Jadi Baik Harus Kaya Dulu ?

Terkadang hal ini muncul dalam pikiranku, kayaknya enak ya, punya banyak uang.. Karena banyak modal yang dimiliki dan bisa digunakan untuk membantu orang lain. Hmm, mungkin kamu pun setuju pada pikiranku. Tapi apakah untuk membantu kita harus kaya dulu.. Nah, itu yang kayaknya kurang tepat..

Beberapa waktu lalu, saat penerbangan ke Lombok, tampak seorang nenek. Tangan kanannya menggenggam tas tangan. Sedangkan tangan kirinya menggenggam air mineral 1 liter. Ketika di pintu boarding seorang petugas membagikan snack dalam kardus kecil, bingunglah ia. Bagaimana memegangnya. Agak lama jadinya dan membuat pengantre yang di belakangnya tidak sabar dan berteriak, “Hello, ayo dong buruan..”. Seorang pemuda yang jauh berada di antrean belakang pun menghampirinya. “Nek, saya bantuin bawa airnya. Nenek jalan aja, nanti kita ketemu di pesawat..” ujarnya. Nenek pun mengulurkan airnya.

Si pemuda pun menghampiri nenek saat menunggu bis feeder mengantar mereka ke pesawat. Hanya untuk meyakinkan si nenek bahwa airnya ga akan dibawanya lari. Sampai di pesawat, didampinginya si nenek hingga menemukan kursinya dan diulurkanlah airnya. Nenek langsung berterima kasih padanya, “Makasih ya nak, smoga bantuan ini bisa mengantarmu ke surga”. Berkaca-kacalah mata pemuda itu. Doa terbaik yang sama sekali tak diharapkan dari sebuah bantuan ringan, remeh yang diberikannya. Dianggapnya remeh, namun ternyata sangat berarti bagi nenek itu, sehingga doa tulus pun terlontar darinya.

Kasus lain, seorang nenek pengemis menghampiri pagar rumah. Rutin seminggu sekali, dia berdiri di pagar itu. Ketika penghuni rumah menghampiri dan mengulurkan selembar uang untuknya, dia langsung berterima kasih dan melontarkan sebuah doa. Si penghuni rumah berdiri dan mengaminkan doanya. Si nenek tak langsung pergi, dia bercurhat tentang kecelakaan yang dialaminya. Lalu menunjukkan luka di perutnya yang masih merah, menampakkan dagingnya. “Sudah berminggu-minggu lho nak, tapi masih saja begini.” curhatnya. “Nek, belikan saja alkohol atau revanol di apotik atau toko obat, biar lukanya cepat kering.” ujar si penghuni rumah. “Owh, gitu ya,” kata si nenek.

Dua minggu kemudian si nenek kembali berdiri di luar pagar. Si penghuni rumah pun keluar pagar. “Nak, alhamdulillah banget.. lukaku sudah kering karena kubelikan obat seperti yang Nak kemarin bilang” ujarnya sambil menunjukkan bekas lukanya. Memang sudah mengering dan tinggal beberapa bagian yang masih tampak basah. “Nak, makasih banget ya karena kemarin sudah ngasih tahu” dan kembali lagi terlontarlah doa tulus dari mulut keriput itu.

Banyak hal kecil tak berarti di mata kita yang ketika berada di tangan orang lain ternyata berarti begitu besar ya.. Entah itu materi, informasi atau bahkan perhatian untuk mendengarkan. Jadi, untuk menolong orang lain kita memang tak perlu kaya materi dulu ya.. Jadi menjadi sosok yang lebih baik tidak sesulit yang dibayangkan ya.. Yap, rasanya semuanya akan mudah, jika kita tetap membuka indera dan hati, karena peluang kebaikan itu tersedia luas di luar sana. Yuks, sama-sama belajar jadi sosok yang lebih baik.. (mumpung belum 2012 lho..huehehe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s