Lombok 2nd Days, Kuta Beach, Central Lombok Episode

Setelah dari kota Praya, maka kami pun meneruskan ke arah Kuta. Melewati pasar Sengkol dan di sinilah terakhir kulihat ada angkot. Wah, kalau begini mah parah ya.. Masa objek wisata tidak bisa dijangkau public transport. Kebayang, kalau aku masih konsist hanya mau memakai angkot, tentu aku tidak akan sampai ke pantai Kuta, Tanjung, Mawun atau pun Lesong Blanak yang semuanya terletak di belahan selatan Lombok. Hmm, PR buat pemda Loteng (Lombok Tengah) ni..

Dalam perjalanan ke Kuta ini, kami melewati lahan luas yang sedang dalam konstruksi. Rencananya, akan dibangun dibangun bandara internasional di sini. Hmm, semoga jika bandara telah dioperasionalkan, public transport di wilayah ini bisa dibenahi. Sayang dunk, pantainya cantik-cantik tapi tidak bisa dijangkau. Di wilayah ini kami menemui banyak kerbau yang digembalakan.

Menjelang Kuta, perbukitan mulai tampak. Sebelum mencapai Kuta, kami melewati 3 pemukiman/perkambungan Sasak. Yang satu adalah perkampungan Sade, Kerambitan yang terkenal dan sering mendapatkan kunjungan dari wisatawan domestik maupun wisman. Yang lain adalah perkampungan yang sepertinya tidak dirambah wisatawan. Kenapa..? Karena tidak ada papan namanya. Yang satu lagi adalah perkampungan di bawah bukit yang berlabelkan Sasak village. Oke, kami akan mampir, tapi nanti setelah dari Kuta, demikian putusku.

Melewati Sade, perbukitan semakin rapat. Hutan pun tampak menghiasinya. Hawa adem pun mulai terasa. Beberapa km menjelang Kuta, jalan tampak meningkat kualitasnya. Hotmix ni.. Hmm, sepertinya kawasan ini memang mulai ditata untuk kawasan wisata. Beberapa hotel mulai tampak.  Dan sama seperti wilayah lain, maka banyak plang penawaran tanah di kawasan ini. Beberapa diantaranya malah menawarkan kaplingan perumahan.

Masuk ke pinggir pantai, berjajarlah rumah-rumah ala Sasak di sepanjang pantai. Warung-warung, travel, dan sebagainya, seperti yang ada di Senggigi pun mulai tampak di sini. Pak Is tidak mau berhenti di sini. Beliau terus bergerak ke timur, menjauhi kawasan padat pondok tersebut. Di tempat yang sepi, berhentilah dia. Di sini hanya tampak pondok yang seadanya dan tak tampak penghuninya.

Melemparkan pandang dari barat ke timur, wow…. what a nice view… Subhanallah.. ciptaan-Mu memang keren buangettt!!

 

Lovely Kuta Beach Lombok

Lovely Kuta Beach Lombok, di balik perbukitan tersebut, ada sebuah hotel, yaitu Novotel Mandalika Resort. Dimiliki orang asing, demikian jelas Pak Is. Di wilayah ini, hanya satu hotel yang dimiliki orang Sasak, demikian lanjutnya.

 

Gubug yang berdiri sepanjang Kuta
Gubug yang berdiri sepanjang Kuta

 

Di sebuah gubug, kami menemukan dua orang anak Sasak. Berbaring dengan alas tikar, sambil mata mengarah ke laut. Tak ada percakapan di antara mereka. Yang ada ada suara penyanyi India yang mengalun dari radio yang dipegang si kakak. Pak Is mendekati dan bertanya pada mereka. Ternyata, mereka menunggu ayahnya yang sedang melaut, memanen rumput laut.

Gubuk itu sangat sederhana, sepertinya memang bukan rumah tinggal, namun hanya tempat peristirahatan. Tampak jaring dengan berbagai lebar mata jaring tergantung di tiang gubuk. Melihat dua anak itu, aku jadi teringat pada Lintang dan adik-adiknya pada sebuah scene di film Laskar Pelangi. Menanti kedatangan ayahnya dari laut dalam ketidakpastian. Huiks, sedih.

Dua anak nelayan Sasak yang menanti ayahnya pulang dari laut, memanen rumput laut. Radio yang didengarkan ini sedang memutar lagu Indiahe..

Dua anak nelayan Sasak yang menanti ayahnya pulang dari laut, memanen rumput laut. Radio yang didengarkan ini sedang memutar lagu Indiahe..

 Di bagian barat pantai tampak sebuah bukit panjang. Dari tempat inilah biasanya penduduk setempat mengumpulkan nyale, cacing, yang dipercaya merupakan penjelmaan dari Putri Mandalika. Biasanya peristiwa terjadi di awal tahun

nyale - kuta

nyale - kuta

 Beranjak ke belakang gubuk, aku melihat rumput laut yang sedang dikeringkan. Oh, jika masih basah, rumput laut tersebut berwarna merah. Rumput laut inilah yang kemudian menjadi bahan baku agar-agar. Penduduk Lombok sebagian mengolahnya menjadi dodol yang menjadi oleh-oleh khas dari Lombok. Berbeda dengan dodol dari Jawa maupun daerah lain, maka dodol rumput laut dari Lombok berwarna bening, dengan warna sesuai rasa dari masing-masing dodol. Teksturnya  seperti agar-agar namun lebih kenyal. Meskipun namanya dodol, namun ia tak terlalu manis, bahkan bisa dikatakan tak manis sama sekali. Yang lebih tertangkap lidah justru essennya.

rumput laut merah basah, dikeringkan tanpa alas euy..

rumput laut merah basah, dikeringkan tanpa alas euy..

 Oya, satu yang ingin kutambahkan dari pantai ini adalah, pasirnya tidak seperti pasir di pantai lain. Berbentuk bulat-bulat, masyarakat setempat biasa menyebutnya pasir merica. Jika diinjak lama, justru kita kan tersedot ke dalamnya. Heheheh, menginjak pasir di sini meninggalkan sensasi yang unik di hati. huehehe.

Pasir merica pantai Kuta, kalo menurutku si pasnya pasir ketumbar.. huehehe.

Pasir merica pantai Kuta, kalo menurutku si pasnya pasir ketumbar.. huehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s