Akhirnya Berhasil juga Taklukkan Malam di Penginapan Tua

Terlalu menyukai bangunan-bangunan kuno namun suka ngeri jika berada di dalamnya lama-lama. Maka saat datang ke Malang untuk kali kedua kemarin, aku memberanikan diriku menjawab tantangan ini. Di hari terakhir, aku menyempatkan diri menginap di penginapan yang katanya cukup tua, dibangun sejak tahun 1973. Sebelumnya ia adalah rumah biasa. Penginapan ini terletak di seberang balai kota, persis di sebelah hotel Tugu yang telah terkenal dan sangat kunonya itu. Sengaja kupilih penginapan ini karena letaknya strategis, pusat kota, lumayan dekat dengan target berikutnya yang ingin kutuju. Selain itu, harganya yang masih bisa kujangkau, tak seperti hotel di sebelahnya. Huehehe. Hari sudah menjelang sore, maka segeralah aku menuju ke sana, setelah berkutat di alun-alun kota, menikmati bangunan-bangunan yang ada di sana.

Disambut gapura seperti candi bentar dari batu, lalu masuk ke halaman yang teduh. Sampai di teras bangunan yang bersahaja langsung disambut seorang bapak berseragama hijau di teras yang kemudian mengantarkanku ke receptionist. Dari sekian kamar yang ditawarkan, tentu saja kamar yang paling murah dan standar yang kupilih. Hahaha.

Seperti biasa, memenuhi persyaratan administrasi dulu dengan menyerahkan KTP. Masih di meja receptionist, petugas kembali menegaskan, “Sendirian ya Mbak.. Tidak ada teman lain..?” “Tidak,” tegasku (masak ga kelihatan masih single kinyis-kinyis si Mbak.. batinku. hahaha). “Ok, karena kebijakan hotel ini, jika mbak check in sendiri, maka setelahnya tidak boleh ada tamu laki-laki yang masuk kamar. Mereka hanya boleh berkunjung di luar. Dan kami sangat straight soal ini. Pasangan yang boleh menginap hanya yang bisa menunjukkan surat nikah.. KTP-nya berstatus nikah, dan alamatnya sama.. Jika tidak, maka kami terpaksa menolaknya” demikian tegasnya. Hmm, mantap ni manajemennya. Tidak hanya memikirkan bisnis semata, namun juga mempertahankan eksistensi penginapannya bukan sebagai tempat esek-esek. Merasa tidak salah pilih jadinya ! (trauma dengan peristiwa hotel jam-jaman beberapa tahun lalu di Cilegon).

Dari sekian kamar single standar yang masih kosong, aku sengaja memilih kamar yang dekat dengan dapur hotel.. Ga rame tuh.. Sengaja memang.. Biar masih bisa ngedenger suara manusia.. Ga ada yang jamin kalo rasa takutku ga muncul lagi kan. Heheheh.. Dasar aneh, takut ko ya nekat..

Menuju kamar dengan menggenggam kunci yang tergantung di gantungan unik. Jika kubandingkan dengan gantungan kunci yang pernah kupegang sebelumnya, maka inilah yang ukurannya paling raksasa. Hahaha, bayangkan saja, panjangnya saja sejengkal telapak tangan. Berupa lempengen persegi kayu, dengan ukiran logo SI (inisial hotelnya) dan no kamar.

Gantungan kuncinya aja udah unik, gimana kamarnya ni.. Penasaran, dan terbukalah pintunya. Walaa… kamarnya gede banget.. Tiga kali kamar kosku !! 😀 Di dalamnya, terdapat dua ranjang single, satu sofa dan meja duduk, kemudian sepaket meja dan kursi baca, almari dua pintu yang cukup gede ukurannya, meja rias, dan meja kecil buat lampu tidur. Walaa.. bagaimana dengan kamar mandinya..? Begitu dibuka, cekreekk.. kamar mandinya juga cukup luas, ukurannya hampir 1/3 kamar. Closet duduk, bathtub yang gede dan dalam banget. Tidak lupa pula shower air panas !! Hore.. jadi ga rugi melewatkan sesi berendam air panas di Songgoriti pada siang harinya. Bisa tergantikan di bathtub super ini plus privat lagi..! Oke, bolehlah..

Melangkah lagi ke kamar, interior kamar pun terkesan jadulnya. Bahkan kalender yang tergantung di tembok pun masih kalender dengan desain jadul yang cuma ada angka biru dan merah gede-gede itu. Di bawahnya tertulis label sebuah perusahaan rokok yang usianya juga cukup tua di Malang. Selain itu, di beberapa sudut tergantung pula beberapa lukisan dan gambar wayang. Lampu tidurnya juga masih model lama.  Mmhh, bener-bener kesan jadulnya begitu terjaga.

Yang kulakukan selanjutnya tentu saja ngecharge hape. Modal buat narsis di objek selanjutnya 😀 . Mengisi waktu dengan berbaring-baring di kasur dengan menonton pertandingan Persebaya-Persija yang diramalkan seru (karena potensi rusuhnya). Hmm, biar mantep nontonnya, berganti dengan kaos Arema yang baru saja dibeli. Wakakak, padahal bukan Arema yang main..! :-D.

Belum selesai nonton, namun mencoba menutup mata sambil menunggu senja datang.. (Lumayanlah beberapa jam ini..). Tapi ternyata owh ternyata, mata tak mau juga nutup, padahal aslinya mah capek. Berasa kayak gimana gitu.. Hmm, bau-bau kamar tua jadi bikin efek kayak gini ni.. Sangat gelisah, hingga akhirnya mulut pun komat-kamit mule baca Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas dan ayat kursi untuk mengusir kegelisahan itu. Tapi tetep.. ga bisa tidur.. bolak-balik badan. Pake nutup muka ma selimut segala (selain karena hawa dingin yang terasa). Waduh, bahaya ni kalo ga ntar malam juga ga bisa tidur. Dengan males akhirnya memutuskan untuk bangun, mandi dan berangkat ke target selanjutnya lebih awal.

Keliling alun-alun lagi, membandingkan kemeriahannya dengan alun-alun Pati. Kurang semarak rasanya, karena pedagang kaki limanya ga terlalu rame, jadi pilihan wisata kulinernya pun berkurang. Selain itu, penerangannya juga minim amat. “Temaram biar romantik kali..” ujar seorang teman malam sebelumnya saat kami juga nongkrong di alun-alun itu sambil menunggu jemputan ke Batu. “Iye, tapi kan bahaya juga.. apalagi buat yang berkacamata kaya aku.. bisa nabrak-nabrak ini..” ujarku dan rawan kejadian kriminal dan seksual, ujar teman satu lagi.

Setelah makan dan memuaskan diri, memutuskan pulang jam 21.00. Ga enak kalau pulang malam-malam, cewek, sendirian pula. Rencana shalat di Isya batal karena masjid raya di sebelah barat alun-alun telah ditutup pagarnya. Waduh, pengurus mesjidnya rajin banget ya, masak jam segini udah ditutup. Tapi sepertinya emang harus shalat di kamar, siapa tahu setelah dishalatin, kamarnya jadi adem, ga bikin gelisah lagi. Hahahah.. ide bagus..! Maka bergegaslah masuk ke angkot dan kembali ke hotel.

Sampai di kamar, langsung menjalankan niat tadi. Shalat dan segera menyiapkan diri untuk tidur. Mata ini sudah sedemikian ngantuknya dan badan sudah sedemikian lemesnya. Sepi euy.. maka teve pun dinyalakan, lumayan kencang. Pintu kamar mandi pun ditutup. Tidur dengan arah menghindari ngadep ke kaca. Takut kalo tiba-tiba ngebuka mata dan baaa… ada bayangan lain yang muncul di sana. Hahaha

Berusaha memejamkan mata.. dan berhasil ! Baru bangun ketika jam sudah menunjukkan pukul 03.00-an. Mo matiin teve, sayang juga karena pas dilihat ada film lumayan bagus. Tapi ga sampai selesai nontonnya , udah teler lagi.. hahaha. Bangun lagi pas subuh, n ajaibnya lanjut lagi molor mpe jam 07.00. Wakakak, berhasil juga aku tidur nyenyak di kamar tua..! Kalo begitu tantangan berikutnya kalau ke Malang lagi adalah nginep di Hotel Niagara Lawang yang terkenal serem dan eksotik itu.. Hahaha, berani ga ya.. (masih ragu-ragu dan ngeri.com)

Iklan

2 thoughts on “Akhirnya Berhasil juga Taklukkan Malam di Penginapan Tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s