Sebuah Kasus Kecil Mengenai Hak Cipta

Tulisan ini terpicu karena obrolanku dan teman (comment) di sebuah note seorang teman di akun fb-nya. Teman pemilik akun memposting sebuah tulisan mengenai hubungan anak dengan ibu. Kebetulan, aku tahu ibu dari teman tersebut dan karenanya yakin, bahwa tulisan yang dipostingnya itu bukan pengalaman pribadinya namun copas-an. Oleh karena itulah, aku kemudian mengkomentari dan menanyakan sumbernya, sekedar mengingatkannya untuk mencantumkannya sebagai penghargaan terhadap si penulis artikel.

Disadari atau tidak, ini adalah contoh ‘ringan’ plagiasi yang sering ditemui dalam keseharian. Tak hanya satu kali ini note copasan beredar di fb, tanpa menyisipkan sumber. Hal serupa juga sering kita temui di blog, milis ato jaringan sosial yang lain. Makin rumit lagi, karena kemudian copas-an itu dicopas lagi, dicopas lagi dan dicopas terus hingga kadang kita susah sekali untuk memastikan atau men-trace siapa sebenarnya penulis awal dan sumbernya dari mana.

Apa salahnya meng-copas tulisan orang lain ?

Sebagai seorang pembaca, aku sangat menyukai tulisan yang informatif, inspiratif atau menggugah kesadaran. Ketika mendapat tulisan yang bagus, aku biasanya sangat antusias untuk membagikan tulisan tersebut kepada teman-teman yang lain. Karena menganggap membagi ilmu dan kebaikan adalah suatu keharusan. Itulah prinsip yang kujunjung. Kupikir tak ada yang salah dengan prinsip itu.

Demikian pula sebagai seorang yang sedang belajar menulis, sungguh suatu kebanggaan jika tulisan kita beredar ke mana-mana. Karena tujuan pertama kita membuat tulisan adalah untuk dibaca, entah oleh sedikit atau banyak orang. Kebahagiaan pula bagi kita jika tulisan itu kemudian mampu menggugah dan bisa jadi sumber inspirasi bagi orang lain. Jadi ga ada salahnya juga jika tulisannya dicopas orang lain.

Namun di sisi lain, sebagai seorang yang sedang belajar untuk menulis, aku mulai tahu dan menyadari betapa sulitnya membuat sebuah tulisan. Jangankan yang berhalaman-halaman, yang hanya beberapa kalimat saja susahnya bukan main. Bahkan untuk membuat status di fb yang hanya beberapa kata saja aku sudah merasa kesulitan. Jadi jangan heran jika muncul status-status aneh di wall-ku. Maklum masih belajar nulis😀

Pengalaman susahnya membuat tulisan inilah yang kemudian memunculkan penghargaan dari dalam diriku pada mereka yang telah berhasil membuat tulisan. Menyelipkan nama penulis dan sumbernya pada tulisan yang akan kusebarkan bukan lagi suatu kepatutan, namun keharusan. Wujud penghargaanku atas upayanya untuk berbagi. Dan wujud penghargaanku pada diriku sendiri yang mampu menghargai apa yang susah payah dihasilkan oleh orang lain.

Apa yang kucoba tulis di sini bukan untuk sok tahu, menghakimi pembaca yang sering melakukan copasan dengan melalaikan penyisipan nama penulis dan sumbernya. Karena terus terang, dulu di awal-awal mengenal internet, aku juga masih sering melakukannya. Bahkan kadang sekarang pun mungkin masih juga kulakukan (maklum aku adalah golongan manusia yang cenderung lalai), namun Alhamdulillah frekuensinya kini terus berkurang. Yang ingin coba kukatakan di sini adalah marilah mencoba melakukannya dari sekarang, pada diri masing-masing, karena sungguh, itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan.

Berhentilah melakukan standar ganda. Masih ingat kan kasus di mana kita ramai-ramai menghujat negara tetangga yang mengklaim lagu dan beberapa karya budaya yang kita anggap adalah adalah karya bangsa kita. Di sana kita marah, protes, menghujat dan tidak terima. Kita anggap pemerintah kita lalai, tidak menjaga dan melindungi hak cipta anak bangsa. Nah, sekarang pertanyaannya adalah: apakah kita sendiri sudah melakukan perlindungan dan penghargaan terhadap hak cipta kita maupun orang lain. Bagaimana dengan tindakan copas tulisan tanpa menyertakan nama penulis dan sumbernya tersebut ? Bukankah itu tindakan yang tidak mengacuhkan hak cipta ? Memang si.. yang kita lakukan belum pada mengklaim tulisan itu sebagai tulisan kita.. tapi prinsipnya bukan sama saja ya.. hehehe. Jadi yuk, belajar sama-sama untuk tidak lagi menerapkan standar ganda. Kita boleh saja meneriaki  dan marah pada orang yang mengklaim karya kita lain namun di sisi lain, kita juga harus mulai menghargai tulisan maupun hasil karya orang lain, salah satunya adalah dengan tetap menyelipkan nama mereka sebagai pemilik karya. Bagaimana menurutmu ?

Sip, Salam Belajar Selalu,

One thought on “Sebuah Kasus Kecil Mengenai Hak Cipta

  1. hmm,,
    aku tiba2 teringat tentang kasus Plagiasi yg melibatkan para akademisi.
    Tapi aku juga ingat dengan pernyataan mantan Hakim Agung Simar Siregar yang menyuruh buku2 dan karya2nya untuk diterbitkan siapa saja. Dia tidak mempersoalkan mengenai hak cipta krn beliau menyebut Hak Cipta, Paten, Desain Industri dll adl bentuk ‘pemaksaan’ dr Yahudi. Sementara Prof Adi Sulistiono (mantan dekan FH UNS) menyebut itu sbg kamanye kapitalisme.

    Mengenai menyebut asumber kutipan, dlm dunia akademis itu merupakan sebuah ungkapan kejujuran bahwa ia memperoleh perkataan itu dr org lain.
    Dan ini menurutku bukan bagian dr Hak Cipta yg hrs dimusuhi.

    Namun, Hak Cipta diartikan sebagai perizinan, pemberian royalti dll, sepatutnya perlu kita tinggalkan.
    Hasil karya cipta kita adalah bentuk nikmat yg diberikan Allah kepada kita jd pd hakikatnya itu kurang baik jika kita eksploitasikan utk kepntingan diri dan menafikan kepentingan umat..
    😀😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s