Kota Tua Menteng dan Gondangdia..

Akhir bulan Juli akhirnya ke Jakarta-Bogor lagi. Seneng dong, tentunya.. Emm, seperti biasa harus kumpul-kumpul dengan teman-teman. Apa ya.. akhirnya seorang teman mengusulkan, jelajah kota tua!! Kebetulan, tanggal 2 Agustus 2009, komunitas jelajah budaya mengadakan kegiatan rutin kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di Jakarta. Setelah berkoordinasi, akhirnya diputuskanlah untuk bergabung ke acara itu. Dengan mentransfer Rp 35.000,- per orang, ke rekening panitia, akhirnya resmilah kami jadi peserta acara itu.

Karena acara dimulai 07.30, maka otomatis masing-masing dari kami harus berangkat pagi “uthuk-uthuk”. Teman dari Bogor berangkat dengan KRL, sementara aku menginap di tempat teman di BSD, berangkat bersama dengan dua orang teman lainnya. Dari BSD, kami berangkat dengan KRL juga dari stasiun Rawa Buntu. Pas banget, kami sampai di stasiun saat KRL ke stasiun Kota akan segera berangkat. Berlari-larilah kami mengejarnya. Seperti biasa, KRL telah penuh dengan banyak orang. Di antaranya adalah pedagang. Transaksi pun terjadi di sana. Hmmm, aktivitas yang selalu menarik perhatianku. Jadi kangen dengan ritual naik KRL dari Bogor-Cawang..

Di kereta, teman setengah nggerundel, “Aduh, kenapa tiap lo datang selalu bikin repot.. musti bangun pagilah, musti beginilah..musti begitulah.. pengorbanan banget..” Huehe2. Tapi thanks banget deh teman-teman buat kerja keras bangun paginya.. hehehe.. tapi kalau tidak begini, kita pasti tidak bisa ketemu dan spend the time together..

Akhirnya kita mencapai Stasiun Kota. Dan beranjaklah kami ke museum Bank Mandiri yang menjadi tempat start acara. Ternyata di sana sudah ramai..

Roti Buaya yang biasanya dipakai untuk pernikahan di Betawi

Roti Buaya yang biasanya dipakai untuk pernikahan di Betawi

Setelah registrasi dan mendapatkan roti buaya sebagai bekal, sambil menunggu pemberangkatan, kami dibawa ke ruang teater. Di sana disajikan beberapa film mengenai Batavia tempo dulu. Beberapa film disajikan dalam bahasa Belanda dan Bahasa Inggris. Maklum, dokumenter tersebut merupakan output penelitian dari sejarahwan Belanda. Lalu apa kabar sejarahwan Indonesia ???

Peserta tour pun dibagi ke dalam beberapa kelompok, ada yang Javaweg, Serangweg, Bandungweg, Jogjaweg, Cirebonweg, dst. Kebetulan kami tergabung dalam Javaweg dan diberangkatkan pada urutan keempat.

Tema kunjungan kami hari itu adalah Niew Gondangdia dan Menteng. Oleh karena itu, kunjungan diawali dengan perjalanan menuju ke stasiun Gondangdia, dengan KRL dari stasiun kota. Dari museum bank mandiri ke stasiun Beos, atau yang lebih dikenal stasiun kota, kami melalui subway, jalan bawah tanah yang menghubungkan 2 titik ini. Wah, senangnya, bisa mengetahui dan mencoba jalan tersebut. Di tengah jalan terdapat sebuah kolam, dan kami pun menyempatkan berfoto di sana. Ceklik..

Underground Beos

Underground Beos

Nggandul d kreta..Sesampainya di stasiun, KRL Bogor segera berangkat. Bersama pemandu, Mbak Memey, kami pun bergegas ke dalam KRL. Akhirnya, sampailah di stasiun Gondangdia. Sebenarnya aku pribadi dah berkali-kali turun di stasiun ini, mengingat ada seorang teman yang tinggal di daerah ini dan posisinya yang dekat dengan Kwitang, tempat favoritku. Namun, hari itu, bersama dengan teman-teman akrab yang sudah jarang ditemui, stasiun pun tampak berbeda.

Turun dari stasiun Gondangdia yang dicat kuning kunyit tersebut, kami pun bergegas menuju ke jalan Cut Meutia, yang berada di selatan stasiun. Sebelum turun, pemandu menunjukkan sebuah took roti di pasar di seberang stasiun (lupa namanya). Toko roti ini telah didirikan sejak tahun 1912. Wow.. Di sepanjang perjalanan menuju masjid Cut Meutia, tujuan kami selanjutnya, pemandu menjelaskan mengapa tempat ini dikenal dengan nama Gondangdia. Ada tiga versi, namun yang tertangkap olehku hanya dua, pertama, daerah ini dulu dipenuhi oleh pohon Gondang. Kedua, sebelum menjadi daerah pemukiman, daerah ini dihuni oleh seorang kakek bernama kakek Gondang.

Formasi lengkap di pelataran Masjid Cut Muthiah

Formasi lengkap di pelataran Masjid Cut Muthiah

Setelah berjalan 5 menit, sampailah kami di kawasan masjid Cut Meutia, yang terletak di Jalan Cut Mutiah. Pada masa lalu, bangunan ini digunakan sebagai kantor NV. De Bouwploeg yang membangun perumahan Menteng (developer). Orang pribumi banyak menyebutnya sebagai Boplo. Selanjutnya, gedung ini sempat digunakan sebagai kantor dinas pengairan, kantor pos pembantu, kantor jawatan kereta api (1957-1964) dan kantor sekretariat DPRGR dan MPRS (1964-1970). Atas inisiatif Jenderal Abdoel Haris Nasution, bangunan ini digunakan sebagai masjid Cut Mutiah.

Di teras masjid

Di teras masjid

Di dalam masjid

Di dalam masjid Cut Muthiah

Selanjutnya, kami menuju ke bangunan yang kini cukup kontroversial. Bangunan ini terletak di pojokan Jalan Teuku Umar dan Dewi Sartika. Pada masa lalu, bangunan ini dikenal sebagai gedung Kunstkring yang digunakan untuk pameran lukisan dan buku. Selain itu, gedung ini digunakan sebagai kantor imigrasi. Hingga kini, nama kantor imigrasi masih melekat pada tembok luar gedung ini. Bangunan ini sempat diisukan akan digunakan untuk museum Ibu Tien Soeharto, dan terakhir adalah akan digunakan sebagai restoran Buddhabar. Saat kedatangan kami, gedung tersebut telah disetting menjadi sebuah restoran, hal ini terlihat pada plat nama buddhabar dan beberapa gazebo dan bangku yang diletakkan di taman. Secara arsitektur, bangunan ini unik. Dirancang oleh Moojen, seperti umumnya bangunan-bangunan di Menteng, dengan menonjolkan fungsi, kesederhanaan dan efisiensi.

02082009(015)

Kantor Imigrasi a.k.a Buddhabar

Buddhabar

Buddhabar

Buddha bar juga

Buddha bar juga

Di dekat tangga gd. BAPINDO

Di dekat tangga gd. BAPINDO

Selanjutnya, kami pun berjalan ke sebuah gedung yang merupakan hasil karya anak bangsa. Gedung ini dirancang oleh F. Silaban dan diresmikan oleh Ir. Soekarno pada 4 April 1956. Gedung ini digunakan sebagai kantor Bank Pembangunan Indonesia (BAPINDO). Kini gedung ini dimiliki oleh Bank Mandiri. Gedung ini terdiri atas dua lantai. Ada dua tangga melingkar dari sisi kanan kiri gedung, yang kemudian bertemu di tengah. Saat berada di lantai dua, kami merasa sedikit pengap, mengingat ruangan yang sempit dan atapnya yang rendah. Tidak tahan kami pun segera turun dan mengambil gambar di sekitar tangga.

Di teras gd. BAPINDO

Di teras gd. BAPINDO

Selanjutnya, kami menyeberang. Di sana, kami berhenti pada kantor pos Cikini. Kantor pos ini telah berfungsi sejak zaman Belanda. Meskipun kecil, namun arsitekturnya tetap mempertahankan ciri-ciri bangunan Belanda. Di pelataran, pemandu menceritakan sejarah mengapa kotak tempat pengeposan surat dinamakan bis surat. Ternyata, zaman dulu, warga tidak langsung mengeposkan suratnya di kantor pos. Mereka menitipkan suratnya pada sopir bis untuk disampaikan pada penerimanya atau pada kantor pos. That’s uraian dari pemandu.

Akhirnya, tempat terakhir yang kami kunjungi, yaitu Asrama Menteng 31. Tempat ini merupakan tempat pertemuan para pemuda dalam mengkonsolidasikan kemerdekaan Indonesia saat itu. Kini, bangunan ini dijadikan museum. Di dalamnya dipamerkan beberapa diorama dan benda-benda yang terkait dengan tokoh-tokoh yang pernah tinggal di asrama. Yang kuingat di antaranya adalah contoh pakaian gerilyawan saat itu, baik putra maupun putri, beberapa benda peninggalan Jenderal Sudirman, serta lukisan-lukisan yang menggambarkan perjuangan sebelum dan sesudah kemerdekaan. Satu yang kuingat, bom tangan yang ukurannya mengesankan, besar bow.. (tampak pada gambar).

BOM yang digunakan di perang kala itu

BOM yang digunakan di perang kala itu

Terpisah dari bangunan utama, di halaman belakang juga terdapat ruang pamer yang menyimpan dua mobil, mobil RI 2 (mobil dinas Bung Hatta) dan mobil imperial, mobil Bung Karno yang menjadi saksi peristiwa Cikini. Di luarnya, juga terdapat bangkai kendaraan yang digunakan gerilyawan Indonesia saat itu. Kami pun dikumpulkan di ruang tengah untuk kembali menyaksikan tayangan masa lalu. Beberapa di antaranya pidato Bung Karno di lapangan IKADA dan juga Lagu Kebangsaan Indonesia Raya versi utuh 3 stanza.

Di ruang teater, mendengarkan orasi Bung Karno dan Indonesia Raya utuh 3 stanza

Di ruang teater, mendengarkan orasi Bung Karno dan Indonesia Raya utuh 3 stanza

Mendengar orasi Bung Karno yang provokatif dan bersemangat yang kemudian dibandingkan dengan suara beliau saat mengumandangkan teks proklamasi, jadi ada keraguan, ko tampak berbeda ya.. memang karena suasana proklamasi yang sakral atau kualitas perekamnya ya..

Saat diperdengarkan lagu kebangsaan yang utuh,  aku merinding. Lagu tersebut dibawakan dengan semangat, beda dengan lagu Indonesia Raya versi satu stanza sekarang yang mendayu-dayu. Lirik dalam dua stanza juga sangat mengena untuk kondisi sekarang, di mana nasionalisme kebangsaan sudah demikian menipisnya. Isinya bukan sekedar doa dan harapan agar kita bangga menjadi bangsa Indonesia, namun juga mengingatkan kita akan hakikat pembangunan yang sebaiknya dilakukan dan juga mengajak kita untuk senantiasa bersatu demi kepentingan dan kesejahteraan bangsa.

Cobalah anda cermati lirik di bawah ini, semoga anda pun sepakat dengan pendapatku tadi.

*

Indonesia tanah airku

Tanah tumpah darahku

Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku

Marilah kita berseru, Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku

Bangsaku, rakyatku semuanya

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya

Untuk Indonesia Raya

Indonesia raya merdeka merdeka

Tanahku negeriku yang kucinta

Indonesia raya merdeka-merdeka

Hiduplah Indonesia raya

**

Indonesia tanah yang mulia

Tanah kita yang raya

Di sanalah aku berdiri

Untuk selama-lamanya

Indonesia tanah pusaka

Pusaka kita semuanya

Marilah kita mendoa Indonesia bahagia

Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya

Bangsanya, rakyatnya semuanya

Sadarlah hatinya, sadarlah budinya

Untuk Indonesia Raya

Indonesia raya, merdeka-merdeka

Tanahku negeriku yang kucinta

Indonesia raya merdeka-merdeka

Hiduplah Indonesia raya

***

Indonesia, tanah yang suci

Tanah kita yang sakti

Disanalah aku berdiri

Menjaga ibu sejati

Indonesia tanah berseri

Tanah yang aku sayangi

Marilah kita berjanji

Indonesia abadi

Selamatlah rakyatnya, selamatlah putranya

Pulaunya, lautnya semuanya

Majulah negerinya, majulah pandunya

Untuk Indonesia Raya.

Indonesia raya merdeka merdeka

Tanahku negeriku yang kucinta

Indonesia raya merdeka-merdeka

Hiduplah Indonesia raya

Terlepas dari liriknya yang terlampau panjang dan akan menyulitkan penghafalan, kupikir sudah saatnya lagu Indonesia Raya versi 3 stanza ini didengungkan kembali, guna mengobarkan kembali nasionalisme sebagai bangsa Indonesia. Pelaguan versi sekarang yang mendayu-dayu pun harus dikembalikan pada pelaguan semula yang bersemangat.

Yap, nasionalisme bangsa kita memang berada pada titik nadir sekarang. Usaha untuk membangkitkannya ya berawal pada diri sendiri. Tidak sekedar marah-marah hanya ketika salah satu produk kebudayaan kita dicaplok bangsa lain, tapi berupayalah mengenal bangsa ini, mempelajarinya.

So, bagi teman-teman di Jakarta dan sekitarnya yang tertarik untuk mengenal dan mempelajari perjalanan bangsa ini, bergabunglah dalam tur Kota Toea yang diadakan rutin sebulan sekali oleh komunitas jelajah budaya. Informasinya bisa anda dapatkan di www.jelajahbudaya.blogspot.com.

Di depan Gedung Menteng 31

Sebelum berakhir, kembali take a pict di depan Gedung Menteng 31

Selepas dari kunjungan tersebut, kami yang kelaparan pun memutuskan untuk makan siang dan nongkrong di pasar festival, untuk kemudian bertemu dengan teman lain yang bermukim tak jauh dari tempat tersebut. Seperti biasa, obrolan ngalor ngidul adalah hal yang tak jemunya kami lakukan untuk membunuh waktu. Yup, hari itu menjadi hari yang cukup mengesankan bagi kami, dan bagiku terutama.

Makan siang di Pasar Festival

Makan siang di Pasar Festival
Iklan

5 thoughts on “Kota Tua Menteng dan Gondangdia..

  1. wah,, had a nice trip banget ya,,
    😀
    oh iya,, saya mau ask a favor nih,,
    kebetulan dulu saya kuliah di belanda, nah salah satu guru saya ada yang mau ngeliat rumah mamanya yang pas masih jaman penjajahan. rumahnya itu di serangweg,
    mungkin ada yg bisa bantu kira2 lokasi serangweg itu dimana?
    kalo ngga, boleh minta contact personnya si panitia yang nge-arrange journey kalian..
    thanks banget
    😀

  2. Aduh bagus banget nih postingannya. Dari dulu aku sukaaaaa banget sama daerah kota karena banyak bangunan eropa yang keren-keren. Cuma sayangnya pemerintah ga perhatian. Bagus deh kamu main-main dan bikin blog, jadi biar makin banyak yang tertarik dan smoga pemerintah dki lebih merawat

  3. Heheh, tapi di Jakarta jauh lbh terpelihara drpd bgnan2 lama yg ada d kota laen mbak.. Tu yg d bogor aj pd brubah jd FO..Heheh. Slm kenal n thx kunjunganx..

    Hai Ndry, thx kunjunganx..btw, tanpa izin, blog lo dah gw link, gw dapat info dr temen yg mukax ada d foto2 d atas..heheh..n ga nyesel jg bwt nge-link-nya..blog lo fun abiez..heheheh.. Slm kenal ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s