Aromanya Kopi Aroma

Pagi, di hari kedua kunjungan kami ke Bandung, kami bersiap ke toko sekaligus pabrik kopi “Aroma”. Toko tersebut terletak di Jl. Banceuy 51, Bandung. Dari penginapan yang terletak di Jalan Juanda, Dago, kami cukup sekali naik angkot yang menuju St. Hall, lalu berhenti di ujung Jalan Banceuy. Selanjutnya kami berjalan menuju ke toko tersebut. Tidak jauh, sekitar 200 meter. Kami melewati toko-toko yang terkesan tua juga. Jarang ada ruko dengan arsitektur dan cat yang baru. Saat itu, pukul 07.30, aktivitas perdagangan pun sudah tampak ramai.

Maka, sampailah kami di sana. Toko tersebut berada di ujung Jalan Pecinan Lama. Bangunannya juga masih mempertahankan arsitektur lamanya, tampak pada gambar. Di tembok yang menghadap Jalan Banceuy, tercetak nama Aroma Paberik Kopi, tertulis dalam ejaan lama. Maka, masuklah kami ke toko itu. Saat itu, tampak beberapa pengunjung lain sudah berada di dalam toko. Seseorang berujar, “Minta aja masuk ke dalam. Boleh kok.. Biar bisa melihat proses pembuatannya.” Oya, kami pun semakin antusias.

Pabrik dan Toko Kopi Aroma

Sambil menunggu giliran masuk ke dalam, kami mengamati sekeliling, bagian depan toko. Kata seorang teman, “Aduh, kotor amat, debu di mana-mana begini..” Ujarku, “Untuk mengesankan kejadulannya aja kali”. “He… jadul kan cukup diwakili dengan menampilkan alat-alatnya yang jadul. Tapi penampilannya harus tetap bersih dong.” Temanku makin kekeuh. Yap, saran yang semoga didengarkan oleh pemilik toko sebagai perbaikan tampilan tokonya.

Seorang pekerja toko kemudian menanyai kami, apakah kami akan membeli kopi. Tentu saja. Aku memesan 2 kemasan kopi Arabika, yang masing-masing beratnya 0,25 kg. Setiap kemasan dibandrol dengan harga Rp 13.000,-. “Mau yang digiling kasar atau halus, ” tanyanya “Kalau yang halus sudah disaring.” tambahnya. Kemudian seorang pembeli yang lain komplain, “Pak yang ini masih kurang kasar ni gilingannya.” “Baik, akan saya ganti lagi, mo yang gilingan kasar seperti apa,” katanya sambil menunjukkan beberapa kopi yang digiling dengan beberapa tingkat kekasaran. Ternyata, di toko ini kopi baru akan digiling dan dikemas berdasarkan pesanan. Setelah menggiling, Bapak tersebut mengambil kantong kertas, dengan terlebih mengecapnya dengan label jenis kopi, aroma kopi dan label kapan kopi tersebut dikemas. Setelah dikemas dalam kantong kertas, kemudian didobel dengan plastik baru kemudian diklip dengan hekter/strapler.

Tak berapa lama kemudian, Bapak pemilik toko keluar. Seorang bapak keturunan Tionghoa dengan penampilan sederhana, memakai seragam cokelat seperti seragam pekerja lainnya. Senyum mengembang di mulutnya. Dari hasil penelusuran melalui Om google, dikatakan bahwa Pak Widya ini adalah salah satu dosen Fakultas Ekonomi Unpad. Ehm, pantes banyak tuturannya yang menganalogikan pemrosesan kopi dengan tentang sistem perkuliahan.

Dengan munculnya Pak Widyapratama, SE dalam seragam cokelatnya, berarti kami sudah bisa menjelajah ke dalam toko dan pabrik dengan pemanduan darinya. Di awal, beliau menjelaskan bahwa kopi yang diproses di pabrik ini adalah kopi yang telah disimpan sedikitnya 8 tahun untuk jenis Arabika dan 5 tahun untuk jenis robusta. Mengapa demikian ? “Untuk menghilangkan kadar asamnya dan menajamkan aromanya,” demikian jawabnya. Dengan demikian, kami tak perlu menambahkan berbagai bahan kimia dan berbagai essens. Hal inilah yang membedakannya dengan kopi yang ada di pasaran. Kadar asam dan bahan kimia kopi Aroma lebih rendah, sehingga tidak memicu kita sering pipis jika meminumnya. Inilah bedanya dengan kopi yang beredar di pasaran sekarang. “Diminum saat pagi pun aman, tidak akan menimbulkan sakit perut atau sembelit,” tegasnya.

Lalu beliau memaparkan perbedaan kopi arabika dan robusta dari segi pemakaian. Bagi yang mempunyai tekanan darah tinggi sebaiknya menghindari kopi robusta, sebaliknya, sangat dianjurkan untuk penderita diabetes karena rasanya yang lebih pahit. “Kopi robusta juga dapat digunakan untuk meningkatkan vitalitas, bikin melek sepanjang malam dan terutama meningkatkan gairah seks,” ujarnya sambil tertawa lebar. Kami bertiga yang masih lajang langsung nyengir. Hihihi.. ilmu baru ni..

Masih mengenai perbedaan kedua jenis kopi tersebut, menurut Om Google, kopi arabika adalah kopi yang berasal dari Afrika, hanya dapat tumbuh di dataran tinggi. Sedangkan kopi robusta juga berasal dari Afrika, lebih tepatnya dari Kongo, bisa dikembangkan di daerah lebih rendah. Karena lebih tahan hama, maka jenis robusta lebih dominan dikembangkan di Indonesia.

Kemudian beliau pun mengajak kami ke belakang, ke tempat pemrosesan. Di sana tampak mesin pemanggang, berbahan bakar kayu. Pembakaran dilakukan selama 4 jam – 8 jam, berbeda dengan pengoven berbahan bakar gas, yang menghabiskan waktu dua jam saja. Saya tetap pertahankan mesin berbahan kayu, untuk memanfaatkan kayu karet yang sudah tidak produktif, demikian ujar Pak Widya.

Lalu dibawanya kami ke tempat pengeringan kopi di belakang pabrik. Hanya sedikit kopi yang tampak dijemur saat itu. “Ini adalah kopi yang baru dikirim dari petani. Masih tampak hijau kan. Setelah dikeringkan beberapa hari, kopi ini akan dikarung kembali kemudian disimpan dalam gudang di dalam.” Lalu kami diajaknya ke gudang yang penuh dengan karung kopi. Lalu dia pun memberikan kesempatan kami untuk berfoto di dalamnya. “Banyak yang melakukannya karena sangat artistik., Kalian foto saja di sini, trus ntar dimuat di facebook deh..” dorongnya. Hehehe, Pak Widya ternyata kenal facebook juga. Sepertinya dia sadar, bahwa social network dan social blog adalah media yang ampuh untuk mempromosikan pabriknya. Tanpa sadar, orang yang telah berkunjung ke kopi aroma dan mempublish foto atau tulisannya ikut juga mempromosikan produk ini. So, bukan suatu kerugian kan, menjalin relationship dengan pengunjung, menyambut mereka dengan keramahan, keterbukaan dan membawa mereka langsung ke pabriknya untuk menyaksikan langsung proses pembuatan kopinya.

Akhirnya setelah ceklak-ceklik di sana-sini, kami pun berjalan ke luar. Kami tidak mau berlama-lama di dalam pabrik. Bukannya tidak betah karena debu kopi yang beterbangan cukup banyak, tapi di luar sana, pengunjungnya yang menanti giliran masuk ke pabrik juga makin banyak. Kami harus berbagi kesempatan agar mereka juga mendapatkan ilmu dari Pak Widya. Sebelum keluar, aku pun sempat menengok ke dinding atas pabrik yang memajang tiga sepeda onthel. “Lambang 3 generasi yang telah menjalankan bisnis ini sejak 1930,” ujarnya.

3 onthel 3 generasi

Di rumah, kopi Aroma pun saya coba sebagai sarapan. Doping untuk memelekkan mata karena  kebiasaan tidur larut. Dan benar, kopi ini tidak membuatku sering pipis. Kuharap memang bukan karena sugesti, namun karena proses pembuatannya yang dilakukan lebih lama dan alami.

Setiap minum kopi ini, saya jadi teringat pada ujaran Pak Widya pagi itu, “Banyak orang yang beranggapan bahwa usaha saya ini tidak efisien. Namun bagi saya, berusaha tu tidak hanya mengenai hitung-hitungan untung dan rugi. Usaha itu akan kita pertanggungjawabkan setelah kita meninggal, jadi setiap berusaha, prosesnya saya usahakan untuk selalu bersih dan benar, sehingga bisa produk yang dihasilkan aman dan bermanfaat bagi tubuh, bukannya malah memberikan efek negatif.” Wah, jarang-jarang lho, ada yang memegang prinsip seteguh ini. Teladan yang patut ditiru !! Bagaimana menurut Anda..?

Salah satu sudut toko kopi Aroma

salah satu pigura yang menghiasi tembok

Salah satu mesin yang ikut dipajang di bagian depan toko

gudang yang berisi tumpukan karung kopi dari beberapa tahun yang lalu

Kopi yang baru kemudian dijemur di bawah panas matahari

pemanggang berbahan bakar kayu karet

kopi yang sudah dipanggang

Kopi Aroma dalam kemasan kantong kertas yang didobel plastik

Iklan

2 thoughts on “Aromanya Kopi Aroma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s