Menyisir kebesaran Majapahit dari Trowulan

Trowulan adalah nama kecamatan yang terletak di kabupaten Mojokerto. Berada di jalur tengah Jawa, dilewati oleh banyak rute kendaraan Jawa Timur bagian barat, maupun Jatim-Jateng-Jogja, jadi memudahkan untuk diakses.

Aku ke sana, dalam perjalananku untuk eksplor de Jatim. Berangkat dari rumah malam hari, jam 22.30 dan sampai di terminal Bungurasih jam 04.30. Manstab.. dapat jatah bangku paling belakang, yang khusus untuk perokok. Walhasil, semalam tidak bisa tidur karena dinding kaca ruangan tersebut terus berbunyi “glodak-glodak” sepanjang waktu. Hihihi..

Sampai di terminal pas subuh.. so, langsung nyangkut di musholla. Sekalian menyegarkan muka juga. Hihihihi.. Selanjutnya, mencari bis buat ke Trowulan..! Bertanya pada petugas, bis manakah yang sebaiknya diambil, tapi jawabannya kurang meyakinkan. So, mikir dan bermain insting, sepertinya bis yang ke Jogja-Solo, Madiun dan Trenggalek lewat sana deh..! So, langsung saja naik ke sana. Pas membayar seharga Rp 7500,00 kepada kondektur, sambil bertanya, “Lewat Trowulan kan Pak..” dan dijawab anggukan olehnya. Lega.. bisa melanjutkan tidur hingga 45 menit ke depan hingga kernet teriak-teriak Trowulan.. Trowulan.. ! Melek dan langsung berdiri menyandang backpack dan segera turun.

Ternyata aku diturunkan di perempatan kecil  Trowulan. Begitu kaki menginjak tanah, langsung mendapat tawaran dari banyak ojek. Heheh, bingung karena baru melek, so memutuskan untuk mengamati dan mempelajari situasi dulu. Caranya, mampir ke warung kopi yang ada di pinggir jalan. Huehehe, sarapan, menyegarkan mata plus nyari informasi. Ngobrol sana sini ma ibunya, hingga terbukalah celah informasi.

Ternyata, kalau mau ke semua candi dan objek yang terkait peninggalan Majapahit rada susah, karena letaknya yang terpencar-pencar. So, butuh waktu yang lama. Sudah begitu, ga ada ojek yang melayani seluruh paket. Adanya ojek yang mengantar ke candi mana trus ntar ditinggal ma dia. Jadi kalau mau meneruskan perjalanan ke candi selanjutnya, agak susah. Tapi sebetulnya bisa juga sih dinego, tergantung pinter-pinternya kita menawar. Atau, datang saja ke PIM (Pusat Informasi Majapahit) yang sekaligus museum, di sana tersedia juga paket kunjungan ke seluruh objek dan disertai pemandu juga. Tapi, fasilitas itu hanya tersedia saat hari dinas.

Jadi, karena aku datang pas hari libur, saat museum atau PIM sedang tutup, so aku harus mencari alternatif lagi. Untunglah, suami si ibu warung adalah pegawai museum. Jadi dia bisa menemani dan memberikan panduan padaku. Tentu saja dengan memberikan uang ganti bensin dan jasa pemanduan lah ya.. Sip, setelah jam 07.00, bapak itu pun siap mengantar.. Treng..treng.. journey is begin..

Buat pengantar, candi-candi di Trowulan ini berbeda dari candi lain yang ada di Jawa Tengah, yaitu bahannya. Jika bahan candi di Jateng terbuat dari batu kali, maka candi di Trowulan ini didominasi oleh bata merah.

Rute pertama, kita menuju dua candi yang berada di utara jalan raya, yaitu Candi Gentong dan Brahu. Kedua candi ini terletak di desa Bejijong, Kecamatan Trowulan.

CANDI GENTONG

Candi Gentong baru diekskavasi, belum direstorasi, jadi belum banyak yang bisa dilihat. Semua batuannya masih ditumpuk di bawah sebuah gubug.

CANDI BRAHU

Candi Brahu terletak beberapa ratus meter dari Candi Gentong. Candi Brahu sudah lebih enak dilihat dan dinikmati, karena sudah direstorasi, tepatnya pada tahun 1995. Candi ini diperkirakan berasal dari abad 10. Berdasarkan mitos, candi ini adalah tempat perabuan atau pembakaran mayat. Candi Brahu ini diperkirakan merupakan candi Buddha karena ditemukannya benda-benda kuno lain bersifat Buddha di sekitar candi ini.

Berdasarkan penelitian, diperkirakan bahwa ada dua candi lain di sekitar candi ini, yaitu Candi Muteran dan Candi Tengah. Namun, hingga saat ini, keduanya masih belum ditemukan.

Karena tour de Trowulan ini adalah pengisi waktu sambil menunggu kedatangan teman-temanku, maka aku pun tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Setelah mendapat brosur dan mengambil beberapa gambar, aku pun segera beranjak ke candi yang berada di selatan jalan raya, yang terdapat di desa Temon.

PETILASAN PUTRI CAMPA

Dari segaran, sebuah situs berupa kolam luas, yang menurut keterangan dari bapaknya digunakan untuk kora-kora, penyambutan tamu dari luar, kami berbelok ke kiri, ke arah timur. Di sana kami melewati makam/petilasan Ratu Campa. Kata bapaknya, selain di sini, ada pula petilasan ratu Campa yang lain, seperti di Tuban, atau bahkan Sumatera. Aku memutuskan tidak berbelok di tempat ini. Kami langsung beranjak ke Candi Minakjinggo.

CANDI MINAKJINGGO

Sama seperti Candi Gentong, candi ini juga masih dalam tahap ekskavasi, belum direstorasi. Uniknya, candi ini berbahan batu kali seperti bahan candi yang digunakan di Jawa Tengah. Menurut pemandu, candi ini adalah candi persembahan dari Singosari. Hal inilah yang menjelaskan perbedaan bahan tersebut. Beberapa batuan bahan candi tampak disimpan di luar kompleks candi dan hanya dilingkupi kawat duri. “Sudah banyak yang hilang dan ditransaksikan oleh penduduk setempat..” ujar pemandu. “Memang diperjualbelikan buat apa..? ” Ya, masih banyak yang mempercayai bahwa batu peninggalan dari Majapahit tersebut bertuah, memiliki kekuatan magis.” Jawabnya.

Dari sana, kami kemudian beranjak ke Candi Bajangratu. Dalam perjalanan, obrolan kami berlanjut membahas pertanyaan saya mengenai kondisi penduduk sekitar yang sepertinya sudah tidak kental lagi dengan budaya Hindu, mengingat tidak terlihat adanya pura dan bangunan perumahan mereka juga sudah tak ada kesan pengaruh Hindu dan Majapahitnya. Pemandu menyatakan bahwa sebetulnya banyak orang Bali yang memiliki tanah di sini dan berniat mendirikan pura di sini karena merasa bahwa Majapahit adalah nenek moyang mereka, namun hal ini ditentang oleh warga setempat. Minimnya patung dan arca yang masih tersisa di candi ditengarai juga merupakan ekses dari berkembangnya Islam di bekas wilayah Majapahit ini. Diduga, arca tersebut dilenyapkan untuk menghilangkan potensinya sebagai berhala. Di jalan, aku melihat ada beberapa penduduk yang berpakaian seperti penganut Hindu, sepertinya mereka akan melakukan kegiatan peribadatan, entah di mana, aku tak menelisiknya lebih jauh.

CANDI BAJANGRATU

Sampailah kami di candi Bajangratu. Dibandingkan yang lain, sepertinya kompleks ini lebih luas. Menurut pemandu, sebenarnya candi ini adalah gapura, bagian dari gerbang yang pernah melingkupi suatu wilayah. Di tepi taman, tampak sebuah pohon yang sedang berbuah. Buahnya unik, karena ukurannya yang cukup besar. Ketika kutanyakan, ternyata pohon itulah yang disebut pohon Maja. Mungkin karena keberadaan pohon inilah yang mengilhami lahirnya nama Majapahit.

CANDI TIKUS

“Sebenarnya ini adalah bukan candi, namun petirtaan”. Demikian ujar pemandu. Nama tikus sendiri juga diilhami oleh kejadian yang mengawali ekskavasi kompleks petirtaan ini. Wilayah ini adalah wilayah pertanian, saat itu ada serangan hama tikus, dan dilakukanlah gropyokan bersama. Saat diamati, banyak tikus yang keluar masuk dari sebuah gundukan tanah, karena itulah penduduk curiga dan berusaha membongkar gundukan, dan terbongkarlah bahwa ternyata ada situs bersejarah di balik gundukan itu.

Dari petirtaan Tikus kami menuju ke objek selanjutnya, yaitu Candi Kedaton.

CANDI KEDATON

Dinamakan Kedaton karena candi ini terletak di Dusun Kedaton. Sebetulnya situs ini diperkirakan merupakan pemukiman. Hingga saat ini masih pada tahap ekskavasi, sehingga masih ditutup gubug pelindung. Penggalian masih tampak dilakukan di beberapa bagian. Di sana-sini tampak kita temukan sisa sesajen. Tampaknya situs ini lebih kental suasana magisnya disbanding situs yang lain.

Di situs ini ditemukan dua sumur, keduanya berbentuk persegi. Salah satunya terdapat di luar gubug dan masih tampak fungsional. Sedangkan yang lain sumur upas, terdapat di dalam kompleks. Sumur ini disebut sumur upas karena ada orang yang meninggal di dalamnya. Saat saya di sana, di atas sumur upas tampak ada seseorang yang sedang melakukan ritual laku. Tak mau mengganggunya kami pun segera pergi ke sisi lain.

Menurut pendapatku pribadi, agak susah untuk membayangkan sebenarnya apakah situs ini. Jika dikatakan situs ini adalah pemukiman, bilik dan celah-celahnya tampak terlalu sempit, untuk ukuran sekarang, apalagi untuk ukuran zaman dahulu, di mana fisik manusianya diperkirakan lebih besar dari ukuran kita sekarang. Hehehe, tapi itu pendapat pribadiku sebagai orang awam sih..🙂. Setelah dari Kedaton, aku pun menuju Tralaya.

TRALAYA

Tralaya adalah pekuburan muslim pertama di wilayah ini. Di belakang tralaya, ada sebuah kompleks kuburan umum, tapi ada buah cungkup di sana. salah satunya adalah makam Kenconowungu, sedangkan cungkup di belakangnya adalah makam abdi dalemnya.

Dari Tralaya, saya kemudian ke museum atau yang sekarang disebut PIM (Pusat Informasi Majapahit).

PIM (Pusat Informasi Majapahit)

Di halaman belakang, nampak tiang-tiang pancang yang pembangunannya sempat menjadi kontroversi nasional karena merusak situs yang ada di bawahnya. Saat ini pembangunan memang sudah dihentikan, kabarnya akan diambil oleh pusat, demikian tutur pemandu.

Di museum, kita dapat melihat banyak arca dan berbagai barang peninggalan lain yang ditemukan di sekitar situs. Saat aku di sana, ada kunjungan studiwisata murid-murid SD. Mereka tampak antusias mencatat dan mengelilingi semua yang dipamerkan di sana. Kegiatan yang patut ditiru oleh siswa dan penyelenggara sekolah-sekolah yang lain !

Yang terkesan dari kunjunganku ke Trowulan ini adalah, setiap candi ini ditata dengan taman-taman yang cantik. “Kebijakan dari Pak Made, kepala PIM yang periode lalu. Beliau minta setiap candi ada tamannya dalam waktu 6 bulan”. Wow,  kebijakan tangan besi, tapi efeknya memang memperindah lingkungan candi yang terlihat cukup gersang itu. Tinggal menunggu waktu, pohonnya menjadi besar dan menciptakan kesan adem.

Tambahan : Menurut pemandu, sebenarnya ada tiga dasar penamaan candi di daerah tersebut, pertama adalah mengikuti nama desa, kedua mengikuti mitos yang berkembang seputaran candi, semisal candi Bajangratu, ketiga mengikuti kejadian unik yang terjadi saat penemuan candi, semisal candi Tikus.

Pohon Maja dan Buahnya yang mungkin menginspirasi lahirnya nama Majapahit

Seorang siswa sedang mengumpulkan data dan infomasi di museum

Makam Tralaya

Petirtaan Tikus

kompleks Candi Gentong

Candi Brahu

Candi Minakjinggo

Candi Bajang Ratu

4 thoughts on “Menyisir kebesaran Majapahit dari Trowulan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s