Berkelana.. Mengapa ?

*Hahaha, jadi kayak lagunya Rhoma Irama atau mengingatkan pada istilah jadul, kembara berkelana ya..

“Gila, enak banget ya kamu.. Libur dan keliling terus..” begitulah ujar teman-temanku ketika tahu aku sedang menjelajah ke suatu tempat. Sebagian yang lain menganggap kegiatanku ini adalah bukan masanya lagi, “percum ga bergun”, mending duitnya dipakai buat investasi ato makan biar badanmu ga kurus atau beli barang-barang. Lebih kelihatan.

Kalau aku, untuk amannya, lebih suka menggunakan kata “mumpung” sebagai alasan. Karena banyak orang pula yang membenarkan alasan ini. Seorang penjahit di Banyuwangi yang kumintai tolong untuk memotong celana sebelum kubawa ke Bromo pernah berujar, “Iya, mumpung masih single, sebaiknya kamu memang sempatkan waktu untuk berjalan-jalan seperti ini, karena itu tak bisa lagi kamu lakukan jika sudah berumahtangga. Andai saja aku dulu sempat melakukannya..”. Mukanya tampak menerawang. Tak hanya sekali dua kali ini ucapan tersebut terucap dari orang yang kutemui, terutama perempuan. Bukannya menafikkan kemungkinan seorang perempuan untuk berkelana setelah berumahtangga ya, karena hal itu akan mudah saja dilakukan, oleh mereka yang berkelimpahan rezeki. Namun tentu saja kenikmatannya berbeda. Tanpa kujelaskan pasti pembaca sudah bisa merincinya.

Selain kata mumpung tadi, ada beberapa alasan lain. Jika merujuk pada sebuah sms curhat yang kukirimkan pada seorang teman, pola libur seseorang tu dipengaruhi oleh pola pekerjaannya. Jika pekerjaan sehari-harinya berat dan keras secara fisik dan psikis, maka dia akan memilih beristirahat saat liburnya. Jika pekerjaan sehari-harinya santai dan membosankan, maka liburannya akan diisi dengan mencari hiburan dan pemacu adrenalin lainnya. Hehehe, asumsi tersebut bisa saja disanggah karena itu adalah opini pribadiku 🙂

Selain itu, ada pula alasan narsis, yaitu keinginan untuk pamer bahwa aku berhasil mengunjungi tempat yang belum dikunjungi orang lain. Hahaha.. Mau tidak mau, diakui atau tidak, alasan ini pasti juga dimiliki oleh berjuta-juta traveller di luar sana. Hahaha, mencari kawan ni..

Di luar alasan-alasan tersebut, alasan paling penting bagiku adalah belajar. Berkelana adalah mediaku untuk belajar berbagai hal, tentang manusia, lingkungan, interaksi dan peradabannya. Selalu terngiang dalam benakku, ujaran dosen dalam satu mata kuliah. “Kita tidak akan objektif, sensitif dan peka melihat sesuatu yang sudah biasa kita lihat kecuali jika kita melihatnya dari luar lingkungan. Kecuali jika kita menempatkan diri sebagai outsider.” Dan hal itu kuyakini benar dan telah kubuktikan. Aku bisa melihat perspektif yang beda dari satu objek yang sudah sering kulihat, ketika melihatnya dari luar, ketika aku tidak lagi melihatnya untuk beberapa saat. Hal itulah yang menjadi dasar kenapa aku sering berkelana, bepergian.

Nenek yang ada di sekitarku tampak biasa saja. Namun ketika aku bertemu dengan seorang nenek yang masih bekerja keras di usia tuanya dalam suatu perjalananku, maka persepsiku pun berubah. Aku melihatnya sebagai sosok yang patut diteladani.

Kosanku yang ada di pinggir jalan membuatnya jadi sasaran empuk salesman berbagai produk. Tiap hari, ada saja yang datang, membuatku kesal dan terganggu. Namun dalam perjalanan, aku melihat seorang sales yang tampak kuyu, berjalan di siang yang terik menjajakan produknya. Berkilo-kilo meter dia tempuh, bisa jadi, tak satu pun produknya yang terjual. Bagaimana jika itu terjadi tiap hari, bagaimanakah dia akan makan, bagaimanakah nasib keluarganya. Itu tiba-tiba terlintas dalam pikiranku dan kemudian memunculkan empati, salut dan yang jelas adalah syukur.

Syukur adalah pelajaran yang kudapatkan dari setiap perjalanan. Aku dipertemukan dengan banyak sosok, dengan banyak fakta sederhana yang kemudian seolah membalikkan semua pola pikirku yang rumit. Yang juga menyadarkan bahwa posisiku jauh lebih baik dari ribuan atau jutaan makhluk di luar sana.

Alasan krusial berikutnya adalah, berkelana jadi alatku untuk berbagi. Dari berkelana, biasanya akan muncul banyak ide dan tulisan yang bisa kubagikan pada pembaca. Ada banyak informasi, data penting maupun tidak penting yang bisa kuberikan. Yap, dari dulu aku berkeyakinan bahwa tulisanku adalah warisanku, pada anak cucu dan pembaca tentunya.

Uraianku ini tak ingin mempengaruhimu untuk sering berkelana sepertiku. Bukan sama sekali bukan. Aku tak berharap semua akan setuju dengan pendapatku. Aku hanya berharap, kalian mendoakanku agar bisa berkelana sesering mungkin, sehingga tulisan-tulisan akan terus mengalir, bahkan terus mengalir meskipun aku tak lagi berkelana :). Aku juga berharap kalian mendoakanku untuk segera menemukan partner berkelana, karena berkelana sendirian tu kurang menyenangkan :). Doakan aku ya..
(hehehe, maaf kalo ujungnya malah himbauan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s