Pemimpin, Berat tapi Ko Banyak yang Mau

Kunjungan ke kabupaten terbarat pulau ini beberapa bulan yang lalu menyisakan beberapa tanya dan sangat membukakan mata. Pertama, aku selalu menganggap bahwa pemilu tidak memiliki korelasi dengan pembangunan di tingkat akar rumput, terutama desa. Namun ternyata dugaanku salah. Dari pengamatan dan obrolan dengan warga setempat, ternyata pilihan mereka terhadap partai mempengaruhi pembangunan jalan di desa. Desa yang mayoritas memilih partai merah (saat itu bupatinya juga berasal dari partai merah), maka jalan desanya terbangun bagus. Meski pun bukan hotmix, namun kualitas aspalnya sudah melebihi kualitas jalan desa. Sebaliknya, desa yang mayoritas warganya memilih partai kuning, maka jalan desanya pun dalam keadaan mengenaskan.

Hmmm, ternyata demokrasi efeknya cukup terasa juga ya.. meskipun akibatnya melenceng dari asas pembangunan yang harus dilakukan secara merata dan berkeadilan.
Selanjutnya, mengenai tata pemerintahan. Dari obrolan dengan aparat yang kutemui di lapangan, aku mendapatkan kesimpulan bahwa mereka tidak terlalu menyukai pemimpinnya yang sekarang. Padahal pemimpinnya tersebut sering mendapatkan penghargaan di tingkat nasional atas keberhasilannya membangun wilayah tersebut. Dia memberikan banyak kemudahan dan fasilitas bagi warga. Di satu sisi, ya mereka mengakui, bahwa banyak kemudahan yang didapatkan warga, terutama fasilitas kesehatan. Namun di sisi lain hal itu memberikan tekanan berlebih pada para pegawai kesehatan. Mereka harus standby setiap saat, dengan jam kerja yang lebih panjang dan disiplin yang lebih tinggi. Nah loh.. Dalam hati berkata, nah bukankah seharusnya memang begitu ya.. peenes, hakikatnya adalah pelayan masyarakat bukan.. (mengingatkan diri sendiri juga). Tapi jika mengingat kinerja peenes selama ini, yah, pastinya perubahan jam kerja dan disiplin tersebut tentu menimbulkan grundelan di hati, pasti. Tapi lagi.. lagi.. ya seharusnya memang seperti itulah fungsi mereka, bukan.. ? Kenapa yang benar malah jadi sebab grundelan ya.. (Ah, manusia memang sungguh aneh..)
Nah lo, masalah kan.. pemimpin bagus dicerca, apalagi yang tidak bagus ya.. Aduh manusia, apa si maunya…
Sungguh, ternyata jadi pemimpin memang tidak mudah ya. Ibaratnya satu kakinya berada di ujung neraka, yang satunya lagi di ujung surga. Ketika kebijakannya menguntungkan warga maka sampailah dia ke surga, namun melihat kenyataan, di balik yang diuntungkan, pasti akan selalu ada yang dirugikan. Dan itulah yang akan mengantarnya pula ke neraka. Alah-alah.. pantes, dulu Abu Bakar mengucapkan Innalillah ketika terpilih menjadi khalifah.. Herannya, kok justru sekarang banyak yang berlomba-berlomba jadi pemimpin, bahkan menghalalkan segala cara karenanya ya.. Eleuh..eleuh..

======================ā€™ā€™ā€™==========================

Di sisi lain, orang-orang yang kutemui ini juga meyakini, bahwa keberhasilan pemimpin yang sekarang ini akan menjadi blunder. Jika pemimpin baru yang terpilih nantinya tidak bisa melakukan hal yang lebih atau setidaknya sama dengan pemimpin yang sekarang, maka konflik pun akan tidak bisa dihindari.
Mendengar grundelan-grundelan ini, mau tidak mau aku jadi berpikir. Idealnya ya, supaya sustain, strategi pemerintahan dan pembangunan suatu wilayah itu memang harus terpadu, terus menyambung dari satu waktu ke waktu berikutnya. Harus ada satu blueprint besar yang diusung, tidak peduli siapa pun pemimpinnya. Setiap pemimpin harus taat pada blueprint tersebut. Tidak seperti sekarang, pemimpin membawa blueprintnya masing-masing, akibatnya, pembangunan dan pemerintahan yang berlangsung pun tidak pernah mencapai sasaran.
Menurutku, dengan memiliki kesadaran tersebut, maka rakyat yang memilih pun harus sadar dengan sosok yang sebaiknya dipilihnya. Harus memilih sosok yang memang benar-benar mampu memfasilitasi masyarakat untuk bertindak sesuai platform tersebut. Masyarakat tidak asal memilih, tidak lagi berdasarkan keuntungan jangka pendek saja, siapa yang memberi saya keuntungan banyak, maka dialah yang akan saya pilih.
Dengan memiliki kesadaran bahwa setiap pemimpin harus mampu meneruskan apa yang telah dilakukan pemimpin selanjutnya, maka orang-orang pun tidak akan asala-asalan mengajukan dirinya menjadi pemimpin. Hanya dengan bermodalkan titel yang panjang, hanya bermodalkan harta yang berlimpah, atau bahkan hanya bermodalkan motivasi ingin mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri.
Dengan memiliki kesadaran bahwa setiap pemimpin harus mampu meneruskan apa yang telah dilakukan pemimpin selanjutnya, sebelum maju, setiap calon harus mengukur kemampuannya sendiri, mampukah dirinya menjadi fasilitator bagi masyarakatnya untuk mencapai sasaran yang ditetapkan blueprint tersebut. Jika tidak, lebih baik tidak mengajukan dirinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s