnya harga tersebut lebih mahal dari harga biasa turis yang berkisar antara Rp 15.000-Rp 20.000,-. Namun penururan nenek yang duduk di sampingku, kalau lagi musim turis begini

temen sebangku yang sangat ramah..

temen sebangku yang sangat ramah..

(Juni-September), harga angkut biasanya memang lebih mahal. Ok, mengingat ini adalah perjalanan yang tak sering akan kami lakukan, maka kami un tak keberatan dengan besarnya ongkos tersebut. Nenek yang duduk di sampingku ini sedang memangku seplastik tempe mentah berbentuk balok. Di plastik lain tampak sejenis tempe namun tampak lebih kering. Saat kutanyakan, buat apa membeli tempe tersebut, nenek tersebut menyatakan bahwa tempe tersebut akan dibuat menjadi tempe tumpang. Aku tak meminta penjelasan lebih lanjut mengenai tempe tumpang ini, karena nenek itu tanpak ngantuk. Yang terpikir olehku adalah makanan sejenis kering tempe, berbumbu gula jawa, cabe, bawang merah dan bawang putih. Sebelum melanjutkan tidurnya, nenek sempat menjelaskan bahwa bungkusan plastik satunya juga tempe menjes, kalau di Pati dan daerah Jateng lainnya biasa disebut tempe gembus. Tempe yang berasal dari ampas tahu, jika tak diolah dengan benar, tak jarang tempe jenis ini akan meracuni konsumennya. Setelah meninggalkan Sukapuro, ibukota kecamatan yang membawahi desa Ngadisari, tempat di mana Gunung Bromo berlokasi, nenek tersebut kembali bangun. Dia bercerita banyak hal. Dari percakapan tersebut dan percakapan temanku dengan para siswa, aku sementara dapat menyimpulkan bahwa warga Tengger maupun warga yang berlokasi di sekitar Bromo juga komunikatif dan terbuka dengan pendatang. Kriteria yang wajar untuk warga lokal di sekitar objek wisata.

Satu per satu penumpang mulai turun, empat bule turun di sebuah hotel, Banana Java Lounge namanya. Ternyata, hotel ini berjarak cukup jauh juga dari Bromo, mungkin sekitar 1-3 km dari Cemoro Lawang, dukuh terakhir dari desa Ngadisari, pemukiman terakhir sebelum Bromo. Demikian pula dengan nenek dan siswa-siswa. Karena nenek tadi menyebutkan nama Cemoro Lawang, maka kami pun memutuskan turun di sana, atau sampai perhentian terakhir angkut ini deh.. dan benar, angkut tersebut berhenti di Cemoro lawang. Kernet menanyai kami, kira-kira kami akan menginap di mana, kalau di hotel Rp 125,000,- dan di homestay Rp 100.000,-. Kami pun memutuskan menginap di hotel. Angkot pun membawa kami ke hotel yang bernama Cemoro Permai, hotel ini terletak di ujung tebing, di bawahnya, tampak pegunungan yang tertutup rapat oleh kabut. Sayangnya, hotel tersebut telah penuh, kami pun diajak ke sebuah penginapan melati yang ada di bawahnya, penginapan tersebut pun tinggal menyisakan dua kamar. Kamar lain telah full booked. Kamar tersebut terbilang cukup sederhana, sekamar berharga Rp 100.000, tersedia dua ranjang single, satu meja dan satu kaca rias. Sangat sederhana, penginapan khas backpackerlah.. debu-debu juga tampak bertaburan di mana-mana. Malas mencari tempat lain, kamipun memutuskan menginap di sana. Toh, hanya semalam, yang penting bisa tidur, meskipun dengan sedikit kenyamanan. Better than ngelesot tidur di alam terbuka hanya berbekal sleeping bag.. (mana tahan.. saat kondisinya hampir 0 derajat dengan kabut yang tebal seperti itu. Not for my body yang rentan dengan yang namanya udara dingin..).

Beberapa menit kemudian datang seorang pria menawarkan jasa kendaraan hardtop, jeep yang akan mengantarkan para turis menuju Bromo ataupun Puncak Penanjakan untuk melihat sunrise. Menurutnya, ongkos sewa untuk setiap orang adalah Rp 90.000,-. Padahal menurut info yang kubaca dari internet, dikatakan biaya sewa jeep untuk perjalanan ke bukit Penanjakan dan Gunung Bromo ternyata hanya Rp 275.000,-/ jeep untuk 6 penumpang. Sedangkan harga sewa hardtop untuk perjalanan ke Gunung Bromo saja adalah sebesar Rp 165.000,-. (Info harga dan pemesanan hardtop ini bisa kita lakukan di posko yang terletak di ujung jalan yang menuju loket masuk Gunung Bromo. Disarankan untuk memesan hardtop di posko ini daripada menerima tawaran langsung dari makelar yang menghampiri kita di penginapan). So, kami pun memutuskan mencari partner menyewa satu hardtop.

Setelah membersihkan diri, maka kami pun jalan-jalan berkeliling sambil berobservasi sekaligus mencari 4 partner untuk menyewa hardtop biar harganya sesuai harga standar. Kami menuju ke jalan yang menuju ke kantor pengelola Taman Nasional Bromo Tengger dan Semeru (di sinilah kita harus membayar Rp 6000,-/orangnya, ketika kita akan memulai perjalanan ke Bukit Penanjakan atau Gunung Bromo dengan menggunakan hardtop keesokaan harinya). Di lokasi ini, banyak warung makan tersedia, tersedia pula toko suvenir, dan yang paling penting adalah, ada ATM (BNI). Untuk diketahui, harga barang-barang pelengkap seperti jaket, sweater, kaos tangan, topi bulu tutup kepala yang ada di toko suvenir jauh lebih murah daripada harga yang ditawarkan oleh pedagang asongan. Terlebih lagi, motif dan warnanya pun tersedia lebih banyak. Jadi, jangan terburu-buru untuk membeli barang di pedagang asongan yang mendatangi kita di penginapan. Jika ingin mencari kaos yang bergambarkan Gunung Bromo, kusarankan untuk membelinya di toko suvenir yang ada di Bukit Penanjakan, di sana pilihannya tersedia lebih banyak daripada toko suvenir yang ada di Cemoro Lawang ini. Selain itu, di bukit Penanjakan ada pula pedagang yang menyewakan jaket atau sweater jika merasa jaket yang kita pakai masih belum bisa menahan dingin. Selain itu, di sekitar kantor pengelola Taman Nasional ini juga terdapat dua hotel lagi, yaitu Bromo Permai dan Lava Resort. Turis asing banyak kita temui menginap di sini. Total jendral, ada empat hotel di wilayah Bromo, yaitu Banana Java Lounge, Cemara Permai, Bromo Permai dan Lava Resort. Saat musim liburan, hotel-hotel ini biasanya telah full booked dari jauh-jauh hari. Jika kita memang tak bisa mendapat kamar di hotel-hotel ini, maka menyewa kamar di rumah penduduk adalah pilihan yang lebih kurekomendasikan daripada menginap di penginapan melati. Mengapa..? karena kita bisa lebih dekat berkomunikasi dengan pemiliknya (bisa mendapat info mengenai Bromo, dst), selain itu kita juga bisa meminta atau memesan air hangat untuk mandi dan minum kopi pada mereka (hal ini tidak bisa didapatkan dari penginapan). Harga sewa kamar di rumah penduduk ini juga berkisar dari 90-100.000,-.

Akhirnya, kami pun mendapatkan partner hardtop untuk perjalanan esok pagi (fajar tepatnya). Mereka kami temukan saat sedang nongkrong di jalan yang mengarah ke Gunung Bromo. Mereka adalah keluarga dari Gresik yang terdiri atas ayah, ibu dan 2 anak. Sip, kami pun berjanji untuk ketemu di penginapan keluarga tersebut, tepat pukul 03.00 sesuai janji yang kami buat dengan sopir hardtop. Setelah makan malam hingga dua kali (maklum dingin bow.. butuh asupan banyak energi untuk mempertahankan hangat tubuh), kami pun segera kembali ke kamar dan bercakap-cakap di kamar hingga ngantuk datang. Sebelumnya, aku sempat bercakap-cakap dengan pemilik penginapan, tentang berbagai hal (akan kuceritakan di tulisan berikutnya).

Saat tidur, aku pun tidur meringkuk dalam sleeping bagku. Berubah posisi tegak ternyata justru mendinginkan kembali tubuhku. So, aku pun mempertahankan posisi meringkuk ini. Tengah malam, temanku bangun dan mengambil selimutku yang tak terpakai. Selimutnya pun didobel, dengan cara inilah tidurnya menjadi lebih nyaman. Trengg…………….. alarm handphoneku menyala pada pukul 02.30. Brrr, saat itu udara tak berkurang dinginnya, bahkan makin dingin. Kami pun segera bangun, dan melangkah ke kamar mandi yang ada di luar kamar.. brrrr… ternyata kabutnya masih tebal.. bertambah dengan aroma belerang dari kawah Bromo yang cukup menyengat pula. Nafas kami seketika jadi sesak dan kami pun jadi batuk-batuk karenanya. Berarti benar, tuturan dari pedagang asongan yang kami temui tadi malam. Aroma belerang dari kawah Bromo berasa cukup kuat akhir-akhir ini dan ini cukup membahayakan.

Setelah berganti pakaian, aku pun melilitkan handuk menutupi muka. Dan kami pun segera bergegas ke rumah sebelah, tempat di mana partner hardtop kami menginap. Ternyata di sana mereka telah siap. Jam menunjukkan pukul 03.15 saat itu. Namun hardtop pesanan kami baru datang pukul 3.45. Kami pun segera masuk hardtop. Saat itu kabut masih tetap tebal. Kami pun berangkat. Namun ternyata oh ternyata, terjadi kemacetan di depan loket masuk Taman Nasional yang pada malam sebelumnya lengang-lengang saja. Beratus-ratus hardtop dan mobil pribadi telah mengantri, belum lagi ratusan motor. Benar-benar suasana yang riuh rendah untuk subuh hari. Akhirnya kami melewati loket, perjalanan pun lancar, lambat merayap. Setelah 1 km melewati jalan berpasir, akhirnya hardtop pun melewati pasir. Di sinilah tampak beberapa kendaraan pribadi yang mengalami masalah, terperosok ke kubangan pasir ataupun keluar dari jalur yang sebenarnya. Untuk diketahui, jalur yang sebaiknya dilalui kendaraan untuk menuju Bromo maupun Penanjakan telah ditandai oleh ratusan pal yang berdiri rapat di sepanjang jalur.

Setelah melalui padang pasir, kami pun memasuki daerah perbukitan, di sini kami pun menemui puluhan kendaraan pribadi ataupun motor yang tak bisa meneruskan perjalanan karena sulitnya medan. So, pilihan perjalanan dengan menyewa hardtop memanglah pilihan yang cukup direkomendasikan jika kita ingin menikmati sunrise di bukit

Pagar pembatas dari bambu

Pagar pembatas dari bambu

Penanjakan. Sayangnya oh sayangnya, karena hardtop kami berada cukup jauh di belakang konvoi, maka areal parkir di bukit penanjakan pun telah penuh dan hardtop kami pun terpaksa parkir sejauh 1 km dari tangga menuju puncak Penanjakan. Udara yang penuh asap, kabut yang tebal membuat perjalanan kaki kami tak nyaman, apalagi ratusan motor ojek menawarkan jasanya. Akhirnya kami pun memutuskan untuk naik ojek meneruskan perjalanan yang tersisa menuju tangga, dengan ongkos sebesar Rp 5000,-. Taratam.. sampailah kami di tangga, pelan-pelan, bersama ratusan pengunjung yang lain, kami pun berjalan menuju puncak bukit Penanjakan. Di puncak bukit telah dibangun sebuah shelter, telah berdiri ratusan orang di sana, masing-masing memegang kamera, berdesak-desakan untuk menangkap momen sunrise.. Untuk membatasi area tersebut dengan tebing di bawahnya, telah dibangun pagar pembatas dari besi, namun beberapa bagian di antaranya masih berupa pagar bambu, kebetulan aku berdiri di sana. Untungnya pengunjung sadar dan tidak berebutan mendorong ke depan. Jika tidak, mungkin pagar bambu akan roboh.. dan plung… beberapa pengunjung akan terjun akan terjun bebas ke bawah.

Semburat merah di cakrawala, namun mentari tiada tampak jua..

Semburat merah di cakrawala, namun mentari tiada tampak jua..

Kami pun menunggu dengan sabar terbitnya matahari, semburat merah pun tampak, namun sayang oh sayang, matahari tetap tak terlihat karena tertutup awan.. sementara itu, aku lebih suka mengamati kabut yang menutupi permukaan gunung Bathok, Bromo Tengger dan Semeru. Dari kejauhan, kabut tersebut tampak seperti air di danau. Hingga 5.45 matahari tetap tak nongol, akhirnya kami pun memutuskan beranjak turun kembali ke parkir hardtop untuk meneruskan perjalanan ke Gunung Bromo. Saat itu telah terang, santai aku pun mengamati beberapa barang suvenir yang dijual. Ada beberapa warung yang menjual kaos khas Jatim, tak hanya kaos yang bergambar gunung Bromo, namun ada pula kaos bergambar pasar Bromo, orang Tengger, aktivitas berkuda mereka, dan identitas sarungnya. Selain itu adapula kaos bergambarkan reog ponorogo dan karapan sapi. Kaos-kaos tersebut dihargai Rp 50.000,-. Karena desainnya yang unik, aku pun memutuskan membeli beberapa sebagai oleh-oleh.

Di sepanjang perjalanan menuju parkir kami pun menemui beberapa pedagang asongan yang menawarkan sebundel edelweis dengan harga Rp 5000,- padahal di tangga Pananjakan tadi pedagang asongan menawarkan sebuket edekweis dengan variasi bunga liar lain seharga Rp 50.000,- ngeeeeek.. bedanya jauh amat.. membeli bunga ini agak ragu juga, mengingat di taman nasional lain, bunga ini dilarang untuk dipetik apalagi diperjualbelikan, mengingat populasinya yang makin langka. Namun penjualnya meyakinkan bahwa tak akan pemeriksaan oleh petugas taman nasional mengingat edelweis yang mereka jual adalah edelweis hasil budidaya, bukan liar. Akhirnya temanku pun memutuskan membeli 2 bundel edelweis.

Meski sudah hampir jam 7, kabut tebal masih menyelimuti kaki Gn. Bromo

Meski sudah hampir jam 7, kabut tebal masih menyelimuti kaki Gn. Bromo

Akhirnya kami pun meneruskan perjalanan ke Gunung Bromo, di sepanjang perjalanan, kami melihat hamparan edelweis yang tumbuh di lereng-lereng gunung. Lagi-lagi kabut pekat menyelimuti kami ketika sampai di parkiran Gunung Bromo. Semula kami pun berjalan menuju ke kawah Bromo. Namun pengunjung yang makin banyak, membuat debu dan debu pasir menyesakkan pernafasan dan makin mengganggu pandangan yang telah terbatas oleh kabut. Di sini banyak kuda yang disewakan, maka kami pun menyewa kuda untuk meneruskan perjalanan ke tangga kawah. Perjalanan pulang pergi dari kawah tersebut dihargai Rp 50.000 – Rp 100.000,- tergantung pintar-pintarnya kita menawar. Kalau aku lebih memilih memberikan lebih, ga tega juga melihat tukang kuda berjalan mengikuti kuda dan kita, naik turun gunung beberapa kali, dengan resiko sesak nafas mengirup debu yang makin tebal.

Jujur, ini adalah pengalaman pertamaku naik kuda. Asli, berjalan menyeimbangkan badan mengikuti punggung kuda yang berjalan pelan bukan sensasi yang menyenangkan, apalagi jika kudanya berjalan di pinggir tebing, beeeehhhh, dah kebayang jatuh terguling.. tapi pasrah aja dan mempercayakan diri pada kuda dan gamel/pekathiknya, sambil terus berdoa, semoga selamat, semoga selamat.. Tips dari pekathik, saat berjalan naik, kedua tangan harus memegang tali kendali kuda di depan, sementara ketika turun, satu tangan harus memegangi pelana di depan, kaki diregangkan ke depan, dan badan ditegakkan ke belakang… dara… tetep deg-degan terus.. Merasa lebih nyaman saat turun gunung dan kuda berjalan lebih cepat/lari.. namun ketika berjalan pelan, maka badan ini terasa lebih sulit menjaga keseimbangan, ngak ngek ngok, oleng kiri oleng kanan.. berasa pengen jatuh aja..

19072009(041)

pertama naik, nervous..pegangan kenceng..

setelah posisi mantap stabil, baru deh bisa nyengir..

setelah posisi mantap stabil, baru deh bisa nyengir..

Untuk menuju puncak Bromo alias kawahnya, kita harus berjalan menaiki tangga, cukup landai kok, jadi tidak melelahkan. Apalagi jika barisan di depan dan belakang kita memanjang, peluang untuk sering beristirahat semakin sering, seiring sering berhentinya pula pengunjung yang di depan kita. Hehe… tara.. akhirnya, sampailah kami di pinggiran kawah. Asap belerang membumbung tinggi, sehingga baunya tidak dapat tercium oleh pengunjung yang ngerempel di pinggir kawah. Di sana, kami nongkrong agak lama, menunggu lenyapnya kabut, sehingga pemandangan di sekitar gunung terlihat jelas. Di puncak ini ada beberapa pedagang asongan. Salah seorang diantaranya adalah seorang nenek-nenek. Dia menjual pop mie dan kopi, karena itu dia membuat perapian untuk merebus air. Satu yang menakjubkan, entah untuk apa, tiba-tiba nenek itu menuruni tebing lereng yang cukup curam (bukan lewat tangga ya..), dia berjalan di antara retakan batuan beku lava, semudah turunnya, maka naiknya pun mudah, dengan jalan yang sama. Behhh, benar-benar mengagumkan.. (Namanya juga penduduk lokal..). Sementara aku.. untuk berdiri di tepi tebing aja ga pede, takut terbang terbawa angin bow.. akhirnya hanya duduk di pinggir..

Kabut mulai menghilang, kaki gunung pun nampak, manusia pun tampak bagi semut..

Kabut mulai menghilang, kaki gunung pun nampak, manusia pun tampak bagi semut..

Amazing grandma.. naek turun tebing dengan mudahnya..

Amazing grandma.. naek turun tebing dengan mudahnya..

Dalam perjalanan turun, aku berbincang dengan pekathik, mengenai profesinya, penghasilannya dalam sehari yang tentu, dan berbagai hal lainnya. Tuturnya, kuda-kuda yang mereka sewakan ini sebagian juga mereka sewa dari pemiliknya dengan harga Rp 100.000,-. Jumlah pengunjung Bromo naik turun, terkadang penghasilan mereka tak mencukupi untuk membayar sewa. Mendengar penuturannya, jadi trenyuh juga.. kerjanya untuk mendapatkan uang cukup berat, menghadapi debu, jalan yang naik turun, harus dilalui berulang-ulang.. Jadi merasa bersyukur dengan posisiku yang tentu saja jauh-jauh lebih enak.

Tips ke Bromo

1. jika berangkat dengan partner sedikit, cari partner lain saat menyewa hardtop. Sewalah hardtop langsung di poskonya.

2. Terbukalah dengan sesama pengunjung dan penduduk lokal, banyak info yang bisa kita dapatkan darinya

3. Jika ingin menginap, pilih penginapan dengan menyewa kamar di rumah penduduk, biasanya lebih murah dan bisa berkomunikasi lebih dekat dengan pemiliknya untuk mengetahui hal-hal lebih jauh mengenai Bromo dan Tengger. Jangan lupa untuk membawa sleeping bag.

4. Daripada di asongan, lebih baik membeli suvenir di warung (terutama di bukit Penanjakan) karena harga lebih murah, pilihan model dan warna lebih banyak

5. Mengingat peluang sunset yang tak dapat dipastikan, mending memilih rute hardtop yag langsung ke Bromo, rute ini tak harus dimulai pada fajar jam 3, tapi bisa kapan saja. Jika punya uang berlebih, lengkapi perjalanan ke padang savana dan padang pasir lokasi syuting pasir berbisik (butuh biaya tambahan untuk rute tambahan ini, belum tahu berapa kisarannya)

salam,

19072009(033)

11 thoughts on “Amazed by Bromo..

  1. Insyaallah aku akan ksna lg pak..kalo g awal desember y awal januari..plus ke madakaripura n pulo senpu d malang..kalo mo gabung, hayuks, ni undangan bwt smuax, tak terbatas umur, status, jenis kelamin, angkatan, latar belakang pendi2kan, dari berbagai penjuru dst..heheh, mari backpackeran brg2, ktmux d terminal probolinggo y..
    Undgn pastix akan drilis jika sdh dkt hari h..bgi yg msh pny jatah cuti, ayo qta hbiskn brsama..hehe, py..rep gbg ora..

  2. tempat yang wajib dikunjungi neh.. besok lah kalo liburan semester..

    mbak kalo mau ke pulau sempu sekalian maen ke telogo lele, katanya bagus juga tuh.. kita kemaren nggak sempet kesana karena nggak tau. baru tau setelah ngobrol2 sama anak2 malang yang ngecamp juga di sempu..

  3. mbak, dulu saya ke bromo lwt jalur probolinggo, trus mau bawa mobil turun ke padang pasir gak dijinin sama orang2 sana (karena bisa mematikan penghasilan pemilik hardtop). trus pada kesempatan ke 2 saya lewat nongko jajar, nah dari nongko jajar tu langsung ke penanjakan, dan gak ada yang melarang bawa mobil. jika diliat dari cerita mbak sepertinya sekarang mobil boleh turun ya?
    oia, di penanjakan ada hotel/ penginapannya juga gak?

  4. mau ke sempu ya mbak? kapan? jalan di pulau sempu sedikit berbahaya kalo musim hujan karena licin bgt, baru bbrp hari kesana banyak nemuin pengunjung yg keprosok dan terkilir kakinya. ati2 aja dan jgn lupa pake sepatu, banyak bawa air minum (disana gak ada air tawar)

  5. Oke thx info senpux, nympe ke telaga lelex bth brapa jm trekking..ada pemandu bwt ke sana ga.. Ato qta ngikutin petunjuk arahx aja..

    Kemarin mobilx pd blh masuk krn hardtopx abis stok, pengunjungx lg bnyk bgt..tp bresiko jg, krn banyak yg trjebak d pasir, krn g thu jalur yg aman..
    Penginapan/hotel d penanjakan g ada, adax d cemoro lawang..tp d penanjakan bnyk bangunan yg bs dpake bwt ngemper..tp g dsaranin si, karena dingin bgt, sleeping bag aja tembus..
    Btw, salam kenal..

  6. wah gak tau jg ya brp jam ke telaga lele nya. di pulau sempu gak ada petunjuk arah, hutannya boleh dibilang masih alami, yg ada cuma jalan setapak. selain telaga lele juga ada bbrp pantai yang gak kalah menarik, tapi hati2 banyak bulu babi. untuk menuju ke bbrp pantai dan telaga lele cuma ada satu jalan aja dari segara anakan, pokoknya ikutin aja jalan setapaknya…
    iya, trima kasih info nya, salam kenal juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s