ke Bandung Naik Kereta Api.. tut..tut..tut.. Siapa Hendak Turut..

Sudah lama aku ga naik kereta.. Kereta yang kumaksudkan di sini adalah kereta jarak jauh, selain KRL Jakarta-Bogor atau KRL Jakarta-Bekasi yang masih sering aku naiki setiap ada jatah perjalanan ke Jakarta. Terakhir naik kereta adalah saat ke Jogja bersama teman-teman di semester 6. Wah, itu sudah bertahun-tahun yang lalu ! Perjalanan yang penuh kenangan. Kerinduan ini akhirnya membuatku mencobanya kembali dalam perjalananku ke Bandung bersama dua teman, November lalu. Perjalanan pertama, dengan kereta bisnis Parahyangan, sedangkan perjalanan pulang dengan kereta eksekutif Argogede.

Rencana perjalanan dengan kereta membuatku begitu antusias pagi itu. Saking antusiasnya, aku pun memutuskan naik KRL dari Rawabuntu ke Tanah Abang, anggaplah sebagai pemanasan. Melewati Tanah Abang tentu saja mengingatkan pada kenikmatan belanja. “Dewi, bukan sekarang saatnya !” Begitu batinku mengingatkan. Kami pun melempengkan tekad segera bergerak ke stasiun Gambir. Setelah tawar menawar, segera meliuk-liuk di atas dua roda bersama pengendara tangguh, tukang ojek. Sampai di Gambir, menoleh, hiks, Monas menanti. Ahh, sudah lama sekali aku tak mengunjungi monumen tertinggi di Indonesia itu. Namun jam tangan kembali dilirik. Aih, tak cukup waktu. Segera menuju ke stasiun kafe, tempat teman yang lain menunggu. Waktu yang tinggal sebentar pun kami lewatkan dengan sarapan. Lho, bukannya setelah sholat Ied tadi aku sudah makan.. Hehehe, kebiasaan lama, antusiasme terhadap perjalanan yang akan kulakukan memang berkorelasi positif dengan nafsu makan :-).

Segera kami pun naik ke kereta Parahyangan yang sudah standby di jalur 4. Yuhuuu.. perjalanan akan segera dimulai. Kami mencari gerbong dua, bangku di mana kami harus duduk. Cari-mencari, ternyata bangku itu ada di barisan paling belakang. Tapi weits.. kok sudah ada orangnya. Haduwh, kami yang salah atau mereka yang menyerobot ni.. Pas ada pramugara kereta lewat, segeralah kami bertanya. Owh, ternyata itulah bangku kami dan penumpang sebelumnya telah salah gerbong. Hah, lega, tak perlu memulai perjalanan tersebut dengan berdebat dengan orang lain.

Aku duduk bersama teman, sedangkan teman yang satu lagi terpaksa duduk dengan orang lain, resiko ganjil ni.. Kami pun segera menghabiskan perjalanan dengan curhat, sharing mp3, sharing makanan dan molor.. Hmmm, udara panas ternyata membuat ngantuk juga ya..

Baru sadar, ternyata banyak orang yang berdiri di gerbong ini. Sepertinya tak hanya di gerbong ini, tapi juga di semua gerbong. Saat itu memang liburan, jadi sepertinya banyak orang yang berpikiran sama dengan kami, berlibur ke Bandung. Untunglah kami memesan tiket sehari sebelumnya, jika tidak, nasib kami akan sama seperti mereka, berdiri selama hampir 3 jam. Herannya, harga tiket berdiri yang mereka bayarkan tu sama nominalnya dengan tiket duduk kami. Tragisnya, mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk menyewa bantal tempat duduk. Wah-wah, kok bisa ya.. PT.KAI mengeluarkan kebijakan tiket yang timpang begini. Jangan tanya padaku ya, karena aku pun tak tahu :-). I’m just feel so lucky at that time.. !

Pemandangan sepanjang perjalanan memang sungguh memukau. Jalur kereta ini ternyata membelah pedesaan, jauh dari pusat kota, jadi hijau pun mendominasi pemandangan. Wah, senengnya.. sepertinya perjalanan kereta memang lebih tepat dilakukan saat matahari masih bersinar. Banyak yang bisa dinikmati.

Karena kelas bisnis, maka kereta ini pun mampir ke beberapa stasiun. Pemandangan bangunan kuno pun menghiasi mata. Oh, nice.. Jika mau memperhatikan, jalur kereta yang dominan berada di tempat terpencil ini sepertinya adalah jalur yang terbangun sejak zaman Belanda. Membayangkan beribu-ribu manusia yang telah bekerja untuk membangunnya ratusan tahun lalu, aku jadi miris. Pasti semua dilakukan dengan kerja paksa. Banyak nyawa yang mungkin dikorbankan untuk pembangunan jalur ini. Huiks.. Tanpa mereka, mungkin kita tak bisa menikmati perjalanan ke Bandung ini, mengingat jalur kereta baru yang jarang dibuka oleh pemerintahan Indonesia.

Akhirnya, sampailah kami di stasiun Bandung. Nice, stasiun yang cukup apik, ada taman di dalamnya, parkirnya pun luas. Coba bandingkan dengan stasiun yang ada di Jakarta atau Bogor.. huifp.. Keluar stasiun akan langsung disambut dengan kemacetan. Hahaha.. Terlambat 15 menit dari jadwal seharusnya. Hmmm, masih bisa ditolerir !

Beginilah interior dalam gerbong

Singkat kata, perjalanan pulang pun kembali dengan kereta. Namun kali ini kami memilih kereta eksekutif, argogede. Satu, karena jadwal keberangkatannya berdekatan dengan waktu pulang kami. Dua, ingin mendapati sensasi kenyamanan yang berbeda dengan selisih harga yang tidak begitu signifikan Tadinya aku berharap, akan menghabiskan perjalanan ini dengan tidur. Tapi ternyata oh ternyata, perjalanan pulangnya tak kalah menawan dengan perjalanan berangkat. Memang sih, tak banyak stasiun dan bangunan kunonya yang kami hampiri, namun pemandangan yang menghijau di sepanjang perjalanan, suasana pedesaan dan persawahan, ngarai-ngarai yang curam dan jembatan yang begitu kokoh di atasnya dan terowongan yang membelah bukit benar-benar memukau dan menyingkirkan rasa ngantuk itu.

Tak tahu dengan kereta lain, tapi kereta argogede ini sepertinya dirancang untuk kereta wisata. Di sepanjang penghentian atau tempat-tempat yang penting, pramugara melalui speakernya akan mendeskripsikan tempat-tempat yang dianggap unik, sebagai contoh terowongan atau jembatan yang terpanjang pada jalur itu. Kapan terowongan tersebut dibuat, siapa arsitekturnya, dan berbagai detil lainnya. Uniknya, deskripsi ini pun tersedia dalam bahasa Inggris. Selain itu, sepanjang perjalanan ada beberapa souvenir khas Bandung yang ditawarkan oleh pramugaranya. Jadi, jika kelewatan membeli oleh-oleh di Bandung, kamu bisa membelinya di sini. Ada berbagai macam produk, mulai dari kaos

Jurang yang begitu curam.. untuk melewatinya dibangunlah sebuah jembatan kokoh di atasnya. dibangun sejak Belanda

hingga snack. Warung souvenir ini pun sekarang juga tersedia di stasiun-stasiun tertentu, misal di Bogor.

Selain itu, di kantong kursi pun tersedia majalah yang membahas kereta api, PT. KA dan perkembangannya. Hampir sama dengan majalah yang tersedia di pesawat tertentu, seperti Garuda dan Lion. Sayangnya, yang ini bukan personal copy, hanya boleh baca di tempat. Hahaha, mungkin aku memang punya bakat “ngutil” kali ya, akhirnya personal copy magazine itu pun berpindah ke tasku. Aku hanya diam saat di kereta. Tapi saat turun, aku segera menunjukkan pada teman dan komentar mereka, “Malu-maluin, awas ya kalau ketahuan.. ga takakuin jadi teman..” “Hahaha, guys, chill.. yang kuambil ni edisi yang telah lewat kok.. Ini kan bulan November, sementara majalah ini edisi bulan September.. Daripada diloakkan, kan mending kupelihara. Just pembenaran, bagaimana pun juga perilaku tak beradab ini jangan ditiru ya.. 🙂

Aku merasa bahwa majalah ini memang patut kupelihara karena menyajikan informasi yang jarang bisa kuakses: tentang rute kereta, bagaimana pemesanan tiket secara online dan sebagainya. Juga mengenai sejarah stasiun di Indonesia yang sebagian besar memang peninggalan dari zaman Belanda. (aku punya ketertarikan sendiri terhadap bangunan kuno, entah kenapa..). Selain itu, aku juga jadi tahu beberapa terobosan yang telah dilakukan KAI dalam meningkatkan layanannya. Peningkatan layanan dalam kereta eksekutif seperti yang dilakukannya di KA. Argogede ini, pembukaan jalur baru, pembangunan rel ganda dan pengaktifan kembali jalur mati. Aku pun jadi tahu bahwa ternyata ada juga komunitas pecinta kereta api. Terkadang, mereka terlibat aktif dalam pemeliharaan kereta termasuk dengan jalur-jalurnya. Hmm, benar-benar informasi baru ! Aku jadi sedikit tahu, bahwa keterlambatan kereta salah satunya diakibatkan oleh ramainya lalu lintas kereta, sementara jalur yang ada cuma segitu-gitunya. Tak ubahnya jalan tol. Panjang jalannya cuma segitu, tapi yang melewatinya seabreg..! Hal ini wajar terjadi terutama saat lebaran, waktu yang sangat sibuk bagi KAI.

Beruntungku, karena mengawalinya dengan antusiasme maka perjalanan kali ini pun lancar dan tepat waktu ! Benar-benar ga ada telat.. 🙂 Jarang-jarang KAI bisa tepat waktu.. hahahah.. Semoga prestasi ini bisa terus dipertahankan.

Turun di stasiun Gambir, aku pun melanjutkan perjalanan ke Bogor, kembali dengan kereta. Hahaha, I’m so in love with the train ! Berlari mengejar tiket karena di monitor dikatakan bahwa kereta AC ke Bogor tinggal 5 menit lagi. Haiyyah, jalur 3 mana ya.. what.. naik ke atas.. hufp..hufp.. melompat ke dalam kereta sesaat sebelum pintunya ditutup. Hah, lega.. saatnya tidur.. Lho kok.. Iya, bagiku jalur KRL Jakarta Bogor ini sudah terlalu membosankan, hanya membelah perumahan dan pemukiman. Kalau pun mau mencari hiburan, ya amati saja orang di sekeliling. Hahaha, pasti ada saja yang aneh, unik dan spesial ! Senja itu, di seberang tempat dudukku, tampak dua awak kapal yang baru saja berlabuh. Mereka saling berbagi tentang pengalaman masing-masing, yang satu dari kapal Sumatera, yang satu kapal pesiar dari luar. Hahaha, iseng kudengarkan saja obrolan mereka. Akhirnya ga jadi tidur ! Heheheh..

Overall, pendapatku pribadiku, aku lebih suka pembangunan transportasi darat di Jawa lebih ditekankan pada pembangunan dan pengembangan kereta, bukan jalan raya. Alasannya adalah efisiensi. Kereta lebih memuat banyak penumpang sehingga penggunaan bahan bakar pun bisa ditekan. Pembangunan jalur baru juga tidak banyak memakan lahan seperti jalan tol yang selalu bermasalah dengan pembebasan lahan.

Ya sih, hingga sekarang pelayanan PT. KAI saat ini masih segitu-gitunya, keterlambatan selalu terjadi demikian pula dengan kecelakaan, kekurangan pelayanan juga masih terjadi di sana-sini, keamanan dalam kereta juga masih diragukan. Namun, aku berharap, seiring dengan kepercayaan konsumen, pelayanan ini akan terus ditingkatkan. Dan harus ada kebijakan dari pusat untuk lebih mementingkan pengembangan moda transportasi ini dibandingkan moda transportasi darat lainnya. Bagaimana menurutmu.. ?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s