Honeymoon with My Brother: sebuah resensi

Lho, ko bisa.. Masa si.. Bulan madu ko ma sodara sendiri.. Incest-kah.. ? Mungkin itu pertama kali yang akan terpikir di otak kita saat pertama kali membacanya.

Salah besar.. Bukan itu yang ditulis Franz Wisner dalam buku perdananya ini. Buku ini lebih menceritakan perjalanannya mengelilingi dunia selama dua tahun.

Cerita dimulai dengan kegagalan Frranz untuk menikahi gadis yang telah dipacarinya bertahun-tahun. Shock berat. Apalagi kemudian karirnya juga mengalami kemunduran. Kehidupannya terasa di titik nadir.

Keputusan impulsif kemudian diambilnya. Dia keluar dari pekerjaan dan tetap meneruskan rencana bulan madunya. Lalu bersama siapa, dia kan tidak jadi menikah ? Kurt, adiknya, adalah seorang single. Dialah orang yang tepat untuk diajak. Selama ini, hubungan mereka tidak terlalu dekat secara emosional. Jadi, Franz berharap perjalanan ini akan merekatkan mereka kembali.

Buku ini kemudian menceritakan bagaimana perjalanan mereka berdua dan bagaimana persepsinya terhadap tempat-tempat yang telah dikunjunginya. Ada tiga tempat yang dikunjunginya di Indonesia, yaitu Lombok, Bali dan Komodo. Huiks, agak nyesek juga setelah membaca kesannya terhadap dua pulau primadona pariwisata Indonesia dan Indonesia secara umum. Tidak terlalu mengesankan, sudah terlalu artificial, tidak alami, dan orangnya pun manipulatif. Kehidupannya khas negara berkembang, demikian ungkapnya. Sodokan cukup tajam sebenarnya. Negara yang kita cintai, memiliki beragam budaya dan indah alamnya, masih dianggapnya biasa saja. Tapi jujur kuakui, ketika berkunjung ke Bali dan Lombok, kini, kesan artificial itu terasa benar adanya. (Menurutku, persepsi wisatawan ini seharusnya jadi bahan stakeholder terkait untuk mengevaluasi strategi pengembangan pariwisata Bali, Lombok, Komodo dan Indonesia pada umumnya, jika kita masih mau mengandalkan pariwisata sebagai sumber devisa).

Furthermore, menurutku buku ini komplit. Kisah penjelajahan dibumbui dengan romantisme, komedi dan dìhiasi dengan nilai persahabatan dan kekeluargaan. Banyak hikmah dan pengetahuan baru yang bisa kita dapat darinya termasuk tentang nilai kekeluargaan Amerika yang jarang terbahas di media lain, seperti film. Selama ni kita tahunya kan mereka individual. So, buku ini layak banget untuk dibaca hingga tuntas😉

So, selamat membaca..
-dee-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s