Mayar dari Jogja : Keberhasilan dari Segala Keterbatasan

Gegaraning wong akrami, dudu bandha dudu rupa, amung ati pawitané..

Itulah sepenggal lirik tembang macapat Asmaradana yang menjadi ilustrasi film indie “Mayar dari Jogja”. Film ini diproduksi oleh fourcolours yang beranggotakan empat pemuda Jogja: Eddy, Ifa, Rina dan Aji. Film ini berhasil memenangkan SET Award kategori penata kamera dan penata artistik terbaik pada Festival Film Video Independen Indonesia IV. Festival ini diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2002.

Pemilihan tembang Asmaradana sebagai ilustrasi merupakan penegas bahwa latar film adalah Jawa (Jogja) dan tema film adalah cinta. Selain itu, lirik tembang ini juga selaras dengan jalan cerita di mana sang protagonis lebih memilih berkencan dengan pemuda yang tampak culun dan sederhana daripada pemuda yang lebih tampan dan kaya.

VCD “Mayar dari Jogja” ini adalah bonus yang terselip dalam buku yang berjudul sama. Buku ini disusun oleh seorang penulis dari Jakarta dan tiga penulis dari Jogja. Dua diantaranya terlibat langsung dalam produksi film Mayar, namun mereka bukan anggota fourcolours.
Buku ini disusun dengan nuansa Jogja yang sangat kental, mulai dari dialog hingga detil latarnya. Hal inilah yang akan membawa pembaca untuk lebih mengenal dan mengingat kembali Jogja.

Buku ini menceritakan tentang bagaimana fourcolours mewujudkan mimpi mereka: membuat film. Keraguan di awal dan keterbatasan modal tak membuat mereka patah arang. Mereka saling menguatkan dan melakukan berbagai usaha: syuting pengantin, berjualan boneka dan roti. Dengan kerja bakti dan modal patungan, akhirnya mereka pun berhasil membuat film itu.

Keraguan dan kebingungan ternyata tak hanya muncul di awal, namun juga ketika film selesai dibuat. Ini film mo diapain. Kalau dijual ya dijual ke mana, dengan harga berapa, wong durasinya juga hanya sekian menit. Memang ada yang mau beli gitu. Terus kalau dijual murah, bisakah menutup biaya produksi? Itulah beberapa pertanyaan yang terus menghantui mereka.

Akhirnya dengan jaringan pertemanan, mereka mengedarkan filmnya dari kampus ke kampus melalui nonbar. Selain itu, mereka pun mengirimkan film tersebut ke sebuah festival.

Setelah film dikirimkan, kegamangan kembali terjadi. Mereka diundang untuk menghadiri festival tersebut. Mereka merasa ga pede karena banyak kritik yang mereka terima selama pemutaran film itu di Jogja. Belum lagi, mereka juga tak punya biaya untuk ke Jakarta. Hahaha, kreativitas pun kembali digunakan hingga sampailah mereka di IKJ, tempat festival tersebut diselenggarakan. Hasil manis akhirnya mereka dapatkan.

Sebenarnya, Mayar adalah karya ketiga fourcolours. Sebelumnya, mereka telah berhasil membuat film “Di antara Masa Lalu dan Masa Sekarang” dan “Air Mata Surga”. Setelah Mayar, mereka juga berhasil membuat “Bedjo van Deerlak.” Ketiga film-film tersebut juga mendapatkan beberapa penghargaan dalam berbagai ajang. Thriller dua film awal fourcolours ini juga terdapat dalam VCD bonus.

Meskipun menyelipkan guyonan di mana-mana, sebenarnya apa yang ingin disampaikan buku ini sangat serius. Untuk mewujudkan ide dan mimpi, sesederhana apa pun itu, dibutuhkan kerja keras, kreativitas, persahabatan, jaringan (dan kenekadan). Mereka, fourcolours, berhasil membuktikannya. Beranjak dari penikmat film ke produsen film. Bagaimana denganku, bagaimana denganmu ? Maukah seperti mereka, beranjak untuk berproduksi daripada sekedar mengkonsumsi ?

Bedugul, setelah hujan 7 Jan 010, diketik dengan hp
-dewi-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s