Penangkaran Penyu di Gili Trawangan

Setelah ngadem dan ngisis di tepi pantai buat ngeringin keringat, aku pun beranjak ke target berikutnya, ke sebuah pendapa yang berada tak jauh dari darmaga. Terdapat tiga kotak kaca berukuran 2×3 m di pendapa itu. Ketiga kotak tersebut berisi ratusan penyu dalam berbagai ukuran dan jenis. Yap, tempat tersebut adalah penangkaran penyu yang dikelola swadaya oleh seorang warga lokal yang bernama Pak Marjan. Dia lebih senang mengenalkan namanya sebagai Mario, “Biar lebih mudah disebutnya, kalau Marjan kan susah tu bule nyebutnya” demikian ungkapnya lebih jauh. Pendapa ini masih tampak baru, “Baru selesai dibangun 2 minggu lalu” ujarnya. “Dibangun oleh Garuda untuk mendukung upaya pelestarian penyu di pulau ini, sampai sekarang malah belum ada serah terima dari kontraktor ke Garuda dan saya,” demikian lanjutnya.

CIMG2316

Pendapa baru yang jadi tempat penangkaran

Di bagian depan pendapa, ada sebuah kotak yang disertai papan penjelasan mengenai kegiatan penangkaran tersebut. Kotak tersebut merupakan kotak sumbangan bagi mereka yang ingin ikut serta usaha penangkaran penyu tersebut. Tampak segala jenis pecahan rupiah ada di dalamnya, mulai dari recehan hingga nominal terbesar, ratusan ribu. Bahkan tampak pula beberapa uang asing.

Siang itu, Pak Marjan tampak mencincang ikan segar. Serpihannya kemudian diulurkannya pada dua gadis kecil, bule Autralia yang tampak asyik memindahkan penyu-penyu kecil berukuran tempurung kurang dari 5 cm ke dalam talam-talam kecil. Setiap talam mereka isi dengan 15 – 20 penyu dan kemudian diberi cincangan daging ikan tersebut. Tak lama, penyu-penyu tersebut pun saling memperebutkan daging-daging ikan tersebut. “Kalau tak dimasukkan ke dalam talam, dagingnya akan mengotori kolam, selain itu, belum tentu pula penyu melihatnya, karena besarnya daging tak sebanding dengan luasan kolam” demikian jawab Pak Marjan saat kutanya mengapa penyu harus dipindahkan ke talam.

CIMG2314

Pak Marjan (menunjuk) melayani pertanyaan dari pengunjung penangkaran

Penangkaran ini mulai dilakukan tahun 2001-an. “Kami membeli telur-telur yang ditemukan penduduk di sepanjang pantai Trawangan, kemudian saya tetaskan. Lalu kami pelihara di kolam-kolam ini. Akan dilepaskan jika penyu sudah agak besar, berumur sekitar 8 bulan, seperti penyu yang di kotak sana,” tunjuknya pada sebuah kotak. Jika dilepaskan pada usia tersebut, kemungkinan mereka bertahan hidup mungkin lebih tinggi jika dibandingkan penyu yang lebih kecil. Hmm, pelajaran kesekian yang kudapatkan hari itu.

Ada dua jenis penyu yang berhasil ditangkarkan  oleh Pak Marjan dkk selama ini, yaitu penyu sisik dan penyu hijau.

Chelonia midas

Chelonia midas, penyu hijau

Meskipun cangkangnya berwarna merah dan hitam seperti terlihat pada gambar di atas, namun penyu ini dinamakan penyu hijau karena di bawah cangkangnya terdapat lemak berwarna hijau.

Eretmochelys imbricata-sisik

Eretmochelys imbricata, penyu sisik

Seperti terlihat pada gambar, maka penamaan penyu sisik memang lahir dari tampilan cangkangnya yang tampak bersisik.

Menurut Wikipedia, siklus bertelur penyu bervariasi, mulai dari 2-8 tahun sekali. Dari ratusan telur yang dihasilkan betina, hanya belasan tukik yang berhasil hidup dan kembali ke laut. Hal ini belum mempertimbangkan faktor perburuan yang dilakukan manusia maupun binatang predator penyu lainnya. Seperti yang kita tahu, cangkang penyu banyak dimanfaatkan untuk berbagai macam kerajinan dan dagingnya dapat dikonsumsi oleh manusia. Hal-hal tersebut tentu saja makin mengancam populasi penyu.

Andai saja ada banyak orang yang seperti Pak Marjan ini, di setiap pesisir di Indonesia, tentu populasi penyu di Indonesia tak berada dalam status terancam atau malah punah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s