Lombok: First Day..

Thx God.. Akhirnya sampai juga di Lombok.. Alone !!  First time, being there in other island without any companion.. Sebelumnya pasti diwarnai kekhawatiran dan ketakutan. Namun Bismillah, setelah melakukan pemanasan backpack alone ke beberapa tempat, akhirnya keputusan itu diambillah. Berangkat, sendiri..

Perjalananku dimulai dari jm 3 wita.. Terpaksa bangun pagi karena memang belum packing. Tidak banyak, cukup 3 pasang pakaian plus sepasang baju tidur.. Kalau kurang, ya beli aja.. Jiah, sombongnya. Padahal modalnya mah sakitu-kituna.

Jam 5 ready, dah mandi dan rapi. Meskipun mandi pagi ini terasa kurang mantap karena airnya yang tidak mendidih (kompornya habis gas). Habis minum vitamin, membangunkan tetangga sebelah untuk pamitan. Hmm, baru sekali itu bepergian dari Bedugul saat pagi buta. Masih sepi, gelap, untungnya tidak terlalu dingin (efek berjalan beberapa ratus meter di subuh hari). Namun demikian, telah banyak mobil yang hilir mudik. Terutama mobil pengangkut sayur dan kendaraan para commuter dari Singaraja.

Di pertigaan patung jagung, berdiri sendiri selama beberapa menit. Membayangkan dulu saat di Cianjur. Tak berapa lama, ada saja kendaraan yang menawarkan tumpangan, meskipun itu adalah kendaraan pribadi. Di sini..? Never wish..

Beberapa menit kemudian datanglah ibu tua, dengan membawa sekeranjang paku di atas kepalanya. Dengan bahasa Bali, dia meminta tolong padaku. Aku terlambat merespon, karena tak terlalu mengerti ucapannya. Tangannya yang menunjuk-nunjuk keranjang kuartikan sebagai “Tolong turunkan keranjang ini”. Dan ternyata terjemahan bebasku benar. Dia langsung berterima kasih. Selanjutnya kami hanya diam. Beberapa kali pertanyaanku dijawabnya dengan bahasa Bali, so, daripada aku tidak memahami dan dia pun terlihat kesulitan menjawab pertanyaanku, maka kuputuskan untuk diam.

Jam 5.20, berhentilah sebuah angkot, atau di Bali dan di Lombok biasa disebut bemo. Hanya ada satu penumpang di dalamnya. Ibu tua pembawa keranjang tua itu tak turut serta karena tujuannya berbeda.

Di dalam angkot, penumpang yang lain, seorang ibu yang berangkat dari Seririt, segera menghujaniku dengan berbagai pertanyaan standar, asal dari mana, tinggal di mana, dan sebagainya. Aku menjawab dan membalas bertanya seperlunya juga. Maklum sudah ngantuk. Senangnya, tanpa kutanya, si ibu itu menjelaskan sendiri tentang berbagai hal tentang dirinya. Karakter orang-orang seperti ini kadang mengherankanku. Mereka berani dan cepat sekali membuka diri dan pribadinya kepada orang yang baru dikenalnya. Salut aku dengan orang-orang yg ekstrovert seperti mereka.

Ternyata, perjalanan Bedugul dan Denpasar (Ubung) yang biasanya 2 jam lebih, pagi itu berjalan cukup singkat. Aku telah sampai di terminal jam 6.30. Berarti perjalanan hanya memakan waktu 1.10. Hufp, syukurlah. Berarti aku masih bisa mengejar pesawat, tepat pada waktunya. Sampai di terminal tengak-tengok. Mau naik taksi, tidak ada yang bermerk blue bird. Dah gitu, hitung-hitung, pasti jatuhnya ga backpacker lg ni.. Mau naik ojek, belum ketemu tukang ojek yang tampangnya meyakinkan, alias tidak bertampang kriminil dan tidak bertampang ngemplang tarif.

Tiba-tiba, datanglah taksi bluebird mengantarkan penumpang ke dalam terminal. Kukejar dan sopir pun menyuruhku segera masuk, setelah penumpangnya keluar. Namun, baru saja duduk, petugas DLLAJ menghampiri taksi dan menyuruhku duduk. “mbak, jangan naik taksi dari sini, nanti sopir2 angkot di dalam pada protes”. Petugas tersebut menyuruhku naik taksi di luar terminal, bahkan sopir menyuruhku menunggu di perempatan lampu merah Ubung. Aih2, itu kan jauh, saudara-saudara. Akhirnya, aku pun berbalik, tiba-tiba seorang tukang ojek menghampiri dan menawarkan jasanya. Melihat tampangnya yang meyakinkan, bapak2, aku pun mengiakan tawaran tarifnya yang separuh di bawah harga taksi. Memang nasib tidak pernah mengizinkanku mengeluarkan uang lebih banyak. Hehehe. Biar sesuai niat, konsisten jadi backpacker ekonomis.

Akhirnya meliuk-liuklah bapak ojek itu, membawaku membelah pasar Kumbasari Badung yang sedang ramai-ramainya dengan transaksi. Ubo rampe perlengkapan untuk galungan tampak ramai ditransaksikan. Segala macam bunga, dari bunga kenanga, hingga bunga kantil, bahkan sampai ke tebu yang dijual per ruas. Pokoknya ramai sekali.

Sempet terkantuk-kantuk. Akhirnya, sampailah di bandara tepat pukul 07.00. Yes, akhirnya tidak telat lagi !. Check in, sblm masuk, petugas di gerbang menanyakan tiketku, sambil tersenyum dan mengulukkan salam “assalamualaikum” dan selamat pagi.. Pastilah dia muslim. Dan benar, di bajunya tercantum nama Abdul Halim. Wah, senangnya mendapat sambutan seramah itu. Andai semua petugas melakukan pelayanan prima sepertinya, pasti pengguna jasa airport akan terpuaskan. Bisa jadi promosi positif bagi bandara itu sendiri.

Taraa.. Check in, airport tax dan prosedur pemeriksaan as usual. Lalu duduk di ruang tunggu dan melakukan pengamatan, as usual. Sepertinya, aku sepesawat dengan penumpang yang didominasi turis asing. Hmm, berarti Lombok mulai laku juga ya..

Ketika boarding, di depanku tampak seorang nenek yang kerepotan membawa barang bawaannya plus snack dari maskapai yang dibagikan sebelum kami menuju tempat parkir pesawat. Sebagai org yg plg dkat dengannya plus yg barang bawaannya cuma tas punggung, aku menawarkan membawakan snack dan botol aqua 1 liternya. Nenek senang sekali dengan bantuanku. Saat telah duduk di bangkunya, dan kuulurkan botol dan snack tersebut, dia langsung berkata, “terima kasih ya Nak, smoga kita bertemu di akherat nanti”.. Doa itu langsung diamini oleh pramugari yang berdiri tidak jauh dari kami. Sungguh, mataku langsung berkaca-kaca mendengar doa nenek itu. Aku tak menyangka akan mendapat doa seperti itu, mengingat bantuanku sebenarnya tak seberapa

Dari kejadian itu, aku jadi berpikir, bahwa sebesar apapun bantuan yang kita berikan akan selalu berarti bagi yang membutuhkannya. Bahkan ketika bantuan itu kita anggap sepele.

—at the plane—

Pesawat take off, disusul suara instruksi dari pramugari yang frekuensinya terasa sering sekali. Mungkin karena penerbangan yang sebentar, kurang lebih 15 menit, membuat tak ada jeda antara suara instruksi yg sebelum dan sesudahnya. Kesannya, “aduh, pramugarinya berisik amat..”. Batinku juga menambahkan, aduh bentar amat terbangnya, baru juga duduk.. Padahal harganya tidak jauh beda dengan harga tiket untuk perjalanan 1,5 jam. Mmmh, masih belum puas ni melihat dataran esnya. (aku selalu menganalogikan awan di angkasa bagaikan pulau2 es di kutub..minus pinguin dan beruang kutubnya..heheh, dasar, tukang fantasi..)

Hingga akhirnya, here i am.. At the Lombok Island.. Yuhuu.. Kalau ga malu ma orang2 yang mostly bule itu, mungkin aku sudah sujud syukur waktu di bandara Selaparang tadi. Heheh, hiperbola, tapi benerr.. Itu tadi sempat terpikir lho. Betenya, ketika aku sudah berusaha jaim, bule2 dari Arab di belakangku narsis abis. Mereka berfoto foto di depan pesawat dan papan nama bandara. Ih, nyesel tadi aku sok2 jaim.. Huiks..huiks..

First time flight with m******

First time flight with m******

Next, nyari baliho bandara yg ada peta pariwisata..ato kalo ga brosurnya deh.. Mengingat info-info tersedia melimpah di bandara. Glekk, ternyata ga ada. Waduhh, panik.. Untungnya, teringat hp pink canggihku yang multi fungsi. Segera kucari info mengenai angkot apa yang sebaiknya kuambil dari bandara untuk menuju mall ato pusat pertokoan yang ada internetnya. Untung ada blog. Info itu pun langsung tersedia. Untuk meyakinkanku lagi, kutanyakan pada mbak-mbak yang ngelesot tak jauh dari tempatku ngelesot juga. Ternyata info tersebut sama persis seperti info yang disajikan para blogger. Thanks 2u guys, kalian berkali-kali membantu lancarnya perjalananku.

Maka, dari seberang jalan depan bandara, kucegat bemo dalam bentuk odong2 bukan dalam bentuk mobil angkot umumnya. Untuk sampai ke Ampenan, tepatnya Pasar Kebon Roek, aku cukup membayar Rp 3000,-. Kata mbaknya, harusnya Rp 2500,- tapi gapapalah, infak 500, membantu rezeki sopir angkot yg kini berkurang drastis pendapatannya, seiring membanjirnya motor. Dr pasar Kebun Roek, aku berganti angkot warna kuning yang menuju terminal cakranegara. Dengan angkot ini, kita bisa menyusuri pusat pemerintahan yang terletak di kecamatan mataram, dan pusat kegiatan perekonomian yang terletak di kec. Cakranegara. Aku lupa nama-nama jalan yang dilewati angkot, karena peta kota yg telah kuprint mahal itu jatuh di angkot dalam perjalanku kembali dari mall mataram ke Ampenan. Bodoh ya.. Hehehe, kata teman-teman, udah biasa itu mah, kapan si lo g pikun n ga teledor. Huiks2..

Setelah menyadari kebodohan itu, aku tak mau rugi lebih lanjut. Mumpung di Ampenan, nikmati aja keindahan arsitektur kota lama yang disuguhkan kota itu. Aku berjalan ke jalan Pabean yang menuju Pelabuhan lama. Yup, beragam bangunan dengan berbagai pengaruh arsitektur ada di jalan tersebut. Ada bangunan yang mengadop arsitektur Belanda, cina, dan sebagainya. Sayangnya bangunan-bangunan tersebut sebagian telah rusak dan terbengkalai. Jika kompleks ini direnovasi dan direvitalisasi, tentu akan jadi objek wisata yang juga menawan hati. Apalagi wilayah tersebut juga dikelilingi oleh komunitas yang dihuni suku dan ras tertentu, seperti kampung melayu, pecinan, pekojan dan kampung bugis. Tentu hal ini akan mempercantik kecantikan arsitektur tersebut.

Simpang 5 Ampenan

Simpang 5 Ampenan

 

Lorong bangunan di Jalan Pabean Ampenan

Lorong bangunan di Jalan Pabean Ampenan

Setelah berjalan-jalan dan mengambil beberapa foto, mendung menggelanyut angkasa (jiahh, bahasanya melow abis), bahkan rintik hujan mulai turun, maka aku mempercepat jalanku. Menoleh-noleh mencari cidomo untuk kembali ke pasar Kebon Roek, namun tak ada satu pun yang lewat. Giliran dibutuhin malah ga ada, tadi aja manggil2 pas aku lagi pengen jalan.

Gerutu tak menyelesaikan masalah. Hujan pun turun dalam titik2 yang lebih besar. Maka langkah “macan luwe” pun diganti dengan lompatan cheetah. Jiah, lebay.. Tap tap tap.. Sampailah di tempat bemo “odong-odong”. Pas nyampe, tiba-tiba lewatlah cidomo.. Grrh, pengen njitak tu cidomo, y kusirnya, ya kudanya.. Tapi ahh, sudahlah.. Saatnya meneruskan perjalanan.

Dengan Rp 4000,- (harusnya Rp 3000,-) akhirx terdamparlah aku di Santai Beach Inn, yang terletak 2 km dari Senggigi. Nice inn euy, lagi2 thx to blogger (lupa namax) yang sudah merekomendasikan bungalow ini.

Bungalow yg kuambil tentu saja yang paling ekonomis. Harganya cuma 80ribu semalam. Tapi lumayanlah.. Aku dapat kamar yang bentuknya seperti jineng, lumbung padi di Bali. Pertama kaget, weits, ko aku dapat tempat kaya teras gini.. Waduh, berasa kaya nginep di mushalla dunkz ntar malam. Tapi kemudian, barulah kusadar, tempat tidurnya di atas. Itulah gunanya tangga di pojokan..! stupid!

Hmm, i like my bedroom, so romantic karena ada kelambunya. Huahaha, jadi teringat foto nikahan bapak ibuku, yang berpose di ranjang pengantin yang berkelambu.

Ada 2 jendela kayu di kamar. Jika jendela selatan dibuka, yang terlihat adalah plumeria (kamboja) warna putih dan pink yang berbunga lebat dan bungalow tetangga. Jika jendela timur yg dibuka, maka yang terlihat adalah bunga nona nginang.

Dan saat ini, hujan masih terus turun. Mengutip seorang teman yang sedang jatuh cinta, saat hujan turun adalah momen paling romantis. So, melanglang buanalah pikiran. Huahahaha.

Menunggu redanya hujan di kamar

Menunggu redanya hujan di kamar

Tiba-tiba, “mbak, dinner time..” suara seorang staf penginapan. Maka bergegaslah aku turun ke ruang makan mengingat dari tadi perut memang sudah ndangdutan. Taraaa, surprise.. di meja makan yg berlilin telah menunggu bule Italia cakep.. Jiahh.. Romantis aja. Tapi momen itu dirusak oleh mbak2 staf yang ikut nimbrung makan. “Wah, hari ini sepi ya.. Tamu-tamu yang lain pada makan di luar..” Ujarnya. Hmmm, au’ ah.. Batinku kesal. Setelah menyantap acar yang pas kecutnya.. oahemmm.. Bantal dan kasur tampak lebih menggoda daripada mas2 Italia yang ternyata jg lonely backpacker itu. So, ciao.. Wanna sleep first..

Hahaha, ternyata tidur awal hanya niat. Pada akhirnya baru bisa tidur setelah jam 03.00 wita. Mondar-mandir karena alunan serenada dari hotel  sebelah yang sayang untuk dilewatkan. Kemudian surfing dan mencari info mengenai objek yang akan dikunjungi keesokan harinya. Dah gitu, tiba-tiba muncul tokek, yang ternyata mengurangi populasi nyamuk yang mengkerubutiku malam itu. Hmm, thanks God.

Hoahemm, jam 03.00, ambang batas untuk tidur ni.. ok sleep first.. cu on the next episode, Lombok day 2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s