Si Entreyen Merah Menyala

Tiba-tiba teringat pada si entreyen.. Si entreyen yang sempat membuatku menangis ketika tak lagi kutemui di bawah pohon kelapa. Si entreyen yang membuatku marah sesaat pada bapak ibuku yang telah mengalihkannya pada orang lain tanpa sepengetahuanku.

Kenapa begitu sedih ketika dia tiada ?

Dialah yang menemaniku saat mulai belajar keseimbangan, mengayuh tanpa jatuh. Dialah yang menemaniku belajar keseimbangan pada tingkat lebih lanjut: mengayuh dengan dua tangan masuk ke saku celana. Haa, betapa gayanya !

Fisiknya jauh dari sempurna, hanya tinggal rangka. Sebuah peninggalan dari masa jayanya di akhir dekade 70an. Tanpa aksesoris apa-apa, jadi lebih ringan dibawa. Itulah kenapa mbahku memberikan sepeda ini dari gudangnya. Bagus digunakan oleh seorang anak yang kurus sepertimu,” begitu katanya.

Ketika sepeda mini dengan keranjang mule in digunakan oleh anak-anak seusiaku, mbahku pun membelikan satu. Ditujukan untuk kami gunakan berdua, mbak dan aku. Tapi lagi-lagi, tak mampu memutuskan keakrabanku dengan entreyen.

Si kuno ini kunilai lebih tangguh daripada si mini yang hanya tahan kami miliki selama 3 tahun itu. Si mini cepet rontok aksesorisnya, catnya cepat luntur, remnya cepat aus, rantainya sering sekali copotnya, ban sering sekali bocornya dan karat pun begitu cepat menempeli rangkanya. Sedangkan si entreyen ini, meski cuma rangka, minim karatnya. Timah melapisi rangkanya begitu sempurna. Kerepotan yang dihadirkannya cuma sebatas ban bocor atau pentil yang membusuk. Selebihnya ga ada.

Bagiku, fisik yang cuma rangka dan penampakan yang sangat jadul itu pas banget buatku. Praktis dan aman. Memudahkanku untuk parkir di mana pun tanpa takut hilang. Iyalah, mana ada yang berminat mencurinya jika sepeda-sepeda di sekelilingnya lebih cling. Mudah kutinggalkan tanpa harus memasang kunci pengaman. Kadang kugeletakkan begitu saja di tanah (karena ga ada standar), kusandarkan di pohon atau kuselipkan begitu saja di antara 2 sepeda teman yang telah terparkir rapat. Atau jika parkiran telah penuh, dia pun dengan mudahnya kuangkat untuk kusandarkan di bawah teras uks. Haaa, betapa praktisnya !

Ketika akhirnya bapak membeli sepeda jengki untuk mbak yang sudah smp, lagi-lagi aku masih setia dengan entreyenku.

Tak habis pikir dengan kekekeuhanku, bapak pun memutuskan untuk meng-upgrade penampilan entreyenku. Tiga hari diinapkan di bengkel, maka si entreyen pun berganti tampilan. Jadi cantikkah ? Entahlah, yang jelas aku suka merah menyala yang mewarnai rangkanya. Jadi mudah ngebedain ni sepeda sudah dilap atau belum. Di bagian belakang, standar baru telah terpasang, demikian pula dengan boncengan. Dan di bagian setang, rem tangan masih mengkilap telah terpasang. Hahaha, kebiasaan lama mengerem dengan menyentuhkan sol sandal/sepatu ke ban depan sudah ga bisa dilakukan lagi deh !

Sayangnya, masa romantis bersama entreyen hanya bisa dilakukan waktu SD saja. Ketika SMP, sudah mulai jarang kupakai karena sekolah yang berada 11 km di kota mengharuskanku berangkat dengan bis sekolah. Berangkat jam 6 dan pulang jam 18, hingga tak ada waktu untuk berdua lagi.

Hingga suatu sore, baru kusadar, si entreyen sudah tak bersandar di pohon kelapa lagi. Shock, ketika tahu dia telah dijual. Tak mau mendengar keterangan lebih lanjut dari bapak ibuku. Kuhabiskan petang itu dengan menangis di bawah pohon kelapa, masih dengan seragam putih biruku. Malamnya gondokku pun masih berlanjut dengan aksi mogok makan. Huhuhuu, sungguh sedih.. “Bukannya ga mau dia dijual, tapi setidaknya kasih tahu dulu !” Itu tuntutku. Bapak dan ibu pun minta maaf karena si entreyen sudah terjual tanpa pemberitahuan.

Si entreyen dengan warna merah menyala memang telah sirna. Namun kenangan bersamanya masih akan ada, selamanya.

2 thoughts on “Si Entreyen Merah Menyala

    • sepedanya udah dijual mas, ga sempet difoto.. kalo masih penasaran, coba aja cari di pasar barang antik di Solo.. sepeda mini versi akhir 70-an 😀

      entreyen tu kata buatan teman2 SD untuk menjelaskan bentuk dan umurnya yang tua.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s