Lombok third days, Gili Trawangan episode

Bangun pagi, dengan kelelahan teramat sangat karena menghabiskan waktu di hari sebelumnya dengan bermotor ke Lombok Tengah. Hayo, harus bangun, karena hari ini akan benar-benar menyeberang ke Gili Trawangan. Harus pagi, supaya tidak perlu menunggu lama saat di pelabuhan. Dari yang kubaca dari blog malam sebelumnya, perahu motor baru akan berangkat ketika jumlah kuota penumpangnya telah terpenuhi. Harus berangkat pagi, mengejar perahu pertama yang akan menyeberang, sehingga tidak perlu menunggu lama seperti si blogger yang kubaca sebelumnya. Apa lagi yang harus dipersiapkan..? Siap mental, karena banyak blogger yang mengingatkan tentang premanisme ketika sampai di Bangsal. So, siapkan tampang sangar. Hahahah..tanpa begitu pun preman sudah males ngedeket kali ya.. Cantik ga, tampak kaya, jauh.. hahahah. Salah satu keuntungan yang kumiliki dan memudahkan perjalananku selama ini. heheheh, thanks God..

Jam 06.30 ke receptionist, bilang mau check out, karena berpikir mungkin akan mendapat tumpangan nginep di kantor lipi lombok. Ternyata receptionist-nya belum ada. Baru ada ibu-ibu gemuk yang biasa ngurusin masalah dapur. Dia kemudian menelpon si receptionist untuk menanyakan tagihan yang harus kubayar. Ga ada pelayanan tambahan yang kumanfaatkan, selain makan malam. Jadi hanya menghabiskan 243.000 untuk dua malam. Weits, agak janggal ya hitungannya, hmm, anggap aja yang lain2 adalah pajaknya. Heeee.. lagi ga pengen mikirin pengeluaran ni, karena takut shock, setelah hari sebelumnya bener-benar overbudget.

Then urusan bungalow selesai, next adalah urusan transport ke bangsal. Nanya ke bu gemuk tersebut, bisa ga mencarikan ojek buatku. “ Wah, kalau ojek susah, kalau taksi si banyak.” Ehm, kalau taksi saya ga mau, karena susah untuk berhenti sewaktu-waktu, jika ada pemandangan yang bagus,” demikian alasanku (plus alasan ongkosnya juga si..heheh). Akhirnya putar-putar otak, akhirnya dia menelponkan pekerja laki-laki yang bekerja di tempat itu dan kebetulan sedang dapat shift malam. Aku lupa siapa nama bapaknya, aih, otakku memang mengalami penurunan daya ingat yang cukup signifikan!. Beberapa menit setelah resepsionisnya datang, bapak itu pun datang. Yap perjalanan dimulai.

Baru sadar, bukit-bukit berjajar selalu di sisi kanan, sementara laut ada di dasar tebing sana. Hmmm, andaipun ada gempa yang berpotensi tsunami, tampaknya penduduk di sini akan aman-aman saja tu..

teluk kodek

Akhirnya berhenti di pelabuhan kecil, tepat di pelatarannya. Alhamdulillah, terhindar dari paksaan preman yang akan memaksa kita untuk naik cidomo dari terminal dan tempat parkir kendaraan ke pelataran ini, yang berjarak hanya 200 meteran itu, dengan harga yang mahal, Rp 10.000,- (pengalaman buruk ini kubaca di sebuah blog malam sebelumnya). Dan uang pun kuulurkan pada Pak X, dia pun tersenyum dan berterima kasih padaku. Hufp, baru dapat senyuman yang ikhlas tersebut, setelah beberapa hari di Lombok. Biasanya, para sopir meminta tambahan uang dengan muka yang kusut, setelah tahu kita adalah wisatawan. Hufp.. inilah beberapa hal yang bikin kita ga nyaman selama di Lombok. Perilaku warganya belum welkam ke wisatawan. Banyak blogger lain yang mengeluhkan hal ini, tak hanya blogger yang wisatawan, namun juga blogger yang Sasak sendiri. Jika tak segera diubah, hal ini akan jadi boomerang sendiri buat Lombok.

Di pelataran, seperti yang yang diungkapkan di blog, banyak pemuda bertampang beach boys dekil yang mendekati, menanyakan dengan cara yang tak sopan, merendahkan (tak hanya kualami, tapi juga dialami pasangan Mas Ikhsan-Yemmy, dan setiap wisatawan yang datang ke sana). Cuek, sikap yang kuambil, termasuk juga pada adik-adik asongan yang menawarkan dagangannya dengan memaksa. Begitu sampai di loket, masih saja ada yang mendekati, dan tidak kuacuhkan lagi. Sebodo amat ngomong apa.. aku langsung bicara pada petugasnya, ” Tiket ke Trawangan mbak, satu..” ” atas nama siapa,” tanyanya. “ Dewi” jawabku. Dia pun kemudian menuliskan nama Dewi (pake k) di tiket mini tersebut. Begitu diberikan, aku pun duduk ke bangku panjang, menoleh dan tersenyum pada pasangan muda yang duduk di belakangku. Mereka kuajak berkenalan. And U know what.. ternyata yang lelaki adalah seniorku di kampus, sejurusan, beda ps, dan beda 2 angkatan. Pantesan aku merasa kenal. Dia termasuk panitia yang mengospekku saat pertama kali masuk kuliah.

morning voyage, still smiling

bersama pasangan penganten baru..

Lega, merasa punya teman selama perjalanan, “Kalau gitu, ntar kita bareng aja ya..” demikian ajakku. Oke.. sambut si Yemmy. Whupf, lega, akhirnya tak sendirian lagi, namun agak sungkan juga si mengajak mereka bercakap-cakap, karena ternyata mereka adalah pasangan yang baru berbulan madu. Tak sampai 15 menit, kuota 20 penumpang telah terpenuhi. Petugas penjual tiket memberitahukan hal ini melalui pengeras suara dan meminta kami segera berkumpul ke bibir pantai.

Terlihat sebuah perahu motor telah disiapkan. Tapi what… penumpangnya.. oh my gosh, banyak amir, melebihi kuota yang ditetapkan. Tak cuma duduk di jok penumpang, mereka juga berjubel di anjungan depan dan belakang perahu, bahkan di atap. Di tengah antara penumpang yang terletak di sisi kanan dan kiri perahu, terisi barang-barang bawaan penumpang, tampak beberapa diantaranya adalah tanaman adenium dan berbagai barang pasokan kebutuhan sehari-hari di Trawangan. Laki-laki di sebelahku menyatakan bahwa sebagian penumpang di perahu ini adalah warga yang memang biasa pulang pergi ke Trawangan setiap hari. Mereka bermukim di Lombok, namun bekerja di Trawangan, sama seperti dia, yang bekerja di sebuah bungalow. Oleh karena itu, banyak yang tak membeli tiket, jadi free raiders. Terbayang aja kan, kalo mereka harus membayar Rp 20.000,- tiap hari untuk ongkos transport. Hmmm, begitu ya.. pengetahuan baru bagiku.

crowded boat

crowded boat

Di pagi itu, ombak terlihat cukup besar. Terkadang kami seakan berada di bawahnya. “Biasanya memang begini ko, ini belum seberapa.. ada yang lebih besar”, tukas mas-mas yang duduk di sebelahku. “ Jika ombak besar, apakah tetap ada perahu yang ke Trawangan..” tanyaku. “Ada, tapi jam-jam tertentu saja. Terkadang rutenya diputar ke belakang pulau, karena di sana ombaknya cenderung lebih kecil” demikian ujarnya.

Akhirnya setelah hampir terombang-ambing sejam, melihat Gili Air yang tampak minim pemukiman dan Gili Meno yang hanya sedikit pemukiman di pinggirnya, sampailah kami di Trawangan.

welkam to trawangan

welkam to trawangan

Hmm, kembali banyak orang yang nyamperin, terutama kusir cidomo. Namun, lagi-lagi, tawaran diberikan dengan muka dan non verba yang kurang menyenangkan. Ketika tawaran kami tidak disepakati dan kami beranjak darinya, dia malah mengeluarkan ujaran yang sama sekali tidak enak didengar. Hmm, jadi tidak nyaman berlama-lama di pulau ini, demikian putus kami bertiga.

cidomo

cidomo

Akhirnya kami memutuskan menyewa sepeda untuk mengelilingi pulau ini, dengan pertimbangan, sepertinya dengan sepeda lebih leluasa jika kita ingin berhenti sewaktu-waktu untuk mengambil gambar atau menikmati pemandangan. Dengan harga sewa Rp 20.000,-, kami pun siap memulai penjelajahan mengelilingi pulau. Namun ternyata oh, ternyata pilihan kami mengendarai sepeda juga bukan proper decision. Kenapa ? Karena jalanan setapak untuk mengelilingi pulaunya didominasi pasir yang tentu saja menyulitkan kami menggenjot sepedanya. Adanya malah sepeda yang merepotkan perjalanan jelajah tersebut. Terpaksa harus dituntun dan setengah diseret-seret. So, bagi yang pengen leluasa dalam mengelilingi pulaunya, mending jalan deh.. ga lama kok, paling lama 2 jam.

xplore-trawangan by bike

xplore-trawangan by bike

Tapi pemandangan yang disuguhkan di sepanjang perjalanan memang surga. Subhanallah ! Allahu Akbar ! Akhirnya aku berpisah dengan pasangan pengantin baru Yemmy dan mas Ikhsan. Mereka memutuskan untuk snorkeling di sebelah utara pantai, sementara aku meneruskan perjalananku mengelilingi pulau.

beautiful trawangan

beautiful trawangan

Di sepanjang pantai di sebelah barat dan barat laut pulau memang tampak lebih sepi, jumlah homestay dan bungalow juga ga sepadat bagian timur pulau yang dekat darmaga. Jadi lebih alami. Banyak menjumpai burung dan makhluk pantai lain.

endemic birds

Burung-burung yang bebas menikmati hidupnya

Tetumbuhan khas pantai macam bakau, bruguera, bahkan palem juga ada. Di sebelah barat, samara-samar tampak Gunung Agung di pulau Bali. Pantai di sisi sini ternyata juga lebih dangkal. Wah, harusnya snorkeling di sini asik ni. Bahkan tanpa snorkeling pun bisa dengan mudah melihat dasar pantai, cukup jalan aja.  Dan di bagian tenggara, di sebuah resort, tersedia juga anjungan buat duduk dan nongkrong. Asik de tempatnya. Saat sampe ke sini, tampak seorang bule menikmati kesunyian pantai dengan membaca dan menulis. Tak mau kalah, aku pun membuka novel yang kupinjam dari perpus di bungalow. Heheh.. Dan membaca di tempat yang damai seperti ini memang dasyat… semilir angin, bau air laut.. jika capek membaca, cukup layangkan pandangan ke pantai..! Damai.. !

beach, nice place to read

peace place to read

Setelah hampir dua jam, sampailah aku di tempat semula kami berangkat. Hmm puas rasanya, meskipun sepanjang perjalanan jengkel dengan track yang menyulitkanku menggenjot sepeda. Meskipun keringat mengucur deras, namun puas..!

Berikutnya adalah mengenai penangkaran penyu yang ada di Trawangan. Ada di posting selanjutnya ya.. 🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s