Wedhang Cemoei yang Memuai karena Pemanasan Global

Akhir pekan, kring..kring.. Halo, lagi ngapain bu.. Tanyaku. “Lagi ada arisan di rumah.” Hmm, tak mungkin tak ada masakan yang dihidangkan di meja. “Apa menunya..?” selidikku. “Lontong opor dan wedang cemoe. Habis semua, tak ada pun yang tersisa di piring dan gelasnya.” Haduwh, membayangkan lontong opor buatan ibu yang paten rasanya perut langsung engkruk-engkruk. Plus hangatnya wedang cemoei yang pas banget untuk menghangatkan badan saat hujan begini, haduwh, ingin rasanya segera pulang ke Pati.

Iseng, menuliskan isi percakapan telepon tersebut sebagai status di fb. Muncullah tanggapan, “aduh, wedang cemoei tu apa ya”. Beberapa teman dari Pati pun segera berkomentar, “Wah, sudah lama tak pernah minum wedang cemoei lagi.” Kupikir, Anda pun akan melayangkan pertanyaan yang sama. Apa itu wedang cemoei..?

Jujur, selain yang dibuat oleh ibuku, maka wedang cemoei ini terakhir kubeli dari seorang penjaja keliling di pelataran RSPD Pati. Saat itu, aku masih kelas 3 SD, diajak menonton wayang oleh mbahku. Berarti hampir 18 tahun lamanya. Wow..

Wi, deskripsi itu belum menjawab pertanyaan apakah wedhang cemoei itu.. Hehehe, sabar atuh.. Jadi begini, wedhang cemoei adalah wedhang berisi santan gula jawa plus jahe dan irisan kelapa muda (gemothok) berbentuk persegi panjang. Rasanya, tentu saja anget plus krenyel-krenyel (saat mengunyah kelapanya). Pas banget buat penghangat badan di saat hujan.

Aku tak bisa mengklaim bahwa wedhang ini hanya ada di Pati karena sekarang saja sudah tak bisa ditemui di warung. Namun wedhang dengan konten irisan kelapa itu juga belum pernah kutemui di kota lain. Bisa jadi, sudah bertransformasi dengan nama lain, dengan konten yang berbeda pula. Seperti ujar temanku di Kudus, “Di sini, ada juga wedhang santan gula jahe, namun tidak ada isinya. Disebutnya wedhang blung. Aku juga tak tahu, kenapa disebutnya seperti itu.”

Kenapa sekarang nggak ada lagi ya..” tanya seorang teman. Asal aku pun menjawab, mungkin karena Pati sudah terlalu panas. Jadi warganya lebih membutuhkan es degan, es dawet, es gempol, es teler, es campur atau pun es buah.

Jawaban tadi tentu saja asal. Tapi jadi membuatku berpikir. Sepertinya, pemanasan global tak hanya menaikkan suhu, melelehkan salju, menaikkan permukaan air laut, namun juga menyeragamkan jenis minuman yang kita dambakan, menjadi es-esan. Akibatnya, minuman tradisional semacam wedhang cemoei ini pun menghilang. Hahaha, benar-benar kesimpulan asal memang.. 🙂

Kalau di tempat Anda bagaimana.. Adakah minuman tradisionalnya yang melenyap sebagai akibat global warming..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s