Pakdhe Karim dan HP-nya

Au..ho..ho..aa..iu..brrr.. Eh, apaan tu.. Itulah suara yang keluar dari mulut Pakdhe Karim ketika sedang menelpon. Kalimat yang mengalir tak henti-hentinya setiap malam, hampir selama sejam, bahkan kadang hingga dua jam.

Pakdhe Karim adalah tuna wicara sekaligus tuna rungu yang bekerja pada bengkel las, di sebelah kontrakanku. Usianya paruh baya, karena itulah kami memanggilnya pakdhe.

Aku tak tahu, bagaimana ceritanya hingga dia membeli sebuah handphone. Pastinya, dia juga ingin berkomunikasi dengan saudara/temannya yang berada jauh di sana. Sama seperti kita.

Setiap malam, hp itu pun digunakan, entah untuk menghubungi siapa. Kadang, ketika di loudspeaker-kan, terdengar suara anak kecil di seberang sana. Dalam setiap panggilan lewat hp tersebut, kudengarkan bahwa pakdhe akan terus bicara tanpa mendengarkan apa respon dari penerima telponnya. Jadi dapat disimpulkan, sebenarnya tak ada komunikasi yang terjalin di antara keduanya.

Namun demikian, pakdhe tetap rutin melakukan panggilan. Kadang, teman-temannya iseng, ketika dimintai tolong pencetin no si ini, maka yang dipencetkan adalah no layanan bebas pulsa operator. Pakdhe yang ga ngeh pun (karena dia juga tuna rungu) dengan pedenya pun langsung bercerita begitu hp itu diulurkan kembali padanya. Dia mulai bercerita dengan suara khasnya yang kencang itu. Lama, bahkan kemudian sampai menangis tersedu-sedu. Mungkin dia sedang bercurhat tentang apa yang dirasakannya saat itu. Sungguh trenyuh melihatnya.

Sayang, pakdhe Karim tidak bisa baca tulis. Dia tidak pernah sekolah. Andai dia bisa menulis dan membaca, tentu fungsi hp-nya lebih optimal. Apa curhatannya bisa dituliskan lewat sms. Dengan demikian, bisa dimengerti si penerima dan pakdhe pun bisa membaca bagaimana respon mereka terhadap sms-nya itu.

Bahkan, jika pakdhe bisa membaca dan menulis, mungkin dia akan bisa menyaingiku menulis di kompasiana. Pikiran dan uneg-unegnya bisa dibaca dan dimengerti oleh banyak orang !

Yap, di lingkunganku selama ini, banyak orang kurang sempurna seperti pakdhe Karim yang tidak dapat mengenyam pendidikan. Pertama, karena mereka dianggap tidak memerlukannya. Kedua, sekolah khusus untuk mereka kadang susah diakses, baik secara fisik maupun materi. Terkadang, lokasinya hanya di kota, jadi bagi yang berlokasi di desa, hal ini tentu saja dianggap menyusahkan.

Kita sering terlupa bahwa pendidikan memang wajib dilakukan dan diterima setiap manusia tanpa kecuali. Itu adalah hak yang melekat padanya sejak lahir. Tak peduli fisik dan mentalnya sempurna atau tidak. Justru, ketika kita terlahir kurang sempurna, maka kita lebih berhak memperoleh pendidikan. Karena dengan pendidikanlah, potensi yang mungkin tidak kita sadari bisa berubah jadi kekuatan kita.

Tayangan Kick Andy berbulan-bulan yang lalu mengingatkan hal ini. Mereka yang fisiknya tidak sempurna mampu berprestasi, bahkan melebihi prestasi kita yang fisiknya sempurna. Semua terjadi karena pendidikan !!

Yap, pendidikan memang kunci segalanya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s