Curhatan tak berjudul: bagian dari diriku yang mulai belajar memperbaiki diri

Butuh waktu lama bagiku untuk mengenal diri sendiri. Aneh memang.. Tapi yah, memang itulah aku. Di mata orang lain sangat aneh, begitu pula di mataku sendiri.

Selama ini, banyak orang yang menganggapku ekstrovert, karena terkadang aku memang terlihat ekspresif dan cerewet. Aku pun terkadang menganggap diri seperti itu.

Namun lama kelamaan, seiring bertambahnya umur, aku tak mampu lagi berkelit dari jati diri sebagai introvert. Aku harus mengakuinya. Pengakuan ini melahirkan tangis karena tiba-tiba timbul rasa kasihan pada diri sendiri. Ketegaran dan kekuatan yang selama ini kadang terlihat dariku ternyata adalah pelarian dari ketidakmampuanku mengekspresikan apa yang tersimpan dalam hatiku.

Seluruh rasaku, menyangkut cinta, sayang, kasih adalah sesuatu yang susah untuk kuungkapkan, untuk kucurhatkan secara langsung pada orang lain. Begitu pula dengan problem pribadi yang kualami. Daripada memikirkan bagaimana mengungkapkan dan menyelesaikan masalah pribadiku, aku lebih suka menghabiskan energiku untuk melakukan segala kesibukan yang menyita pikiran, otak dan fisikku. Aku lebih suka mendengarkan cerita dari orang lain mengenai mereka dan lingkungannya, daripada harus menceritakan apa yang aku rasa. Jika terpaksa aku berada pada situasi harus menceritakan diriku, maka aku lebih suka menggunakan metafora, daripada mengungkapkannya secara langsung. Aku biasa menceritakan kasus orang lain, objek lain sebagai cerminan dari persepsiku dan rasaku. Dan entah mengapa, ini melahirkan kebahagiaan bagiku. Menjadi pendengar bagi orang lain, tanpa memberikan solusi bagi mereka cukup membuatku merasa dibutuhkan dan mampu mengalihkanku dari mencari solusi atas permasalahanku sendiri. Aku lebih berbahagia memberi arti bagi orang lain (meski bagi orang lain, bisa jadi aku adalah sosok yang tak terlalu eksis) daripada memberi arti bagi diriku sendiri.

Selama ini, ketika aku mencintai seseorang, bukannya berusaha menunjukkan cinta itu padanya, aku justru mencari berbagai kesibukan fisik untuk mengalihkan pikiranku dari rasa itu. Aku membaca, aku menulis berbagai hal yang tak ada sangkut pautnya, aku belajar, aku olahraga sampai benar-benar capek, aku membereskan rumah, aku memasak, dan seterusnya. Daripada memberi perhatian pada orang yang kucinta, memperjuangkan cintau, aku justru menyibukkan diri memberi semangat pada teman yang sedang jatuh cinta. Semua ini kulakukan sebagai pelarian karena memang aku tak punya keberanian menyatakan secara eksplisit. Aku selalu merasa tak pantas untuk memperjuangkannya dan benar-benar tak pede melakukannya.

Hal ini terus terjadi hingga kuliah. Aku tenggelam dalam berbagai kesibukan untuk menghilangkan keinginanku mengungkapkan rasa cinta dan sayang secara eksplisit. Sayang kepada orang tua tak pernah kuungkapkan langsung, aku hanya bisa berusaha yang terbaik di bidang studi, tidak menyia-nyiakan semua kepercayaan mereka padaku. Sayangku pada sahabat tak bisa kuungkapkan langsung selain hanya menjadi pendengar dan suporter sejati baginya. Sayangku pada kakak yang halus perasaannya, tak pernah kuucapkan secara langsung selain dengan memarahinya jika dia mulai cengeng dan mulai merepotkan bapak ibuku dengan segala kemanjaannya. Aku terlihat bagai manusia logis namun minim rasa.

Kini, setelah bekerja, sepertinya Allah benar-benar ingin mengajariku untuk tidak lagi menghindar dari pengungkapan rasa hati. Dia meniadakan segala kesibukan yang selama ini jadi pelarianku. Waktu untuk memikirkan diriku sendiri, apa yang sebenarnya kumau, dilimpahkan-Nya begitu banyak. Aku dijauhkan secara fisik dari orang-orang yang selama ini jadi orientasiku. Terasa bagaikan penyiksaan dan aku butuh waktu adaptasi yang lama untuk ikhlas menghadapinya. Namun lama-lama aku mulai menyadari hikmahnya. Ini semata-mata agar aku mulai deal with my problem. Tidak lagi menghindarinya.

Namun, sungguh.. itu benar-benar sulit. Untuk bisa bercurhat dengan teman mengenai apa yang benar-benar kurasa di hatiku adalah momok terbesar dalam hidupku. Aku masih terus menghindar. Namun lama-lama aku mulai sadar. Melalui tulisan yang kurasakan nyaman sebagai mediaku, aku mulai belajar bercurhat. Namun tetap saja, ada pelarian di sana. Aku masih suka mengungkapkan sosok lain daripada mengungkapkan diriku sendiri. Aku lebih suka mengesankan diriku yang suka berpetualang daripada menceritakan perasaan yang kurasakan. Aku lebih suka mendeskripsikan diriku sebagai sosok analitis daripada sosok sensitif. Aku lebih suka menceritakan diriku gembira, meskipun hatiku penuh duka. Harus kuakui, sepanjang umurku, sebenarnya frekuensi meloku jauh lebih panjang daripada frekuensi tawaku.

Kini, pelan-pelan, aku belajar untuk mulai bisa mengungkapkan sayang secara eksplisit kepada orang tua. Namun kepada teman atau sahabat atau tentang orang yang spesial aku masih belum mampu melakukannya. Terkadang terlontar, terkadang aku sedikit bercurhat, namun lagi-lagi dalam metafora.

Ya Allah, mencoba memperbaiki diri itu memang sulit ya.. Namun, aku tak akan berhenti percaya ya Allah, kau bahwa Kau akan terus merahmatiku, dan tak akan bosan-bosan menuntunku.. Ingatkan aku selalu ya Allah. Aku ingin berubah jadi lebih baik, bagi orang lain maupun bagi diri sendiri.. Aku tak mau lagi mendzalimi diriku sendiri, namun aku juga tak mau jadi egois.. Tuntunlah aku selalu ya Allah..

Bedugul, tepat pergantian tgl 21 November 09

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s