Bencana yang (Semoga) Menjadi Berkah

Cianjur Selatan, Spot yang pernah Kukenal
Cikangkareng, nama ini mengemuka di media dan menjadi perhatian nasional sesaat setelah gempa menggetarkan pulau Jawa beberapa waktu yang lalu. Terletak di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur. Sontak, nama kecamatan tersebut mengingatkanku pada lokasi KKP atau yang lebih umum dikenal KKN, -ku dan teman-teman sejurusanku pada pertengahan tahun 2005. Yap, kami sejurusan disebar di 5 kecamatan: Campaka (yang sebelumnya juga dikenal di media, karena menjadi objek bencana juga), Campaka Mulya, Sukanegara, Cibinong, Kadupandak, Sindangbarang. Masing-masing kecamatan terdiri atas 5-6 tim, yang disebar ke desa-desa.

Pedalaman yang benar-benar pedalaman
Lima kecamatan tersebut terletak di kawasan Cianjur selatan yang dikenal sebagai pedalamannya Cianjur. Pedalaman, biasanya identik dengan ketradisionalan dan kentalnya hal-hal yang berhubungan dengan metafisik. Teringat, saat pembekalan, terhembus isu, bahwa sebaiknya para peserta KKP memakai cincin, supaya tidak dipelet oleh orang setempat karena nuansa black magic pun masih kental di sana. Jiahhhhh… maka berduyun-duyunlah kami memakai cincin di jari manis, terutama para cewek.. Kalau yang cowok mah kayaknya malah seneng kalau kecantol cewek lokal, soalnya cewek Sunda kan terkenal geulisnya.. heheh. Selain cincin, kami juga harus selalu berhati-hati pada urusan jemur menjemur, terutama daleman. Alamak.. repotnya..
Namun yang paling utama, Cianjur selatan dianggap pedalaman karena memang susah diakses, lewat darat (apalagi lewat yang lain). Jalannya sebagian besar dalam kondisi rusak. Aku masih selalu terkenang pada perjalanan ke Kadupandak, kecamatan penempatanku. Jalan ke Kadupandak yang bagus hanya sekitar 7 km dari kecamatan, selepas itu, ancuuurrr… Mostly berbatu, jika pun ada aspal, hanya sebagian, lebih dominan lobangnya. Menurut informasi, setiap tahun jalan tersebut hanya mendapat jatah perbaikan dari dinas PU sebapanjang 3 km. Walhasil, perjalanan ke Kadupandak selalu berasa sebagai olahraga (atau penyiksaan) perut.
Selain susah diakses melalui jalan darat (selain itu tak ada alternatif lagi), maka akses informasi juga susah didapatkan. Topografinya yang didominasi perbukitan menyebabkan sinyal susah didapatkan. Jaringan HP sama sekali tidak ada, walhasil, kami bisa menghemat pulsa selama 2 bulan lamanya (dampak yang positif bagi mahasiswa yang masih mengandalkan uang saku dari orang tua). Sinyal radio juga terbatas adanya. Hanya bisa menangkap stasiun lokal yang tiap hari memutar lagu dangdut, “basah.. basah.. basah diri ini basah, saat kudengarkan lagu India..”
Siaran televisi pun hanya bisa diakses lewat parabola, dan itu pun bisa dihitung dengan jari siapa yang punya. Misalnya saja di desaku, parabola hanya dimiliki kepala desa dan pemuka desa. Alhamdulillah, kami tinggal di rumah kepala desa, yang kebetulan parabolanya ditembak ke pemilik teve di hampir 3 desa yang letaknya lebih tersembunyi. Tidak enaknya adalah kami tidak bisa menonton tayangan seenak udel, karena tontonan kami juga akan ditonton umat sejagat (jiah hiperbol.. ), eh umat tiga desa maksudnya. Sebagai mahasiswa, yang dianggap lebih intelek, maka tontonan yang kami pilih pun tontonan yang intelek, yaitu pertandingan bola dan berita.. (oh, MG sungguh-sungguh penyiksaan mengingat sebenarnya tontonan yang norak-norak pun biasa kami konsumsi..huehehe).

Harapan di Balik Bencana
Dengan sering masuknya Cianjur selatan ke televisi, meskipun hanya sebagai objek bencana, aku berharap pembangunan fasilitas jalan disana menjadi perhatian pemda. Mbok ya malu, mosok berkali-kali dikunjungi presiden, namun jalannya masih begitu si..
Aku berharap, dengan perbaikan jalan, keterisolasian Cianjur selatan sedikit demi sedikit mulai terbuka. Jika jalan sudah tersedia, warga bisa dengan lancar menjual produk pertaniannya, sehingga mereka tak perlu lagi terikat pada bandar yang menetapkan harga seenaknya. Jika jalan tersedia, sarana pertanian pun bisa diakses warga dengan harga semestinya, tidak mencekik leher. Jika jalan tersedia, warga bisa mengakses informasi untuk meningkatkan pengetahuan teknik budidaya pertaniannya, jika jalan tersedia, anak-anak bisa mengakses pendidikan di tempat yang mereka inginkan, dst. Yap, aku berharap, adanya bencana tersebut memberi berkah pada masyarakat di Cianjur selatan.

2 thoughts on “Bencana yang (Semoga) Menjadi Berkah

  1. Wah, tulisan yang bagus sekali….
    Saya dukung deh harapannya. Moga aja PEM cepet sadar dan mau membangun daerah terpencil… Di pelosok itu masih Indonesia juga kan???

    Salam kenal.

  2. Trimakasih atas kunjunganx dan salam kenal juga.. Blogé sampeyan juga bagus..nice blog to visit..🙂

    Amien..amien..amien..
    Ya, masih bagian dari Indonesia, berjarak hanya beberapa ratus km dari Jakarta yang megapolis dan tersedia segalanya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s