Butet Manurung, “Pekerja” untuk Mereka yang Terpencil

Tulisan ini terinspirasi oleh sosok altruistik “Butet” Manurung. Profil dan perjuangan gadis yang bernama lengkap Saur Marlina Manurung ini kutemukan dalam buku berjudul Sokola Rimba Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba. Buku ini ditulisnya sendiri untuk berbagi pikiran mengenai apa yang bisa dilakukan untuk komunitas terpencil.

Apa yang dituliskannya di buku tersebut bukan sekedar konsep, namun lahir dari pengalaman empiris selama 1999-2006, ketika menjadi fasilitator pendidikan sebuah LSM di Jambi. Pada periode tersebut, ia berjuang untuk memberikan akses baca,  tulis dan hitung pada Orang Rimba.
Seorang perempuan Batak yang terbiasa dalam gebyarnya hidup di kota besar Jakarta dan Bandung berhasil mencemplungkan diri ke dalam komunitas yang berkelana di tengah hutan. Komunitas yang selama ini masih ‘hidup seadanya’, mengandalkan apa yang tersedia di hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Bukan mengeksploitasinya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, seperti konsep HPH yang selama ini kita tahu.

Alih-alih datang sebagai orang kota modern, yang biasa hidup di Jakarta dan Bandung, Butet malah meleburkan dirinya sesuai dengan nilai-nilai, adat dan kebiasaan yang dipegang komunitas lokal. Ia menjalankan kehidupan layaknya bagian dari komunitas. Butet menggunakan kain selayaknya perempuan Rimba dalam kesehariannya. Mandi di sungai bersama mereka, makan makanan “ekstrim” bersama mereka, mengikuti kehidupan berpindah-pindah dari sisi hutan yang satu ke sisi yang lain, dan seterusnya.

Jalannya tak selalu mulus. Pasti. Di awal saja, dia harus menghadapi keraguan dari rekan setim, mampukah dia melaksanakan tugasnya. Kemudian, saat mencoba menyatukan diri dengan komunitas lokal ia pun berkali-kali menghadapi penolakan, pengucilan. Sering sekali ia ditolak perempuan lokal karena dianggap bisa merebut suami mereka. Sering kali pula ia mendapat stigma negatif bahwa dirinya mengandung kekuatan kotor yang mendatangkan penyakit bagi komunitas tersebut.”Bukan hal yang mudah” kata Butet yang sarjana antropologi sekaligus sarjana bahasa dari sebuah universitas negeri di Bandung.

Ketika penerimaan masyarakat lokal perlahan-lahan didapatkannya, tantangan berikutnya adalah bagaimana mengajari anak-anak Rimba membaca, menulis dan berhitung. Ini adalah kemampuan dasar yang dibutuhkan oleh orang Rimba saat harus berinteraksi dengan penduduk di luar hutan. Dalam interaksinya selama ini, mereka sering kali tertipu, terutama saat harus menjual hasil bumi mereka. Berapa pun yang mereka bawa, uang yang mereka dapatkan sama saja.

Mengajari anak Rimba yang tak pernah mengenal alat tulis semacam buku, pensil, rautan pensil bukanlah hal yang mudah. Metode konvensional yang berlaku di sekolah formal tak bisa diterapkan di sini. Mereka mudah bosan. Butet pun terus bersabar dan terus mencoba metode-metode baru, trial dan error. Trenyuh sekaligus bahagia rasanya ketika satu anak kemudian berhasil membaca satu kata, atau anak yang lainnya berhasil menyelesaikan soal hitungan..! Kebahagiaan yang luar biasa, bagi Butet maupun bagi orang tua yang diam-diam juga mulai menyetujui apa yang dilakukan Butet dan anak mereka.

Pada akhirnya, Butet memang mampu mencapai tujuannya, meskipun butuh waktu yang lama. Di satu sisi, bisa saja ini disebut keberhasilan. Namun di sisi lain, ini baru awal dari sebuah proses panjang. Butet menyadari bahwa kebutuhan pendidikan tak hanya diperlukan oleh Orang Rimba saja saja. Namun juga oleh berbagai komunitas lain yang jumlahnya masih banyak di luar sana.

Kini, bersama lembaga Sokola dengan 26 relawannya, mereka berhasil mendirikan sekolah serupa di Flores, Aceh dan Makasar. Sokola juga mengadakan program jangka pendek di Yogyakarta, dan Kampung Dukuh. Sungguh, perjalanannya masih panjang. Dan yang jelas ia tak akan berhasil jika sendiri.

Di saat media kita hanya diributkan oleh mereka yang rusuh, ricuh, berebut kekuasaan, maka apa yang dilakukan oleh Butet dan teman-temannya bagaikan sebuah oase di padang pasir. Tak hanya sekedar membuka wacana, namun benar-benar mewujudkannya, dengan segala pengorbanan pribadi di dalamnya. Apa yang dilakukannya bagaikan menggarami air laut. Namun bukan kata yang terlambat  jika kita ingin berpartisipasi dengan apa yang dilakukannya atau melakukan hal yang kurang lebih serupa pada komunitas terdekat kita. Will U..?

Referensi :
Manurung, Butet. 2007. Sakola Rimba Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba. Yogyakarta: Insist.

berbagai sumber di internet

Iklan

4 thoughts on “Butet Manurung, “Pekerja” untuk Mereka yang Terpencil

  1. Butet tuh, pernah ditawarin, mau nggak diangkat jadi pegawai negeri. Terus Butet jawab, kalau jadi pegawai negeri mesti upacara dong tiap Senen? Lha gimana mau upacara kalau “tempat kerja”-nya sehari-hari ada di gunung..? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s