Lombok 2nd Days, Senggigi and Taman Narmada

Days 2..

Awalnya, merencanakan bangun pagi dan berangkat lebih awal. Namun apa daya, insomnia kembali melanda. Apalagi diisi dengan keasyikan untuk memencet keypad hp untuk blogging dan surfing objek yang akan dikunjungi berikutnya. Belum lagi, suara serenada dari hotel sebelah yang mengusik untuk ditinjau. Maka, tidur malam pun baru bisa dimulai jam 03.00 wita. Walhasil, baru bangun jam 06.00. Itu pun karena ada sms dari kakak sepupu yang biasanya kuajak menjelajahi tempat satu ke tempat yang lain. Smsnya membuat kening berkerut dan hati agak menciut. “ Dek, lagi ga kenapa-napa kan.. tadi malem aku mimpi kita lagi mo ke jogja by motor. Tak tunggu-tunggu mpe siang kamu ga datang. Eh pas tak samperin, ternyata kamu dalam posisi tergeletak ga bernyawa, dikerubutin banyak orang..”  Huuuh.. pagi-pagi sms-nya nakutin bukannya membuat semangat !

Berusaha berpikir positif, Ah, paling dia ngerasa kali, kalau hari ini aku melakukan penjelajahan tanpanya.. wakakak, makanya menakut-nakutiku biar ga enjoying my travel. Hmmm.. dasar tu orang ! Tapi lagi-lagi mikir, ehmmm, jadi takut juga.. Ga yakin..,  akhirnya timbullah pertikaian batin dan sampailah pada kesimpulan penundaan tujuan hari ini ke Gili Trawangan. Masih ngeri membayangkan ombaknya, apalagi deburan ombak di pantai tadi malam memang terdengar sangat kencang. Hmm, ditambah dapat sms yang menakutkan ini.. Setelah keputusan diambil, selimut pun kembali dinaikkan, karena angin laut berasa dinginnya. Hahaha, lanjut tidur lagi ! What a holiday..!

Akhirnya jam 08.00 bangun. Langsung mandi, teringat bahwa akan trekking ke pantai Senggigi, jika kesiangan akan sangat panas. Jam 09.00 pun ready. Teh tubruk panas pun sudah diminum, tanda penjelajahan berikutnya siap dimulai. Say hai ke staf bungalow untuk melaporkan status inap yang akan diteruskan sampai nanti malam dan adanya beberapa barang yang tetap ditinggalkan di kamar. Penting ya.. penting dunk, mengingat bungalow-nya tidak dilengkapi pintu, maka adanya barang yang ditinggalkan perlu dilaporkan, biar staf-nya mengecek sewaktu-waktu, so kehilangan pun bisa diminimalkan.. (hehehe, memang ada ya..yang ngincer pakaian kotor..heheh).

Keluar ke jalan, toleh kanan kiri.. benar kan belum ada angkot.. kalau begitu, trekking pun jadi. Jalan sendiri, perempuan pula.. hahaha, pasti mengundang banyak tanya dari setiap orang yang melewati ataupun dilewati. Kadang mendapat teguran iseng, dijawab seperlunya, sekedar untuk menjaga biar orang yang bertanya tidak naik darah. Kan ada tu.. orang yang suka marah kalau tegurannya tidak disapa. Yang begini ni yang perlu dihindari, apalagi di daerah yang belum dikenal begini. Sendirian pula.

View sepanjang jalan tidak asing. Membuatku dejavu pada suasana jalan sepanjang pantai Serang yang pernah kulalui beberapa tahun lalu. Sepi, warung ikan dibuka sepanjang jalan. Perumahannya pun tampak sederhana.

Melewati beberapa masjid dan beberapa perkantoran desa membuka informasi, oh ternyata bungalow yang kuinapi berada di Desa Kerandangan. Satu 1,5 km dari bungalow, ada sebuah Taman Wisata Alam Kerandangan yang dikelola oleh BKSDA Lombok. Untuk menuju ke sana, kita harus menempuh perjalanan ke dalam sepanjang 1,6 km dengan ojek. Wanna try ? Emm, sepertinya tidak saat itu karena panas matahari sudah semakin menyengat. Harus segera sampai di Senggigi, demikian putusku.

Karena view yang menarik di sepanjang perjalanan, maka kuputuskan mengambil beberapa foto sambil ngaso. Lagi-lagi, mendapat tawaran dari beberapa taksi. Emm, sepertinya Senggigi beberapa km lagi, so, tawaran tersebut ditolak.

Ngaso, setelah trekking dari bungalow ke senggigi, bungalownya ada di balik tanjung itu.. so far away isn't it...

Ngaso, setelah trekking dari bungalow ke senggigi, bungalownya ada di balik tanjung itu.. so far away isn't it...

Walaa..  kemudian tampak berjajarlah hotel-hotel, bungalow, resort, rumah makan, restoran, dst. Mulai dari Sheraton, villa Bunga yang cantik arsitekturnya, dst. Wah, berarti Senggigi memang sudah tinggal beberapa meter lagi. Demikian kesimpulanku.Makin dekat ke pantai segala fasilitas pun semakin lengkap, termasuk beberapa anjungan ATM, polsek, dan pasar seni Senggigi. Teringat titipan kaos dari seorang teman, maka aku pun mampir ke pasar seni. Sepi ya, tak ada satu pembeli pun. Proses window shop-nya jadi tidak leluasa, karena mata para penjual mengikutiku ke mana pun aku melangkah. Segeralah berbelanja, demikian putusku. Akhirnya kaos-kaos titipan pun terbeli. Hufp, lega.. jadi hari yang tersisa memang benar-benar fokus untuk jalan-jalan. Haha..Akhirnya masuklah ke jalan yang menuju pantai Senggigi. Herannya, ternyata tak ada papan penunjuk yang mengarahkan bahwa ini adalah jalan yang menuju pantai Senggigi. Namun buat penanda bagi yang belum pernah ke sini, ini adalah satu-satunya jalan beraspal yang menuju ke pantai, so don’t worry bakal nyasar.Jalan tersebut hanya mempunyai lebar 3-4 meter. Cukup sempit memang, bagi 2 lajur kendaraan. Di sebelah kiri hotel tampak berjajar, sementara di sebelah kanan rukolah yang mendominasi. Maklum, kawasan ini disebut Senggigi mall. Beberapa meter menuju ke pantai, jalan aspal berakhir dan bersambung dengan jalan setapak berpasir. Motor tampak berjajar diparkirkan beberapa meter sebelum gapura.Walaaaa……… welkam to the Senggigi beach. Mmmh, nothing special. Begitu simpulku (maklum, sudah biasa melihat pemandangan seperti ini di pantai Bali..heheh, sombong..). Di sebelah barat pantai berjajar kapal-kapal motor dan kano yang disewakan untuk mereka yang akan snorkeling, diving, canoing or menyeberang ke Gili Trawangan. Di sebelah baratnya lagi, pantai telah dikapling untuk pengunjung hotel Sheraton dan beberapa hotel lainnya yang didirikan di sepanjang pantai.

Mengikuti seorang bule cewek, aku pun menyusuri bagian timur pantai. Di bagian timur ini masih ada kawasan yang diperuntukkan bagi publik. Di sini banyak warung yang menjual sate bulayak, kelapa muda, dan berbagai minuman lain. Para pelanggannya dapat duduk di tikar-tikar yang digelar di depan pantai. Jangan takut panas karena ada beberapa pohon jarak yang menaunginya. Di sini banyak pula pedagang asongan yang menawarkan berbagai cenderamata semacam kaos, gelang, mutiara, atau bahkan tato. “Pengunjung pantai di siang hari sangat sedikit, paling banyak ya di sore hari,” demikian kata nenek yang menjual sate bulayak.

Di sebelah timur kawasan ini, pantai telah dikapling lagi oleh hotel. Dibatasi dengan tali rafia dan dijaga satpam. Saat mencoba melintas, wow.. aku diusir oleh satpam. Disuruh melewati bagian paling pinggir pantai yang puanas itu.. sementara si bule disapa dengan ramah dan dibiarkan melenggang. Sumpeh.. gondok abis..!! Neolib membuatku yang warga negara Indonesia asli tak bisa leluasa menikmati keindahan pantai yang terletak di Indonesia. Neolib membuatku menyingkir karena dianggap mengganggu privasi bule yang sedang berjemur sambil merem.

Untuk diketahui, sebagian garis pantai di Lombok telah dikuasai oleh hotel. Bagian yang masih tersisa juga masih terus ditawarkan. Banyak papan (plang: Bahasa Jawa) penawaran tanah terlihat di sepanjang pantai di Lombok. Tak hanya di Senggigi, tapi juga di Kuta, bahkan di Gili Trawangan. “Pemiliknya didominasi oleh orang asing, bukan orang lokal” demikian seorang bapak menuturkan. Metodenya, orang asing tersebut mengambil istri orang lokal dan mengatasnamakan pemilikan pada istrinya mengingat perda tidak mengizinkan penjualan pada orang asing, demikian lanjut si Bapak. Hmm, metode sama yang berlaku di Bali.. Entah benar atau tidak, tapi yang jelas, orang lokal sepertiku harus menyusuri pantai dari jarak dua meter dari bibirnya.

Akhirnya nyampe juga di Senggigi, foto cepet-cepet karena diusir satpam.. huhuhuuu..

senggigi beach dari sisi timur

senggigi beach dari sisi timur

Gondok membuat perutku semakin lapar. Maka sate bulayak pun menjadi menu yang dicoba untuk selanjutnya. Pilih dipilih… akhirnya warung sate milik dua orang nenek menjadi pilihanku. Kenapa nenek..? Bukan mas-mas atau mbak..? Satu, untuk menghargai mereka, para orang tua yang masih terus bekerja, bahkan di hari tuanya. Dua, masakan nenek biasanya lebih dasyat daripada masakan mbak/mas-mas.

Setelah dikipas-kipas beberapa saat, akhirnya tersaji juga sepiring sate dan sepiring bulayak. FYI, bulayak adalah istilah lokal untuk menyebut lontong yang dikemas dengan daun enau dalam bentuk kerucut. Satu porsi sate bulayak yang terdiri atas 5 kerucut bulayak, 10 tusuk sate ayam, 3 tusuk sate sapid an 2 tusuk sapi usus sapi dihargai Rp 15.000,00. Dan hasilnya, mengenyangkan !! apalagi ditambah semilirnya angin pantai.. walaa… sip buat BBS..!

Mengupas bulayak di bawah pohon, fyi, ni foto diambil oleh nenek penjual bulayaknya..

Mengupas bulayak di bawah pohon

FYI, foto ini diambil oleh nenek penjual sate. Pertama kuminta tolong untuk memotretku dia langsung shock, bingung.. ” Aduh, jangan saya, yang lain saja.. ” demikian serunya. Tapi kuyakinkan dia.. ” Gampang ko Nek.. tinggal di pencet sini sambil dilihat di layarnya. Okeh, akhirnya dia berani mengambil gambarku, tapi tetap.. tangannya gemetaran juga.. huehehe.

Berikut adalah foto neneknya.. Belum diminta tolong buat mengambil foto, jadi mukanya belum grogi, heheheh

nenek pengipas sate bulayak

nenek pengipas sate bulayak

 

Perjalanan masih harus berlanjut. So, meneruskan perjalanan dengan bemo ke pasar Kebon Roek dan dilanjutkan dengan naik angkot warna kuning hingga terminal Mandalika yang terletak di Cakranegara. Cakranegara adalah kecamatan ketiga di Kota Mataram, setelah Kecamatan Ampenan dan Kecamatan Mataram. Sesampainya di terminal, ditanyai sopirnya, “ Mau ke mana mbak..”

“Taman Narmada pak..” “Oh turun sini dan naik itu saja, engkel yang ke Lombok Timur. Tapi ternyata, jarak Taman Narmada dan terminal Mandalika tak terlalu jauh, jadi engkel itu tak mau mengangkutku. (FYI: yang disebut engkel di Lombok adalah angkotan berbentuk L-300). Mau tak mau, aku harus naik ojek. Harga yang ditwarkan oleh tukang ojek adalah Rp 10.000,-. Oke, jauh lebih mahal memang.  Namun terpaksa kuambil, tak ada alternatif lain.

Dalam hati, bagaimana ni caranya supaya ongkos yang kuberikan sebanding dengan pelayanan tukang ojek. So, sampai di pintu gerbangnya aku pun mengajaknya ke dalam untuk menjadi pemandu sekaligus tukang potret bagiku. Wakakak.. emang enak.. Untungnya, dia mau. Sepertinya dia memang ingin jalan-jalan ke dalam, karena sudah lama tak ke sana. Haha.. jadi siapa yang diuntungkan ni… dia atau aku ya..

Tiket masuk Taman Narmada adalah Rp 4000,00/orang. Sebandingkah dengan yang ada di dalam ? So far, Taman Narmada seperti Taman Sari di Jogja, pemandian dan peristirahatan bagi raja, selir dan dayang-dayangnya. Di bagian yang paling atas ada sebuah pura yang di dalamnya terdapat sebuah sumber air yang dipercaya mampu membuat orang yang meminumnya/membasuhkan mukanya awet muda. Sayang, saat itu pura sedang ditutup. Jadi, kesempatanku untuk mengembalikan kemudaanku terhapuskan sudah.. hahaha.

taman Narmada

taman Narmada

Oleh tukang ojek yang bernama Pak Iskandar itu aku diajak berkeliling, bahkan hingga ke belakang. Menurut Pak Is, jalan paving menuju belakang taman ini baru dibangun dari donasi seorang caleg partai tertentu yang berhasil melenggang ke kantor dewan. Hmm, ada untungnya juga ya..

Kebun yang mengelilingi taman ini memang benar-benar berfungsi sebagai kebun. Ditanami berbagai macam tanaman buah, seperti nangka, dan terutama manggis. Sayang, di bulan Oktober ini buah manggisnya masih kecil-kecil. Jika tidak, mungkin  tasku sudah dipenuhinya. Wahaha..

Pak Is kemudian mengajakku hingga ke belakang. Bukan tanpa tujuan pastinya. Ternyata di sana ada sebuah saluran air yang dibangun oleh Jepang untuk mencukupi kebutuhan air di perumahan yang ada di seberang sungai.(FYI, taman Narmada ini memang dilingkari oleh sungai). Saluran air tersebut memang unik bangunannya, “Bagus untuk foto” demikian ujar Pak Is. Maka dia pun menyuruh saya untuk berfoto di sana. Dan tarrrra.. jadilah foto ini.

Saluran air Taman Narmada

Saluran air Taman Narmada

Demikianlah days 2 episode Senggigi dan Taman Narmada. Berlanjut ke episode berikutnya, Bendungan Batujai. Seperti apa bendungannya.. terletak di mana.. CU at the next posting.. Lombok days 2 episode Batujai

Iklan

One thought on “Lombok 2nd Days, Senggigi and Taman Narmada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s