Lombok 2nd Days, Sasak Village: Sade Kerambitan Episode

Kampung yang mengobati mata..

Dalam perjalanan dari Kuta, maka kami menyempatkan diri untuk mampir ke Kampung Sade, sebuah perkampungan Sasak, di antara kampung Sasak yang tersebar di beberapa perbukitan, di sepanjang jalan. Kampung ini sering mendapat kunjungan wisatawan sejak tahun 70-an, tak heran jika kemudian di seberang jalan, tampak pelataran parkir yang cukup luas. Kampung ini ditandai pula dengan gapura dan beberapa papan nama, jadi dapat dengan mudah dikenali.

Saat beranjak ke dalam, kita akan disodori buku tamu dan kotak sumbangan. Seikhlasnya, demikian tutur anak yang menjaga kotak tersebut. Kemudian seorang pemuda Sasak pun memandu kami ke pemukiman. Di pelataran utama tampak sebuah panggung. Menurut pemandu tersebut, yang bernama Gali (kalau dalam bahasa Jawa,kata ini berarti rampok/kriminal ni.. Kalau dalam bahasa sasak artinya apa ya..), rumah panggung tersebut adalah balai pertemuan warga. Lalu Gali pun menjelaskan kampung ini dinamakan sade, yang bernama obat sakit mata, tanpa menjelaskan mengapa dinamakan demikian. Jumlah rumah yang ada di kampung ini adalah kurang lebih 150 rumah, demikian jelasnya. Semua warga di sini saling menikah dengan saudara sendiri. Jika ada yang menikah dengan orang luar kampung, maka barulah mereka keluar dari kampung.

Rumah Sasak dibangun dari dinding bambu, berlantaikan campuran tanah liat dan tahi kerbau. Kenapa bambu ? “Perlambang dari alam” demikian Gali menjelaskan. Di setiap rumah juga selalu terdapat lumbung. Bentuk lumbung inilah yang kemudian diadopsi menjadi penciri bagi semua bangunan yang terbangun di Lombok (bahkan ruangan tempatku tidur pun berbentuk lumbung ini). Lumbung ini digunakan untuk menyimpan padi hasil panenan saat musim penghujan, karena warga Sade memang bermatapencaharian sebagai petani/peladang. Lalu apa pekerjaan saat musim kemarau.. laki-lakinya merantau dan perempuannya menenun. Tenunan inilah yang kemudian dijajakan di depan rumah dan ditawarkan ke wisatawan yang datang, dengan harga puluhan hingga ratusan ribu. Hasil tenunannya ada dua jenis, berupa taplak dan selendang. Tenunan dihiasi ornamen berbentuk manusia, lumbung atau cicak, hewan identitas bagi suku Sasak. Tenunan terbuat dari benang kapas yang dicelup dengan pewarna dari alam, dari indigo, dst.

Setiap rumah terdiri atas ruang tamu yang sekaligus menjadi tempat tidurnya para lelaki, sementara kamar di atas yang terletak di depan dapur, dihuni oleh perempuan yang habis melahirkan dan para gadis. Jadi ada dua pintu dalam rumah, semuanya dibangun rendah, mengapa.. agar setiap yang masuk membungkuk, menghormat. Tak ada jendela satu pun dalam rumah untuk menjaga agar rumah ini tetap hangat. Keherananku, bagaimana rasanya berada dalam kamar yang kecil di depan dapur, jika perapian dari tanah liat tersebut dinyalakan, pasti akan pengap oleh asap. Hmm, tak terbayangkan rasanya. Tapi bisa jadi perbukitan ini memang dingin dulunya, karena itulah mereka mengadaptasikan rumahnya seperti itu.

Oya, warga juga tidur dengan masih beralaskan tikar. Dengan tikar ini pulalah nanti warga yang tidur selamanya akan dibungkus, sebelum dikuburkan, demikian tukas Gali. Aku pun segera keluar dari kamar dan rumah tersebut. Pengap sekali rasanya. Di ruang tamu, tanda modernisasi seperti bohlam lampu, tivi dan jam dinding juga terlihat. Di dinding bambu terlihat pula potongan kepala kijang, hasil buruan di masa lalu. Hmm, jadi teringat deskripsi Umar Kayam dalam novelnya Para Priyayi mengenai rumah para priyayi jawa Jadul.

Lho kok ada tivi dan bohlam.. FYI, aliran listrik memang telah merambah desa ini berkah sponsor dari Phillips, demikian pula bohlamnya. Karena itulah, ada papan nama Phillips di pinggir jalan. Selain itu, di luar sana adapula nama yayasan yang mensponsori pendirian masjid di kampung ini. Menurut Gali, warga di kampung ini melalukan shalat 5 kali sehari, tidak seperti kampung tertentu yang hanya melakukan shalat 3 waktu. Terlihat bahwa lantai mesjid telah dikeramik.

Tak hanya itu, modernisasi juga tampak dari instalasi air di kampung yang telah menggunakan pipa (bukan bamboo), di beberapa sudut tampak juga keran, di samping periuk air yang masih dipertahankan. Warung yang menjual snack dan berbagai barang keperluan rumahtangga juga terdapat di beberapa emperan rumah. Sepeda motor juga tampak parkir di beberapa sudut.

Hmmm… setelah mengambil beberapa foto, beberapa di antaranya adalah foto para gadis sasak yang diluar perkiraanku, ternyata cantik-cantik, akhirnya aku pun keluar dari perkampungan. Sebenarnya belum puas, namun jam telah menunjukkan pukul 17.00. Harus mengejar jangan sampai kemalaman nyampe di Sengigi ni, demikian putusku. Masih banyak pertanyaan yang muncul di benakku mengenai perkampungan ini dan menimbulkan penasaran di malam harinya. Tampaknya suatu saat nanti, aku harus meluangkan waktu untuk berkunjung ke Universitas Mataram, mencari literatur mengenai perkampungan ini. Bagaimana kehidupan mereka dan sejauh manakah perubahan sosial yang telah dialaminya.

Bagaimanapun juga, kunjungan ke kampung ini memang telah mengobati mataku yang selama ini hanya dimanjakan dengan pemandangan bangunan modern. Kini setidaknya, aku pernah juga merasakan kesederhanaan pemukiman Sasak, selain kesederhanaan beberapa rumah panggung kayu yang pernah kutemui di Cianjur selatan beberapa tahun yang lalu.

CIMG2215

Gerbang menuju Perkampungan Sade

CIMG2187

Pintu masuk rumah yang rendah, tamu yang masuk harus merunduk, tanda hormat pada penghuni rumah

CIMG2201

Untuk keperluan MCK, terletak diantara rumah

CIMG2184

Dapur yang masih mengandalkan tungku. Dapur ini terletak di depan kamar gadis

CIMG2204

Listrik pun telah diakses

Sasak settlement in Sade Village

Sasak settlement in Sade Village

lumbung yang fenomenal

lumbung yang fenomenal

Nenek penenun, penginang dan pengantuk

Nenek penenun, penginang dan pengantuk

beautiful sasak's girls

beautiful sasak's girls

One thought on “Lombok 2nd Days, Sasak Village: Sade Kerambitan Episode

  1. Sya asal masbik,jurit utara.sya b’hrp para plajr2 ntb,terus da terus blajr,agar daerh kta terus mju dan mju..jgn penampila d’utamkm..terutamaya,glongn2 rmja..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s